
...BAB 35...
...Rayuan Dika...
Sepuluh jam berlalu, Vicky sudah berada di Bandung saat ini. Tak terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul lima sore. Setelah pertemuannya dengan Pak Santoso tadi terkait hubungan perusahaan cabangnya di kota tersebut. Vicky dan Adam belum sempat istirahat dan makan siang tadi. Lalu mereka pergi ke sebuah hotel dan berencana akan menginap semalam di sana. Sebelum Vicky mengistirahatkan dirinya di dalam kamar, ia memesan makanan di Restoran untuk makan malamnya dan juga Adam terlebih dahulu. Adam adalah Assisten setianya sekaligus putra dari seorang kepercayaan keluarga besar Bahru Sanusi, dahulu ayahnya Adam pernah bekerja dengan mendiang Kakeknya Vicky hingga beliau tahu seluk-beluk keluarga besar mereka. Kini tugasnya semua di alihkan pada Adam karena usianya yang sudah terlalu tua dan tak sanggup lagi untuk bekerja.
"Ini kunci kamarmu, istirahatlah. Besok pagi setelah subuh kita kembali pulang ke Jakarta." ujar Vicky sambil menyodorkan kunci kamar hotel milik Adam.
"Iya Pak, kalau bapak minta apa-apa lagi bisa langsung hubungi saya." jawab Pria berkulit hitam manis itu, Vicky pun mengangguk mengiyakan..Lalu mereka berpisah setelah memasuki kamarnya masing-masing.
Di dalam kamar hotel, Vicky bukannya mengistirahatkan dirinya di tempat tidur, namun dia malah berdiam diri di luar balkon kamarnya melihat langit senja sambil mengisap sebatang rokok dan memikirkan keadaan Vira saat ini, wanita masa lalunya selalu membuatnya gelisah tak menentu.
Dia beberapa kali memeriksa gawainya di tangan kirinya berharap Vira menghubunginya. Sebab, semenjak dia memberikan kartu namanya pada Vira waktu itu, tak ada satu pun Vira mengirim pesan padanya lewat whatsapp ataupun meneleponnya langsung.
Sedangkan Vicky sendiri, sebenarnya sudah tahu nomer Vira dari Irfan, sengaja memang ia tak menghubungi Vira lebih dulu demi untuk menghormatinya yang kini sudah berstatus istri orang dan menjaga jarak untuk tak terlalu akrab dengannya. Karena Vicky pun tak mau, jika nanti dirinya di anggap orang ketiga dan penghancur rumah tangganya Vira oleh oranglain.
Tapi kendati pun begitu, Vicky selalu mengharap Vira akan menghubunginya dan meminta bantuan darinya.
Memikirkan Vira tiada habisnya membuat Vicky menghela nafasnya beberapa kali. Dia pun masuk ke kamar lagi, setelah ia membuang batang rokok yang tinggal separuhnya di asbak. Merebahkan dirinya di kasur hotel. Merasa diri tidak berguna sama sekali di sana, hanya bisa melamunkan Vira. Mengingat lagi pertemuannya sepekan yang lalu. Ketika Vira pingsan di sebrang kantornya.
Vicky yakin sekali saat itu Vira tengah memergoki Dika yang sedang bersama Sindy di kantornya. Terlihat sekali di raut wajahnya yang sedang memendam masalahnya.
"Pantas saja dia tak terlihat bahagia saat bertemu denganku, aku tak menyangka lelaki brengsek itu ternyata adalah suaminya. Aku sudah tidak sabar ingin sekali menghajar lelaki tidak tahu malu itu dengan tanganku sendiri." geramnya.
****
Malam itu, Dika menjemput pulang Sindy setelah ia di kabari bahwa Vicky dinas ke kota Bandung tadi pagi.
"Maaf aku terlambat sayang," ujarnya seraya membukakan pintu depan mobilnya samping kemudi untuk Sindy. Sedang Sindy menggeleng kepala seraya tersenyum manis.
