Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Sulitnya Berkata Jujur


__ADS_3

...BAB 9...


...Sulitnya Berkata Jujur...


Setelah selesai makan di Restoran yang cocok. Vicky dan Sindy berniat kembali pulang ke rumah. Namun sebelumnya mereka meneruskan lagi perbincangan tadi yang belum selesai. Sindy melirik wajah Vicky yang tertunduk murung, menatap getir tissue yang di re-masnya. Banyak sekali yang di ceritakan Vicky padanya, sehingga Sindy ikut terenyuh mendengarnya.


"Jadi maksud Kak Vicky. Tadi siang Kakak bertemu dengan mantan kekasih Kakak yang dulu?" tanyanya. Vicky menggeleng pelan.


"Bukan, dia bukan mantanku! Aku tidak pernah menganggap hubungan kami putus. Dia saja yang memilih untuk pergi dan memutuskan sepihak. Makanya kenapa aku masih betah dengan posisi sendirian. Karena aku yakin aku dapat bertemu lagi dengannya__" Vicky menjeda sesaat perkataannya yang lantas dia menarik nafas dalam dan menghembusnya perlahan. "Tak menyangka kini Tuhan mempertemukan kami lagi di kota ini..." ujarnya lagi dengan senyum yang gamang.


Sindy mengangguk-angguk kagum dengan perjuangan Kakak sepupunya untuk memperjuangkan cinta pertamanya. Selama tujuh tahun itu, Vicky tetap bertahan menunggu Vira. Dia ingin mendengar penjelasan Vira saat pertikaian itu terjadi, Vicky yakin pasti ada sesuatu yang salah dengan tuduhannya pada Vira dulu.


"Berjuanglah Kak! Kakak pasti bisa mendapatkan dia kembali..." suport Sindy seraya mengusap sisi bahu Pria yang tengah gundah itu.


****


Sementara itu Vira yang masih mematung berdiri di kamar apartemen. Dia memenjam matanya sejenak lalu menarik nafasnya dalam-dalam. Dia berharap semua tidak seperti yang dia bayangkan. Dika tak mungkin setega itu mengkhianatinya.


Ting...


Tiba-tiba terdengar suara notifikasi pesan di ponsel Dika di atas nakas. Vira meliriknya kaget. Sebelum ingin melihatnya, manik Vira mengawasi pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat lalu melangkah cepat mengambil ponsel Dika.


Dahinya berkerut saat terbaca sebagian teks pesan di aplikasi hijau pengirim Nona Cantik.


Malam ini aku makan malam sama kakak sepupuku. Maaf ya tak bisa menema...


Pesan itu terpotong. Rasa penasaran menghantui lagi dirinya. Ingin sekali Vira membaca semua isi pesan itu, tapi ternyata ponsel Dika memakai sandi pola. Sehingga Vira tak bisa membukanya dengan bebas. Kening Vira semakin berkerut rasa khawatir di hatinya bergemuruh lagi.


"Siapa sebenarnya Nona cantik ini? Apa jangan-jangan wanita yang bernama Sindy itu?"


Vira segera menepis lagi pikirannya yang semakin kacau, berusaha tak berburuk sangka pada Dika.


"Sudahlah, nanti saja aku tanyakan dia baik-baik..." Vira kembali meletakkan ponsel Dika di atas nakas lalu melangkah pergi ke ruang makan.


Setelah mandi dan berpakaian, Dika bergegas ke ruang makan menyusul istrinya. Terlihat Vira terduduk sambil merangkup kedua tangan menutupi wajahnya.


"Sayang... Maaf sudah nunggu lama ya..." ucap Dika mengusap halus satu bahu Vira. Vira terkejut, mendongak menatap Dika. Buru-buru dia menghapus jejak air mata di pipinya tadi.


"Eh, Mas..." gugupnya. Dika menatap garis mata Vira yang terlihat sembab.


"Kamu kenapa sayang? Kamu habis menangis?" tanyanya tersohok.


Vira menggeleng dan tersenyum. "Tidak kok... Ayo kita makan Mas..." titahnya yang lekas beranjak untuk menyiapkan piring Dika. Mengambil nasi dan juga lauk pauknya. Dika refleks menahan tangan Vira yang sedang sibuk.


