Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Jangan Lagi Terpisah


__ADS_3

...BAB 58...


...Jangan Lagi Terpisah...


"Sin... Sindy!!" panggilnya.


Dika pulang dengan membawa bungkusan makanan di tangannya. Lalu masuk ke dapur dan menyiapkannya sendiri. Menuangkan dan memindahkan beberapa makanan di wadah ke dalam piring dan juga mangkuk.


"Ayo kita makan!!" teriaknya lagi. Tapi teriakan dan panggilan Dika seolah tak di dengar oleh Sindy di dalam kamar.


Dika menghela nafasnya panjang dan menggeleng, dengan terpaksa ia menghampiri istrinya ke kamar. Itulah resikonya menikahi Sindy, wanita pemalas dan juga manja, yang seharusnya dialah yang menyiapkan segalanya untuk Dika. Namun semua terbalik, malah Dikalah yang harus mengurusinya.


Dika terperanjat kaget setelah membuka pintu, keadaan kamar mereka sudah berubah padahal baru saja di tinggal dua jam lalu, kamar sudah berantakan seperti kapal pecah.


"Apa-apaan ini? Sindy!!" teriaknya memanggil lagi.


Tak terlihat Sindy di dalam kamar. Lalu Dika berjalan ke arah balkon. Tampak Sindy sedang menelepon seseorang. Sindy pun berbalik menoleh ke arahnya sambil menunjuk jari di bibirnya agar Dika tak berisik.


"Baiklah, nanti kita bicarakan ini lagi ya.. Okey!" Sindy pun menutup lagi panggilannya setelah selesai bicara.


"Ada apa sih Mas, teriak-teriak begitu berisik tahu!" ketusnya sambil berjalan melewati Dika tak memperdulikannya yang sedang marah.


"Kenapa kau buat berantakan kamar ini?" sahut Dika seraya menunjuki semua isi kamar, yang kali itu dia mencoba untuk sabar dan menahan amarahnya.


"Ayo rapikan lagi, aku tunggu di meja makan, kita makan bersama! Setelah itu ada hal yang ingin aku tanyakan padamu..." titahnya dingin.


Dika pun pergi duluan ke ruang makan lagi setelah memerintah Sindy. Sindy yang masih kesal, terpaksa harus merapikan lagi kamarnya, dengan wajah masam yang di tekukkan.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" cetus Sindy, setelah mereka selesai makan.

__ADS_1


"Oh ya, tadi aku tak sengaja melihat Riska bersama Mamanya Vicky di Restoran. Memangnya ada hubungan apa di antara mereka berdua? Kau pasti sudah tahu tentang ini semuanya, kan?! Secara kau adalah salah satu anggota keluarga besarnya Vicky." papar Dika, sekaligus ingin menyelidik masalah tadi di pernikahan Vicky dan mantan istrinya tersebut.


Sindy mengangkat satu alisnya. "Tumbenan kamu ingin tahu urusan oranglain?" celetuknya, seraya mengunyah lagi cemilan di tangannya.


"Aku kan cuma nanya, emang ada salah ya? Soalnya tadi pagi saat pernikahan Vira dan Vicky, Mamanya tiba-tiba saja datang dan sangat marah, dia terang-terangan menentang pernikahan mereka." bebernya lagi, jelas rasa penasaran itu terus saja menggelitik hati dan pikirannya Dika, secepatnya dia harus tahu sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka.


"Hmm, sebenarnya sih Kak Riska itu adalah mantan calon tunangannya Kak Vicky. Tapi itu sudah sangat lama sekali. Namun walau begitu hubungan Mama Sophia dan Riska masih tetap dekat, seperti layaknya seorang mertua dan menantu. Dan kau pasti tidak akan pernah menyangka siapa sebenarnya mantan istrimu itu?!" celetuknya, kini Sindy memandang remeh pada suaminya.


"Maksudnya, apa hubungannya dengan Vira?" Dika mengernyit lagi, penuh tanya.


Sindy tertawa sinis. "Jadi kamu benar-benar tidak tahu ya Mas, siapa si Vira itu sebenarnya?!"


"Katakan dengan jelas maksudmu apa Sindy, jangan bertele-tele lagi!" cetusnya, merenggut kesal.


Sindy menghela nafasnya dalam lalu kembali menatap Dika yang juga sedang menatapnya dengan antusias. Sindy yang melipat kedua tangannya di atas meja, menatap lamat-lamat lagi wajah suaminya itu.


"Dengarkan aku ya, Mas... Mantan istrimu itu sebenarnya adalah kekasih masalalunya Kak Vicky... Jelas?!" ungkapnya, Dika pun tercengang mendengarnya. Matanya semakin melebar, tak percaya.


"Apa? Jadi, jadi mereka berdua itu..." gelagap Dika mengerjapkan mata, lekas ia mengusap pelan rahangnya yang masih menganga. Sindy mengangguk, datar.