"Tidak apa, aku mengerti kok, kamu sedang merawat Tantemu yang sedang sakit itu." ujarnya.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kau mau kemana? Mau langsung aku antar pulang atau... Mau jalan-jalan dulu?" rayu Dika seraya mengedipkan satu matanya pada Sindy.
Sindy hanya mengulum senyumnya lalu menyedekapkan satu tangan dan jari telunjuknya mengetuk di pipi kanannya, berpikir sejenak.
__ADS_1
"Emmh.. Bagaimana kalau kita pulang ke apartemenmu saja?!" ajaknya tiba-tiba. Senyum yang tadi terbit di bibir Dika perlahan memudar, mengerungkan kedua alisnya, jelas ia tak suka.
"Buat apa? Tadi pagi kan kamu sudah lihat-lihat apartemenku?! Di sana tidak ada yang menyenangkan sayang..." tuturnya, tak sangka Sindy malah mengajaknya pulang ke apartemennya.
Sindy mendekati Dika di samping mobil. Mengusap dada lebarnya dengan lembut dan tersenyum manis padanya. Tatapannya mampu membuat Dika terhipnotis seketika.
"Aku nggak enak lihat Tantemu sakit sendirian di apartemenmu. Nanti kalau dia butuh apa-apa kan kasihan juga. Ayo ajak aku ke sana lagi. Sekalian kita makan malam bersama. Sebelum kita berdua menikah, aku juga ingin terbiasa berada di sana, belajar mempersiapkan semua keperluanmu..." ucapnya merayu.
Sindy hanya teringat akan pesan Vicky tadi pagi padanya. Jika dia harus memutus hubungannya dengan Dika. Tapi itu sangat berat Sindy lakukan, karena dia terlalu mencintai Dika. Namun Sindy juga ingin memastikannya sendiri jika memang benar apa yang dikatakan Vicky bahwa Dika adalah Pria tak baik baginya, dan terpaksa Sindy harus menyelidikinya sendiri. Sindy berharap sih, apa yang di katakan Vicky semuanya.tidak benar.
"Baiklah..." Akhirnya Dika pun pasrah dan mengikuti kemauan Sindy.
Dika pun gegas melajukan roda empatnya pulang membawa Sindy ke apartemennya dengan berat hati.
****
Sementara Dika pergi menjemput Sindy dan dalam perjalanan pulang menuju Apartemen. Vira pun keluar dari kamarnya setelah kondisi tubuhnya mulai membaik, untungnya Dika tak mengunci lagi kamarnya walaupun apartemen mereka masih di kunci dari luar oleh Dika. Ini kesempatan baginya untuk membereskan pakaiannya dan mencari ponselnya yang di sembunyikan Dika tiga hari yang lalu.
Vira bergegas masuk ke dalam kamar mereka, lalu mengambil koper di kolong kasur yang ia sembunyikan dan mengemasi semua pakaiannya dengan cepat. Setelah selesai, dia pun mulai mencari-cari ponselnya di semua sudut kamar, dalam lemari Dika dan tas-tas kerja miliknya.
Sudah hampir satu jam lebih Vira tak menemukan ponselnya. Dia mulai lelah dan putus asa. Vira pun terduduk di tempat tidur tak bisa berbuat apa-apa lagi, selain berdoa dan menunggu agar Tuhan menyelamatkannya dari sikap kasar suaminya. Tangannya mengusap seluruh wajahnya dengan hati semakin gelisah.
Hingga tiba-tiba terdengar suara kunci apartemen terbuka, diiringi suara gelak tawa seorang Pria dan Wanita memasuki ruangan depan. Vira menelan ludahnya kasar, dirinya sangat tahu siapa mereka. Ia lalu berdiri dan mengendap-endap, mengintip mereka di balik dinding pemisah antara ruang tamu dan juga ruang tengah.
