
...BAB 64...
...Lahirkan Banyak Anak Untukku...
"E, em... anu s-saya boleh minta tolong lagi nggak, Mas?" tanyanya dengan perasaan tak enak dan juga sungkan.
Irfan mengerutkan dahinya. Cukup lama ia berpikir.
"Ya, boleh..." jawabnya. Perempuan itu kembali tersenyum senang. Sehingga tampaklah gigi putihnya berjejer rapi. Menambah kecantikannya di sana.
"Benarkah?!" maniknya berbinar, lagi ia bertanya untuk memastikan.
"Iya aku akan menolongmu, tapi dengan syaratnya." sahut Irfan tiba-tiba, seraya mendelikan matanya tersenyum miring ke arah perempuan di depannya, seketika di otaknya memikirkan rencana yang sangat jitu. Senyuman lebar di bibir perempuan cantik itu pun perlahan menyurut.
"E, em syarat?" ulangnya, kelopak matanya mengerjap-ngerjap bingung. Irfan kembali mengangguk. "Sya-syarat apaan ya Mas?" tanyanya lagi waspada.
"Syaratnya adalah, kamu harus bekerja di tempatku. Bagaimana kamu mau?" tawaran Irfan sontak membuat manik cantik itu membulat lebar.
"Apa bekerja?!" pekiknya terbelalak. Irfan mengangguk-angguk lagi tersenyum. Perempuan itu tertawa gamang.
"Hah, kupikir anda akan menolong saya dengan tulus tanpa mengharap imbalan, tapi tiba-tiba saja anda meminta saya harus bekerja di tempat anda?! Apa saya tidak salah dengar?!" timpalnya, hingga bibir mungilnya mengerucut kesal.
Perempuan yang di kira Irfan lugu pun, ternyata dugaannya salah. Irfan pikir dengan membantu oranglain yang kesulitan, orang itu akan membalas membantunya juga. Namun tak terbayangkan jika perempuan itu akan menolaknya mentah-mentah di depannya. Padahal perempuan tadi jelas-jelas bersikap lemah seolah dia membutuhkan bantuan oranglain padanya, kalau tidak dia tidak mungkin kesulitan saat tak bisa membayar belanjaannya.
"Ya sudah aku tidak jadi minta tolong padamu!!" renggutnya lagi. Perempuan itu pun melengos kesal, melewati motor Irfan Tapi sebelum ia menyebrangi jalan. Dia membalikkan lagi tubuhnya ke arah Irfan.
"Oh ya, soal uang tadi! Jangan khawatir kalau aku ada uang, aku pasti akan ganti secepatnya padamu, anggap saja yang tadi aku hanya meminjamnya darimu!" celetuknya dengan nada sombong.
"Maksudnya?!" Irfan mengerutkan dahinya, tak mengerti.
"Aku bilang, aku akan mengembalikan lagi uangmu yang tadi!!" sentaknya. Lalu tanpa obrolan lagi dia pun gegas menyebrang dan mencari-cari tukang ojeg di sekitar sana.
Irfan menghembus kasar nafasnya, lantas ia menggelengkan kepalanya, merasa diri bodoh dan naif. "Cepat sekali sikapnya berubah? Aah jangan terlalu baik-baik sama orang, Fan... Dia sama sekali nggak butuh pekerjaan darimu!" gerutunya. "Mungkin dia anak orang kaya kali, jadi gengsi saat ku tawari bekerja di tempatku!" cebiknya, seraya mengangkat kedua bahunya. Lekas ia pun menyalakan lagi mesin motornya dan meluncur cepat menuju tokonya.
****
Setelah menjenguk Sophia, siang itu Riska mendatangi kantor Vicky, berencana menanyakan kabarnya dan untuk mencari tahu, kenapa Pria itu dengan tega telah memenjarakan kedua orangtuanya, tetapi sayangnya Vicky tak ada di sana. Dia pun bertanya pada sekertarisnya Vicky, dan katanya Vicky ada urusan dengan keluarganya yang tidak bisa di ganggu.