"Kenapa sayang, jangan bohong. Katakan padaku. Apa kamu masih kesal dengan sikap Mas tadi di kamar?" tanya Dika lagi jadi tak enak hati. Terbesit ada rasa bersalah pada istrinya soal pertengkaran kecil tadi. Vira menggeleng lagi.


"Tidak, ayo duduklah... Kita makan dulu, setelahnya aku ingin bicara serius denganmu..." titahnya menyuruh Dika untuk duduk di kursi. Dika mengernyit lantas mengangguk pelan, pikirnya bertanya-tanya.

__ADS_1


"Ini makanlah yang banyak..." Vira menyodorkan sepiring nasi lengkap makanan favorit Dika lalu ia duduk di samping suaminya.


"Waah... Ini pasti lezat sekali. Semuanya spesial makanan favoritku..." binar cerah di wajah Dika terlihat jelas, dia selalu memuji setiap masakan tangan istrinya, yang memang selalu lezat dan menggugah selera. Hal inilah yang membuat Dika menyukai Vira.


"Selamat ulang tahun ya Mas... Semoga kamu selalu di berkahi umur panjang dan rezeki yang melimpah..." ucap Vira dengan seulas senyum manisnya.


"Aamiin... Terimakasih ya sayang..." Dika hendak mencium pipi Vira, tapi Vira memalingkan wajahnya lekas menghindari sentuhan bibir itu, mengalihkan dirinya berpura-pura mengambil sesuatu yang sudah dari tadi dia siapkan di bawah meja.


"Oh ya, ini mungkin tak seberapa dengan kado temanmu tadi. Semoga kamu suka ya Mas..." Vira menyodorkan kado berwarna biru tua dengan pita kuning.


"Apa ini sayang?" tanya Dika penasaran. Dia lekas meraihnya di tangan Vira.


"Buka saja..." titahnya lagi. Dika tersenyum seraya mengusap sisi pipi Vira.


"Terimakasih sayang, kamu selalu memberi kejutan untukku... Jadi merepotkan." ucapnya lagi.


Vira hanya mengangguk tersenyum simpul. "Ya sama-sama... Aku ikhlas kok, sebab itu sudah menjadi kewajibanku untuk menyenangkan hati suami bukan." ucapnya tulus.


Dika melepas tali pita itu dengan cepat lalu di bukanya kotak hadiah itu. Kedua mata Dika melebar kaget. Jam tangan berwarna silver edisi terbaru. Jam tangan yang pernah Dika lihat di majalah langganan mereka.


"Hah ini?! Dari mana kamu dapatkan uang untuk bisa membeli ini sayang? Bukankah ini mahal sekali harganya?" tanya Dika.


"Kita kan belum punya anak Mas, selama lima bulan ini kita menikah. Gajimu semua kau berikan padaku. Aku terbiasa hidup hemat dari dulu maka sebagiannya aku tabung sendiri. Aku ingin membelikan jam tangan baru untukmu. Aku tahu jam tanganmu kemarin sudah rusak. Katanya kadang mati kadang jalan lagi. Padahal sudah di service. Tapi masih saja error." Vira tertawa kecil demi menutupi rasa pedih di hatinya kini.


Dika mengangguk tersenyum dan mengucap lagi terimakasih pada istrinya.


"Ya sudah tidak apa, yang penting kamu jangan sampai kekurangan uang saja. Kalau begitu ayo kita makan. Perut Mas sudah keroncongan dari tadi." Dika tertawa lebar mencairkan suasana yang tadi terlihat canggung.


"Emm... Nikmat sekali makan malamnya sayang. Malam ini Mas pasti bisa tidur nyenyak..." gumamnya puas, setelah selesai menyantap makan masakan Vira.


Vira di sampingnya hanya mampu tersenyum kecut. Tapi tidak denganku Mas, mungkin aku tak akan bisa tidur nyenyak. Bahkan untuk memenjam mata rasanya mungkin akan terasa sulit... lirihnya di hati.


*****


Vicky kembali melajukan mobilnya. Tak berselang lama tiba-tiba saja ban belakang mobilnya meletus dan bocor. Terpaksa mereka pun berhenti di tengah jalan.


