
...BAB 41...
...Orang Kaya Mudah Bosan...
Selang satu jam lebih, akhirnya mobil mereka telah sampai di tujuan. Vira terperangah, ketika ia memandangi mansion mewah di depannya. Mansion itu di kelilingi tanaman hijau yang menyejukkan. Serta hamparan bunga-bunga cantik yang berwarna-warni begitu indah di pandang mata yang memandangnya. Bahkan, kupu-kupu pun tak bosan hinggap dan bertebaran mengelilinginya, seakan mereka terbebas menikmati hidup bagai berada di tengah-tengah surgawi. Seperti di dalam mimpi saja Vira tak percaya bisa melihatnya langsung dengan kedua matanya sendiri, biasanya dia hanya melihatnya di TV-TV atau di internet saja. Beberapa kali Vira meneguk air ludahnya, terpana. Matanya sampai tak ingin lepas memandanginya.
"Silakan, anda boleh masuk ke dalam Nona. Sebentar lagi Bos kami juga akan sampai. Beliau masih dalam perjalanan menuju kemari." ucap Adam mengejutkan Vira yang masih mematung takjub. Adam pun menyilakan Vira untuk segera masuk ke dalam mansion, dan mereka disana di sambut oleh beberapa pelayan dari dalam.
"I-iya, terimakasih." ucapnya gugup.
Vira tampak menghela nafas pelan. Masih tak percaya yang dia lihat di depannya sendiri. Pikirannya terus bertanya-tanya siapakah gerangan, Bos yang selalu mereka sebut-sebut itu? Sehingga ingin sekali membawa dirinya kemari.
Perlahan Vira melangkah menaiki anak tangga ke teras mansion, lantainya yang di lapisi ubin berwarna keemasan, membuat Vira jadi ragu untuk menapaki kakinya di sana. Sebab kedua kaki telanjangnya kini sangatlah kotor dan agak basah, karena ia tak sempat memakai sandalnya, saat ia berlarian menghindari kejaran lelaki durjana tadi, yang Vira yakini lelaki itu adalah anaknya Bu Imah.
Para pelayan muda itu saling lirik, memasang wajah prihatin mereka memandangi kondisi Vira yang sudah berantakan. Vira yang hanya memakai mantel hitam lusuh serta sehelai handuk yang membaluti tubuhnya. Rambut basah dan sedikit acak-acakan, membuat mereka terenyuh, mengasihani Vira.
Lalu tak lama salah satu pelayan wanita itu mengajak Vira masuk ke dalam kamar. Karena sedari tadi Vira hanya terbengong diam di tempatnya.
"Ayo Nona, ikut dengan saya..." ucapnya tersenyum dan menggandeng tangan Vira. Vira pun mengangguk kikuk.
Tibalah suara deru mobil masuk ke pelataran mansion, bergegas sebagian pelayan tadi berjalan cepat menuju ke teras.
"Tuan sudah datang.. " seru salah satunya di antara mereka.
Vira yang hendak melangkah menuju kamar pun, sontak ia menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang. Mengernyitkan dahinya penasaran siapakah sebenarnya Tuan mereka?
Hingga tampaklah seorang Pria tegap berjalan masuk ke pintu utama mansion, jas hitam besarnya menjuntai hingga sepanjang betisnya. Sangking terpananya, Vira tak sadar diri kini Pria itu tengah berdiri tak jauh beberapa meter dari hadapannya. Pria itu membalas tatapannya yang meneduhkan, setelah ia membuka kacamata hitamnya yang selalu dia pakai, sontak ia pun melempar senyuman termanisnya pada Vira.
"Selamat pagi, dan selamat datang di rumahku Vira..." ucapnya pelan namun sangat jelas.
Vira sontak terperangah lagi. Matanya membulat lebar dan berkaca-kaca. "Vi-Vicky! K-kamu?!" gelagapnya.
*****
"Dimana mbak Vira?!" teriak Irfan.
