Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Perhiasan


__ADS_3

...BAB 54...


...Perhiasan...


Tiga minggu berlalu....


Apa ini?" Vira mengerutkan dahinya menatap kotak merah yang di berikan Dika padanya. Vira tahu jika di dalamnya adalah perhiasan. Namun yang dia tanyakan adalah apa maksud Dika memberikan perhiasan itu padanya tiba-tiba?


Sore itu Dika kembali datang, seperti biasa mereka duduk berhadapan di teras depan rumah. Karena Vira merasa tidak enak dengan warga di sana. Jika dirinya dan Dika sebenarnya sudah lama bercerai. Khawatir jika seseorang suruhan Vicky pun datang melihatnya bersama Dika.


"Itu hadiah untukmu, dulu sebelum kamu pergi dan kita bercerai, kamu diam-diam menyimpan kartu Atm tabungan di meja tamu kan?! Makanya aku membelikan perhiasan untuk gantinya. Ambillah itu semua buatmu." ucap Dika tersenyum, menatap sendu wajah cantik mantan istrinya.


Vira menggeleng cepat dan menyodorkannya lagi kotak perhiasan itu pada Dika.


"Tidak perlu Mas, aku tidak pantas menerimanya sebaiknya kamu berikan saja itu semua pada Sindy." Kali itu Vira tegas menolaknya. Vira tak masalah jika Dika ingin memberikan sesuatu apapun untuk putri mereka. Tetapi kalau untuk dirinya sendiri? Vira tahu diri dan tak mungkin menerimanya karena ada hati yang mesti di jaga kali ini. Tiga hari lagi adalah pernikahannya dengan Vicky, dan dirinya tak mau jika rencana pernikahannya gagal karena ada kesalahpahaman nantinya.


"Tapi Vira, kamu berhak atas_"


"Sudah cukup Mas, aku tahu niatmu baik. Tapi aku benar-benar tidak bisa menerimanya. Tolong mengertilah, kita sudah bukan siapa-siapa lagi." sela Vira pelan, memotong ucapan Dika yang sedikit memaksanya.


Dika menghela berat nafasnya, menundukkan kepalanya, sangat kecewa. "Vira, apa kamu benar-benar yakin, ingin menikah dengannya." Dika kali itu memberanikan dirinya bertanya. Berharap Vira akan berubah pikiran dan kembali padanya. Dika bersikukuh untuk mengambil hati Vira lagi bagaimanapun caranya itu. Dia akan mencoba. Selain itu dia tak mau berpisah dari Aqilla. Selama ini Sindy juga belum memberikannya anak.


"Aku sangat yakin dengan keputusanku ini Mas." ucapnya tanpa menoleh lagi pada Dika.


"Apakah... Sama sekali tidak ada kesempatan bagiku lagi? Dan apa kamu_ tidak kasihan melihat Aqilla? Sekarang mungkin dia tak akan tahu. Tapi nanti setelah dewasa? Aqilla pasti akan tahu jika Vicky bukanlah Ayah kandung sebenarnya."


Vira lekas berdiri dan membelakanginya, ia yang tak ingin lama-lama berbicara dengan Dika. Vira tahu maksud Dika ke kontrakannya, hanya untuk membuatnya ragu menikah dengan Vicky. Tapi hati Vira tetap mantap untuk hidup bersama Vicky. Rasa cinta itu seakan tumbuh kembali tanpa dia sadari.


"Masalah itu, biar Aqilla tahu sendiri Mas. Aku yakin Vicky akan lebih mengerti soal ini," selanya cepat. "Sekarang sebaiknya Mas segera pulang dan pikirkan istrimu saja di rumahnya." titahnya sedikit ketus menahan amarah.


Dika menghela nafasnya lagi. Lalu akhirnya dia menyerah. Dia beranjak pulang, setelah mencium kening dan pipi gembul Aqilla di kereta bayi.


"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu, besok aku akan datang lagi kemari,"


"Jangan Mas. Aku tidak ingin kamu sering-sering kemari. Tiga hari ini aku akan sibuk menyiapkan pernikahan kami." potongnya. "Maafkan aku, bukan bermaksud aku melarangmu menemui Aqilla. Tapi aku hanya ingin kita tidak bertemu dulu Mas." papar Vira lagi memohon, dengan berat hati ia terpaksa mengatakannya, agar Dika tak lagi mengharapkannya kembali.