"Bagaimana ini? bannya kempes kak!" sahut Sindy cemas mendongak kepalanya keluar jendela melirik ban mobil di belakangnya.


"Terpaksa Kakak menghubungi tukang derek dulu. Biar nanti di bawa ke bengkel."


Sindy menghembus kasar. "Lalu aku harus naik apa dong?" rajuknya.


"Taksilah... Kakak tunggu di sini dulu sampai tukang derek datang." sahut Vicky seraya mengambil gawainya bersiap menghubungi tukang bengkel.


Sementara Vicky menelepon. Sindy turun dari mobil. Lalu mengambil ponsel di tas selempang miliknya dan menelepon Dika.


****

__ADS_1


Setelah mencuci alat makan yang kotor tadi di samping wastafel. Dika menggandeng pinggang Vira di sampingnya.


"Ayo kita tidur, jangan sampai kemalaman nanti kamu sakit..." Dika meraih tangan Vira dan menariknya membawa ke kamar. Vira mengangguk menuruti.


Mereka melangkah pelan beriringan menuju kamar tempat peraduan mereka.


"Mas boleh ku tanya lagi..."


"Tanya apa sayang?"


"Mas tadi saat aku telepon kamu, siapa sebenarnya Sin__"


Kriiing.... Kringgg....


Belum sempat Vira bertanya. Tiba-tiba suara telepon di ponsel Dika berbunyi nyaring.


"Tunggu dulu sayang, Mas angkat dulu ya..."


Vira mengangguk. Dika melangkah cepat ke arah nakas, kedua maniknya melebar setelah tahu siapa yang meneleponnya. Dika melirik Vira yang sedang memperhatikannya. Dia tergugup, tampak ragu untuk mengangkatnya. Tapi telepon itu tak berhenti berdering.


Dika berbalik menghindari sorot mata Vira yang mengarah padanya, dia pun lekas menggeser tombol hijau, menempelkan benda pipih itu di sisi kuping kanannya.


"Hallo, ya___ Apa?___ Baiklah aku segera ke sana!" sahutnya sedikit panik.


Setelah memutuskan sambungan seluler itu. Dia mengambil jaketnya di dinding dekat pintu.


"Sayang, maaf Mas keluar sebentar ya..." ujarnya setelah memakai jaketnya.


"Mau kemana sih Mas? Kok buru-buru sekali? Baru saja kita mau tidur bareng..." selidik Vira menautkan kedua alisnya heran.


Dika hanya tersenyum gugup. "Em, mobil teman Mas bannya bocor dan terpaksa harus di bawa ke bengkel. Dia meminta bantuan Mas untuk mengantarnya pulang." ujarnya.


"Kenapa dia harus meminta bantuan Mas untuk menjemputnya sih? Kan bisa dia naik taksi sendiri?!" timpal Vira merasa aneh melihat tingkah Dika yang mencurigakan.


"Ah tidak bisa sayang, dia bukan asli orang sini. Makanya Mas gak tega saja kalau di jalanan dia sendirian..." sahutnya yang lalu Dika meraih kunci di atas nakas, "Kamu tidur duluan ya... Mas tak lama kok!" ucapnya lagi setelah mencium kening Vira lalu ia memutar badan hendak keluar kamar.


"Apa Mas ingin menjemput wanita yang bernama Sindy itu?"


Vira menatap tajam ke arah punggung Dika yang hendak pergi. Langkah Dika pun terhenti di ambang pintu. Dia berbalik memandang Vira. Dika pikir Vira akan lupa menanyakan hal itu padanya.


"Sin, Sindy?! Siapa dia?" dustanya mengelak.


Vira tersenyum sinis. "Mas, sudahlah tak perlu menutupinya lagi. Apa benar, diam-diam Mas punya kekasih di belakangku?" tanya Vira yang kini kedua maniknya berkaca-kaca memandang suaminya.


Dika kesulitan menelan ludahnya. Wajahnya kini tampak memucat dengan pertanyaan Vira padanya.


Bersambung....

__ADS_1


...****...


Jangan lupa like dan komentarnya yaa.... Biar author semangat melanjutkan lagi ceritanya..😊😊😊


__ADS_2