"Sekarang Mas Dika sudah mulai berani mengajak perempuan itu kemari semaunya. Dia benar-benar sudah tidak bisa menjaga perasaanku lagi..." lirihnya pelan.
Sindy melempar tas kerjanya di sofa tamu. Lalu menghempas bobot tubuhnya di sana melepas lelah.
"Waah sepertinya aku nanti akan betah tinggal di sini..." ujarnya yang tak henti memandang seluruh ruangan apartemen termewah di Jakarta itu.
"Oh ya," Dika pun ikut duduk di sampingnya sambil mengusap betis mulus Sindy dan sesekali memberikannya pijitan lembut.
"Iya, ruangan di sini sangat indah dan rapi aku suka dengan desainnya." tambahnya lagi. Dika mengulum bibirnya, merangkul bahu Sindy. Lalu jarinya mengusap sudut bibir merah meronanya. Memandang lekat dengan penuh cinta.
"Jangan khawatir, ini semua akan jadi milikmu, apa pun yang kamu mau, aku pasti akan mengabulkannya." ucap Dika menjanjikan. Sindy pun berbinar mendengarnya.
__ADS_1
"Benarkah?!" tanyanya belum percaya.
Dika mengangguk. "Termasuk membelikanku mobil juga?!" pintanya.
Dika tersenyum dan mengangguk lagi. "Ya, tentunya, termasuk membelikanmu mobil yang kamu inginkan." Sindy menjerit senang.
"Aah sayang... Terimakasih ya, aku benar-benar tidak sabar ingin segera menikah denganmu." ucapnya riang. Sindy lekas memeluk Dika dengan erat. Rasanya berat sekali dia untuk pergi jauh-jauh dari Dika, seketika dia jadi lupa dengan pesan Vicky padanya. Karena sudah terbuai bujuk rayuan Dika yang membuatnya terlena.
Vira mendengarnya jelas pembicaraan mereka di balik dinding. Hanya bisa menghela nafasnya berat dan membathin seorang diri. Setetes air bening kembali jatuh di sana yang lekas ia mengusapnya lagi.
Vira pun memberanikan diri keluar dari sana seraya tangan kanannya menarik koper besar dan bahunya mencangklong tas selempangnya, ini kesempatan baginya untuk pergi dari sana. Sontak mereka terkejut dan menoleh. Buru-buru melepaskan pelukan mereka.
"Eh, Ta-Tante Vira, bagaimana sudah sembuh Tan?" Sindy lekas berdiri dan merapikan pakaiannya. Namun pertanyaan Sindy tak di gubrisnya. Vira terus berjalan, acuh. Melewati mereka tanpa menoleh.
Sementara Dika di sana membeliak terkejut melihat apa yang di bawa Vira.
"Ma-mau kemana?" tanyanya gugup sontak dia berdiri mencegah Vira yang akan keluar dari apartemennya.
"Aku mau ke kontrakan Irfan." jawabnya singkat dan dingin. Lalu berjalan keluar apartemen.
"E, e-- Vi...Vira tunggu!" Dika gelagapan dan lekas ikut keluar mengejarnya. Menahan tangan Vira di depan pintu apartemen.
"Lepaskan aku! Jangan kau halangi aku lagi Mas!" sentaknya menepis kasar tangan Dika. "Biarkan aku pergi.." sahutnya, matanya kembali memerah dan berkaca-kaca.
"Vira aku mohon, please... Kita bicarakan ini lagi ya..." pinta Dika dengan suara yang sangat pelan agar tak terdengar Sindy dari dalam.
Namun Sindy masih mendengarnya walau samar, dia perlahan berjalan mendekati pintu.
"Maaf ada apa sebenarnya ini?" tanyanya perlahan ia keluar dari pintu, memperhatikan tingkah mereka berdua yang aneh.
Mereka menoleh bersamaan. Vira pun menatap datar Sindy di dekat pintu.
Bersambung...
...****...
__ADS_1