Siang itu setelah sampai Jakarta, Irfan bergegas menemui Dika di apartemennya, yang kebetulan saat itu Dika juga baru saja keluar dari apartemennya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Kakakmu tiba-tiba saja pergi meninggalkan apartemen!" jawabnya terkesan cuek dan santai, seraya terus melanjutkan langkahnya mendekati mobilnya yang terparkir di basement. Irfan menahan bahu Dika kasar, hingga Dika berbalik menghadapnya.
"Heh! Apa kau pikir aku ini bodoh?! Penyebab mbak Vira pergi, itu pasti karena ulahmu sendiri Dika! Kau harus bertanggung jawab atas kepergian Mbak Vira!" tukasnya dengan lantang. Dika membeliak dengan ucapan yang di lontarkan Irfan, darahnya berdesir naik.
"Apa yang kau katakan barusan? Heh! Kau sudah mulai berani bicara tak sopan dengan Kakak iparmu ini hah?!" pekiknya tak terima. Dika mendorong-dorong lagi tubuh Irfan lalu menunjuki dadanya.
"Dengarkan aku baik-baik sekali lagi. Kakakmu pergi itu karena kemauannya sendiri! Padahal aku tak pernah niat untuk menelantarkannya. Kau pikir aku tak peduli dengannya, apa? Dialah yang keras kepala tak mengijinku menikah lagi! Bilang padanya kalau bertemu. Jangan salahkan aku jika dia kesusahan suatu hari nanti!" timpal Dika tak terima.
"Kau! Jadi kau ingin menikah lagi?!" sontak Irfan pun terbelalak tak percaya.
"Iya memangnya kenapa? Dan itu bukan urusanmu!" selanya tersenyum miring.
"Breng-sek kau Dika, berarti benar kau memang sudah berselingkuh di belakang Mbak Vira!" Irfan tak terima ia hendak melawan dan memukul Dika, namun dengan gerak cepat Dika menghindari kepalan tangan Irfan, menahannya lalu menghempasnya dengan kasar.
"Sebaiknya kau jangan buang-buang tenagamu untuk memukulku. Cepat cari kakakmu itu dan bilang padanya, aku akan kabulkan permintaannya untuk menceraikannya!" titahnya dengan sorot mata tajam, seraya dengan nafas yang terengah-engah. Lalu setelahnya Dika pun pergi meninggalkan Irfan.
"Dasar memang dia suami tak berguna!" umpat Irfan di belakangnya, setelah Dika melajukan mobilnya dengan cepat. Irfan mengepal kencang-kencang kedua tangannya, geram. Nafasnya naik turun, sangat menyesal karena sudah merestui kakaknya menikahi Dika.
****
Setelah mandi dan berganti pakaian yang sudah di siapkan oleh pelayan. Vira turun ke bawah, dengan mengenakan dress hitam cantik lengkap dengan sepatu yang nyaman di kakinya. Dia melangkah pelan menuju meja makan masih dengan perasaan yang canggung dan gugup menemui lagi mantan kekasihnya.
"Ayo duduklah, kita sarapan dulu sebelum aku bertanya banyak padamu." Vicky lekas menarik kursi untuk Vira duduk. Memegang kedua bahunya, menggiringnya duduk.
"Terimakasih banyak..." ucap Vira menoleh pada Vicky yang terus saja tersenyum padanya.
Vira duduk dan langsung di layani oleh pelayan di sana. Mereka dengan sopan dan hati-hati menuangkan air minum di gelas Vicky dan juga Vira. Sarapan mereka pun sudah terhidang cantik dan rapi di meja makan yang panjang.
"Em, ini makanan apa? kok putih kental begini?" tanya Vira mengangkat satu alisnya pada Vicky. Menunjuki makanan yang berbeda yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tak ada sayuran apapun di dalamnya.
