
...BAB 21...
...Jatuh Pingsan...
Vira bukanlah sosok wanita tegar yang mampu berbagi cinta. Karena baginya Dika sudah berhasil membuatnya jatuh cinta lagi, hingga mampu melupakan dia pada cinta pertamanya.
Tapi dalam sekejap mata, Dika pun telah menghancurkan kepercayaan cintanya sendiri.
Dika dan Sindy lalu berbalik badan dan berjalan keluar gedung. Hingga akhirnya mereka berpapasan dan bertemu di ambang pintu. Sontak Dika membeliakan matanya, sangat terkejut mendapati Vira sudah ada di depan kantornya Vicky. Rasanya, jantungnya seperti ingin copot saja.
Vi-Vira?! Ke-kenapa dia, dia ada di sini? tanyanya dalam hati. Sementara Vira masih bergeming di tempat, memandang datar wajah Dika dengan kedua matanya yang kini sudah berkaca-kaca.
Sindy yang menyadari ada ketegangan di wajah Dika, sontak dia pun bertanya, heran.
"Ada apa? Kenapa jadi diam?" tanyanya, mengernyitkan dahinya. Sindy pun menoleh pada Vira di depannya dan beralih pada Dika lagi terlihat ketar-ketir, memalingkan pandangannya ke sana-kemari, terlihat sangat gugup dan wajahnya pun mendadak sangat pias, seperti tengah melihat hantu menakutkan.
Sindy menggenggam lembut tangan Dika yang terasa dingin.
"Sayang kamu kenapa sih? Tanganmu juga kok bisa dingin begini? Apa kamu sedang sakit?" Sindy jadi cemas, lantas dia menyentuh wajah Dika dan memeriksanya dengan telapak tangannya, di depan Vira.
Vira hanya mematung melihat keromantisan mereka tanpa ekspresi, sedang Dika semakin tegang karena terus di tatapi oleh Vira di hadapannya, dan refleks Dika menahan tangannya Sindy yang mengusap pipinya.
"Eng... Ti-tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja..." gelagatnya, tersenyum canggung. Sangat terbaca sekali oleh Vira bahwa di hatinya Dika, kini sedang merasa tak nyaman karena terus di pandangi olehnya.
"Tapi kamu kelihatan pucet banget lho!" ujar Sindy semakin khawatir.
"Ehk-hemm..." Suara dehaman keras Vira, akhirnya mengalihkan perhatian mereka berdua padanya. Vira menunduk sejenak. Lalu dia kembali mendongak menatap Dika dengan senyuman manis yang dia paksakan. Memendam amarahnya dan berusaha setenang mungkin di depan mereka.
"Mas, ternyata Mas Dika ada di sini?! Oh ya ini bekal makan siangmu. Jangan lupa di makan ya... Maaf, soal sikapku tadi pagi sudah buat kamu kesal.." sahutnya. Vira sengaja memulai percakapan itu, agar Sindy tak lagi bertanya-tanya pada Dika. Seperti halnya tidak terjadi apa-apa, Vira lekas menyodorkan bekal nasinya pada suaminya.
__ADS_1
Namun Dika masih terpaku diam, menatap nanar kantung bekal itu di tangan kanannya Vira. Sementara tangan kirinya Vira, terlihat mengepal erat di sisi tubuhnya. Menyembunyikan rasa kekesalan dan kecewanya pada Dika.
Sindy membulatkan matanya lebar ke arah Vira lalu pada Dika secara bergantian lagi. Alisnya menaut kembali bertanya-tanya.
"Hei, si-siapa dia sayang? Kenapa dia mengenalmu?" tanyanya pada Dika menunjuk Vira, dengan dadanya sudah bergemuruh kencang. Karena pikirannya kini tak lagi jernih seperti tadi.
"Hallo, perkenalkan saya adalah..." Vira menyahut namun segera di hentikan oleh Dika.
"A emm.. Dia adalah Vira, adiknya ibuku. Hanya saja usianya lebih muda dariku..." sahut Dika dengan cepat ia menyela ucapan Vira.
Sontak Vira pun terhenyak kaget, dengan perkataan dusta lagi dari Dika. Bibirnya bergetar, dan terasa sulit untuk membantah semua itu. "A-apa?!" pekiknya pelan, tatapannya getir pada Dika yang tega tak memberitahukan siapa sebenarnya dirinya pada Sindy.
