
...BAB 66...
...Rindu Aqilla...
Waktu menunjukkan pukul setengah delapan malam. Dika lekas merapikan lagi berkas-berkas pekerjaannya di mejanya, lalu bersiap pulang karena dia sudah telat malam itu, tetapi sebelumnya dia harus pergi makan dulu untuk mengisi perutnya yang sudah kelaparan.
Setelah langkahnya keluar dari gedung kantor, tiba-tiba saja suara alarm waktu pengingat di ponselnya berbunyi. Dika terkejut dan segera membuka layar ponselnya, maniknya membulat ketika melihat kalender di bulan itu. Jika besok adalah hari ulangtahun putrinya, Aqilla.
"Ya Tuhan, tak terasa Aqilla sudah hampir satu tahun. Sangking sibuknya bekerja, Ayah sampai melupakan hari ulangtahunmu, Nak. Maafkan Ayah, yang sebenarnya Ayah sangat merindukanmu..." gumamnya lirih, maniknya berkaca-kaca seperti ingin tumpah rasanya. Satu persatu Dika melihat foto-foto Aqilla di galery ponselnya, yang sengaja dia ambil setelah Aqilla lahir.
Dika pun gegas pergi menaiki mobilnya dan berniat mencari kado untuk Aqilla tapi sebelumnya dia pergi makan malam dahulu, kali itu dia pergi makan sendirian tak di temani istrinya bahkan mengajaknya pun, rasanya Dika sudah malas.
Semenjak Vira dan Aqilla di bawa pergi oleh Vicky, rasa hampa terus menyeruak di dalam dadanya. Perasaan bersalah pada Vira, seakan terus menghantuinya. Kenapa dahulu dia begitu bodoh, lebih memilih menikahi Sindy dan menceraikan Vira. Penyesalan memang selalu datang terakhir. Hati kecilnya Dika sebenarnya masih tak rela jika Vira menikah lagi, dan kenapa juga Vira harus menikah dengan Pria yang tak pernah ia sukai.
...~Flashback on~...
Lima bulan yang lalu... Siang itu Dika sengaja ke rumah kontrakan mantan istrinya, karena rasa rindunya pada putri kecilnya. Selain itu Diana juga sudah sering memintanya agar Dika mengajak Vira dan Aqilla main ke rumahnya. Tetapi di sana dia tak menemukan Aqilla lagi. Saat itu pun Dika mengira jika Aqilla di bawa Vira jualan di toko rotinya. Tetapi di sana pun tak dia temukan Aqilla dan juga Vira. Hanya ada Irfan dan satu karyawannya yang membantu di sana.
__ADS_1
"Dimana Aqilla?" tanyanya pada Irfan. "Jawab aku, kenapa kalian sembunyikan putriku dariku?!" sentaknya tak terima, diam-diam mereka telah pergi membawa Aqilla tanpa sepengetahuannya.
"Mbak Vira sudah tinggal bersama Kak Vicky di rumahnya, begitu juga dengan Aqilla. Jadi, lebih baik Kak Dika tidak usah lagi mencari-carinya. Toh Aqilla pun sudah pasti hidup bahagia dengan Ayah barunya." terang Irfan, dengan nada cueknya ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Tanpa memperdulikan perasaan Dika yang sudah memasang wajah marah padanya.
"Apa katamu?!" geramnya, Dika yang tersulut emosi lantas dia menarik kerah baju Irfan, mendekatkan wajahnya. "Dengar, tidak ada yang bisa menggantikan posisiku untuk Aqilla! Suatu saat aku pasti akan merebut Aqilla lagi, dia tetap anakku, dan aku satu-satunya Ayah baginya, kau mengerti!" sentaknya lagi.
Irfan mendengus kasar, rasa seperti tergelitik ketika mendengar ocehan Dika.
"Fuhhh! Silakan saja kau bermimpi, tapi aku adalah orang yang pertama, yang tak akan pernah menyetujui jika Aqilla ber-ayah-kan dirimu! Kau sama sekali tak pantas menjadi Ayah untuk keponakanku! Ayah macam apa di belakang Ibunya dia berselingkuh dengan wanita lain?! Kasihan sekali jika Aqilla sampai mengetahui hal ini nantinya setelah dia dewasa... Lebih baik kau mundur saja dan lupakan kalau kau pernah menikahi Mbak Vira..." tukasnya. Irfan tersenyum menyeringai, seakan dia puas telah membalaskan sakit hati Kakaknya pada mantan Kakak iparnya tersebut.
