Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Kekacauan Di Pesta


__ADS_3

...BAB 76...


...Kekacauan Di Pesta...


"Hallo Dik, gimana kabar lu lama sekali nggak ketemu?" sapa seorang lelaki yang menyambut kedatangan Dika sahabat baiknya.


Lelaki itu tersenyum lebar, kedua tangannya terentang menghampiri Dika. Lalu keduanya saling berpelukan, dengan diiringi tawaan renyah yang menggelegak ruangan yang ramai.


Malam itu adalah pesta pertunangan sahabat baik Dika, sahabat mereka semasa kuliah dulu, Rion yang baru saja pulang dari Kanada dua hari lalu. Sesampainya di Jakarta dia teringat akan Dika, sehingga siang tadi Rion langsung menghubungi dan mengundangnya ke pestanya di Hotel itu.


"Kabar gue baik, lu sendiri. Sorry bro gue baru nyampe, hampir saja gue ketiduran tadi di kamar..." jelas Dika sembari menepuk-nepuk pelan punggung lelaki sebayanya. "Mana tunangan lu, ha?" tanya Dika kali itu, seraya netranya menyisir setiap penjuru ruang hotel di lantai dua itu, mencari-cari sosok wanita yang akan mendampingi hidup sahabat baiknya nanti.


"Tuh, orangnya di sana, lagi ngobrol sama teman-temannya..." tunjuk Rion mengarah pada beberapa kumpulan wanita yang sedang mengerumuni seorang wanita cantik di tengah mereka, wanita dengan gaun putih selutut tanpa lengan, rambutnya hitam bergelombang panjang sepinggang. Penampilan wanita itu agak mencolok dan berbeda dengan lainnya, dia pun tersenyum manis ke arah Rion sambil melambaikan tangannya.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Rion mendelikan matanya.


"Apanya?" tanya Dika balik dan polos.


"Wanitaku lah heheehe..." celetuknya terkekeh kecil, dengan mengangkat kedua alisnya. Bangga.


"Ya lumayan, cantik juga." angguk Dika mencibirkan bibirnya. "Dapat darimana lu, tumben? Bisa juga lu gaet wanita secantik itu? Gue pikir lu bakalan jadi jomblo abadi." ledeknya terkekeh renyah, seketika itu pun Rion ikut tergelak tawa mendengarnya.


Wajar saja jika Dika mengatakan itu, karena Rion sahabat satu-satunya yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Dika, sejak dulu dia tak suka berpacaran tidak seperti halnya Dika. Namun dia berjanji jika menemukan sosok wanita yang dia cintai maka dia akan langsung melamarnya dan memperlihatkannya di depan Dika.


"Hahahah... Bisa aja lu! Kami ketemu di Kanada, tak sangka dia juga asli orang Jakarta. Makanya kami bisa saling mengenal dekat. Oh ya, gimana dengan lu sendiri? Kenalin dong, dia istri kedua lu 'kan? Denger-denger katanya lu sudah kawin lagi?" bisiknya sambil matanya melirik wanita yang tak jauh dari samping Dika, yang sejak tadi datang bersama Dika. Wanita itu pun melirik tersenyum ke arah Dika dan Rion sambil meneguk minumannya yang barusan di tawari pelayan.


Wanita cantik bergaun merah, dengan rambut di sanggul ke atas. Penampilannya malam itu nampak seksi menggoda.


Rion tahu jika Dika memang sudah menikah lagi, karena dulu pernah datang ke pernikahan Dika dan Vira, namun saat pernikahan Dika dan Sindy dia tak hadir karena memang sedang ada perjalanan bisnis ke Kanada. Makanya Rion belum pernah melihat Sindy istri keduanya Dika.


Dika berdeham kecil menoleh padanya, lalu ia pun tersenyum kikuk. "Dia..."


Sementara Sindy yang masih terpaku di dalam mobilnya. Tak lama dia pun keluar dari mobil, setelah suaminya dan wanita itu telah masuk ke dalam lobby hotel. Dadanya semakin sesak terasa, mesti tubuhnya kini seakan tak bertenaga. Namun Sindy memaksakan diri, ingin melihat apa yang tengah di lakukan suaminya bersama wanita itu saat ini.


Ketakutan yang selama ini terus membayangi pikirannya, khawatir apa yang menjadi firasat buruknya akan terjadi? Dika, suaminya akan berpaling dan mengkhianatinya.


Sindy melangkah masuk menuju lobby hotel, dia terkejut ternyata di dalam sana sedang ada pesta yang sangat meriah. Banyak sekali orang-orang yang tengah menikmati rangkaian pesta tersebut.


"Silakan Nona, boleh tandatangan dulu di sini..." sapa penerima tamu saat melihat kedatangan Sindy di depan pintu utama.


Sindy menoleh pada wanita yang sudah berdiri di depan mejanya sambil mengulurkan bolpoint hitamnya padanya. Sindy melihat buku penerima tamu undangan di atas meja. Dahinya berkerut, tanya.


