Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Amarah Dika


__ADS_3

...BAB 34...


...Amarah Dika...


Tak berapa lama Vicky telah sampai kantornya. Mobilnya ia parkir dan mereka berdua pun turun. Vicky lekas menguncinya dengan menekan tombol remotenya. Lalu ia bergegas menghampiri Adam yang sudah menunggunya dari tadi seraya merapikan jasnya. Sindy ikut mengejar dari belakangnya Vicky, yang bersiap pergi bersama Adam pagi itu ke Kota Kembang.


"Semua keperluanku sudah kau siapkan?" tanyanya pada Pria yang berusia tak jauh beda darinya itu.


"Sudah Pak!" angguk Adam yang berdiri di samping mobil.


"Kak, Kak Vicky tunggu dulu Kak!" teriak Sindy. Vicky menoleh sebentar sebelum masuk ke dalam mobil khusus perjalanan jauhnya.


"Sebenarnya tadi Kakak bicara apa sih?" Sindy terus mendesak Vicky agar bicara, sebenarnya apa yang sedang ia sembunyikan darinya.


"Tinggalkan Dika, dan putuskan hubunganmu dengannya!" jawab Vicky singkat. .


"Apa maksud Kakak? Kenapa tiba-tiba saja bicara seperti itu? Tidak mungkinlah aku sampai mutusin dia. Kami sudah nentuin tanggal untuk pernikahan kami!" Sindy terkejut dengan permintaan Vicky yang tiba-tiba. Vicky hanya tersenyum sinis, lalu memalingkan wajah tegasnya ke arah lain.


"Setelah kakak pulang dari Bandung. Akan ku buka semua kedok lelaki yang selama ini kau puja-puja itu Sindy. Kamu masih ingat kan pesan kakak waktu pertama kalinya bertemu dengan dia?" ucapnya lagi dengan raut seriusnya. Sindy semakin mengerungkan alisnya belum paham. Perempuan muda itu hanya menggeleng pelan.


"Hati-hati dalam memilih lelaki yang belum kau kenali sepenuhnya. Atau kau akan menyesal nantinya, sebelum semuanya terlambat." terangnya membuat Sindy tercenung gundah akan perkataan Vicky.


"Silakan Pak." Adam membuka pintu belakang mobil, dan Vicky lekas masuk setelah mengingatkan adik sepupunya itu. Lalu Vicky berangkat bersama Adam untuk menunaikan tugas mereka.


"Apa maksud Kak Vicky ya, aku masih belum mengerti? Tak mungkin Mas Dika membohongiku 'kan?!" gumamnya yang mulai terbawa resah dengan pikirannya sendiri.


*****


Setelah Dokter Fuji memberikan obat untuk di konsumsi Vira. Dia pamit pulang. Sementara Vira kembali berbaring. Mencoba untuk memenjamkan kedua matanya walau pikirannya terasa sangat sulit di ajak kompromi.


Dika pun kembali masuk ke kamar, setelah ia mengantar Dokter Fuji sampai pintu depan.


"Jadi kau sedang hamil?" tanyanya tiba-tiba. Lalu menutup pintu kamar dengan kasar. Suara benturan pintu pun terdengar nyaring, hingga dinding dan kaca jendela kamar ikut bergetar karnanya. Vira tersentak kaget, mata yang tadi terpejam kembali terbuka dengan lebar.

__ADS_1


"Apa bisa kau menutup pintunya dengan pelan." Vira mencoba bangun dan menyenderkan punggungnya di kepala ranjang dengan lemas. Dika pikir Vira memang sedang berpura-pura tidur saja untuk menghindarinya.


"Aku tanya lagi padamu apa kamu benar-benar hamil?" tanya Dika lagi yang belum percaya sepenuhnya. "Atau itu cuma akal-akalanmu saja supaya aku tidak jadi menikahi Sindy!" cercanya menuduh Vira yang ingin membohonginya.


"Iya aku memang hamil Mas Dika, apa pengakuanku tadi belum cukup untukmu?" jawabnya datar.


