
...BAB 45...
...Jadikan Aku Ayah, Untuk Calon Bayimu...
Tak lama kemudian, klakson mobil Vicky terdengar menyahut dari luar halaman kontrakan Vira. Gegas Vira melangkah keluar rumah kontrakannya, setelah ia selesai berganti pakaian longgar yang nyaman untuk dia pakai selama hamil.
Vicky terlihat melambaikan tangannya dari dalam mobil seraya melempar senyum manisnya pada Vira. Ia pun turun dan menghampiri Vira yang berjalan pelan-pelan ke arahnya.
"Sudah siap?" tanyanya dengan senyum merekah, tangannya meraih kedua tangan Vira dan mengusapi punggung tangannya dengan lembut.
Vira hanya mengangguk tersenyum kikuk, wajahnya berubah merah ketika Vicky menatapnya lekat dengan sorot mata berbinar.
"Ayo..." lekasnya, yang lalu lelaki itu menggandeng tangannya Vira, menuntunnya jalan hingga masuk ke dalam mobil dengan hati-hati.
Kini mereka berdua pergi menuju mall, dan selama di perjalanan mereka tak berhenti berbincang di selingi senda gurau. Keduanya asyik bernostalgia mengenang kembali masalalu yang pernah mereka lewati bersama.
Setengah jam berlalu, akhirnya mereka telah sampai ke tempat tujuan. Vicky lagi-lagi menuntun Vira turun dari mobil, dan berjalan memasuki area pusat perbelanjaan itu dengan penuh perhatian, mengusap punggung Vira dan sesekali menyelipkan anak rambutnya Vira yang menghalangi pipi dan maniknya. Sontak, beberapa mata orang memandang ke arah mereka berdua dengan tatapan iri dan ada juga yang turut merasakan kebahagiaan yang tercipta. Mereka yang melihat seolah percaya kalau keduanya adalah sepasang suami istri yang sedang berjalan-jalan di mall itu.
Vicky melepas tangan Vira berjalan duluan untuk mengambil troli dulu. Lalu kembali menghampiri Vira.
"Ayo kita langsung pergi ke tempat perlengkapan bayinya saja ya..." ajak Vicky yang bersemangat sekali, dia meraih tangan Vira lagi dan mengapitnya di lengan kirinya yang kekar, tanpa meminta ijin dulu. "Pegangan di sini!" titahnya.
"Tapi Vick, kita ini_" sela Vira, sontak menarik cepat tangannya lagi. Seketika wajahnya memerah bertambah malu. Karena masih merasa canggung dengan sikap Vicky yang terlalu berlebihan menurutnya. Perilaku Vicky padanya layaknya seperti seorang lelaki yang sedang memperhatikan kekasihnya sendiri.
"Kenapa?" Vicky mengerutkan dahinya, Vira merapatkan bibirnya dan menggeleng menolaknya.
"Emm, a-aku malu." jawabnya terbata. Vicky menghela nafasnya pelan dan tersenyum.
"Jangan malu, anggap saja aku ini adalah suamimu, biarkanlah oranglain menganggap kita ini sebagai sepasang suami-istri. Abaikan perkataan mereka ya." dalihnya cuek. Justru, Vicky merasa senang jika memang ada yang menganggapnya begitu.
"Kamu ini!" Vira mencubit pelan lengan Vicky agak kesal. Vicky hanya tertawa meringis.
"Dari pada kamu nantinya terjatuh atau kepeleset kan?! Lebih baik pegangan padaku, mencegah lebih baik daripada mengobati?!" jelasnya beralasan seraya matanya mendelik menggoda.
Vira menggerutu sebal. "Jadi kamu doain aku supaya terjatuh gitu, jahat sekali sih! Uuh~" Vira memukul-mukul keras tangannya Vicky.
"Hahaha... Bukan, bukan begitu..." Vicky tergelak tawa. "Sudah-sudah ikuti saja apa perkataanku, jangan ngeyel!" titahnya lagi dengan gemas. Tak ingin berdebat lagi di tempat umum. Terpaksa Vira pun mengikuti perintahnya Vicky. Merangkul lengannya Pria itu, dengan wajah malu sekaligus jengkel.