"Maaf, ini acara apa ya mbak?"


"Oh, ini kan acara pesta pertunangannya Pak Rion, Nona. Pemilik perusahaan tekstil di kota ini. Itu orangnya ada di sana.." sahut mbak penerima tamu itu tersenyum, menunjuk ke arah Rion yang berdiri dekat meja bundar. "Apa Nona tidak di undang oleh Pak Rion?" tanyanya lagi terheran.


Sindy menggelengkan kepalanya, tentu dia kesini bukan untuk menghadiri pesta orang besar itu. Namun sontak saja maniknya membulat lebar, ketika mendapati suaminya juga telah berdiri di sana sambil menggandeng pinggang wanita tadi. Posisi wanita itu masih membelakangi Sindy, namun dia tahu jika lelaki bersamanya adalah Dika suaminya, karena pakaian yang ia pakai tadi.

__ADS_1


Tiba-tiba dengan sendirinya, langkah Sindy mengarah cepat mendekati Dika dan wanita itu dari belakang. Tak memperdulikan panggilan wanita penerima tamu tadi. Samar dia pun mendengar obrolan mereka tadi semakin jelas di telinganya.


"Ah em... maaf aku bukan istrinya..." wanita itu sedikit terbata dan tersenyum kikuk, ketika di tanya oleh Rion barusan.


"Dia adalah kekasihku" jawab Dika santai. "Namanya Riska Meryska..." lanjutnya lagi tersenyum pada Riska. Rion di sana sontak menganga terkejut.


Sindy semakin mempertajam pendengarannya. Tubuhnya nyaris saja roboh saat mendengar pengakuan suaminya.


"Benarkah, lalu istri lu?" tanya Rion lagi.


"Em sebentar lagi kami akan bercerai..." jelas Dika dengan santainya, seperti tanpa beban di hati, dia ungkapkan pada Rion dengan wajah bahagianya. Dika pun mengambil satu gelas minuman di atas meja. Lalu meminumnya dengan tenang. Sampai dia tak menyadari jika Sindy sudah mendengarnya dan kini ia telah berdiri di hadapannya.


"Sin-Sindy?!" Riska membulatkan lebar maniknya, mulutnya ternganga. Buru-buru ia melepas tangan Dika yang masih memegang pinggangnya.


Dika menghentikan minumnya ikut terkejut, sontak ia pun tersedak saat melihat kedatangan Sindy.


Sedang Sindy menyalang tajam, ke arahnya lalu pada Riska bergantian. Wajahnya memerah padam. Lalu tanpa aba, tangannya menampar pipi kiri Dika dengan kencang.


Plaaak


Tak berhenti dari situ Sindy merebut gelas minuman di tangan Dika dan menyiramkannya ke wajah Riska.


Byurrr


"Aku sudah tahu, kalau kalian berdua memang pengkhianat! Dasar menjijikan!!" pekiknya geram.


"Apa hah, kau ingin mencari pembelaan? Aku tak menyangka kau akan menusukku dari belakang, Kak!" bentaknya histeris,


Riska bungkam, bukan karena terkejut kepergok Sindy tapi dia bingung harus menjelaskan apa padanya? Sebenarnya dia tadi pun mendadak di suruh Dika untuk menemaninya ke pesta itu, dan tak sangka jika Dika akan mengatakan bahwa dirinya adalah kekasihnya di depan Rion, sahabatnya.


Tak puas Sindy pun mendorong Riska, hingga wanita itu terjatuh dan menabrak meja. Gelas-gelas pun berjatuhan dan pecah ke lantai. Hingga menimbulkan kegaduhan di ruang pesta itu, dan semua tamu undangan di sana sontak melihat keributan yang di buat oleh Sindy.


Melihat kekacauan yang di buat istrinya, dengan sigap Dika menahan tangan Sindy yang mulai brutal ingin melampiaskan amarah pada Riska, namun Dika segera menarik tangannya Sindy dan membawanya keluar hotel.


"Lepass Mas, lepaskan akuu!!" teriak Sindy memberontak.


"Ayo ikut aku! Kau hanya membuat malu saja disini!" bentaknya. Tanpa perasaan Dika menyeret tubuh Sindy dan cepat membawanya masuk ke dalam mobilnya.


"Kenapa kau selalu saja mengikutiku? Apa kau tidak punya kerjaan lain seharian, selain membuntutiku, hah?!" sentak Dika memakinya, meluapkan segala emosinya setelah mereka berdua ada di dalam mobil.


"Aku hanya tak terima jika kau bersungguh-sungguh akan menceraikan aku Mas! Apalagi tadi ku dengar kau mengatakan kalau Riska adalah kekasihmu di depan lelaki itu! Aku benar-benar tidak terima itu! Kau jahat padaku, kau jahat sekali Mas Dikaa!" teriaknya menangis histeris, sambil memukul-mukul dadanya Dika.


