Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Hadiah Terindah dan Kabar Buruk


__ADS_3

...BAB 78...


...Hadiah Terindah dan Kabar Buruk...


Malam itu Vira dan Vicky terpaksa menginap di kontrakannya Irfan, sebab Aqilla sudah terlanjur tidur setelah di ajak main oleh Dika hingga petang hari.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, Vira yang baru saja selesai menggosok giginya dan mengganti pakaian tidur, lalu pergi ke kamar. Bibirnya mengerucut, karna tak dia temukan Vicky di sana. Vira pikir Vicky sedang rebahan di atas tempat tidur menemani Aqilla. Lekas Vira pun mencarinya di luar kamar, seulas senyuman manis terbit di bibir merah tipisnya, ternyata suaminya sedang duduk di sofa tamu, asyik berkutat dengan laptopnya yang berada di pangkuannya.


"Mas..." panggil Vira lembut, sembari berjalan mendekati suaminya dari arah belakang.


"Hemm..."


"Mas, emangnya kamu belum ngantuk ya? Ini udah jam sepuluh loh... Besok kan udah masuk kerja?" tanya Vira.


Perlahan kedua tangannya melingkar di belakang leher suaminya, sedikit menggodanya sambil menyenderkan sisi kepalanya di bahu lebar itu, dan tepat kedua manik hitamnya menatap sisi wajah Vicky yang masih serius dengan pekerjaannya. Melihat wajah Vicky sedekat itu, Vira lagi-lagi dibuat pesona oleh ketampanan yang di miliki suaminya.


"Kalau kamu ngantuk, pergilah tidur sendiri. Aku masih banyak kerjaan." ucapnya dingin, tanpa menoleh sedikitpun pada istrinya yang terus menatap wajah datarnya.


"Kok, kamu gitu sih jawabnya, Mas? Biasanya 'kan kita bobo barengan..." Vira merenggutkan bibirnya, tak suka dengan nada bicara Vicky yang agak ketus menurutnya.


Vira tahu jika Vicky masih marah padanya, soal kedatangan Dika ke rumah tanpa memberitahukannya. Apalagi Vira telah mengijinkan Dika mengajak Aqilla pergi tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu. Itu karena Vicky masih belum percaya sepenuhnya pada mantan suami-istrinya tersebut, seperti halnya Irfan tadi. Khawatir jika Dika akan berbuat macam-macam pada istrinya atau tiba-tiba saja lelaki itu membawa pergi Aqilla. Ketakutan itu terus saja menghantui pikirannya, sebab Vicky sudah terlanjur sayang pada putri tirinya tersebut, dan Vicky sudah berjanji pada dirinya sendiri, akan selalu memperlakukan Aqilla seperti putri kandungnya. Meskipun nanti Tuhan memberikan keturunan untuknya, dia tidak akan pernah membeda-bedakan Aqilla dengan anak-anak kandungnya sendiri.


"Terus aku harus jawab bagaimana? Mengabaikan pekerjaanku demi dirimu? Kau saja tadi tidak menganggapku ada kok," cibirnya yang masih terlihat kesal.


Vira pun melepas rangkulannya di leher suaminya, lalu menghela nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Kamu masih marah ya sama aku..."


"Ya iyalah, suami mana yang tak marah jika istrinya pergi dengan lelaki lain apalagi itu mantan suaminya." tukasnya dengan nada sinis. Kentara sekali di wajahnya kalau Vicky memang masih cemburu pada Dika.

__ADS_1


Vira tersenyum berusaha menyabarkan hatinya, lalu ia berjalan memutar dan duduk di pangkuan suaminya tanpa meminta ijin yang si empunya, dan tanpa permisi ia pun mengecup lembut tepat di bibir suaminya dengan singkat, dan itu sukses membuat Vicky membulatkan matanya terpaku. Perlahan Vira menjauhkan lagi bibirnya lalu meletakkan laptop yang di pegang Vicky ke atas meja, dan kedua tangannya kembali melingkar di leher suaminya.


"Iya, aku tahu aku salah sayang, dan aku minta maaf padamu. Tapi tadi aku benar-benar tidak sempat memberitahumu. Karena Mas Dika tiba-tiba saja datang dan memaksaku ikut dengannya. Dia hanya ingin bicara tentang Aqilla, tak lebih dari itu..." ucap Vira lembut. Berharap suaminya akan luluh, Vira menatap lekat-lekat wajah suaminya sambil mengusap pipinya penuh cinta.


"Sekali lagi maafkan aku ya, aku janji tidak akan mengulanginya lagi..."


Vicky membuang nafasnya kasar, lalu merebahkan punggung dan kepalanya di sofa "Gimana ya...?" pikirnya sambil menarik sudut bibirnya ke atas dan memenjamkan rapat-rapat matanya. Masih menimbang-nimbang.


