Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Rencana Pernikahan Dika


__ADS_3

...BAB 26...


...Rencana Pernikahan Dika...


Petang harinya, Dika mendatangi kontrakan Irfan untuk menemuinya. Setelah beberapa kali ia mengetuk pintunya, namun sama sekali tidak ada sahutan dari Irfan, kontrakannya pun terlihat sepi. Namun lampu semua dalam keadaan menyala.


"Kemana anak itu?!" resahnya, seraya menyugar rambut kepalanya sambil mondar-mandir di depan teras rumah.


Tak lama terdengar suara derap langkah kaki sandal dari belakang Dika. Dika pun spontan menoleh ke belakang. Tampak olehnya seorang pemuda memakai pakaian koko dan sarungnya, baru saja pulang, setelah selesai menunaikan kewajiban tiga ra'kaatnya.


"Mas Dika?!" Irfan terkejut heran, mendapati Dika sudah ada di depan kontrakkannya. "Ada perlu apa Mas Dika datang kemari?!" tanyanya. "Mana mbak Vira?" sontak Irfan menengok kanan-kirinya mencari-cari sosok kakaknya.


Dika berjalan mendekati Irfan. Tiba-tiba kedua tangannya terangkat, meraup lalu menarik kasar baju depan Irfan. Mendekatkan wajahnya.


"Irfan! Katakan padaku dengan jujur, apa kau sudah memberitahukan soal kemarin pada Vira? Heh!" pekiknya seraya menyorot tajam manik Irfan, penuh dengan amarah. Irfan lekas melepas kasar tangan Dika yang mencengkram bajunya. Mendorong Dika agar menjauhinya.


"Memberitahukan soal apa maksudmu?" tanyanya acuh, seraya berjalan mendekati pintu dan memutar kuncinya.


"Jangan pura-pura tidak tahu. Aku yakin kau pasti meminta Vira untuk membuntutiku kemarin siang, Iya kan?" sentaknya. "Gara-gara aduanmu itu kami jadi bertengkar!" timpalnya.


Irfan mengernyit tak mengerti dan kembali menatap tajam pada kakak iparnya. "Membuntutimu? Aku sama sekali tak menyuruh apapun padanya. Bahkan untuk mengadukan kelakuan gilamu juga aku tak berani. Aku masih punya hati nurani dan tak ingin membuat mbak Vira jadi terbebani pikiran oleh karena sifat burukmu. Semenjak ibu kami sakit dan meninggal, dia selalu banting tulang menghidupi aku dan juga ibuku, sehingga keadaan tubuhnya jadi sering sakit-sakitan. Tapi walaupun begitu Mbak Vira tak pernah mengenal lelah. Maka itu aku berusaha untuk menutupi aibmu darinya, sebab aku sangat menyayanginya. Aku hanya khawatir Mbak Vira bertambah sakit. " terangnya.


Dika menarik dalam nafasnya. "Jadi benar kau sama sekali tak mengadukanku padanya?!" tanyanya lagi belum percaya.


Irfan menggeleng kepalanya. "Aneh, tentu saja tidak! Kenapa kau tiba-tiba saja bertanya seperti itu? Apa jangan-jangan kaulah yang sudah membuat mbak Vira pingsan kemarin sampai masuk Rumah Sakit?" terkanya kembali membentak sang ipar.


"Apa maksudmu, jadi kemarin Vira masuk Rumah Sakit?!" Dika tercengang kaget, dahinya semakin berkerut penuh tanya, tak tahu soal itu.


"Iya, untungnya saja ada seorang Pria tampan, kaya dan juga baik hati telah menyelamatkan mbak Vira. Dia adalah pahlawan bagi keluarga kami." celetuknya, hingga membuat Dika terperangah mendengarnya.

__ADS_1


"Seorang Pria? Siapa dia?"


"Huh! Kau tak perlu tahu, itu bukan urusanmu! Lagi pula apa pedulimu pada Mbak Vira?! Kau saja berani berselingkuh di belakangnya!" celetuknya lagi, blak-blakkan. Irfan hendak masuk ke dalam rumah kontrakannya, kembali mengacuhkannya. Namun Dika lagi mencegahnya. Menyekal kencang lengan Irfan.


"Katakan padaku siapa Pria itu? Atau kau tidak usah lagi bertemu dengan kakakmu!" ancamnya.


"Heh, kau berani mengancamku?! Mbak Vira adalah kakak kandungku! Aku berhak menemuinya kapanpun aku mau!" pekiknya menepis kasar Dika.


"Aku tak akan mengijinkannya. Vira adalah istriku, aku berhak atas hidupnya termasuk melarang dirinya untuk tidak menemui siapapun yang tidak ku suka. Baik kau dan juga Pria yang tadi kau sebutkan itu!" Dika kembali mengancam.