"Diam, diam kau Sindy!" Dika memegang pergelangan tangan Sindy dengan erat. Maniknya tajam menatap wajah Sindy yang penuh emosi.


"Bukankah ini yang kau mau hah, aku berselingkuh dengan Riska?! Apa perlu ku jelaskan lagi yang aku ucapkan tadi siang padamu? Sudah ku katakan, kalau aku muak melihat tingkahmu yang kekanakkan itu! Aku akan menceraikanmu Sindy. Kau bahkan tak ingin memberiku anak! Buat apa lagi aku harus mempertahankan wanita egois sepertimu!" makinya dengan mata yang memerah tajam, Dika benar-benar sudah marah pada istrinya itu.


Sindy terus berderai air mata. Kepalanya menggeleng-geleng pelan. Hatinya benar-benar sakit sekali seperti tertusuk ribuan pisau belati.

__ADS_1


"Mas, aku tidak ingin bercerai denganmu... Aku tahu aku salah padamu. Aku, aku mohon maafkan aku Mas..." isaknya terbata-bata, bibirnya bergetar hebat, lalu ia memeluk erat Dika. Dia benar-benar belum siap jika berpisah dari suaminya.


"Aku ingin jelaskan padamu, kalau semua ini karena keinginan Mamaku, Mas.. Dia yang memintaku agar aku jangan dulu hamil dan punya anak.." lirihnya. Dika terkejut, dahinya mengerut dalam. Lalu melepas pelukan Sindy.


"Hah, apa katamu barusan? Semua ini permintaan Mamamu?" decaknya tak percaya, Dika pun tertawa sinis mendengar lelucon yang sangat tak lucu menurutnya. "Berarti sudah jelas, aku memang harus menceraikanmu.." ujarnya semakin yakin.


Dika pun lekas menyalakan mesin mobilnya. "Sekarang keluarlah dari mobilku." titahnya dingin.


"Tunggu Mas, aku belum selesai bicara padamu!" sela Sindy kembali panik.


"Apa lagi yang ingin kau katakan Sindy? Sudah jelas Mamamu tak menginginkan kita punya anak! Ayo keluar dari mobilku sekarang juga!" titahnya lagi kasar.


"Mas, kumohon dengarkan aku dulu..." Sindy menggeleng cepat menolaknya, namun Dika melepas kasar rengkuhan tangan Sindy di pinggangnya


"Keluar..."


"Mas..."


"Aku bilang keluar dari mobilku!" sentaknya.


Sindy tergugu, air matanya terus mengalir tiada henti. Sedang Dika memalingkan wajahnya ke depan mobilnya. Dia benar-benar tak ingin lagi melihat wajah istrinya, semua perilaku Sindy menurutnya sudah tak bisa lagi di maafkan. Teganya, Ria juga memerintahkan putrinya agar jangan hamil. Ibu macam apa dia? Dika benar-benar tak habis pikir ada orangtua yang seperti mertuanya.


"Aku tahu kesalahanku banyak Mas, tapi aku benar-benar ingin memperbaiki semuanya. Sekarang aku sudah benar-benar siap untuk hamil, aku ingin mempunyai anak darimu... Aku tak ingin berpisah darimu Mas Dika, karena aku masih mencintaimu..." isaknya pelan.


"Maaf, tapi semuanya sudah terlambat."


"Mas..." Sindy kembali mencoba membujuk Dika dengan menggenggam tangannya erat di setir mobil. Tetapi lagi-lagi Dika menepisnya.


"Keluar kataku Sindy, atau aku akan berbuat kasar lagi padamu!" bentaknya.


Dika geram karena Sindy masih tak juga mau keluar dari mobilnya. Lalu ia membukakan pintu sampingnya Sindy, dan tanpa perasaan dia mendorong kasar istrinya agar keluar dari mobilnya.


"Ah Mas.." Sindy meringis kesakitan, karena ia terjatuh ke tanah.


"Pergi, pergilah aku tidak ingin lagi bertemu denganmu. Dan tunggu surat cerai dariku." ucapnya untuk yang terakhir kalinya. Dika pun menutup kasar pintunya lagi, dan melajukan kencang mobilnya pergi.


Sindy beranjak dia pun tak menyerah begitu saja. Dia berlari menaiki mobilnya dan kembali mengejar Dika.


Namun sayang di tengah perjalanan Sindy nyaris saja menabrak seorang Bapak tua yang mendorong gerobak jualan. Hingga dia spontan memutar kencang setirnya ke samping kiri.


Braaakkk


Tetapi mobil yang di kendarainya malah menabrak pinggiran trotoar, dan akhirnya membentur tiang listrik di sana, dan kepala Sindy ikut terbentur setirnya dengan kencang bersamaan terhentinya mobil. Seketika cairan merah pun mengucur deras di dahinya.


Bersambung...


...****...

__ADS_1


__ADS_2