"Ini namanya soupe 'a l'ail, makanan khas Perancis. Itu cocok untuk kamu yang sedang hamil muda. Bukan hanya telur rebus dan irisan roti baguette saja, di dalamnya juga ada terkandung minyak zaitun yang sangat bagus untuk kesehatan tubuh kita." terang Vicky.
"Ooh,.." Vira melongo mendengar penjelasan Vicky lalu mengangguk-angguk setelahnya. Pelan, Vira mulai mencicipi supnya sedikit demi sedikit.
"Lumayan, enak juga!" celetuk Vira mengangkat dua bahunya ke atas, hingga membuat Vicky terkekeh geli melihatnya. Senyumannya seolah tak pernah luntur di bibirnya.
"Dasar orang-orang kaya, makanan yang di makan kalau bukan khas dari luar negeri, pastinya makanan yang mahal-mahal. Kalian memang senang menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tak penting menurutku. Padahal sayur sop khas Indonesia juga kan nggak kalah enak dan sehat. Hmm" sindirnya mencoba bergurau di depan Vicky, untuk menghilangkan kecanggungan dan rasa sedih yang terpendam di hatinya.
__ADS_1
"Aku senang melakukan hal dan suasana baru. Tak salah kan kalau sekali-kali mencicipi makanan yang berbeda." imbuh Vicky. Vira kembali mengangkat bahu dan alisnya.
"Ya, yaa... aku mengerti kok, orang kaya memang gampang bosan..." ocehnya. Vicky hanya menggeleng terbahak-bahak. Lalu mereka pun menghabiskan sarapannya dan tak ada lagi pembicaraan.
Hingga beberapa menit setelah mereka selesai sarapan. Mereka berjalan-jalan santai di taman belakang mansion.
"Ehm, boleh aku tahu kenapa tiba-tiba saja kamu membawaku kemari?" tanpa basa-basi Vira pun bertanya langsung pada Vicky, hal yang terus mengganjal di hatinya dari tadi.
Vicky tersenyum tipis. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya, berbalik memandang sendu pada wanita yang kini berdiri di hadapannya.
"Aku tahu kamu pasti akan bertanya-tanya soal ini padaku?!" ulangnya, yang balik bertanya. "Katakan padaku dengan jujur, ada masalah apa sehingga kamu pergi dari apartemen suamimu?" tanyanya dengan raut wajah serius.
Deg deg deg
Vira terhenyak kaget, jantungnya jadi berdebar-debar. Kenapa tiba-tiba saja Vicky menanyakan hal itu padanya. Bagaimana Vicky bisa tahu jika dirinya tengah ada masalah dalam rumah tangganya?
"Pergi? Aku nggak pergi kemana-mana tuh? Dan aku tak punya masalah apapun..." sangkalnya tertawa kikuk, Vira lekas memalingkan wajahnya, menghindari sorotan mata Vicky padanya yang tengah berbohong. Vira pun berjalan dan mengalihkan sesuatu di taman itu.
Memetik dengan hati-hati bunga mawar merah yang ada di depannya.
"Aku minta satu bunganya ya!" ucapnya dengan wajah ceria seperti tidak ada masalah.
Vicky membuang nafasnya kasar lalu meraih tangan Vira dan menggenggamnya erat.
"Jangan bohong lagi padaku Ra, jika kau tidak ada masalah kenapa anak buahku bisa menemukanmu di jalanan tadi?!" paparnya lagi.
"Itu kan hanya kebetulan kami bertemu saja tadi..."
Vicky mengangguk lagi.
"Aku dengar dari Irfan, dia pernah memergoki suamimu bersama wanita lain di kantorku saat ingin mengembalikan mobilku waktu itu." terang Vicky.
"I-Irfan?" sontaknya kaget. Vicky mengangguk pelan.
Vira kembali berkaca-kaca, yang akhirnya tangisannya pecah. Lalu ia menutupi wajahnya yang sudah basah dengan air mata.
Bersambung....
__ADS_1
...****...