
...BAB 8...
...Menutupi Kebohongan...
...Demi Mempertahankan...
..."Pernikahan bagiku sekali seumur hidup yang harus di pertahankan walau banyaknya ujian yang menghadang. Tetapi bisakah aku bertahan jika terus ada kebohongan di dalamnya?"...
...(Vira Adelia)...
"Gawat!! Apa yang harus aku jelaskan? Vira ternyata telah mendengarku yang sedang mengigau memanggil nama Sindy tadi..." gusarnya.
Dika lekas pulang melajukan roda empatnya dengan kecepatan tinggi. Di perjalanannya pulang, Dika tak berhenti mencemaskan istrinya. Khawatir Vira akan marah dan memintanya bercerai. Jika itu terjadi maka kedua orangtua Dika pasti akan sangat marah dan kecewa. Terutama ibunya, Diana yang begitu sangat menyayangi Vira.
Diana berpesan pada Dika agar selalu menjaga perasaan istrinya, menghindari pertengkaran dengannya dan hiduplah yang rukun. Itulah kunci rumah tangga awet sampai tua. Wejangan ibunya akan selalu di ingat Dika selamanya. Walau memang dalam hatinya Dika tak pernah mencintai Vira sepenuhnya, hanya sebatas rasa sayang yang ingin melindungi dan dirinya tak berniat sekalipun untuk berpisah dari Vira. Kendatipun begitu, cinta dan hatinya hanya milik Sindy kekasihnya.
Tak lebih dari lima belas menit Dika telah sampai di basement apartemennya. Dia buru-buru turun setelah memarkirkan kendaraan roda empat miliknya, dengan langkah cepat Pria tegap dan tampan itu menarik koper seraya tangannya menenteng bingkisan besar berisi oleh-oleh dari Yogyakarta. Setengah berlari dia menuju dan masuk ke lift yang sudah terbuka karena oranglain yang baru saja keluar dari lift tersebut.
Sebelum menikahi Vira, Dika memang sudah tinggal lama di apartement. Lalu meminta Vira untuk tinggal di sana. Awalnya, kedua orangtua Dika melarang untuk tinggal di apartement, karena rumah mereka terlalu besar sangat di sayangkan memang jika penghuninya hanya mereka berdua saja. Tetapi Dika menolaknya dan tetap memilih tinggal di apartemen, alasan karena dia ingin hidup mandiri bersama istrinya.
Dika perlahan masuk setelah membuka pintu apartemennya, mengedarkan pandangannya ke semua sudut ruangan utama. Tak terlihat sosok istrinya di sana.
"Assalamu'alaikum... Sayang, aku pulang..." sahut Dika. Namun tak ada jawaban dari Vira.
Dika lekas menutup pintunya kembali dengan rapat, menyimpan koper dan bingkisan besar di sisi meja tamu, lalu ia berjalan menuju dapur.
"Vira... Mas pulang sayang..." sahutnya lagi sedikit kencang seraya membuka jaketnya, namun di sana juga tidak ada Vira.
"Kemana dia?" gumamnya dahinya mengkerut, semakin cemas. Dika lekas keluar dari dapur dan bersamaan itu pula, Vira juga keluar dari kamarnya.
"Iya Mas..." jawabnya pelan. "Maaf barusan aku baru selesai sholat Isya..." ujarnya berusaha memperlihatkan sikap tenangnya, walau hati sebenarnya berontak.
Dika bernafas lega dan tersenyum, berjalan menghampiri istrinya dan lekas memeluknya hangat.
"Sayang... Mas kangen sekali padamu..." ucapnya.
Vira hanya terdiam tak menanggapi, lekas dia mendorong pelan tubuh Dika yang mendekapnya erat. Lalu mencium punggung tangan suaminya sebentar dan mengambil jaket di tangannya. Setelahnya dia berjalan ke arah ruang tamu melewati Dika, cuek. Menarik koper suaminya dan hendak membawanya ke kamar. Namun sebelum melangkah lagi, Vira melirik ke arah Dika.
"Oh ya, kamu sudah makan belum Mas?" tanyanya.
"Em, b-belum sayang..." Dika menggeleng gugup ketika Vira menatapnya yang terus memperhatikannya dari tadi. Vira mengangguk.
