Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Alasan Kamu Menjauhiku


__ADS_3

...BAB 23...


...Alasan Kamu Menjauhiku ...


"Iya, kabar baiknya... Istri anda sedang hamil dan baru berusia sekitar tiga mingguan ini." terang Dokter itu lagi, yang sontak Vicky terhenyak kaget mendengarnya.


"Hamil?!" Dokter itu mengangguk lagi.


"E, iya.. terimakasih banyak Dokter, sudah memberitahuku..." ucap Vicky tersenyum haru. Mencoba terlihat berpura-pura bahagia di depan mereka.


"Sama-sama Pak. Kalau begitu kami permisi dulu dan ini resep obatnya Bu Vira, bisa anda tebus di apotik nanti." katanya, Vicky mengangguk lagi seraya mengambil resep obat yang ada di tangan Dokter kandungan tersebut.


Setelah Dokter dan suster itu pergi, Vicky masuk dan menemui Vira yang sudah di pindahkan di sebuah kamar. Tampak Vira sudah tersadar dari tadi. Dia terkejut melihat Vicky yang masuk ke kamarnya.


"Jadi kamu yang membawaku kemari, Vicky?" lirihnya bertanya dengan keadaan tubuh yang masih lemah. Vira mencoba bangun dari pembaringannya.


"Jangan dulu bangun, istirahatlah sebentar..." cegah Vicky. Menahan kedua pundak Vira. Menyuruhnya untuk kembali berbaring. Tapi Vira menolaknya dan tetap ingin memilih duduk.


"Aku sudah tidak apa-apa. Aku ingin duduk saja..."


"Kamu tadi pingsan di depan kantorku. Kalau boleh tahu tadi kamu sedang ada urusan apa ke sana?!" tanya Vicky dengan tutur yang lembut.


Vira mengernyitkan dahinya, mengingat-ingat lagi kejadian sebelum ia tak sadarkan diri.


"Jadi... Itu tadi adalah kantormu?" tanyanya belum percaya, Vicky mengangguk mengiyakan. Pantas saja nama perusahaannya Bahru Sanusi. Aku baru ingat kalau itu adalah kepanjangan nama dari Vicky. gumam Vira sambil berpikir.


"Maaf aku tidak tahu." Vira menunduk malu. "Jadi kamu adalah pemilik perusahaan itu. Irfan belum menceritakan semuanya padaku..."


Vicky menggeleng pelan dan masih tetap tersenyum.


"Tidak apa, oh ya... Kamu belum menjawab pertanyaanku yang barusan, ada perlu apa sebenarnya kamu datang ke kantorku Ra?" tanyanya seraya duduk di sisi ranjang menghadap Vira.


Vira kembali tersentak dengan pertanyaan Vicky. Pupil matanya bergetar-getar lagi berkaca, menatapi Vicky dengan buru Vira memalingkan wajahnya yang ingin menangis rasanya.

__ADS_1


"Aku, aku... Akh sebaiknya aku segera pulang dari sini." alihnya yang tak ingin membicarakannya.


Vira pun lekas turun dari brangkar membuka selimutnya. Dia tidak ingin lama-lama berada di Rumah Sakit itu. Bukan hanya itu saja, dia juga ingin menghindar dari pertanyaannya Vicky, tak ingin menceritakan tentang masalah rumah tangganya pada mantan kekasihnya itu. Bahwa kini suaminya telah berselingkuh dengan salah satu pegawainya Vicky, dan yang sebenarnya Vira juga tak tahu kalau Sindy adalah adik sepupunya Vicky sendiri.


"Ada apa, Ra?" desak Vicky lagi yang semakin penasaran di buatnya. Dahinya mengkerut seraya tangan kekarnya menahan satu bahu Vira. Sebab Vira yang terlihat begitu sangat gelisah.


"Tidak ada apa-apa Vicky, aku hanya tak mau lama-lama saja di sini. Aku harus segera pulang. Aku baru teringat masih banyak pekerjaanku di rumah..." alasannya yang tak ingin memperpanjang pembicaraan lagi.


Vicky pun sempat kecewa karena Vira tak mau terbuka padanya. Tampak jelas sekali dari mimik wajah Vira yang sedang menyembunyikan sesuatu masalah darinya.


"Baiklah kalau itu maumu. Tapi kita ke apotik dulu sebentar, mengambil obatmu ya." selanya sambil membantu Vira berdiri. "Dan.. Sebelumnya aku ingin mengucapkan selamat untukmu Ra, kata Dokter tadi, katanya kamu sedang hamil tiga minggu. Hehehe..." Vicky terkekeh kecil dan terharu.


"Ahh sebentar lagi aku akan jadi Paman rupanya..." celotehnya lagi, seperti ikut bahagia mendengarnya. Padahal hati kecilnya begitu nyeri menusuk, hingga ke jantung. Vicky lekas menyeka air matanya yang sudah berjatuhan duluan tanpa dia minta sendiri.


Vira menatap sendu manik Vicky yang sudah mengeluarkan air matanya. Lantas Vira jadi menundukkan kepalanya juga ikut menahan tangis. Namun tangisannya bukanlah tangisan haru karena dia sedang mengandung. Melainkan tangisan yang lebih pada rasa perih di hatinya. Sakit karena ulah suaminya sendiri, Dika sudah banyak membohonginya, juga telah mengkhianati pernikahannya dengan menduakannya, tanpa alasan dan sebab yang jelas.