Dika mengangguk pelan. "Oke aku mengerti..." Dika pun pergi, melangkahkan kakinya gontai mendekati mobilnya yang terparkir di depan pagar kontrakan Vira.

__ADS_1


"Mas!!" panggil Vira lagi tiba-tiba, Dika menghentikan langkahnya dan berbalik menoleh lagi pada Vira.


"Nanti datanglah ke hari pernikahan kami, aku tunggu kehadiranmu..." sahut Vira dari jauh, lama Dika tampak berpikir namun pada akhirnya dia mengangguk tanpa menyahut serta melempar senyumannya yang di paksakan.


Setelah Dika pergi jauh dengan mobilnya, tanpa mereka sadari bahwa ada sepasang mata melihat obrolan mereka dari kejauhan.


*****


Dua hari berlalu...


Saat malam tiba, setelah mandi dan memakai piyama tidurnya, Dika hendak pergi tidur melepas lelah di hatinya. Namun dia tak melihat Sindy di dalam kamar. Dika pun lekas mencarinya ke dapur dan mendapati istrinya tengah berdiri hendak menelan sesuatu.


"Apa yang kamu minum?!" tanya Dika terheran.


Sindy terperanjat kaget, dan jadi tersedak karenanya. Pil yang barusan ingin masuk ke dalam mulut pun, berbalik keluar lagi dan terhempas jatuh ke lantai.


Sindy pun buru-buru mengambilnya lagi dan menggenggamnya erat di tangan, takut akan terlihat oleh Dika. Namun sayang, Dika memang sudah melihatnya lebih dulu.


Sindy mengelap kasar bibirnya yang basah dengan punggung tangannya, tergugup. Dia pun berbalik menghadap Dika.


"A, em... A-aku hanya minum saja kok.." gelagapnya. Dika memicingkan matanya lalu melangkah mendekatinya.


"Ah, ini bukan apa-apa kok. Hanya obat tidur saja." sangkalnya tertawa kikuk. "Soalnya akhir-akhir ini aku selalu susah tidur..."


"Coba aku lihat?" Dika menengadahkan tangannya lagi, penasaran. Meminta Sindy untuk menyerahkan obat itu padanya.


"Ngapain sih pake di lihat segala? Gitu aja pengen tahu!" cetusnya, Sindy lekas membuangnya ke tong sampah di bawah sudut samping wastafel. Dika sekilas melihatnya dan memang sebuah pil obat.


"Jangan terlalu banyak meminum obat-obatan yang mengandung bahan kimia. Tak bagus buat kesehatanmu. Makanya kamu belum hamil-hamil juga. Mana, sinikan bungkusnya biar nanti aku gantikan dengan obat herbal saja!" pinta Dika lagi memaksa.


"Apa sih Mas, nggak usah sok ngurusin aku deh! Aku mau meminumnya atau nggak, ya terserah aku lah, kau tak ada bedanya sama Mamamu itu, cerewet dan suka ikut campur!" ketusnya dengan mendekap tangan di dadanya, kesal.


"Kenapa bicaramu selalu tak menyenangkan sekali. Jelas aku bersikap begini karena aku peduli padamu!" timpal Dika.


"Huh peduli?! Apa pedulimu selama ini padaku? Sekarang kulihat Mas lebih sibuk ngurusin mantan istri dan juga anaknya di sana!" ketusnya lagi menyindir. Matanya memerah panas. Nyaris saja mengeluarkan air mata.


Dika terpaku, ternyata Sindy sudah tahu jika Dika memang diam-diam selalu pergi mengunjungi Vira dan putrinya, Aqilla. Semenjak perpisahan itu. Dika akui dirinya belum bisa terlepas dari bayangan Vira serta putri kecilnya tersebut. Hingga dia benar-benar nekad menemui mereka lagi untuk melepas rasa rindunya pada buah hatinya, mesti dia tahu jika Vira sendiri tak pernah menyukai kedatangannya yang memang di sengaja itu.

__ADS_1


"Aku bukan mengurusi mereka. Aku hanya ingin melihat keadaan putriku saja! Sudahlah kamu jangan terlalu berlebihan menanggapi itu." elaknya yang tak ingin di curigai Sindy, kalau Dika sebenarnya memang tengah berusaha mengambil hati Vira lagi sebelum janur kuning itu melengkung.


