Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Diana Yang Terpengaruh


__ADS_3

...BAB 29...


...Diana Yang Terpengaruh...


"Gawat! Aku lupa kalau setiap akhir bulan Mama selalu datang ke apartemenku. Aku yakin sekali Vira pasti telah menceritakan semuanya pada Mama!" Dika menghembus kasar nafasnya mulai resah gulana.


Dika pun kembali ke ruang tamu lalu lekas berpamitan dengan keluarga Sindy saat itu juga.


"Kok cepat sekali sih, kan belum waktunya makan malam?" renggut Sindy. Wajahnya yang di tekukkan manja, semakin manis di lihat, rasanya Dika ingin sekali mendekap dan menciumnya lebih lama. Tapi karena ada calon mertuanya dia tahan-tahan sebisa mungkin naf-sunya sendiri.


"Iya Sin, maaf ya... Mendadak ada urusan penting..." sangkalnya.


"Sindy, calon suamimu ini kan seorang pegawai di sebuah perusahaan besar, tentunya dia sangat sibuk, Nak! Seharusnya kamu lebih pengertian lagi pada Nak Dika..." sahut Irman mengusap punggung putrinya memberi pengertian. Dika mendengarnya mengangguk.


"Baiklah Pah,.." Sindy akhirnya berhenti merengek setelah di nasehati Papanya.


"Kalau begitu saya permisi dulu pulang ya Om, Tante... Terimakasih atas waktunya..." ucap Dika pada mereka. Mereka pun semua mengangguk.


Setelah pamitan, Dika melangkah keluar dari rumah Vicky, lekas ia menaiki mobil Toyota Alpardh nya. Sindy di teras rumah terus melambai tangan padanya. Dika pun membalasnya sambil tersenyum.


Setelah roda empatnya Dika keluar melewati gerbang rumah, Dika mempercepat laju kendaraannya pulang menemui Vira dan juga Mamanya yang sedang menungguinya.

__ADS_1


Dalam satu jam perjalanan Dika telah sampai apartemennya lagi, dengan jantung yang berdebar sangat kencang. Pasti akan ada perang dunia ketiga di antara mereka, terkanya. Sebisa mungkin Dika harus bersikap tenang dan baik-baik saja di depan Mamanya. Merayu Mamanya agar mau mendukungnya yang berniat ingin berpoligami. Atau rencana pernikahannya dengan Sindy bisa gagal total dan hanya menjadi angan-angannya belaka.


Pintu dia buka perlahan, selirik dia mengintip dari celah pintu, satu bantal sofa melayang dan nyaris saja mengenai wajahnya jika Dika tak langsung menutup pintunya lagi.


Ternyata Diana sudah stand by menunggu kepulangan Dika dari tadi, tak pegal dia berdiri di depan pintu seraya melipat kedua tangannya di dada. Sedang Vira duduk di sofa menatap datar wajah suaminya yang sudah ketakutan lebih dulu akan menghadap Mamanya sendiri.


"Ma, Mama!" gelagap Dika menyengir kecil. "Eh Mama sudah ada di sini rupanya?" tanyanya basa basi, kembali memberanikan diri membuka pintunya pelan-pelan, ragu untuk masuk.


"Dari mana saja kamu, heh?! Cepatan masuk!" semprotnya, dengan nafasnya yang naik turun emosinya kembali naik. Tatapan menyalang tajamnya, bagaikan peran ratu jahat di cerita dongeng putri salju.


"Mama, sini duduk dulu... Akan Dika jelaskan semuanya yaa..." Dika cengengesan sambil mendekati Mamanya, hendak ingin merangkul bahunya mencoba menenangkan hati Mamanya, namun lekas di tepis lagi oleh Diana.


"Semua sudah jelas dan tak perlu lagi kau jelaskan. Mama sudah dengar semuanya dari Vira! Apa maksudmu tiba-tiba kau ingin menikah lagi? Apa selama ini Vira kurang cukup bagimu, heh? Mama tak pernah mengajarimu menyakiti hati wanita, Dika... Kamu contoh dong Papamu! Papamu masih setia sama Mama sampai sekarang! Kamu bukan saja mengecewakan Vira tapi mengecewakan Mama juga, Nak,... Coba kamu pikir lagi sebelum bertindak Dika!" Diana tak berhenti berdecak kesal, hatinya jadi semerawut. Karena terlalu kecewa.


"Mah, maafin Dika sebelumnya sudah mengecewakan hati Mama. Dika akui di sini memang Dika yang salah. Tak memberitahukan sebenarnya dari awal. Tapi Dika juga tak bisa ingkar janji pada kekasih Dika, dan Dika akan tetap menikahinya walaupun Mama dan Papa tak menyetujuinya." paparnya, dengan bekal tekad yang bulat. Lantas ucapannya membuat hati Vira kembali berdesir nyeri, mendengarnya.