"Kalau kamu bahagia mendengarnya, lantas kenapa kamu sampai mengeluarkan air matamu? Baru kali ini aku melihat kamu menangis seperti itu, kok jadi secengeng ini sih?!" tanyanya beralih kembali memandang wajah Vicky seraya terkekeh kecil. Sedikit bergurau untuk mencairkan suasana. Vira tahu jika Vicky sebenarnya belum bisa menerima kenyataan bahwa dirinya kini sudah menikah.


Keduanya pun kini tertawa, karena ledekan Vira pada Vicky.


"Iya, terimakasih banyak Vicky, atas semua perhatianmu padaku..." ucap tulus Vira. Hatinya terenyuh melihat mantan kekasihnya, yang masih sama selalu memberikan perhatian lebih padanya.


"Oh ya ini tasmu, Ra. Tadi saat kamu belum sadar, ponselmu berbunyi." alihnya yang baru teringat.


"Oh iya aku sampai lupa!" Vira mengambil tasnya di tangan Vicky, lalu ia membuka tas dan mengambil gawainya di dalamnya, untuk mengeceknya. Terpampang beberapa panggilan tak terjawab dari Dika dan juga pesannya yang masuk. Vira hanya menarik nafasnya dalam-dalam, hatinya masih geram. Matanya kembali memanas melihat deretan aksara Dika, meminta dirinya agar segera mengangkat teleponnya. Juga kata permintaan maafnya karena telah membohonginya.


Vira sengaja mengabaikan pesan itu, dia hanya beralih mengetik pesan pada Irfan untuk menjemputnya di Rumah Sakit sekarang juga.


"Itu pasti telepon dari suamimu ya, 'kan?" tanya Vicky


Vira sontak mendongak menatap Vicky, lalu menelan ludahnya kasar dan mengangguk pelan. "Iya..." jawabnya tersenyum tipis.


"Kenapa tidak kamu telepon balik?" tanyanya lagi. Mengerutkan dahinya terheran.

__ADS_1


"Emm..."


Vira memalingkan wajahnya masih dengan mata yang berkaca-kaca. Menutup ponselnya dan memasukan lagi ke dalam tasnya. Berusaha menghindari tatapan Vicky, yang sepintas Vira merasa, Vicky seperti tengah mencari-cari tahu tentang hubungannya dengan suaminya. Baikkah atau sedang dalam masalah-kah?


"Ah tidak, nanti saja di rumah. Saat ini mungkin suamiku sedang sibuk di kantornya." ujar Vira sedikit gugup.


"Kamu tak ingin mengabarinya kalau barusan kamu pingsan di jalan? Mungkin saat ini dia sangat khawatir padamu."


"Tidak, dia tidak tahu kalau aku sedang keluar rumah." sangkalnya.


"Ya sudah kalau begitu. Ayo, biar aku antar kamu sekalian ke rumahmu. Kita naik taksi lagi ya, soalnya mobilku di kantor tadi." tawarnya terkekeh. Vira kembali menggeleng menolaknya.


"Em, tidak perlu Vick... Terimakasih banyak atas tawaranmu, barusan aku sudah kirim pesan sama Irfan untuk menjemputku kemari. Lagipula aku tidak ingin terus-terusan merepotkanmu segala. Bukankah seharusnya kamu juga pergi ke kantormu ya, 'kan?!"


"Sebenarnya aku tidak pernah merasa di repotkan olehmu, Ra. Aku senang sekali bisa membantumu. Tapi, kalau kamu bersikeras tak mau aku antar, ya sudah... Aku juga tidak ingin memaksamu terus. Hanya saja aku minta padamu, jangan menutupi masalahmu denganku. Aku siap menjadi tempat curhatmu kapan saja kamu mau..." Vicky tersenyum memandang sendu wajah Vira. Rasanya dia memang belum bisa melupakan cinta pertamanya.


"Maafkan aku Vicky, bukan aku menolak semua kebaikanmu. Tetapi sekarang status kita sudah berbeda. Aku hanya tidak ingin nantinya ada oranglain yang memfitnah kita. Lebih baik, kita menjaga jarak agar tidak terjadi kesalahpahaman bagi orang yang melihat. Termasuk, di depan suamiku nanti atau pacarmu, eh maksudku istrimu mungkin?!" Kedua alis Vira terangkat sambil merapatkan bibirnya yang sedikit bergetar. Meminta Vicky agar dia mengerti.


Vicky tersenyum kecewa. "Aku, aku tidak punya pacar, Ra. Apalagi seorang istri." ungkapnya.


"Kenapa? Bukankah dahulu kamu sempat ingin di jodohkan ya?"


Deg


Sontak Vicky menoleh pada Vira terkejut. "Jodoh? Darimana kamu tahu jika aku ingin di jodohkan dulu?!" Vicky sangat kaget. Setahunya Vira belum tahu semua hal itu. Vira sedikit memias karena malah keceplosan bicara.


"Ah tidak maksudku, aku..." Vira memalingkan wajahnya untuk menghindari sorotan tajam mata Vicky yang terus mengintimidasinya.


"Katakan padaku Vira, sejauh mana sebenarnya kamu tahu soal itu?" memegang erat dua bahunya Vira. Untuk kembali menatapnya.


Vira menelan kasar ludahnya dan memberanikan memandangi wajah Vicky yang seperti menahan kesal.


"Aku tahu dari Mamamu dulu.. Itulah sebabnya aku mundur dan tak ingin melanjutkan hubungan kita lagi." ungkapnya. "Mamamu yang memaksaku untuk meninggalkanmu dan pergi sejauh mungkin darimu." lanjutnya lagi. Vicky membeliak geram. Nafasnya memburu cepat. Amarah dari sorotan matanya begitu terlihat membara.

__ADS_1


Bersambung....


...*****...


__ADS_2