Sindy malah tertawa sinis mendengar perkataan Dika.


"Melihat keadaan putri Mas?!" cebiknya yang memincingkan mata sambil bersedekap tangan di dadanya. "Cuma melihatnya, tapi hampir setiap hari kau lakukan! Apa itu tidak berlebihan namanya? Ingat ya Mas, wanita itu bukan lagi istrimu. Harusnya kau tak menemuinya lagi! Jangan karena dia sudah memberikanmu anak, menjadikanmu alasan untuk bisa mendekatinya lagi, begitu maksudmu? Huh, aku sudah bisa tebak semua akal bulusmu itu Mas!" pekik Sindy seraya menunjuki pelipisnya sendiri dengan jari telunjuk.


"Terserah apa katamu, aku tidak peduli. Yang pasti kedatanganku kesana hanya untuk menemui Aqilla! Titik!" timpal Dika lagi, yang masih berusaha menyembunyikan niat hatinya yang terselubung. Dika lekas meneguk air minumnya hingga tandas lalu meletakkan gelasnya di meja dengan kasar.


Sementara Sindy kembali tertawa sumbang di sana.


"Oh ya, benarkah hanya untuk menemui Aqilla saja?" sindirnya lagi kencang. Sindy pun cepat merogoh sesuatu di dalam saku celana jinsnya. Sebuah kertas, surat tanda bukti pembelian perhiasan emas kemarin. Sindy mengangkatnya ke atas surat itu di tangannya. "Lalu, lalu apa ini sekarang di tanganku Mas? Kau pasti sudah tahu kan?! Apa kau masih ingin mengelaknya!" bentaknya kasar.


Dika membeliakan matanya terkejut. Kenapa bisa surat perhiasan ada di tangan Sindy?


Sindy tidak bodoh. Setelah Vira melahirkan, merasa perhatian Dika tak lagi sama padanya. Dia sebenarnya sudah sering menguntit Dika, dan setiap pulang bekerja ternyata Dika menyempatkan pergi mampir ke kontrakan Vira, membelikan sesuatu untuk mereka. Berupa pakaian, sepatu bayi, boneka dan lain sebagainya. Sindy tak terlalu peduli soal itu. Tapi kali ini lain dan beda. Dia sangat marah ketika menemukan ada surat perhiasan di tas kerjanya Dika. Diam-diam Dika sudah memberikan perhiasan mahal pada Vira tanpa sepengetahuannya. Namun di sisi lain, Sindy juga tak tahu jika Vira tak pernah menerima perhiasan itu.


"Sin, Sindy itu.." gagapnya. Sindy lekas melempar surat itu di hadapan Dika, bertambah kesal.


"Sadar Mas, sadar! Sebentar lagi mantanmu itu akan menikah dengan Kak Vicky. Jadi berhentilah kau mengharapkan dia lagi!" bentak Sindy, matanya memerah nyalang dan berkaca-kaca. Rasa cemburu kembali mengguncang hatinya. Ternyata Dika


masih belum bisa melupakan Vira. "Sekarang akulah istrimu yang sebenarnya, harusnya kau lebih memperdulikan aku Mas, bukan dia!"


Dika menelan kasar salivanya, bergeming menatap surat emas yang kini terjatuh di kakinya itu.


Sindy yang melihat Dika terdiam saja. Lekas dia mengambil tasnya di meja makan dan pergi.


"Kamu mau kemana?" tanya Dika menahan tangannya namun segera di tepis lagi oleh Sindy.


"Itu bukan urusanmu!" sentaknya yang langsung melengos keluar apartemen, dengan penuh amarah.


"Sindy! Sindyyy!" teriaknya, namun tak di dengarnya. Dika mengacak rambutnya gusar. Dia pun mengambil surat perhiasan tadi yang terjatuh di lantai. Bersamaan dengan itu, matanya juga melirik bungkusan lain yang di remas kasar di tempat sampah. Dika mengambilnya penasaran. Matanya membulat saat dia tahu jika bungkusan itu adalah obat pil KB.


Obat pil KB yang terjatuh tadi adalah obat terakhir yang Sindy minum, dan Sindy tak sadar membuang bungkusnya di sana.


"Jadi selama ini dia tak hamil karena selalu meminum ini?!" Seketika wajah Dika memerah padam karena merasa di bohongi.


Bersambung...

__ADS_1


...****...


__ADS_2