
...BAB 11...
...Mulai Bersikap Acuh...
Prang...!!!
Vira terkesiap kaget, saat gelas di tangannya tiba-tiba saja terlepas dan jatuh ke lantai. Dadanya berdesir hebat rasa kekhawatiran meliputinya lagi.
"Kenapa hatiku jadi tak tenang begini?!" gumamnya, resah.
Vira pun berjongkok lalu mengambil pecahan gelas yang berserakan di dekat kakinya. Untuk membersihkannya.
Sraaat....
"Aaaw...!!" pekiknya terkaget.
Jari Vira tak sengaja menyentuh ujung beling, hingga darah pun mengalir deras, perih. Namun sebenarnya, rasa sakit dan perihnya saat ini ada di lubuk hatinya yang terdalam.
"Semoga ini bukan firasat buruk." lirihnya lagi seraya menghela nafasnya perlahan.
****
"Aku pulang dulu ya sayang, aku khawatir nanti Kakakmu melihat kita berduaan lama di sini..." ucap Dika, setelah puas bercumbu mesra dengan Sindy lagi. Dika mengurai pelukannya. Lalu membuka seat belt Sindy.
Sindy tampak kecewa. Namun mau bagaimana lagi yang di katakan Dika memang ada benarnya. Bakal panjang urusannya jika sampai nanti Vicky tiba-tiba datang memergokinya. Dia pasti akan marah dan tak akan mengijinkan mereka bertemu lagi.
"Baiklah... Tapi besok kita ketemuan lagi ya! Pokoknya kita harus sarapan dan makan siang bareng, titik!" pinta Sindy dengan gaya manjanya dia merangkul erat lagi leher Dika. Lalu mengecup kilat pipi kekasihnya tersebut.
"Iya sayang, iya. Soal itu gampang. Besok pagi aku jemput kamu lagi di sini. Kamu bersiap-siaplah tampil yang cantik, Oke!"
"Oke my love, bye bye..." Sindy membuka pintu mobil dan turun lalu melambai-lambaikan tangannya di samping kaca mobil. Setelah menutupnya lagi.
"Jangan nakal-nakal ya, dan jangan menduakan aku!" serunya lagi dari luar mobil Dika.
"Tidak akan sayang. Hatiku hanya untukmu seorang..." balas seruan Dika, dengan santainya dia berucap itu. Mengatakan tanpa ada rasa beban di hati sama sekali. Namun perkataannya berhasil membuat Sindy semakin tersanjung.
Setelah itu mereka berpamitan. Dika dengan cepat melajukan mobilnya pulang kembali ke apartemen.
Tak ada lebih dari satu jam. Dika telah sampai ke apartemennya. Dia masuk ke kamar setelah mengunci pintunya. Menengok Vira yang ternyata sudah tertidur pulas di tempat tidur mereka.
Dika bernafas lega melihatnya, lalu dia membuka jaketnya dan menggantungnya di tempat biasa. Membuka selimut lalu membaringkan tubuhnya di samping Vira,. Sontak Vira jadi terusik bangun karena gerakan Dika di atas ranjang. Vira membuka matanya perlahan.
"Kamu sudah pulang Mas..." tanyanya dengan suara parau.
"Iya baru sampai.. Ayo tidur lagi, Mas sudah ngantuk..." titahnya, setelah mengecup sebentar kening Vira lalu meletakkan ponselnya di atas nakas dekat lampu tidur.
__ADS_1
"Iya..." jawab Vira pelan. Tak lama Dika pun terpejam tidur mendahului Vira. Hingga suara dengkurannya terdengar halus di keheningan malam.
Vira menatap wajah suaminya di samping. Dia benar-benar tak bisa tidur karena perasaannya yang masih gundah. Memikirkan kebenaran yang belum terungkap.
****
Keesokan paginya. Dika telah bersiap diri pergi ke kantor. Di depan cermin, lelaki itu telah tampil rapi dengan memakai kemeja casual berwarna abu-abu dan celana hitam slimfit miliknya. Lelaki itu melirik lemarinya yang masih terbuka. Dika mengambil sebuah kotak hadiah yang kemarin dia simpan. Ya, Vira memang benar. Dasi merah itu adalah hadiah pemberian Sindy. Sindy Octaviani, kekasih yang sudah menjalin hubungan dengan Dika, lebih dari setahun lamanya, sebelum ia mengenal dan menikahi Vira, tentunya tanpa sepengetahuan Vira dan juga orangtua Dika sendiri.