"Ya udah baguslah kebetulan aku sudah siapkan makan malam untuk kita tadi, kalau begitu ayo kita makan. Aku simpan dulu kopermu ke kamar." ucapnya.
"Iya sayang... Aku juga mau mandi dulu ya.." angguk Dika. Vira balas mengangguk dan menarik koper ke kamar duluan.
Di dalam kamar, Vira menaruh jaket suaminya di atas gantungan dekat pintu.
Pluk. Suara benda terjatuh dari saku jaket Dika. Lantas Vira segera mengambil sebuah kotak berwarna merah maroon itu yang barusan mengenai kakinya.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Vira mengernyit. Lalu memperlihatkannya pada Dika yang sedang membuka pakaiannya di depan kamar mandi. Dika tercengang kaku melihatnya.
"A..aa itu..." gagap Dika, dia pun buru-buru melangkah mendekati Vira dan merebut kotak itu di tangan istrinya. "Ini hadiah dari temanku.. hee_" ujarnya tergugup.
"Coba aku lihat?!" Vira menengadahkan tangannya pada Dika.
"Ah bukan apa-apa sayang... Ini hanya kado biasa." elaknya dan hendak menyimpannya di dalam lemarinya.
"Iya tapi aku ingin lihat... Sinikan!!" Vira mengambil paksa kado itu lagi di tangan Dika, Dika menariknya tak mau.
"Tidak usah di lihat sayang..."
Mereka pun akhirnya rebutan sehingga kotak itu terbuka, secarik kertas pink dan dasi berwarna merah bergaris hitam terjatuh berserak di lantai. Vira berjongkok mengambilnya dan penasaran ingin membaca isi suratnya. Namun baru saja sekilas membacanya Dika sudah merebutnya kembali.
"Sudahlah sayang ini tak penting!" sahutnya yang buru-buru merapikannya lagi ke dalam kotak.
"Pemberian dari siapa itu?" Vira semakin penasaran di buatnya. Membuat kecurigaannya bertambah kuat kala Dika tak ingin terbuka memberitahukannya.
"Teman kantornya Mas, sayang..." dustanya berusaha sesantai mungkin menjawab. Setelah menutup lagi pintu lemarinya dan menguncinya. Dika bergegas ingin mengambil handuk di tempat jemuran mini di sisi kamar mandi.
"Teman kantor?!" Vira mengernyit masih belum percaya. Dika mengangguk. "Pria atau Wanita?" tanyanya lagi.
"Em..." Dika tergugup dan kembali pucat pasi saat di tanya begitu. Keringat dingin bercucuran membasahi tubuhnya. "Itu.. dari.."
"Jawab Mas! Aku hanya ingin kejujuran. Tak salahnya kan kalau kamu berkata apa adanya pada istrimu ini..."
"Em, itu dari teman Pria." lagi dia berdusta dan menghindari tatapan tajam pemilik mata bulat Vira.
Dika menghampiri istrinya yang lalu menyentuh kedua bahunya, agar Vira berhenti mengintrogasi dirinya.
"Iya sayang aku berkata serius. Itu dari teman Pria. Sudahlah.. Kenapa sih kamu kok jadi ingin tahu urusanku? Itu sama sekali gak penting bukan?!" ucapnya yang sudah mulai tersulut emosi. Vira tersentak kaget, baru kali itu Dika mengeluarkan kemarahan padanya.
"Sekarang aku ingin mandi dan makan malam bersamamu. Aku sudah lapar." katanya lagi mencoba meredam amarah.
Vira menghembus nafasnya berat, memalingkan wajahnya ke samping dan mendekapkan kedua tangannya di dada. Dika hanya tersenyum lirih, sejenak dia pun mencium kening Vira.
"Aku mandi dulu ya..." ujarnya, lalu dia mengambil handuk biru miliknya yang tadi tak sempat tak di ambil dan masuk ke dalam kamar mandi.
Vira hanya menatap getir punggung lebar itu di balik pintu yang akan tertutup. Tak lama suara shower air terdengar menyala dari kamar mandi. Kedua mata Vira tampak memerah panas.
"Aku yakin Mas, kamu sudah berbohong padaku. Hadiah itu pasti dari Sindy, wanita yang kau sebut tadi di telepon..." gumamnya yakin.
