Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Bolehkah Aku Memelukmu?


__ADS_3

...BAB 24...


...Bolehkah Aku Memelukmu?...


"Kurang aj*r! Jadi benar semua karena dia!" pekiknya, seraya mengepal kencang-kencang kedua tangan kekarnya yang berada di atas kedua pahanya.


"Vicky, jangan marah padanya. Walaupun dia begitu, dia juga tetap Mamamu!" ucap Vira seraya mengusap bahu Vicky.


Vicky tersenyum miring, rasanya muak sekali mendengar semua orang mengatakan kalau Shopia adalah Mamanya.


"Dia bukan Mamaku, Vira. Sampai kapanpun wanita itu tidak akan pernah menjadi Mama dan menggantikan posisi Mama di hatiku. Dia pembunuh Mamaku!" geramnya lagi. Vira hanya menggeleng tak membenarkannya.


"Sudahlah Vicky, jangan lagi kau membahas masalalu Mamamu yang sudah tiada. Nanti Mamamu tak akan tenang di alam sana, jika kamu belum bisa mengikhlaskan kepergiannya. Hilangkan rasa dendammu untuk Mama tirimu. Terimakanlah semua karena takdirNya bahwa Mamamu meninggal karena memang sebuah kecelakaan bukan karena Mama tirimu." terang Vira.


"Aku sangat yakin kalau dialah penyebab Mamaku meninggal. Bahkan dia juga sudah berani mengancammu. Aku pasti bisa membuktikannya padamu nanti Vira!" Vicky tetap menuduh bahwa Sophia pembunuh Citra. Walaupun memang dia belum ada bukti. Maka hingga sekarang pun hubungannya dengan Sophia tak pernah baik.


"Ya sudah terserah apa katamu saja... Lebih baik kita jangan pernah mengungkitnya lagi. Lagipula itu sudah lama sekali..." imbuh Vira. Sontak Vicky mendelik tak terima dengan pernyataan Vira.


"Sudah lama katamu? Seharusnya kamu katakan ini semua padaku, Ra? Kalau saja kamu katakan dari sejak dulu. Mungkin saja kita masih tetap bisa bersama." ungkapnya masih dengan raut kesal dan marah, Vira kembali menoleh. Membalas tatapan tajam Vicky di hadapannya.


"Bagaimana aku ingin menceritakan semuanya padamu, dulu?! Kau pun sama, tak memberitahukanku kalau kamu sebenarnya akan di jodohkan saat itu?! Seharusnya kamu pun terus terang padaku sebelumnya, Vicky! Sehingga aku dahulu tidak terlalu berharap lebih padamu, tak tahunya hanya sakit hati yang ku terima dari keluargamu sejak itu. Tapi semua sudah berlalu dan percuma saja kita terus mengungkitnya lagi, semua tidak akan pernah bisa kembali lagi, Vicky..." lirihnya dengan terisak-isak menahan penyesalan yang tak bertepi.


"Itu bukan kemauanku. Aku di jodohkan karena kemauan mereka, Viraa!" lantangnya, yang sama-sama menahan kekesalan di hatinya, rasanya ingin sekali Vicky melampiaskan kemarahan yang terus menekannya di dada.. Vicky sontak beranjak berdiri. Menyugar rambutnya kasar membelakangi Vira, menghadap ke luar jendela kamar rawat pasien.


"Aku tak pernah mau, sampai sekarang pun aku terus menolak Riska. Itu semua, itu semua karena dirimu. Kau tidak tahu betapa hatiku selalu hampa tanpa dirimu Vira..." ucap Vicky yang semakin memelan dan lirih. Tak terasa bulir bening di sudut matanya pun kembali jatuh berlinangan.


Vira terenyuh mendengarnya serta ikut menangis melihat Vicky yang tersiksa bathinnya.


"Maafkan aku Vicky... Sekali lagi aku meminta maaf padamu. Namun kenyataannya hubungan kita sudah berakhir. Jadi aku mohon ikhlaskan, dan lepaskan aku di hatimu. Sekarang cobalah kamu membuka hatimu untuk wanita lain... Ku mohon kau jangan siksa hatimu lebih dalam lagi..." pinta Vira menyuruhnya untuk segera move-on darinya.