"Mass... Sudah ah jangan ngambek lagi!" gerutu Vira sambil mengangkat wajah suaminya agar kembali menatapnya.


"Aku tidak janji.." ucapnya singkat.


"Ah Mas, jangan gitu dong... Aku nggak bisa makan kalau kamu acuhin begini terus..." rajuk Vira.


"Ya, salahmu sendiri tak memberitahuku tadi!" ungkitnya lagi.


"Kan barusan aku sudah minta maaf dan jelasin sama kamu!" gerutunya lagi, makin kesal dengan tingkah suaminya yang masih saja bersikap jutek padanya. "Oke baiklah, kalau Mas masih tetap marah padaku, aku mending nggak jadi deh ngasih kamu kejutan." ancamnya tiba-tiba, Vira pun pindah duduk di sofa dan membelakangi suaminya sambil mendekap kedua tangan di dadanya.


"Ya rahasia dong... Tadinya setelah pesta Ultah Aqilla selesai, aku mau langsung memberitahumu. Tapi karena kamu ngambek terus ya nggak jadi deh.." pancingnya.


"Ya sudah aku maafin kamu, tapi awas jangan sampai hal ini kamu ulangi lagi, oke!" tegas Vicky, yang sontak Vira pun berbalik menatap binar wajah suaminya. Mencubit kedua pipi suaminya dengan gemas.


"Oke, sayangku aku janji... Emmhh!!" Vira kembali melengkungkan senyumannya, sumringah. "Ya sudah kalau gitu, ayo ikut aku ke kamar." ajaknya sambil menarik tangan suaminya agar dia lekas beranjak dari kursi, pergi ke kamar mereka.


Di dalam kamar, Vira membuka tasnya yang tadi dia simpan di gantungan. Lalu mengambil sebuah kotak panjang tipis dan memberikannya pada Vicky.


"Ini,"


"Apa ini?" tanyanya, mengerutkan dahinya semakin penasaran.

__ADS_1


"Itu hadiah istimewa untukmu, yang tak kan ternilai harganya melebihi apapun di dunia ini..." ucap Vira, yang kembali melebarkan lagi bibirnya membentuk senyuman indah, sudah tak sabar ingin sekali melihat ekspresi wajah suaminya setelah melihat kejutan darinya.


Vicky lekas membuka tutup kotak itu. Sontak maniknya membulat, melihat benda panjang pipih dengan tanda dua garis merah terpampang jelas di sana.


"I-ini??" gugupnya terbata-bata. Lalu Vicky mengambilnya dan melihat lagi wajah istrinya tak percaya. "Benarkah yang aku lihat ini sayang?" tanyanya, yang sudah berkaca-kaca.


Vira mengangguk cepat dan tersenyum lagi. "Iya Mas, aku hamil... Aku baru sadar kalau aku telat menstruasi dua bulan ini" jelas Vira, hatinya senang sekali karena akhirnya dia bisa memberikan Vicky buah hati yang selalu di damba-dambakannya.


"Ya Allah, terimakasih sayangku. Ini kado terindah buatku..." ucap Vicky bahagia, air matanya tiba-tiba menetes begitu saja.


Lalu Vicky mengecup seluruh wajah istrinya tiada habisnya, penuh syukur. Setelah puas dia memeluk erat tubuh Vira. "Ini adalah kejutan gembira yang tak pernah kulupakan sayang... Akhirnya, aku memiliki anak darimu...dan Aqilla akan punya adik baru .." ucapnya lagi, lalu keduanya tertawa bahagia.


Vicky melepas pelukan Vira, lalu beralih mendekati Aqilla yang masih terlelap dalam tidurnya, bibir mungilnya turut tersenyum seakan tahu jika kedua orangtuanya kini tengah bahagia, kemudian Vicky mengecup sayang pipi Aqilla.


"Tetaplah jadi putri Ayah, sayang..." bisiknya sambil mengusapi keningnya.


Seketika di tengah kebahagiaan itu, tiba-tiba saja ponsel Vicky bergetar dan mengejutkan keduanya.


"Siapa yang telepon malam-malam begini, Mas?" tanya Vira pelan, setelah Vicky mengambil ponselnya di atas meja. Vicky mengerutkan dahinya menatap layar ponselnya yang menyala.


"Adam, aku angkat dulu ya.." sahutnya, Vira mengangguk. Lalu Vicky keluar kamar dan mengangkat teleponnya.


"Hallo? Ya ada apa Dam?" tanyanya.


"....."


"Apa katamu?! Benarkah yang kau katakan?!" Vicky membelalak terkejut. Lantas tangannya berpegangan di atas sofa, setelah mendengar kabar buruk dari asistennya di seberang telepon. Seolah tungkai lututnya melemas dan tak sanggup menahan tubuhnya yang nyaris ambruk.


Bersambung....

__ADS_1


...****...


__ADS_2