****
"Kak Vicky, kita mau kemana sih dari tadi muter-muter gak jelas? Gak nyampe-nyampe Restoran juga?! Aku udah laper nih, Kaak!" rengek Sindy sudah kesal. Sedangkan yang di tanya hanya diam saja dan fokus menyetir sambil sekali-kali menengok kanan-kirinya jalan ke jendela mobil, seperti tengah mencari seseorang.
Malam itu Sindy mengajak Vicky makan malam di luar. Vicky lekas setuju alasan dia pun bosan makan di rumah karena masakan Art nya yang kadang tak sesuai di lidahnya.
"Kak lagi nyari apaan sih? Perasaan tadi aku lihat ya... Kita sudah ngelewatin Restoran tiga kali loh! Kak Vicky terus aja lajuin mobilnya. Kapan kita mau berhenti dan makannya kalau begini terus?!" Sindy menggerutu kesal sambil mendekap kedua tangan di dadanya. Vicky masih dengan dunianya.
__ADS_1
Sontak Pria itu pun menginjak pedal remnya mendadak. Sindy pun terkejut dan nyaris saja keningnya ke pentok ke depan kaca mobil.
Ckiiiiiitttt
"Apaan sih Kak!" pekiknya.
Vicky gegas membuka pintu mobilnya dan berlari cepat ke seberang jalan tanpa memperdulikan kendaraan yang lalu lalang melewatinya. Para pengemudi di jalanan terlihat kesal terpaksa menghentikan kendaraannya mendadak karena Vicky yang seenaknya saja menyebrang. Sindy di mobil hanya melongo saja melihat tingkah Kakak sepupunya itu.
"Kak Vicky mau kemana sih? Dia memang orang aneh?!" decaknya sambil menggaruk-garuk pipi kirinya yang tak gatal.
Vicky berlari menghampiri seorang wanita berambut hitam panjang. Busana yang dikenakan wanita itu persis dengan wanita yang selama ini selalu membayangi pikirannya.
"Viraa..." sahutnya menahan pelan lengan wanita itu.
Wanita itu menoleh terkejut. Vicky menatap kecewa yang dia lihat.
Eh ada apa ya Bang...?" tanyanya dengan suara berat yang mendayu, dahinya mengernyit.
"Emm, ma-maaf... Saya pikir anda adalah..." Vicky gelagapan.
Wanita berjenis kelamin Pria itu tersipu malu, lantas senyumnya melebar menatap Pria tampan dan kekar seperti Vicky. "Abang cari siapa sih? Jangan bohong yaa..." tanyanya lembut dan genit seraya mengelus lengan kekar Vicky.
Vicky bergidig ngeri. "Ah tidak, tidak mencari siapa-siapa!" beciknya menepis kasar tangan wanita itu. "Jangan pegang-pegang tanganku!"
"Jangan bohong deh Bang... Abang mau cari siapa?" kembali dia memegang tangan Vicky.
"Ku bilang jangan pegang-pegang aku!" bentaknya.
"Loh jutek amat sih! Tadi aja situ pegang-pegang aku gitu..." sahutnya bibirnya kecut mengerucut.
"Iih!" Vicky mendengus gemas melihat tampangnya. Ternyata Wanita yang di kiranya Vira adalah banci jalanan.
"Kak Vicky...!!!" Sindy berlari mendekati Vicky. "Ada apa sih Kak?" tanyanya sambil melirik Waria di depannya, matanya melohok kaget.
Vicky tertolong lantas dia menarik tangan Sindy dan berlari kembali ke mobil mereka.
"Bang tunggu... Heii.. mau kemana Bang??" teriaknya sambil melambai-lambai tangannya ke arah Vicky yang sudah masuk mobil.
Sindy cekikikan di dalam mobil. Melihat wajah Vicky yang sudah memerah padam.
"Siapa sih itu Kak? Dari tadi aku perhatikan Kak Vicky tingkahnya aneh sekali?! Eh kesini tau-tau Kakak kenalan sama bencong jalanan!" ledeknya terbahak-bahak.
"Diamlah!" ketusnya geram.
"Uuh gitu aja sewot..."
Vicky pun kembali memacu cepat kendaraannya tanpa menghiraukan ledekan Sindy di sampingnya.
Bersambung....
__ADS_1
...*****...
Jangan lupa like dan komentarnya yaa biar author semangat menulisnya 😊😊😊