Dika membuka kotak itu, seulas senyum tampannya tersungging manis memandangnya.
"Aku bahagia sekali, karena mulai saat ini kita akan sering berjumpa... Kapan dan dimana pun kita mau..." gumamnya seraya menarik satu sudut bibirnya ke atas.
Seperti layaknya remaja yang sedang jatuh cinta. Dika sama sekali tidak memikirkan lagi Vira sebagai istri sahnya. Bagaimana dengan perasaannya? Jika ternyata diam-diam Dika telah mengkhianati pernikahan mereka sendiri, dengan menduakan cintanya. Bagi Dika, Vira bagaikan angin lalu yang tak perlu dia anggap. Toh, semua yang Vira mau selalu Dika penuhi. Vira pun sudah sangat cukup bahagia hanya dengan di nikahi Dika. Karena dengan siapa lagi, dia akan bergantung hidup selain pada suaminya sendiri. Vira sudah tak memiliki orangtua bahkan rumah pun tak punya. Hidup berdua dengan satu adik kandung saja tentu itu tak cukup baginya. Vira seperti menemukan keluarga baru setelah dirinya mengenal Dika dan juga kedua orangtuanya Dika.
Dika lekas melingkarkan dasi itu ke kerah kemejanya. Sambil bersiul-siul ria. Wajahnya terlihat berbinar-binar cerah karena ciuman yang memabukkannya semalam tadi bersama wanita pujaan hatinya, terus saja membayangi benaknya.
"Mas... Sarapanmu sudah siap!" seru Vira di ruang makan. Namun Dika tak mendengar seruan Vira karena sangking asyiknya bersiul.
Vira pun lekas pergi melihat Dika. Tanpa sepengetahuan Dika, Vira membuka pintu kamarnya dengan lebar. Dilihatnya suaminya yang masih membenarkan dasinya sambil bersiul riang.
"Mas...!" sahutnya yang sontak membuat Dika terkejut karena kepergok Vira yang masih memakai dasi di belakangnya berdiri, dari tadi. Lantas Dika segera menghentikan siulannya sambil terus membenarkan dasi yang belum rapi terpasang.
"Eh, sayang... Maaf menunggu lama ya..." gugupnya tersenyum kikuk. Vira mengernyit memperhatikan Dika yang masih kasak-kusuk dengan dasi barunya.
"Ya bo-boleh sayang..." angguk Dika tergagap, memalingkan wajahnya yang masih memerah. Vira sekilas melirik wajah Dika, terlihat seperti ada hal menyenangkan yang di sembunyikannya.
Tak butuh waktu lama bagi Vira, dasi itu kini terpasang dengan rapi di kerah kemeja Dika.
"Nah sudah rapi..." ujarnya puas menepuk-nepuk pelan bagian dada suaminya.
"Terimakasih banyak sayangku..." ucap Dika sambil tersenyum memandang istrinya. Sontak pandangan Dika teralih pada jari Vira yang sudah memakai plaster.
"Kenapa dengan jarimu?" Dika mengernyitkan dahinya, meraih tangan kanan Vira, memperhatikan jari telunjuk istrinya yang di balut plaster.
"Oh ini! Semalam aku gak sengaja jatuhin gelas. Pecahannya kena jariku..." sahutnya.
"Ya Tuhan, hati-hati dong sayang.. Kenapa bisa sampai gelasnya terjatuh segala? Bagaimana kalau pecahannya masuk ke kulitmu? Nanti bisa infeksi..." ucapnya khawatir, seraya mengusap pelan dan mengecup jari Vira dengan lembut.
"Tak apa-apa kok, ini udah gak sakit..." Vira tersenyum datar dan dalam hatinya bicara, bahwa perhatian inilah yang membuat Vira jatuh cinta pada Dika dulu, setelah cinta pertamanya pada Vicky. Vira pikir dia tak akan lagi mudah jatuh cinta. Namun ternyata perkiraannya salah. Dika mampu membalut luka lama di hatinya, setelah dia terluka oleh sikap Vicky. Memfitnah dan menghina dirinya tanpa ada sebabnya.