Dika menahan nafas dan tak bisa berkata-kata lagi, wajahnya bertambah merah. Ingin marah, tapi dia pun sadar telah melakukan kesalahan pada Vira dulu.
Setelah itu, Dika gegas meluncur ke rumah elitnya Vicky yang ada di kawasan Menteng, mengira mungkin Aqilla dan Vira tinggal di sana. Tetapi di sana pun mereka tak ada. Saat itu Dika bertanya dimana keberadaan mereka. Namun sama sekali tak ada jawaban dari seorang penjaga rumah Vicky. Semua pekerja di rumah Vicky, di minta untuk tutup mulut dan tak memberi tahukannya pada siapapun. Termasuk dirinya.
Dika merasa putus asa, dia pun terpaksa bertanya pada Sindy, apakah Vicky punya rumah lain lagi selain di Menteng? Jawaban Sindy mengiyakan itu, katanya jika Vicky punya Mansion mewah, namun tepatnya dia tak tahu dimana tempatnya berada. Saat itu, semua kemarahan Dika terkumpul semakin menjadi. Kedua tangannya mengepal kencang. Dia semakin membenci mereka berdua yang sudah berani memisahkan Aqilla darinya seakan sengaja untuk tidak lagi mempertemukannya dengan Aqilla.
Dasar lelaki br*ngs*k! Awas saja kalau bertemu! pekiknya dalam hatinya yang sudah membara.
__ADS_1
...~Flashback of~...
Saat itu Dika telah selesai memilih kado untuk putrinya lalu ia lekas membayar semua belanjaannya ke kasir. Setelah selesai pembayaran, tiba-tiba saja dia tak sengaja melihat Vicky sedang bersama Riska malam itu. Tengah berbicara di depan antara pintu toilet wanita dan lelaki.
"Sedang apa mereka berdua di sana?" tanyanya dengan raut wajah yang penasaran. Dika melangkah cepat mendekati, dan bersembunyi di balik dinding mall samping toilet. Hendak mencuri dengar pembicaraan mereka dari jarak yang tak begitu jauh. Namun Dika tak begitu menangkap obrolan mereka, karena suasana mall malam itu cukup ramai.
Seketika Dika teringat perkataan Sindy dulu, jika Riska adalah mantan tunangannya Vicky. Dika menarik satu sudut bibirnya, menyeringati. Ternyata malam itu adalah malam keberuntungan baginya. Tanpa pikir panjang Dika memotret mereka berdua yang sedang berdiri berhadapan. Dika tak terlalu peduli dengan apa yang mereka bicarakan. Mengambil gambar mereka saja sudah cukup baginya untuk dia perlihatkan di depan Vira. Masihkah dia juga bertahan dengan rumah tangganya dengan Vicky?
Vicky pun pergi setelah berbicara dengan Riska. Terlihat wajah Riska yang di tekukkan, kecewa karena Vicky berlalu begitu saja yang tak menghiraukan panggilannya lagi.
Saat Vicky pergi ke arah caffe, Dika pun dengan cepat membuntutinya dari belakang, dan dia pun tertegun, langkahnya terhenti ketika Vicky menghampiri seorang wanita dan anak kecil yang sedang duduk menikmati makanannya di meja makan, caffe mall tersebut. Kala anak kecil melihat Vicky datang, anak itu berjingkrak senang seraya memanggilnya.
"Ayaaaahh-ayaaahh cinii...!!" teriaknya.
"Aqilla..." sontaknya, bola matanya bergetar dan berkaca-kaca lagi. Seakan rindunya terobati melihat lagi sosok putri kecilnya yang telah lama tak bertemu.
Seketika itu juga hatinya mencelos nyeri, seakan kerinduannya musnah di depan mata. Ketika putrinya memanggil Vicky dengan sebutan Ayah yang seharusnya sebutan itu untuk dirinya.
__ADS_1
Bersambung...
...****...