Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Setelah Perceraian


__ADS_3

...BAB 44...


...Setelah Perceraian...


Delapan bulan kemudian...


"Terimakasih ya Bu Nena, sudah berlangganan membeli Roti Bakerry kami..." ucap Vira pada pelanggannya yang selalu datang setiap tiga hari sekali itu, untuk mengisi dagangannya di kantin sekolah.


"Iya sama-sama mbak Vira, rotinya enak-enak dan lembut banget sih. Nggak rugi kalau saya beli banyak buat stok di kantin, tak hanya anak-anak kecil saja yang suka, guru-gurunya pun juga pada doyan makan roti bikinan mbak Vira ini loh, hehe_ Makanya hari ini saya berani nambah lagi, jadi semuanya seratus bungkus roti ya mbak!" sahutnya lagi senang.


"Waah masa sih Bu?!" ucap Vira tak percaya. Ibu itu mengangguk mengiyakan. Vira pun sangat senang dan puas mendengarnya.


"Bener mbak, masa sih saya ini bohong. Sudah cantik, mbaknya juga pinter banget berwirausaha, moga anaknya mbak nih lahir cerdas dan cantik kayak ibunya nanti, dan kalau cowo ganteng mirip bapaknya yang lagi kerja jauh.." celetuknya, terkekeh.


Vira pun sontak tertegun mendengarnya. Ya, semenjak ada pelanggan yang sering kali membeli dan memesan rotinya, mereka kadang selalu bertanya-tanya tentang suami Vira yang tak pernah terlihat batang hidungnya. Vira yang tak ingin rumah tangganya menjadi bahan gosip bagi semua orang, karena kenyataan memang dia sudah menjadi janda. Terpaksa harus berbohong untuk menutupi semuanya, jika suaminya tengah bekerja di perantauan dan jarang pulang.


"Aamiin..." Vira tak ambil pusing lagi, dia hanya tersenyum mengaminkan doa si ibu itu.


Setelah Bu Nena pergi dengan menaiki maticnya. Vira tersenyum dari jauh, pandangan matanya berbinar haru. Dia sangat yakin sekali, jika usahanya ini tak akan pernah sia-sia. Sedikit demi sedikit, Vira juga bisa menabung untuk biayanya saat persalinan nanti dari keuntungan berjualannya.


Tak hanya Bu Nena, seorang penjual di kantin sekolah saja yang menjadi langganan Vira. Tapi para Ibu-Ibu komplek di sekitaran kampungnya juga sering berbondong memesan banyak roti untuk setiap ada acara arisan atau syukuran lainnya.


Ya, setelah perceraiannya dengan Dika. Vira dan Irfan langsung membuka usaha toko roti bersama, tempatnya yang tak begitu jauh dari kontrakan mereka sendiri. Karena Irfan khawatir jika terus meninggalkan Vira di rumah sendirian, sementara pekerjaannya dulu sewaktu di bengkel, Irfan selalu pulang larut malam dan pergi paginya. Akhirnya dia juga memutuskan untuk berhenti bekerja di bengkel lalu membuka usaha bersama Vira. Selama tujuh bulan berjalan akhirnya perlahan-lahan usaha mulai terlihat kemajuan. Sebab berkat kesabaran dan kegigihan mereka berdua.


Dalam kesendirian, Vira duduk di kursi sambil mengusap perutnya yang sudah membuncit. Bibirnya tersenyum tipis, menatap nanar ke arah jalan yang ramai dengan kendaraan hilir mudik.


"Bunda sudah tak sabar lagi ingin sekali melihat kamu lahir ke dunia ini, Nak..." gumamnya pelan. "Maafkan Bunda ya sayang, jika nanti kamu tak menemukan Ayahmu di sampingmu setelah kamu lahir. Mungkin ini memang tak adil bagimu, di lahirkan tanpa ada sosok Ayah. Tapi Bunda akan berusaha menjadi Bunda dan Ayahmu yang terbaik sekaligus, yang akan selalu menyayangi dan menjagamu setiap waktu." lanjutnya dengan suara yang lirih. Tak terasa air bening di matanya, menetes jatuh ke pipi.


...~Flashback on~...


Delapan bulan yang lalu. Setelah mereka resmi bercerai, Vira dan Dika saling berhadapan di depan gedung kantor pengadilan agama.


"Sekarang aku sudah mengabulkan keinginanmu? Sebenarnya sih aku juga tidak masalah jika kita bercerai. Tapi__"


Dika menjeda sesaat ucapannya, dan menelan kasar ludahnya. Sekilas ia melirik Sindy dari kejauhan, memastikan Sindy tak sedang melihat ke arahnya. Saat itu Sindy memang sedang asyik memainkan gawainya di dalam mobilnya.