"Oh ya, sepertinya hari ini kamu terlihat senang sekali, Mas..." tanya Vira terheran-heran, seraya menyedekapkan kedua tangan di dada memperhatikan Dika dari atas kepala hingga bawah kaki. "Penampilanmu juga begitu rapi dan___" perkataannya terjeda kala Vira mendekatkan hidungnya, menghirup aroma wangi yang menguar dari kemeja suaminya. "Emmh wangi sekali! Sangat-sangat berbeda dari hari biasanya..." celetuknya yang berhasil membuat Dika jadi salah tingkah.
"Benarkah?! Ah, perasaan Mas biasa saja kok! Gak ada yang beda sama sekali." sangkalnya lagi dan lagi, sambil turut menciumi badannya di area ketiaknya sendiri.
Vira hanya tersenyum sinis. "Menurutmu biasa. Tapi bagiku tampilan Mas hari ini beda sekali. Seperti akan bertemu dengan seseorang yang sangat spesial sekali..." sindirnya. Menyipitkan kedua matanya melirik Dika.
__ADS_1
Dika berdecak sedikit kesal, lalu menggelengkan kepalanya.
"Ck! Vira... Vira, pikiranmu selalu saja kemana-mana. Mas pagi ini akan mengikuti rapat penting. Jadi wajar saja 'kan, Mas sedikit berpenampilan rapi lebih dari biasanya." jelasnya.
"Ouh..." Vira hanya mengangguk-angguk memahami.
"Baiklah, kalau begitu Mas berangkat kerja dulu ya!" alihnya yang tak ingin berbicara panjang lebar dengan Vira. Ia bergegas mengambil tas kerjanya di meja.
"Lho kok Mas tidak sarapan dulu?" tanyanya mengernyit heran.
"Ah tidak perlu sayang, pagi ini Mas harus cepat-cepat pergi ke kantor." sahutnya seraya memegang pinggang Vira dan mengecup keningnya sejenak, lalu melangkah keluar kamar menuju pintu depan. Sedang Vira di sana berjalan membuntuti suaminya dari belakang.
"Tapi kan Mas, ini masih pagi banget buat kamu ke kantor! Masa gak sempet-sempetnya sih buat makan pagi di rumah?!" rajuk Vira.
"Mas tidak sempat Vira, barusan sekali Mas di hubungi oleh atasan Mas sendiri. Katanya harus tepat waktu di kantor karena rapatnya mulai pukul tujuh pagi ini. Nah, otomatis Mas harus menyiapkan dulu bahan presentasinya, 'kan..."
Vira hanya menghembus kasar nafasnya lalu meraih tangan Dika dan mencium punggung tangan Imamnya dengan takzim.
"Ya sudah kalau begitu hati-hati di jalan ya..." ucap Vira yang di angguki Dika.
Setelah berucap itu, sontak Vira pun baru tersadar, jika Dika tak memakai jam tangan pemberiannya.
"Mas tunggu!" sahutnya, menghentikan langkah Dika yang hendak keluar pintu.
"Yah?!" Dika membalikkan lagi badannya, menoleh pada Vira.
"Jam tangannya mana? Kok ga di pakai?" tanya Vira terheran. Dika sontak melihat pergelangan tangannya sendiri.
"Oh iya sayang... Mas lupa! Maaf yaa..." ujarnya terkekeh sendiri.
Vira mendengus kesal. "Tolong kamu ambil di dalam laci nakas ya sayang..." suruhnya meminta Vira untuk mengambilnya.
Vira pun mengangguk dan berjalan cepat ke kamar lagi. Mengambil jam hadiah pemberiannya itu.
"Aneh, kok bisa sih lupa sama pemberian istrinya sendiri? Giliran dasi itu aja. Mas Dika inget!" gerutu Vira di kamarnya.
Setelah mengambil jam itu, Vira kembali menghampiri Dika, dan lekas memasangkan jamnya pada lengan suaminya. Lalu Dika pamit pergi.
Vira masih tertegun di tempatnya berdiri, lalu menoleh ke ruang makan dengan tatapan sendu.
"Biasanya Mas Dika selalu semangat sarapan pagi bersamaku. Tapi hari ini sepertinya dia acuh sekali..." Kedua matanya kembali berkaca-kaca, kecewa.
Bersambung....
...****...
__ADS_1