"Iya, makanya itu mulai detik ini juga, Mas harus bisa lupain dia. Semua dan termasuk pada anakmu itu juga!" tekan Sindy memperingatkan lagi.


Sindy pun beranjak dan menghempas kain serbet di atas meja, lalu pergi meninggalkan Dika sendirian yang masih berkecamuk dalam pikirannya sendiri tentang Vira.


Dika mengusap kasar wajahnya. Menghembuskan nafasnya kasar. "Pantas saja kau tak ingin kembali padaku. Ternyata diam-diam, kau juga sudah berhubungan lagi dengan mantan pacarmu itu!" tangan Dika mengepal erat di atas meja, merasa di bodohi.


****


Malam pun tiba, Aqilla telah terlelap tidur di box bayi, setelah Vira selesai menyusuinya. Vira tersenyum tipis menatap wajah putri kecilnya, seakan maniknya tak ingin lepas memandanginya. Tetapi karena sudah terlalu lama di dalam kamar, meninggalkan Vicky seorang diri di ruang tv. Karena Irfan masih di toko rotinya, hatinya jadi tak enak karenanya. Pelan Vira melangkah keluar kamar, dan mendekati Vicky yang sedang duduk di sofa sambil asyik memainkan gawainya.

__ADS_1


"Aqilla sudah bobo?" tanya Vicky menoleh, sesaat menyadari Vira telah duduk di sampingnya.


"Sudah..." jawab Vira tersenyum, lalu ia menghela nafasnya panjang dan menyenderkan punggungnya ke kepala sofa, sambil memijit pelan pundaknya sendiri. Vicky pun tersenyum sendu menatap istrinya yang tampak kecapean.


"Sini, biar aku saja yang pijitin..." tawar Vicky, sambil menaruh ponselnya di atas meja. Vicky pun membalikkan posisi duduknya ke samping istrinya, dan Vira duduk membelakangi Vicky meluruskan kedua kakinya di atas sofa.


Vicky mulai memijat di area pundak Vira dengan pelan-pelan. "Kasihan istriku, seharian ini kamu pasti capek sekali 'kan..." ujarnya.


Vira hanya mengulum senyum mendengarnya. Lalu refleks Vicky mengecup lembut di pipinya, hingga pipinya bersemu merah, saat itu juga Vicky berbisik di daun telinganya Vira.


"Bagaimana rasanya di pijat olehku, enak?!" godanya, mengerlingkan matanya.


Sontak pipi Vira kembali menghangat. "Yaa pijitanmu sangat enak sekali. Terimakasih ya..." ucapnya sedikit gugup.


Setelah lumayan lama memijat pundak dan punggung Vira. Vicky pun memeluk tubuh istrinya dari belakang dengan erat. Meletakkan dagunya di atas pundak sang istri dan menatap ke depan.


"Sayang, bolehkan kalau mulai saat ini aku memanggilmu sayang?" pinta Vicky tiba-tiba. Lantas Vira tertawa kecil mendengarnya, sambil mengusap-ngusap tangan kekar Vicky yang betah melingkar di perutnya.


"Kenapa tertawa, memangnya ada yang lucu?!" singgungnya mendelik cepat. Vira menggeleng kepala.


"Iya, kamu itu lucu. Kita sudah sah menjadi suami-istri. Jadi kamu berhak memanggilku apapun yang kamu suka.. Mungkin sekarang aku juga harus membiasakan memanggilmu dengan sebutan lain," Vira mengangkat alisnya, menoleh lagi pada suaminya. "Ku panggil kamu, Mas Vicky ya..." ucapnya pelan, seraya menahan senyumnya.


Vicky ikut tersenyum lebar. Lalu tak lama keduanya jadi tertawa-tawa geli, karena ucapannya masih rancu di pendengaran mereka. Vira refleks menutup wajah Vicky dengan bantal sofa, agar tak melihat wajahnya yang sudah memerah sekali.


Tak lama, pandangan mereka pun beradu kembali. Tatapan yang sama-sama menggairahkan dan sayu. Seperti ada magnet yang saling tarik-menarik, entah siapa yang memulai duluan. Kini bibir mereka menempel, sama-sama merasakan lembut dan hangatnya benda kenyal itu. Vicky seperti hilang akal, lama sekali dia menginginkan sentuhan bibir ini dari wanita yang teramat dia cintai.


Sudah cukup penantian panjangnya, sebab akhirnya semua impiannya terlaksana. Dalam hatinya, Vicky berharap semoga dirinya dan Vira tidak akan pernah lagi terpisahkan, oleh waktu dan jarak. Juga dari orang-orang yang berniat ingin memisahkan mereka.


Bersambung...

__ADS_1


...****...


__ADS_2