Riska menghela nafasnya berat, dia pun lekas kembali keluar kantor dengan tangan hampa, tak berhasil membawa kabar apapun. Bersamaan itu, dari jauh Sindy yang sudah di dalam mobilnya pun, bersiap ingin pergi makan siang, tak sengaja melihatnya dan berteriak memanggil Riska. Lalu lekas keluar dari mobil dan menghampirinya.
"Kak, Kak Riskaaa!! Ada apa kemari Kak?!" tanya Sindy, berlari kecil ke arahnya. Riska pun menoleh.
__ADS_1
"Sindy, dimana Vicky berada?! Aku harus bicara padanya!" refleksnya menggenggam kedua bahu Sindy.
"Memangnya ada apa kakak nyariin Kak Vicky?!" Dahi Sindy berkerut tanya.
"Apa kau tidak tahu kalau Tante Sophia dan Om Bagas kini di tahan polisi?!" tanyanya. Sontak kedua mata Sindy membeliak terkejut. Mulutnya menganga lebar. Dia lantas menggelengkan kepala.
"Aku tidak tahu soal itu Kak, selama ini Kak Vicky tak pernah bicara apapun padaku." ulasnya. "Kenapa mereka bisa di tahan?" tanyanya yang spontan Sindy menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Haah... Apa jangan-jangan soal Aqilla yang di sandera oleh Tante Sophia? Bukankah dia sekedar ingin menggertak wanita itu saja 'kan?!" tukasnya pelan.
Riska yang di tanya Sindy seperti itu pun, maniknya menajam melirik ke kanan dan kirinya. Lalu gegas menarik tangan Sindy dan membawanya ke samping mobilnya.
"Ini masalah gawat, rencana Tante Sophia ingin memisahkan Vicky dari wanita itu sudah diketahuinya. Makanya itu Vicky langsung menjebloskan Tante Sophia ke dalam penjara!" pekik Riska dengan suara pelan. "Namun, yang jadi pertanyaanku adalah kenapa Om Bagas juga ikut-ikutan di penjarakan? Bukankah Om Bagas Papanya Vicky? Kenapa dia setega itu pada Orangtua kandungnya sendiri?"
Sindy pun menggeleng turut berpikir penuh tanya. "Oh benarkah? Jadi itu artinya, mereka masih bersama ya Kak, hah beruntung sekali wanita sialan itu!" desisnya, menghela nafasnya kasar seraya melipatkan kedua tangan di dadanya.
Entah mengapa, hati Sindy masih belum bisa terima jika Vicky, Kakak sepupunya yang teramat dia sayangi, yang tak lepas selalu memanjakan dirinya setiap waktu, harus menikahi mantan istri dari suaminya itu. Karena gara-gara Vira juga lah, kini dia dicampakkan olehnya begitu saja. Bahkan suaminya pun seakan tak lagi memperdulikannya setelah melihat Vira menikah dengan Vicky. Dia kini begitu berambisi ingin mendapatkan Aqilla, jika dirinya tak mau memberinya anak.
Kepala Sindy berdenyut nyeri, seakan ingin pecah memikirkan masalahnya yang tak pernah ada habisnya itu.
Drrtttt drttttt drrrttttt
Suara ponsel Sindy pun terdengar bergetar di saku blazernya. Tetapi Sindy seolah tak memperdulikannya. Riska yang menatapnya, bertanya heran.
"Tuh hp-mu bergetar dari tadi, kenapa tidak kau angkat-angkat?" deliknya.
"Lalu?"
"Aku malas berbicara dengannya pasti ingin menagih soal uang yang belum aku kirimkan, biarlah dia berpikir kalau aku sedang sibuk bekerja. Sebaiknya kita pergi makan siang saja, yuk Kak aku udah lapar..." ajak Sindy sambil mengelus perutnya yang memang sudah keroncongan dari tadi. Riska pun mengangguk setuju.
"Ayuk kalau gitu kita naik mobilku saja, sekalian melanjutkan obrolan yang tadi." tawar Riska. Sindy mengangguk lagi, lalu mereka berdua pun pergi mencari tempat makan.
****
Selama di perjalanan tadi Aqilla tertidur pulas, bahkan saat di pindahkan ke box bayi pun dia sama sekali tak terganggu, Aqilla tidur di kamar khusus yang sudah di sediakan oleh para pelayan Vicky sebelumnya.