"Oooh... Ku pikir.." Sindy menghela nafasnya lega lalu menyodorkan tangannya pada Vira.
"Hallo tantenya Dika, aku Sindy... calon istrinya Dika.." jawabnya tersenyum manis pada Vira.
Vira lagi tersohok dengan pengakuan Sindy.
Sindy di sana hanya mengangguk tersenyum.
"Iya tante..."
Dika menelan kasar ludahnya, semakin gelisah. Sudah terlanjur berbohong, dia terpaksa berbohong juga pada Sindy. Karena dia khawatir Sindy akan pergi meninggalkannya setelah dia berkata jujur. Rasa cintanya terhadap Sindy ternyata lebih besar dari pada rasa sayangnya pada Vira.
Dika mengusap kasar wajahnya yang sudah berkeringat dingin. Vira hanya tersenyum miring, memalingkan wajahnya. Sungguh miris. Dika benar-benar sungguh keterlaluan. Ternyata dia bukan cuma kekasih gelapnya, namun Dika malah berniat ingin menikahi wanita itu.
"Oh, benarkah itu?! Kok aku baru tahu ya?" Vira menelan kasar salivanya. Lalu kembali menoleh pada Dika.
"Emh, baiklah jika begitu, aku permisi dulu. Maaf aku sudah mengganggu waktu kalian berdua. Mas Dika, ini bekal makanmu, tolong di bawa ya... Aku di suruh Mamamu yang mengantarnya." ujarnya yang langsung pergi setelah memberikan bekal makan siang itu.
__ADS_1
Dika tertegun menatap sendu pada Vira. Dika tak mengira sama sekali jika Vira akan diam saja dan tak memarahinya, atau melabrak Sindy seperti dalam sangkaannya. Tetapi Vira malah bekerja sama mengikuti sandiwaranya itu.
"Terimakasih Ta-Tante..." ucap Dika menunduk malu.
Vira sengaja tak mengungkap siapa dirinya dahulu. Demi mengikuti permainan Dika. Sampai kapan dia akan bertahan hidup di penuhi kebohongan.
Apa yang ingin kau katakan padaku nanti Mas?! Setelah aku menguak semua kebohongan-kebohongan yang kau buat selama ini padaku... bathinnya melirih, menahan geram.
Setelah pamit, Vira melenggang pergi dengan langkah cepat, walau hati dan tubuhnya kini terasa sangat lemas. Tak sanggup untuk melihatnya lagi. Hatinya seperti di peras-peras mengeluarkan darah.
Dari kejauhan Dika terus menatap punggungnya dengan tatapan sendu, sebenarnya hatinya juga tak tega. Maaf, maafkan aku yang terpaksa berbohong padamu. Akan ku jelaskan semuanya nanti di rumah. ucap Dika dalam hatinya.
Vira pun terus berlari menuju pintu gerbang melewati sebuah mobil sedan putih yang baru saja berhenti di parkiran. Seorang Pria baru saja kembali, setelah meeting dengan beberapa kliennya di luar kantor. Dia melihat Vira yang berlari menghampiri taksi dari luar.
"Bu-bukankah itu Vira?!" gumamnya terheran-heran. "Sedang apa dia di sini?"
Vira berhenti berlari setelah ia sampai di samping pintu taksi. Tangannya bergetar, memegang erat handle pintu mobil.
Mendadak kepalanya terasa berat dan pening. Tubuhnya limbung dan pandangannya berubah menjadi gelap.
"Viraa!" teriaknya.
Nyaris saja Vira terjatuh ke tanah. Namun untungnya Vicky segera menangkap tubuhnya dari belakang. Vira tiba-tiba tak sadarkan diri di sana.
"Vira! Vira, bangunlah... Kamu kenapa? Hei sadarlah!" Vicky sangat panik dengan keadaan Vira yang tiba-tiba saja jatuh pingsan tanpa ada sebabnya. Tangan kekar Vicky, menepuk-nepuk pelan wajah Vira yang tampak pucat sekali. "Viraaa..." lirihnya semakin cemas.
"Bawa saja masuk ke mobilku, Pak! Saya antarkan ke Rumah Sakit!" seru supir taksi, ikut panik tiba-tiba saja penumpangnya jatuh pingsan di samping kendaraannya. Vicky pun mengangguk setuju dan tanpa pikir lagi, Vicky memangku tubuh Vira membawanya masuk ke dalam taksi itu.
Bersambung....
__ADS_1
...****...