Vicky membalikkan tubuhnya, menoleh ke arah Vira. Menatap nanar wajah cantiknya yang masih tetap sama, tak ada perubahan baginya. Malah menurutnya Vira semakin terlihat cantik mempesona. Kalau saja tak ada hukum di negara ini. Rasanya ingin sekali Vicky menculik dan membawa Vira pergi jauh bersamanya.


"Boleh aku minta sesuatu padamu." pintanya tiba-tiba. Membuat Vira mendongak kaget padanya.


"Meminta sesuatu?" Vira mengernyitkan dahinya berpikir dalam. "Meminta apa?" tanyanya pelan. Vicky pun meneguk ludahnya perlahan.


"Bolehkah aku, memelukmu sebentar...." pintanya yang sontak kedua mata Vira membulat lebar. "Bolehkan? Aku janji ini yang pertama dan mungkin yang terakhir kalinya." pintanya lagi dengan mimik yang memohon.

__ADS_1


Vira tertegun mendengar permintaan Vicky padanya, keduanya kini saling memandang tanpa berkedip, dengan keadaan mata keduanya sudah berkaca-kaca.


Tak lama akhirnya Vira pun mengangguk mengijinkannya. "Iya.. Boleh..." ucapnya tersenyum lirih.


Vicky tersenyum haru. Pelan Pria itu mendekat lalu menarik tubuh Vira kedalam dekapannya. Mengusap lembut punggung dan juga membelai rambut mantan kekasihnya. Aroma wangi sampho di rambut Vira yang tak pernah berubah dari dulu. Menguar tajam di penciumannya. Tak terasa Vicky meneteskan lagi air matanya hingga membasahi pundaknya Vira.


"Vira... Maafkan kata-kataku dulu yang pernah menyakiti hatimu, menuduh dan juga mengataimu dengan perkataan kasarku." ucapnya dengan perasaan sesak di hati.


"Semuanya sudah ku maafkan Vicky... Aku memakluminya, dulu kamu sedang emosi..." ucap Vira.


Vira yang merasakan pundaknya telah menghangat dan basah, perlahan mengangkat tangannya dan membalas usapan lembut di punggungnya Vicky.


Masih bolehkah aku menyimpan rasa cinta ini untukmu, Vira Adelia...? Rasanya sesak sekali melihatmu sudah menjadi istri lelaki lain.. Ingin rasanya ku ulang waktu untuk tidak menyakitimu di masalalu... isaknya dalam hati.


****


Setelah lumayan lama Vicky memeluk Vira di dalam kamar rawat itu. Keduanya lalu melangkah keluar Rumah Sakit, tentunya sudah mengambil obat di apotek terlebih dahulu. Mereka pun berpisah di depan gerbang Rumah Sakit. Kala Irfan sudah ada menunggunya di sana.


"Jaga dirimu baik-baik. Jika kamu kesulitan atau ada apa-apa, hubungi aku ya. Ini nomer ponselku..." Vicky memberikan kartu nama pada Vira. Walaupun mungkin Vira tetap akan menolak Vicky yang ingin memberi bantuannya, Tetapi Vicky tetap bersikeras untuk mempertahankan hubungan komunikasi di antara mereka, meski hubungan mereka telah usai.


Vira mengangguk dan terpaksa menerima kartu namanya.


Vira pun menaiki motor bersama Irfan dan pergi mendahului Vicky. Sementara Vicky menaiki taksinya setelah lama memandang Vira yang sudah menjauh pergi bersama Irfan.


****


Tak sampai lima belas menit. Kedua kakak beradik itu sudah berada di depan apartemen.


"Mbak mau langsung istirahat ya Fan, kamu kalau mau langsung ke bengkel lagi juga nggak papa..." sahut Vira yang masih terlihat lesu.


Sebenarnya Irfan masih bertanya-tanya, dan cemas, kenapa kakaknya bisa ada di rumah sakit dan bertemu dengan Vicky.


