Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Kesadaran Sindy


__ADS_3

...BAB 75...


...Kesadaran Sindy...


"Mas, ayo duduk..." ujar Sindy masih dengan senyuman manis di bibirnya. Maniknys memancarkan kebahagiaan. Setelah Dika selesai mandi dan berganti pakaian yang ia siapkan, Sindy lekas mengajak suaminya ke ruang makan, tak sabar untuk menyantap makan malam bersama.


Keduanya kini sudah berada di samping meja makan. Tapi Dika masih saja berdiri dan belum juga duduk di kursinya. Dia masih saja bergeming, memandangi satu-persatu makanan yang sudah tertata rapi di meja makan tanpa menyentuhnya sedikit pun. Dika menghela pelan nafasnya, lalu memalingkan wajahnya, tak ingin menatap raut wajah istrinya yang mungkin akan kecewa jika dirinya sudah tak lagi mood bicara padanya, apalagi menyantap masakannya untuk yang pertama kalinya dalam pernikahan mereka.


Dalam hatinya begitu yakin, jika sikap perubahan Sindy hanyalah akal-akalannya saja, agar dirinya bisa kembali luluh padanya.


"Maaf, sebenarnya aku masih kenyang. Setelah bermain dengan Aqilla tadi, aku langsung mampir ke cafe, kalau kau lapar makanlah sendiri..." sahutnya datar dan dingin. Setelah bicara seperti itu, Dika pun berbalik pergi ke ruang kerjanya meninggalkan istrinya seorang diri di meja makan, acuh dan berpura-pura mencari kesibukannya sendiri.


"Mas, Mas... Tapi..." cegat Sindy menahan tangan Dika. Hatinya perih sekali mendengar penolakan suaminya. Padahal dia sudah bersusah payah memasak lima menu masakan yang berbeda sekaligus dari sore tadi, dari belanja bahan makanan lalu melihat resep masakan yang ada di youtobe, demi menyenangkan hati suaminya.


"Maaf Sindy, tapi malam ini aku sibuk dan tidak ingin di ganggu! Aku akan tidur di sini." selanya lagi, Dika pun lekas menutup rapat pintu ruang kerjanya.


Sindy menatap nanar punggung suaminya yang perlahan menghilang di balik pintu.


"Aku tahu kamu masih marah padaku 'kan Mas?! Tapi aku tak akan pernah membiarkanmu menceraikanku, aku masih mencintaimu... Ku mohon maafkan kesalahanku Mas Dika..." sahutnya di depan pintu. Sindy hendak masuk, menggerak-gerakan handle pintu tapi ternyata pintunya sudah di kunci Dika dari dalam. "Mass... Tolong dengarkan dulu aku bicara, aku bisa jelaskan semuanya... Mas Dika...!!" teriaknya lagi sambil menggedor-gedor pintunya.


Namun sayang, di dalam kamar kerjanya Dika sama sekali tak ingin mendengarnya. