Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Secercah Harapan


__ADS_3

...BAB 13...


...Secercah Harapan...


..."Kesetiaan adalah ketika cinta lebih kuat dari naluri. Bagiku kesetiaan sebuah tanggungjawab yang harus dipertahankan karena cinta yang tulus bukan hanya sekedar kamuflase belaka."...


...(Vicky Bahru Sanusi)...


Irfan tersohok dengan apa yang dia lihat sendiri Tentunya dia tak mempercayai begitu saja yang di katakan Dika barusan.


"Ada hubungan apa sebenarnya dia dengan perempuan itu? Awas saja kalau memang tebakanku benar Mas Dika berselingkuh. Kasihan sekali kamu mbak Vira. Aku pasti tidak akan memaafkannya sampai kapanpun!" gumamnya, geram dan tak terima Kakak perempuannya di khianati oleh suaminya. Kemarahan Irfan membuat kedua tangannya mengepal kencang, hingga kulitnya memutih.


Irfan mendengus kasar lalu ia berpaling dan teringat kembali dengan tujuannya kemari. Pemuda itu lekas masuk lift dan naik ke lantai 12.


Ting....


Lift terbuka lebar. Irfan melangkah mencari-cari ruangan Vicky. Seorang wanita berkacamata menghampirinya ketika Irfan sudah di depan pintu yang dia perkirakan adalah ruang pemilik mobilnya.


"Maaf mau cari siapa Mas?"


"Oh, saya mau mencari Pak Vicky, Nona. Ingin mengembalikan mobilnya yang sudah selesai di perbaiki..." jelas Irfan. Sekertaris cantik itu tersenyum mengangguk.


"Ooh.. Baiklah tunggu sebentar ya.." wanita itu berjalan mendekat pintu ruang Vicky dan mengetuknya tiga kali. Terdengar seruan dari dalam, dia pun segera membuka pintunya.


"Pak, ada karyawan bengkel ingin mengembalikan mobil anda..." sahut Mira.


"Ya, suruh dia masuk!!" suara lelaki terdengar dari dalam.


"Silakan masuk Mas..." titahnya pada Irfan, menyilakannya masuk ke ruangan Vicky. Bos pemilik cabang perusahaan Garmen di Jakarta.

__ADS_1


"Terimakasih Nona..." ucapnya mengangguk sopan.


Irfan berjalan masuk ke ruang Vicky dengan perasaan gugup. Tangannya menggaruk-garuk belakang kepala dengan pandangan mengedar ke seluruh ruangan tersebut, lalu berhenti pada satu titik, di mana ada seorang Pria tengah terduduk santai membelakanginya, sambil dua jarinya mengapit sebatang rokok merk terkenal.


"Permisi Pak..." sapa Irfan.


Kursi Pria itu memutar, lalu mendongak menatap lekat wajah Irfan yang sudah berdiri di depan seberang mejanya. Mereka pun bersitatap cukup lama, dan pada detik kemudian, Pria itu baru berdiri dengan kedua mata membulat lebar Tubuh dan bibirnya bergetar seakan sulit dia berucap dan tak percaya yang dia lihat sendiri.


"I, Irfan?! Ka-kau kah itu?" ucapnya, membuat batang rokoknya terlepas dan jatuh mengenai sepatunya. Pria tegap dan tinggi itu melangkah lebar menghampiri Irfan dan memeluk pemuda yang selama ini sudah dia anggap adiknya sendiri.


Irfan juga ikut terkejut, rasa sulit menelan salivanya hingga sesaat dia menahan nafas. "Ka-Kak Vicky?!"


"Bagaimana kabarmu?!" tanya Vicky setelah melerai pelukannya sembari kedua tangan masih memegang erat bahu Irfan. Mata Pria itu berkaca-kaca penuh haru. Menelisik wajah Irfan. "Kau, kau sudah tumbuh besar rupanya....Haha!" tawanya lirih nyaris mengeluarkan air mata.


Terakhir kali bertemu, Irfan masih duduk di kelas X SMA. Sedangkan Vicky yang baru saja menyelesaikan kuliahnya saat itu.


"Aku .. Alhamdulillah baik Kak Vicky, bagaimana keadaanmu juga Kak?" tanya Irfan tersenyum sendu.


Irfan tertunduk pilu dan kembali menatap Vicky dengan sendu. "Maafkan kami Kak, bukannya kami tak ingin memberi kabar padamu. Tapi karena keadaan yang memaksa kami harus segera pindah kemari." ungkapnya.


"Ayo duduklah kita berbincang sebentar..." Vicky menyuruh Irfan untuk duduk di sofanya. Tapi Irfan menggeleng menolaknya.