"Kau tega sekali Dika. Lalu bagaimana dengan nasib Vira? Siapapun pasti tak mau di perlakukan seperti Vira. Mama saja sakit hati mendengarnya apalagi di posisi Vira yang jadi istri kamu Nak!" tukas Diana kembali membathin.


"Mah, aku yakin jika semua di jalani. Lambat laun, Vira juga pasti akan menerimanya seiring berjalannya waktu. Bukankah dalam agama kita, tak ada yang melarang suami untuk memiliki istri lebih dari satu asalkan kita mampu menafkahi mereka dan Dika berjanji akan bersikap adil pada istri-istri Dika nantinya Mah,.." Dika masih dengan tekadnya, merayu Diana agar mendukung sepenuhnya. Sebisa mungkin membuat Diana percaya padanya.


"Dika masih ingat akan pesan Mama sewaktu Dika menikahi Vira dulu. Mama menginginkan segera memiliki cucu sebanyak mungkin dari kami berdua 'kan?! Karena Dika adalah putra Mama satu-satunya, tapi sangat mustahil juga di waktu usia Mama dan Papa yang sudah senja, Dika bisa memberikan cucu yang banyak hanya dari Vira seorang. Jika Dika menikah dengan dua istri sekaligus, maka otomatis Mama akan dapatkan cucu sebanyak yang Mama mau..." saran Dika mengangguk tersenyum, sontak di sana Vira hanya terperangah mendengar perkataan Dika.

__ADS_1


Diana menarik nafasnya dalam-dalam, lalu memalingkan wajahnya dari tatapan putranya. Dalam pikirannya, merenungkan. Jika perkataan Dika ada kala benarnya. Diana dan suaminya memang sudah terlalu tua dan telat untuk memiliki cucu, di usianya yang sudah menginjak lima puluh lima tahun tapi masih terlihat awet muda itu, sedang Kamal, Papanya Dika sendiri, sudah menginjak usia enam puluh tiga tahun. Terkadang Diana selalu iri melihat teman-teman sebayanya memiliki cucu lebih dari lima bahkan ada yang sudah belasan cucu, sedangkan dirinya. Satu orang cucu pun saja belum punya.


Makanya, kenapa Diana begitu antusias memberikan obat subur untuk membantu Vira agar mempercepat kehamilannya. Itu karena hatinya merindukan sosok anak-anak kecil yang akan menemaninya di hari-hari tua mereka. Gelak tawa kecil, tingkah dan polah lucu dari cucu-cucunya kelak, selalu menari di mimpi-mimpi Diana dan juga Kamal.


Diana hanya khawatir jika Vira tak cepat mengandung seperti dirinya dahulu yang begitu lama sekali memiliki Dika.


Diana menoleh pada Vira yang masih duduk terdiam tak bicara sepatah kata pun. Wajah Vira semakin memerah menahan sedih dan sakit hatinya. Diana tahu bagaimana perasaan Vira saat ini, pastinya sangat berat dan belum siap menerima ujiannya. Tapi tak dia pungkiri juga bahwa perkataan Dika pun ada benarnya.


"Bagaimana menurutmu Vira. Setelah Mama cerna perkataan Dika, Mama sih tidak mempermasalahkan itu. Dika benar sayang, Mama dan Papa sangat menginginkan cucu secepatnya, bahkan lebih banyak. Lagi pula sampai saat ini pun kamu juga belum terlihat ada tanda-tanda kehamilan." ucapnya yang tiba-tiba jadi meragukan Vira.


Vira sontak berdiri menatap nanar Mama mertuanya dan juga suaminya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Air matanya semakin meluruh.


"Maaf Mah, tapi Vira tidak bisa. Jika Mas Dika lebih memilih menikah lagi, lebih baik Vira yang mundur dari pernikahan ini! Maaf Vira tidak bisa setegar para istri nabi yang mampu di poligami." riuhnya, dadanya semakin sesak. Tak sangka jika Mama Mertuanya yang dia percayai akan membelanya malah berbalik mendukung keinginan Dika.


"Nak, jangan egois seperti itu! Dika benar dia akan adil padamu dan juga calon istri keduanya. Tolonglah Mama sayang... Mama pengen nimang cucu. Mama rindu sekali dengan anak-anak kecil." pintanya memohon.


Vira tetap menggeleng kepala. Lalu melangkah pergi ke kamar tak memperdulikan lagi perkataan Diana.


"Viraa, Viraa!" teriak Diana memanggil.


Bersambung...

__ADS_1


...****...


__ADS_2