"Brengsek kau! Aku menyesal telah merestui pernikahan kalian! Jika saja aku tahu sifatmu seperti ini dari dulu. Aku sudah tak mengijinkan Mbak ku menikah denganmu!" bentaknya mendorong kasar Kakak iparnya.


Dika terhuyung ke belakang. Bibirnya tersenyum menyeringai.


"Haha... Makanya dari itu, cepat katakan padaku siapa Pria kemarin yang telah menolong Vira."


"Terserah padamu. Tapi Vira selamanya akan menjadi istriku!" Setelah mengucap itu, Dika melengos pergi, menyebrangi jalan dan menghampiri mobilnya.


"Aku pastikan kalian berpisah secepatnya!" teriak Irfan menyumpahinya. Dika kembali menoleh setelah membuka pintu mobilnya.


"Itu tidak akan pernah terjadi." gumamnya tersenyum sinis ke arah Irfan.


Irfan teramat geram dengan sikap Dika. Kini kedua mata mereka saling menatap tajam dari kejauhan, saling dendam.


Setelah lama bersitatap. Dika masuk ke dalam mobil lalu melajukan kendaraan roda empatnya dengan kecepatan tinggi. Sedangkan Irfan masih mengumpatnya dalam hati yang penuh emosi.


"Aku menyesal sekali telah merestui pernikahn Mbak Vira dengan Pria brengsek itu. Orangtuanya saja yang baik, tapi kelakuan anaknya b*jingan!" geramnya seraya mengepal kencang dua tangannya di sisi tubuhnya, dadanya bergemuruh hebat.


****

__ADS_1


Sudah dua hari ini. Vira sama sekali tak di ijinkan Dika untuk keluar rumahnya bahkan untuk menemui Irfan sekali pun dia melarangnya. Tak hanya itu, ponsel Vira pun Dika sita.


"Kenapa Irfan tak datang kemari?" gumamnya khawatir. Vira mondar-mandir di dalam kamarnya. Karena pintu kamarnya di kunci rapat dari luar. Setelah pintu kamar mereka di perbaiki lagi, Dika mengurung Vira di dalam kamar.


Tak lama terdengar suara kunci terbuka. Vira menoleh ke arah pintu. Dika masuk dengan membawa sarapan untuk Vira, dengan penampilan yang sudah rapi dan tampan.


"Kamu sudah lapar? Ini sarapanmu." Dika berjalan melewati Vira dan menyimpan nampan sarapan istrinya di atas nakas.


"Aku tidak lapar! Kenapa kau mengurungku seharian di dalam kamar ini! Lalu kenapa kau ambil ponselku segala? Kembalikan itu padaku. Aku ingin menelepon Irfan!" sahutnya sangat jengkel dengan kelakuan Dika, yang kian hari semakin menyebalkan.


Dika menghela nafasnya dalam, melirik Vira dengan senyuman miringnya. "Tidak, mulai saat ini aku harus waspada padamu, sayang. Aku tahu dalam pikiran dan niatmu. Ingin kabur dariku, lalu meminta Irfan untuk mengurus perceraian begitu bukan, maksudmu?!" Dika mendekati Vira lalu tangannya mengangkat dagu lincip Vira dan mengusapnya, mengikis jarak wajah diantara mereka.


"Dengarkan aku baik-baik istriku sayang. Pernikahan kita tidak akan pernah berakhir begitu saja. Kau dan Sindy akan menjadi istriku. Hari ini aku akan melamar Sindy. Jadi bersiaplah, menerima Sindy sebagai adik madumu. Ku harap kau juga tidak membocorkan siapa dirimu padanya. Atau tidak kau akan terus berada di dalam kamar ini untuk selama-lamanya. Kamu mengerti kan!" Sontak Vira terperangah dan terkejut dengan ancaman halus Dika.


"Kenapa kau lakukan ini padaku! Kau bukan Dika yang aku kenal!" Vira menggeleng cepat. Air matanya meluruh deras.


Dika menatap nanar seraya mengusap air mata Vira.


"Aku tidak akan begini, jika kau menurutiku. Jadilah istri yang baik dan penurut. Maka aku akan bersikap lembut padamu." pintanya. Setelah mengucap itu Dika menepuk-nepuk pelan pipi istrinya.


"Baiklah aku harus segera pergi. Aku sudah telat. Calon mertuaku sudah menunggu kedatanganku." ucapnya seraya merapikan tuxedonya. "Kamu baik-baik di rumah ya... Jangan berani-berani melarikan diri dariku..." pesannya lagi memperingati.


Vira menatap miris, lalu melempar bantal ke arah Dika yang sudah melenggang pergi keluar kamar. Bantal itu pun jatuh mengenai daun pintu yang sudah tertutup rapat lagi.


"Aku menyesal menikah denganmu..." lirihnya terisak-isak. "Kamu memang tak punya perasaan Mas Dika..."


Bersambung....


...*****...

__ADS_1


__ADS_2