"Maaf Kak, tapi aku tidak bisa lama-lama di sini. Karena masih banyak pekerjaan yang menungguku di bengkel." ujar Irfan.


Raut kecewa tergambar jelas di wajah Vicky. Lalu dia mengangguk tak memaksa lagi Irfan. "Ya sudah tidak apa, tapi lain waktu kita pasti bisa bertemu lagi 'kan? Setidaknya kau beritahu aku alamat rumah kalian. Aku ingin menemui ibumu dan juga..." Vicky mengatup bibirnya sejenak lalu menunduk, dan kembali menatap nanar Irfan di hadapannya. "Kakakmu..." sahutnya tersenyum lepas. "Bagaimana keadaan mereka? Irfan?!"


Sontak Irfan pun tersenyum pahit. "Kak Vira... Dia baik, tetapi Ibu... Beliau sudah meninggal dunia, sudah setahun yang lalu Kak..." lirihnya seraya menarik nafasnya dalam-dalam. Kedua mata Irfan berkaca-kaca mengingat mendiang ibunya otomatis membuat dia kembali sedih karena kehilangannya.


Bola mata Vicky melebar, matanya kembali menganak sungai. "Benarkah ibu meninggal dunia?" pekiknya menggeleng-geleng tak percaya. Irfan hanya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ya Tuhan... Semoga Ibumu di lapangkan kuburnya dan di ampuni segala dosa-dosanya..." ucap Vicky yang lalu di aminkan oleh Irfan.


"Ya sudah kalau begitu aku pamit kembali bekerja lagi Kak. Jika Kak Vicky ingin menemuiku, Kakak bisa mampir ke bengkelku kok..." ujar Irfan lalu dia merogoh sebuah kunci di saku celananya dan menyodorkannya pada Vicky. "Ini Kak kunci mobil Kakak... Permisi..." pamitnya.


"Iya... Terimakasih..." Vicky mengangguk lagi sedang Irfan berbalik dan keluar dari ruangan Vicky setelah mereka berpamitan.


Deg deg deg


Vicky masih tertegun di sana merasakan jantungnya kian berdebar sangat cepat. Senyum yang tadi pudar karena kegelisahannya selama ini, seolah terganti cepat dengan pancaran kebahagiaan. Vicky tak menyangka akan bertemu lagi dengan Irfan di kantornya, peluang besar untuknya, bisa bertemu dengan Vira lagi. Ada secercah harapan di hatinya, untuk kembali lagi merajut kasih yang sempat terlepas karena sebuah pertengkaran di masalalu.


"Vira... Tunggulah aku sebentar. Akan ku perbaiki semua kesalahanku padamu waktu itu..." gumamnya.


*****


"Siapa sebenarnya lelaki itu? Lalu tadi pada ngomongin apa sih? Ku lihat kalian pada berbisik-bisik begitu!" Sindy tak berhenti melempar pertanyaan pada Dika. Wajahnya merenggut kesal karena Dika selalu menjawabnya dengan bertele-tele.


"Kan sudah ku bilang tadi, dia itu hanya tetangga biasa. Tetanggaku sayang... Tadi dia hanya heran saja, kalau aku ada di kantor itu..." sangkal Dika berusaha sesantai mungkin menanggapi Sindy yang tengah mencurigainya. Walaupun hatinya kini sangat gelisah. Dahinya terus bercucur keringat dingin. Kekhawatiran kian menyelimuti dirinya. Tentu saja, itu karena dia sangat takut jika sampai Irfan mengadu pada Vira, soal dirinya bersama Sindy. Akan gawat lagi urusannya, jikalau Vira sampai tahu. Dika menarik nafas kasar lalu menggigit bibirnya kencang. Ketegangannya semakin menjadi.


"Masa iya sih, tapi tadi ekspresi kamu kayak tegang gitu deh?!" Sindy mendekap kedua tangannya memincingkan matanya, mencurigai gelagat Dika yang aneh.


"Sudahlah sayang... Stop mengintrogasiku lagi! Aku sedang menyetir nanti kalau aku nabrak orang bagaimana? Katanya tadi kita mau makan siang... Tapi kau malah mengacaukan suasana hatiku!" gerutunya.


"Maaf-maaf deh, tadi aku kan cuma tanya doang... Gak usah marah gitu kali..."


"Enggak, aku gak marah padamu kok! Cuma hal yang gak penting harusnya tak perlu kita perdebatkan lagi bukan!" toleh Dika pada Sindy yang masih mengerucutkan bibirnya yang seksi.


"Ya deh, lupakan saja..." Sindy memalingkan wajahnya ke jendela mobil.


Dika kembali menarik nafas dalam dan segera mencari tempat makan yang romantis.

__ADS_1


Bersambung...


...****...


__ADS_2