Dika lalu kembali menatap Vira dengan intens di depannya, sedikit menyunggingkan bibirnya tersenyum, mendekati wajahnya dan berbisik pelan di telinga Vira.


"Aku juga tidak keberatan-- Jika suatu saat nanti kamu memintaku lagi untuk kembali padamu---" lanjutnya merayu, dengan senyuman yang penuh arti, Dika merasa yakin sekali jika Vira akan menyesali karena telah memutuskan berpisah darinya.


Vira membelalakan maniknya, sontak ia pun refleks mendorong kasar Dika, menghindari bibir lelaki itu yang hampir saja mencium bibirnya. Vira pun menatap nyalang mantan suaminya tersebut dengan sorotan tajam. Wajahnya memerah padam, sangat marah

__ADS_1


"Apa kau tidak tahu malu? Kita ini sudah bukan lagi suami-istri!" sentak Vira hingga suaranya kencang dan terdengar samar oleh Sindy di dalam mobil.


Sindy sontak melihat mereka yang tak begitu jauh beberapa meter darinya. Dia mengernyitkan dahinya penasaran, lalu gegas keluar dari dalam mobil dan menghampiri mereka berdua.


"Ada apa ini?" tanyanya yang langsung menarik lengannya Dika. "Mas?" liriknya pada Dika.


"Em, tidak ada apa-apa sayang?" sangkal Dika seraya menyugar rambutnya dengan tangan kirinya. Bersikap santai seolah tak terjadi apa-apa.


"Sidangnya sudah selesai kan?" cetusnya lagi.


"Sudah..." angguk Dika.


"Lalu kenapa kau masih di sini dan berbicara dengan wanita ini?!" tunjuk Sindy pada Vira, jelas tak suka melihat mereka masih tampak mengobrol berduaan.


Vira yang melihat Sindy cemburu, lekas menghembus kasar nafasnya. Pipinya memerah kesal, lantas ia memalingkan wajahnya yang terus saja di lirik oleh Dika dari tadi.


Dika sedikit tergugup. "Em, ti-tidak sayang, kami tidak sedang mengobrol. Kami barusan hanya saling mengucapkan kata perpisahan. Lagi pula kau tahu kan kalau mantan istriku ini sedang hamil anakku dan_"


"Jangan pernah bilang kau ingin menafkahi wanita ini Mas?!" sentak Sindy tiba-tiba menyela perkataan Dika. Nafasnya naik-turun tak terima. Jika nanti gaji Dika ia harus bagi dua dengan Vira, mantan istri suaminya.


Vira dan Dika terkejut, dan bersamaan saling menoleh pada Sindy.


"Sayang_ bukan begitu_" potong Dika.


"Sindy sudah-sudah!" cegah Dika menghentikan Sindy untuk tak lagi berbicara keras di depan umum. Karena kini mereka tengah menjadi pusat perhatian orang di gedung pengadilan itu.


"Apa sih Mas! Aku hanya ingin memperingatkan dia saja, supaya jangan bertemu lagi sama kamu!" larangnya, sewot. Menepis kasar tangan Dika yang menahan kedua bahunya.


Dika mengangguk paham. "Iya, aku tahu tapi_ walau bagaimana pun calon anakku berhak mendapat nafkah dariku!" bela Dika lagi, karena dirinya memang masih memiliki tanggungjawab pada Vira.


"Mas! Aku tidak mau ya kau memperhatikan dia terus karena dia sedang hamil anakmu!" geram Sindy jelas tak menyukainya. Kedua tangannya mengepal kencang. Lalu Sindy kembali menatap tajam ke arah Vira.


"Heh mending mbaknya cepat pergi dari sini deh, dan jangan lagi meminta atau merayu Mas Dika untuk balikan lagi sama mbak!" gerutunya kesal dibakar api cemburu.


Vira lantas tersenyum miris, setelah mendengar ocehan Sindy yang menyebalkan.


"Kamu jangan khawatir Sindy, aku bukanlah tipe orang yang ingin mengambil lagi barangku yang sudah aku berikan pada oranglain." sindirnya pada Sindy dan Dika. "Apalagi berniat_ untuk merebut barang milik oranglain!" lanjutnya pelan, seraya tersenyum santai. Sontak Sindy pun melotot ke arah Vira.


"Apa barusan kau bilang? Siapa yang kau sebut merebut katamu, heh! Justru kaulah yang merebut Mas Dika dariku! Dasar wanita menyebalkaan!!" bentak Sindy tak terima lagi, dia di sebut-sebut pelakor oleh oranglain.