"Oh ya, apa kamu sudah tahu jenis kelamin bayi kita?!" celetuk Vicky, saat mereka berjalan bersama memasuki ruang khusus perlengkapan bayi. "Ups, ah maaf maksudku bayimu...hehe_" ralatnya lagi, terkekeh. Wajahnya mendadak memerah padam, jadi salah tingkah. Vira pun mengulum senyumnya setelah mendengar celotehan Vicky. Lantas ia menggeleng pelan.
"Aku tak sempat di USG lagi. Biarlah, nanti jadi kejutan. Anak lelaki atau perempuan sama saja bagiku..." ucap Vira tersenyum tipis, seraya memandang pandangannya ke depan. Vicky mengangguk kecil dengan sedikit mengerungkan alisnya.
"Tapi, bagaimana kita akan belanja membeli pakaian bayi? Sedang kamu sendiri tak tahu berjenis kelamin apa bayimu?!" tukasnya bingung.
"Gak apa-apa, semuanya sama saja, bagiku bayi yang baru lahir tak ada perbedaan. Lagian kan buat sementara waktu saja. Nanti setelah anakku udah agak gedean, baru aku bisa beli pakaian baru lagi..." saran Vira.
"Ooh,."
__ADS_1
Vicky mengangguk mengerti pemikiran Vira yang simple, sangat berbeda dari wanita biasanya yang selalu ribet jika soal belanja. Vicky bisa tahu itu dari sifat Sindy. Akhirnya mereka sampai di tempat penjualan perlengkapan bayi dan mulai memilih-milih barang. Vira mengambil dua lusin popok, atasan dan pakaian tidur bayi, tak lupa ia juga mengambil selimut hangat bayi lalu semuanya ia masukan ke dalam troli. Sedang Vicky yang tak jauh dari belakangnya, tengah serius berjongkok melihat-lihat box tempat tidur bayi dan juga kereta dorong khusus bayi. Vira tertegun setelah menoleh ke arahnya. Bibirnya tersenyum tipis.
Seandainya benar, kamu adalah suamiku, Vicky. Dan anak yang ku kandung adalah anakmu. Aku pasti tidak akan sesedih dan khawatir seperti sekarang ini. Tuhan, apa maksudMu menghadirkan dia kembali di hadapanku? dalam keadaan hidupku terpuruk tanpa suami. gumamnya di hati. Sangat terenyuh dengan perhatian Vicky padanya, yang melebihi Dika, justru suaminya sendiri sama sekali tak memikirkan kebahagiaan saat-saat bersama ini. Jika dia tahu, menanti buah hati bersama adalah hal yang terindah dalam hidup.
Tak lama, tiba-tiba saja dua orang wanita berhijab berparas cantik yang berprofesi sebagai SPG menghampiri mereka berdua dan menawarkan barang terbarunya. Mereka pun mengagetkan Vira yang tengah melamun menatap Vicky.
"Permisi Pak Bu..." sapanya dengan ramah pada mereka.
"Ah ya!" gelagap Vira, lekas ia menoleh pada mereka terkejut.
"Kami ingin menawarkan Produk Terbaru kami pada Ibu dan suaminya, khusus untuk satu minggu kedepan ini dapat bonus beli dua dus gratis satu." sahutnya tersenyum ramah pada Vira dan juga Vicky secara bergantian. Vira kembali tersipu malu dengan sebutan suami-istri yang di lontarkan SPG itu pada mereka berdua. Vicky di sana lekas mendekati dan malah merangkul bahunya Vira mesra dengan sengaja.
"Produk Terbaru?! Boleh kami lihat?" Vicky menanggapinya, meraih satu barang di tangan SPG cantik itu dan Vira pun ikut melihatnya.
"Ini adalah susu formula khusus untuk kebutuhan bayi yang baru lahir dan satunya lagi susu khusus untuk Ibu yang sudah melahirkan, Pak." jelasnya lagi pada Vicky.
"Apa kelebihannya?" tanya Vicky lagi.