Vira lekas membuka laci nakas dengan sedikit membungkukan punggungnya lalu mengambil tas kecilnya, merogoh sebuah kertas hasil USG kemarin dan Vira melemparnya kasar di atas kasur di depan Dika.


"Ini jika kau tak percaya padaku! Lihatlah itu dengan mata kepalamu sendiri. Tepat dimana aku memergokimu bersamanya waktu itu, aku pingsan dan di bawa ke Rumah Sakit. Dokter menyatakan aku sedang hamil tiga minggu." papar Vira, tatapannya sendu melihat kertas hasil USG yang kini ada di tangannya Dika.


"Bagaimana? Ini kan yang Mama dan kamu mau? Lalu apa kau masih ingin menikahi perempuan itu?" lirihnya bertanya.


Dika menatap dengan raut wajah tak percaya, yang lalu ia menghembus kasar nafasnya. Bibirnya menyungging tipis. "Ini mustahil bukankah dulu kamu sempat di periksa, bahwa kamu memiliki kelebihan hormon tiroid dan itu akan memperhambat kehamilanmu." terang Dika.


"Aku tidak yakin soal itu, yang memberikan kita keturunan tentunya hanya Maha Kuasa, mudah bagiNya untuk memberikan yang kita mau. Harusnya kita bersyukur Mas, di berikan keturunan dengan waktu yang sangat cepat, masih banyak pasangan di dunia ini yang belum di berikan keturunan malah sampai bertahun-tahun lamanya." jelas Vira tersenyum haru seraya mengusap perutnya yang masih rata. "Lagipula Mamamu terus berusaha membuatku agar cepat hamil dengan memberikanku obat-obatan penyubur kehamilan, bukan..." terangnya lagi.


Dika tampak menghelakan nafasnya dalam. "Baguslah kalau memang benar kau hamil. Itu artinya Mama pasti akan senang dengan kabar gembira ini." ucapnya yang lalu Dika berjalan mendekati Vira dan menatapnya tak suka. "Tapi, hampir saja tadi kau membocorkan sandiwara kita pada Sindy. Ingat jangan sampai kau katakan padanya sebelum aku yang menjelaskan semua pada waktu yang tepat!" pesannya sedikit menekan Vira.


"Kenapa kau terus bersikeras ingin merahasiakan pernikahan kita Mas? Memangnya kenapa jika dia tahu kalau aku ini istrimu.." lirihnya bertanya yang tak habis pikir dengan sikap Dika yang terlalu berlebihan. "Sekarang atau nanti, cepat atau lambat dia pasti akan mengetahuinya." jelasnya lagi.


Dika menarik nafasnya dalam dan memenjamkan kedua matanya sejenak. Lalu ia menatap lagi Vira dengan tatapan sayunya.


"Sindy akan meninggalkanku jika dia tahu aku sudah beristri. Aku tak ingin menyakitinya." selanya tegas. "Ya kau memang benar Vira. Aku sangat mencintai Sindy dan tetap akan menikahinya mesti kamu sudah hamil. Jadi ku mohon padamu sekali lagi, bersabarlah jika kau pun benar-benar mencintaiku. Aku berjanji padamu tak akan meninggalkanmu dan juga bayi kita." Dika duduk dan meraih kedua tangan Vira. Meminta Vira agar dia mau merestui pernikahannya serta meredam egonya. Namun dengan cepat Vira menarik kedua tangannya yang di sentuh Dika. Lalu mengatupkan kedua tangan di wajah payahnya kini.


"Aku tidak yakin akan terus bersamamu jika kau masih tetap nekad ingin menikahinya, Mas... Lepaskan aku sekarang juga..." pintanya terisak dalam. "Aku mohon padamu ceraikan aku Mas, aku tak sanggup bila harus melihatmu terus bersamanya!" sentaknya, yang sudah tak tahan lagi melihat kenyataan ini.


Dika mengacak kasar rambutnya, mulai frustasi. Dia beranjak dan mengambil gelas minum Vira, lalu melemparnya kencang ke pintu hingga pecah berhamburan. Vira pun tersentak kaget karnanya.