"Ayo ikut denganku, sebelum makan siang kita di siapkan, ada yang ingin aku bicarakan denganmu..." ajak Vicky setelah Vira menidurkan Aqilla. Tatapan Vira tak henti memandangi putrinya dari jauh. Seperti enggan pergi darinya. Seharusnya Vira tak perlu khawatir karena kamar mereka bersebelahan, selain itu sudah ada seorang pengasuh lagi yang siap menjaga Aqilla bersama Bi Ina.
Vicky memang sengaja membayar dua pengasuh sekaligus. Itu agar Vira tak terlalu kepayahan mengurusinya seorang diri.
"Apa yang ingin kamu bicarakan Mas?" tanya Vira setelah keduanya memasuki kamar mereka.
Kamar yang luas dengan tempat tidur yang nyaman berukuran King size. Tak lepas dari itu, manik Vira terus mengedari seluruh ruang kamar tersebut, yang sebentar lagi akan di tempati olehnya dan juga suaminya. Bibirnya bertambah merekah memandangi takjub setiap sudutnya, kamar yang nyaman dan indah seperti dalam impiannya selama ini.
__ADS_1
"Sini ikut aku..."
Vicky menggenggam tangan istrinya dan membawanya ke arah balkon kamar, sebelum bicara serius dengannya, Vicky ingin memperlihatkan dulu pemandangan bukit yang indah di depan kamar Mansion mereka.
"Waah indah dan sejuk di mata, padahal ini baru siang hari. Apalagi kalau malam?! Suasananya pasti lebih menyejukkan, ya kan Mas..." Vira tak berhenti berdecak kagum melihat panorama alam ciptaan Tuhan di depan matanya, bukit hijau yang tinggi, pepohonan berjejer rimbun di persisiannya dan banyak sekali burung-burung yang terbang bersahutan di sekitarannya. Jauh dari lubuk hatinya yang terdalam, Vira begitu bahagia dengan semua kejutan dari Vicky, seakan-akan dia masih tertidur dalam mimpinya.
"Mas..."
"Ya?"
"Cubit aku." celetuk Vira, refleks Vicky pun menoleh, satu alisnya terangkat.
"Apa?"
"Cubit akuuu!" titahnya lagi, Vicky pun menuruti titahan istrinya mencubit gemas dua sisi pipinya yang mulus.
"Aaaahh... Sakit Mass!!" jeritnya.
"Katanya tadi minta di cubit..."
"Hahahha..." Vira pun tergelak tawa, lalu kembali menatap suaminya dengan senyuman haru. "Mas, terimakasih banyak ya, selama ini kamu selalu memberiku kebahagiaan,... Aku merasa tidak pantas mendapatkan ini semua, karena aku juga belum bisa membalas apa-apa sama kamu..." ucapnya sendu.
Vicky mengulas senyumnya, lalu ia memeluk istrinya dari belakang.
"Kamu ingin membalas kebaikanku?"
Vira menoleh ke samping, menatap wajah suaminya dengan serius. Lalu ia mengangguk pasti.
"Gampang..." celetuknya.
"Bagaimana carany?" tanyanya dengan antusias ia pun mendengarkan saran Vicky.
"Lahirkan anak-anak yang banyak untukku..." bisiknya dengan jelas di telinganya Vira, sontak itu pun membuat wajah Vira bersemu merah. Maniknya membulat lebar.
"Berikan Aqilla, adik-adik yang tampan sepertiku dan cantik juga seperti dirimu..." lanjutnya lagi, semakin mempererat pelukannya di perut ramping Vira. "Oke, itu sudah membuatku cukup bahagia hidup bersamamu."
"Hahahaa, baiklah..." Vira tertawa geli mendengarnya, lalu ia mengangguk bersedia. Vicky pun membalikkan tubuh istrinya. Menghadap ke arahnya
"Thanks you honney..." ucapnya, yang lalu kembali mencumbu bibir istrinya, dengan hangat dan lembut, melanjutkan yang sempat terjeda tadi di dalam mobil.
Bersambung....
__ADS_1
...****...