"Susu yang ini membantu melancarkan ASI bagi si Ibu yang baru pertama kali melahirkan, dan bagi Ibu yang belum bisa sepenuhnya memberikan ASI eksklusif pada bayi. Karena air susunya yang sulit keluar saat ingin menyusui. Sementara yang satunya lagi susu formula khusus untuk bayi yang baru lahir untuk pengganti susu Ibu yang belum keluar. Kedua-duanya sangat bagus dan bermanfaat Pak. Tak perlu khawatir Pak-Bu, produk susu formula kami sudah ijin BPOM jadi sangat aman jika di di konsumsi oleh pembeli... Boleh di coba setelah Ibu melahirkan nanti, akan terlihat hasilnya setelah dua sampai tiga kali meminumnya." terangnya lagi.
"Hmm..." Vicky mengangguk mengerti. "Bagaimana kamu mau beli?" liriknya pada Vira.
"Em aku..." Vira mulai bimbang harus membelinya atau tidak. Menurutnya sih, ini tidaklah terlalu penting. Karena jaman sekarang tidaklah susah, memakan sayur daun katuk saja sudah bisa melancarkan ASInya.
"Bagaimana Pak? Ini sangat bagus buat istrinya, jaga-jaga nanti ketika istrinya melahirkan dan ASI-nya tak kunjung keluar?" tawar si SPG itu lagi. Demi untuk menarik konsumennya berbagai cara mereka merayu sebisa mungkin.
terus menyebut Vira sebagai istrinya. Hal itu membuat dia setuju untuk membelinya. Tanpa minta persetujuan Vira.
"Oke! Baiklah kalau begitu kami beli masing-masing dua dus ya..." sahut Vicky.
"Ah, baik Pak..." sahut mereka senang.
"Eh, banyak sekali. Tidak-tidak satu dus saja!" sela Vira menarik lengan Vicky.
"Kenapa?" delik Vicky.
"Jangan beli banyak-banyak kalau ingin mencobanya dulu!" bisiknya di telinga Vicky. Vicky mengangguk terpaku.
"Em maaf ya mbak, kami beli satu dus saja masing-masingnya hehe_" ralat Vira pada dua sales itu. Kedua sales itu saling menoleh lalu tak lama mereka mengangguk, menuruti perkataan Vira.
"Oh baiklah kalau begitu Bu..."
Akhirnya mereka pun terpaksa membelinya. Padahal Vira tak berniat untuk membelinya. Toh dia juga sudah tahu makanan apa saja untuk memperlancar ASInya.
Setelah dua jam lamanya mereka belanja dan makan siang di Restoran mall. Banyak sekali barang yang di beli Vicky untuk kebutuhan calon bayi Vira. Bahkan Vicky pun sudah memesan box dan juga kereta dorongnya diam-diam pada kasir dan meminta untuk di kirim langsung ke alamat kontrakan Vira nantinya.
"Sini buka mulutmu. Makanlah yang banyak biar kamu bertenaga saat melahirkan nanti." saran Vicky seraya menusuk potongan stick lalu tanpa di minta dia menyuapkannya langsung pada mulut Vira. Vira yang tak di beri kesempatan bicara, mulutnya malah di jejelin daging empuk berwarna merah itu.
__ADS_1
"Bagaimana enak kan?!" Vicky menaikkan dua alisnya tersenyum.
"Emmm, Vickyy!" pekiknya merenggut kesal, yang spontan Vira pun memukul tangan Vicky. "Kamu ini ya pasti kebiasaan kayak gini, nih!" gerutunya sambil mengunyah penuh di mulut.
"Haha... Ayo di makan, makanya jangan di lihatin terus. Nanti makanannya keburu basi lagi," ledeknya bercanda.
Vira memincingkan matanya sambil mengunyah pelan. "Iya aku pasti memakannya kok!" Vira pun lekas meraih sendok dan bersiap memakan makanannya. Wajahnya masih tertunduk malu dan kesal.
Vicky melirik Vira yang masih marah di sampingnya duduk. Perlahan ia mengusap pipinya dengan punggung tangannya. "Maaf ya, aku selalu bercandain kamu." ucapnya lembut hingga Vira menoleh terkejut padanya.