"Kenapa kau begitu keras kepala sekali Vira! Apakah dengan bercerai denganku kau sanggup menghidupi dirimu sendiri dan anak kita? Heh!" cercanya. Kedua mata mereka kini saling menatap tajam.


"Aku sanggup hidup sendiri!" yakinnya dengan tegas.


Dika berdecih meremehkannya. Lalu tertawa sumbang setelahnya.

__ADS_1


"Fisikmu itu lemah, kau gampang sakit akhir-akhir ini. Jadi jangan sok kuat bisa menanggung semua hidupmu tanpa ada aku di sisimu." cibirnya. "Jadi turutilah semua perkataanku Vira. Atau kau memang lebih betah ku kurung di dalam kamar ini. Dan selamanya tidak akan pernah keluar dari apartemen ini, bahkan kau tidak


akan pernah lagi menemui adik kesayanganmu itu. Begitu? Pilihlah yang terbaik." ancamnya dengan tatapan memincing.


Tatapan Vira menyalang, menelan kasar ludahnya yang tersekat di tenggorokan.


"Kenapa kau lakukan ini semua padaku, Mas? Kau sudah banyak berubah. Dulu kau begitu lembut dan pengertian padaku, aku heran padamu. Kenapa kau bisa begini?" Vira menggeleng tak percaya kini netranya memanas perih, sifat Dika berubah total sejak Vira tahu dia berhubungan dengan Sindy.


"Aku berubah, karena sifatmu yang terlalu keras kepala! Coba saja kau menuruti apa semua kemauanku. Aku pasti tidak akan berbuat kasar seperti ini padamu!" kilahnya membentak kasar.


"Tapi aku tidak mau kau poligami! Kau tahu dosa hukumnya jika kau terus memaksakan kehendakmu juga tanpa ada restu dariku! Lebih baik kau ceraikan saja aku sehingga kau bisa bebas memiliki wanita itu seutuhnya!" timpal Vira yang tak takut sama sekali dengan kemarahan Dika padanya.


Dika spontan mencengkram leher Vira dengan manik yang menyorot tajam seperti kesetanan. Kedua matanya mengkilat bagai petir. Hingga Vira merasakan ada ketakutan yang sangat dalam di hatinya, Vira kesulitan bernafas, rasa sesak di tenggorokan pun kian menjadi. Wajahnya perlahan-lahan membiru.


"Jangan pernah bicara seperti ini lagi padaku. Berani kau membantah suamimu. Aku akan semakin marah padamu! Kau adalah istriku selamanya tetap jadi istriku Vira. Kau mengerti!" geramnya lagi mengancam. Dika melepas lagi cengkramannya, dengan nafas yang tersengal-sengal. Pupil matanya bergetar hebat. Nyaris saja dia membunuh istrinya jika dia tak lepas kontrol.


"Uhukk uhukk..."


Tubuh Vira pun luruh hingga terbatuk-batuk setelahnya. Meraup udara sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paru, dan nyaris saja dia merenggang nyawa karena cekikan kencang Dika di lehernya.


Dika mengusap kasar wajahnya, gusar. Lalu ia melenggang pergi dan menutup lagi pintu kamarnya dengan rapat. Tanpa ada kata maaf di bibirnya untuk Vira.


Vira menatap getir kepergian suaminya, tak percaya Dika akan bertindak kasar padanya.


"Aku tak menyangka kau akan berbuat kasar seperti ini padaku Mas... Kamu benar-benar sudah berubah Mas Dika..." isaknya dengan deraian air mata di pipinya.


Dika bergegas ke kamar mandi lalu menyalakan air shower dan mengguyur kepalanya dengan air dingin. Menghilangkan amarah yang masih membara di dadanya.


"Apa yang telah ku lakukan... Ya Tuhan, hampir saja aku membunuhnya..." ucapnya dengan menatap telapak tangannya yang terus bergetar.


Bersambung....


...****...

__ADS_1


__ADS_2