"Iya mbak, tapi mbak Vira belum cerita. Sebenarnya mbak sakit apa? dan kenapa bisa bertemu dengan Kak Vicky juga?" tanya Irfan lagi dengan lembut. Khawatir dengan kondisi kakaknya yang aneh.


"Mbak hanya kecapean saja tadi, Fan. Biasa anemia mbak kumat. Tadi tak sengaja ketemu Vicky dan dia mengantarku periksa." sangkalnya. Vira hanya tak ingin mencemaskan Irfan. Biarlah dia sembunyikan soal masalahnya dengan Dika, dan juga tentang kehamilannya. Vira ingin menyembunyikannya lebih dulu dari semua orang termasuk pada Dika. Terkecuali Vicky sendiri, yang sudah terlanjur mengetahuinya lebih dulu.


"Ooh..." Irfan mengangguk.

__ADS_1


"Ya sudah mending kamu buru-buru ke bengkel lagi gih, khawatir nanti Pak Iwan nyariin kamu juga... Mbak mau langsung istirahat. Capek!"


"Ya wes, mbak. Kalau gitu, Irfan berangkat dulu ya... Jangan lupa nanti di minum obatnya!" sahut Irfan mengingatkan lagi kakaknya, seraya memakai helmnya lagi.


Vira mengangkat satu jempolnya ke atas. "Oke sip! Kamu nggak usah khawatir!" jawab Vira tersenyum lebar.


Irfan pun mengangguk dan melambaikan tangannya pada Vira. Lalu memacu kendaraan roda duanya membelah jalan, meninggalkan Vira sendirian di depan apartemennya.


Setelah Irfan berlalu, Vira menghela nafasnya dalam-dalam dan berbalik, melangkah gontai masuk ke dalam lift.


Hingga telah sampai di depan pintu apartemennya, Vira melipat keningnya ketika pintu apartemen sudah terbuka sebelum dia membuka kuncinya. Firasatnya mengatakan bahwa Dika sudah pulang.


Vira membuka pintunya perlahan, tampak Dika yang sedang mondar-mandir di ruang televisi, tak menyadari saat kepulangan Vira di sana.


Vira menutup pintunya lagi hingga terdengarlah suara itu oleh Dika, yang lantas Dika menoleh ke belakang.


"Viraa! Akhirnya kamu sudah pulang? kemana saja kamu sayang...?" cemasnya yang dari tadi siang menunggu kepulangannya.


Dika tak jadi kembali ke kantor setelah makan siang bersama Sindy. Hatinya penuh dengan kecemasan saat Vira tak menjawab pesan dan juga telepon darinya. Sengaja Vira pun mematikan nada suara ponselnya.


Dika melangkah mendekati Vira. Namun Vira bersikap acuh dan memalingkan mukanya.


"Sayang, maafkan aku.." Dika hendak meraih tangan Vira, tapi segera di tepisnya kasar tangan suaminya itu.


Vira tak menjawab ucapan maaf Dika, dia malah berjalan cepat menuju kamarnya dan melewati Dika.


"Viraa... Akan ku jelaskan semua padamu.. Ku mohon dengarkan aku sayang!" Dika melangkah cepat mengejar Vira. Namun dengan cepat Vira menutup pintu kamar dan menguncinya.


"Viraa... Ku mohon, ijinkan aku menjelaskannya dulu padamu..." teriak Dika, menggedor-gedor pintu kamar mereka. Di dalam kamar Vira hanya bungkam tak bicara sedikit pun. Dia melangkah mendekati ranjang, lalu merebahkan tubuhnya yang masih lelah.


Membiarkan Dika yang masih gusar karena kesalahannya sendiri. Baginya tak ada lagi penjelasan yang perlu dia dengar dari mulut suami pembohong seperti Dika.


"Viraa!!" teriaknya.


Vira meraih bantal lalu menutupi rapat telinganya dengannya. Tak ingin mendengar sedikit pun suara Dika memanggil-manggil namanya.


Bersambung....

__ADS_1


...****...


__ADS_2