"Aku hanya ingin kamu tidak lagi memikirkan hal yang membuatmu sedih lagi." lanjutnya. Vicky menghela nafasnya panjang lalu menyedekapkan kedua tangannya di atas meja, Pandangannya kini ke depan.
"Vira, sebentar lagi kamu akan menjadi Ibu. Apa kamu tidak berniat lagi untuk mencarikan sosok Ayah pengganti calon anakmu?" celetuknya berhasil membuat Vira terpaku di tempat, hingga sendoknya terlepas dari tangannya dan terjatuh berdenting di atas piringnya.
"Eu, emm, maksud kamu_." Vira tergagap jadi salah tingkah, wajahnya mendadak panas. Hingga kini irama jantungnya berdetak lebih cepat. Jujur saja selama ini Vira belum memikirkan untuk menikah lagi.
"Jika kamu mau, aku siap menjadi ayah untuk anakmu." selanya tiba-tiba yang lalu ia kembali menatap Vira di sisinya, dengan pandangan lekat dan serius.
Sontak Vira tercengang. Wajahnya semakin bersemu merah, dia memalingkan wajahnya, semakin malu yang terus saja di pandangi oleh Vicky.
Vicky lekas menarik lagi pipi Vira untuk kembali menatap dirinya.
"Jangan menghindariku lagi. Tataplah mataku, aku serius dengan apa yang ku ucapkan, Vira. Lama sekali aku menunggumu. Ku mohon berilah aku kesempatan, untuk menjadi suamimu, yang akan menjagamu di setiap waktumu Vira..." pintanya lagi dengan tatapan memohon. Vicky lekas menggenggam tangan kanan Vira dan menyentuhkannya ke dadanya.
Hingga Vira pun merasakan ada debaran jantung di sana.
"Kau tahu jantungku selalu berdebar kencang seperti ini, setiap kali melihat atau memikirkanmu sepanjang waktu. Aku selalu berharap kamu adalah jodoh terbaik yang Tuhan berikan untukku." ucapnya lagi.
Vira kembali tersanjung dengan ucapan Vicky. Bibirnya tersenyum tipis dan kembali menghindari tatapannya yang menghanyutkan itu. Vira ingin menarik tangannya lagi tapi Vicky tetap menahannya.
"Vira... Please,... Jadikan aku Ayah untuk calon bayimu." pintanya lagi.
"Vicky, tapi aku_ Aku tidak bisa. Aku yakin keluargamu tak akan mungkin menerimaku lagi. Apalagi sekarang keadaanku tidak seperti dulu. Aku ini seorang janda yang sedang hamil, mereka akan semakin tak menyukaiku, kamu harus sadar, lebih baik kamu cari wanita yang sepadan denganmu. Aku bukanlah yang terbaik untukmu..." ucapnya dengan berat hati Vira menolaknya. Vira menggeleng tegas seraya menutupi wajahnya yang kini sudah bercucur air mata. "Maaf, maafkan aku... Bukan aku tak ingin menerimamu..."
Vira tahu diri, dan tak mau membebani Vicky. Vira hanya malu pada dirinya sendiri. Karena dirinya merasa tak cocok jika harus menjadi istrinya Vicky.
Perlahan Vicky membuka kedua tangan Vira yang menutupi wajah sendunya.
"Jangan pernah mengatakan ini lagi. Aku tetap akan memilihmu menjadi istriku. Aku tidak peduli perkataan orang mesti itu keluargaku sendiri. Percayalah, aku mencintaimu dengan tulus dan menerimamu apa adanya..." lagi Vicky meyakini Vira, hingga wanita di depannya itu terisak semakin menangis terharu.
Vicky mengecup lembut tangan Vira seraya memenjam matanya. Tanpa ijin dia kembali memeluk Vira dengan erat. "Aku berjanji padamu akan membahagiakanmu... Vira."
Vira di sana mengangguk sesegukan dan perlahan membalas pelukan hangat Vicky.
"Terimakasih, terimakasih banyak karena kamu selalu ada untukku dan mencintaiku..." isaknya lirih.
Bersambung
__ADS_1
...****...