"Sindy hentikan! Sudah hentikan jangan buat malu! Lebih baik kita pulang, ayo!" Dika lekas menarik Sindy dan membawanya masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkan Vira yang masih bergeming di tempatnya berdiri. Menatap getir kepergian mereka, dan semenjak perceraian itulah mereka tak lagi bertemu.

__ADS_1


...~Flashback of~...


Irfan yang baru saja selesai mengisi etalasenya dengan roti-roti baru, tak sengaja melihat Kakaknya yang sedang melamun. Irfan lalu mendekati kakaknya dan mengusap bahunya dengan lembut. Spontan dan kaget Vira langsung menoleh padanya dan lekas mengusap cepat air matanya lagi.


"Mbak, kalau mbak capek. Mbak pulang dan istirahat saja di rumah. Biar Irfan saja yang jagain toko rotinya dan mengerjakan semuanya." sahut Irfan tersenyum perhatian. Vira menggeleng cepat.


"Tidak Fan, Mbak belum capek kok. Ini kan belum waktunya makan siang." ujarnya.


"Iya tapi Mbak Vira 'kan dari semalaman sudah bergadang buat rotinya, bantuin Irfan bungkusin juga. Mbak sudah waktunya untuk istirahat, lagian nggak baik juga buat Ibu hamil untuk bekerja terlalu keras." ujar Irfan mengingatkan. "Mendingan sekarang mbak Vira fokus saja untuk persiapan melahirkan nantinya." saran Irfan lagi.


Vira pun menghela nafasnya panjang dan pelan, setelah di bujuk Irfan akhirnya dia pun mengangguk menuruti.


"Baiklah kalau itu maumu, kalau begitu mbak pulang duluan ya..." sahut Vira yang di angguki lagi oleh Irfan. Vira pun lekas beranjak dari kursinya.


Tak terasa memang usia kandungan Vira sudah menginjak ke sembilan bulan, perutnya sudah semakin membuncit, jalan pun sudah tak lagi segesit dulu. Ya Irfan memang benar, itu artinya Vira memang harus segera istirahat dari segala aktivitas rutin yang selalu dia jalani sehari-hari, menjadi seorang calon Ibu sekaligus pengganti calon Ayah mencari nafkah, menantikan buah hatinya seorang diri. Tanpa adanya seorang suami di sisinya.


Vira pun bergegas membereskan tas selempangnya dan berjalan pulang setelah pamit pada Irfan. Hati-hati ia menyebrangi jalan dengan pelan, setelah tak terlihat lagi kendaraan yang lewat di depannya.


Setelah sampai rumah, ia lekas membuka kunci pintu rumah kontrakannya. Namun tiba-tiba saja ponselnya berdering nyaring. Vira pun buru-buru mengambilnya dari dalam tas, maniknya terbuka lebar saat melihat nomer Vicky yang menelepon.


"Dia? Ada apa telepon aku ya?" gumamnya mengulum senyumnya, lekas Vira menggeser tombol hijau di layar lalu mendekatkan benda pipih itu di telinganya.


"Hallo?" sapanya.


["Hallo, apa kamu masih di toko?"] tanyanya di seberang telepon.


Vira menggeleng mengernyitkan dahinya. "Em, tidak kok! Aku_ baru saja pulang sampai rumah. Kenapa memangnya?" gelagapnya tergugup. Entah kenapa sekarang, setiap kali mendengar suara Vicky. Jantung Vira seperti berdebar tak karuan.


["Ahh hari ini_ Aku ingin ngajak kamu jalan-jalan ke Mall. Boleh nggak?"] sahutnya.


"Apa ke Mall?" Vira membulatkan matanya.


["Ehm, aku barusan sudah telepon Irfan, dan adikmu sudah mengijinkanku. Ayo kita belanja cari-cari perlengkapan bayimu.."] ajak Vicky lagi.


Di sana sontak Vira tergugu haru. Ingin sekali menolaknya namun rasanya sulit sekali berucap, sangking bahagianya karena perhatian Vicky padanya. "Vicky tapi aku..."


["Sudahlah pokoknya kamu jangan menolaknya. Hari ini aku ingin membelikannya untuk si kecil nanti. Sekarang aku sedang perjalanan menuju rumahmu..."] potong Vicky, yang lekas ia menutup lagi panggilannya tak ingin mendengar lagi penolakan Vira.


Vira menghembus kasar nafasnya. "Kok di matiin sih?!" gerutunya. "Aku kan belum siap-siap berganti baju maksudnya." celetuknya mengulum bibirnya tersenyum sipu.


Bersambung....

__ADS_1


...****...


__ADS_2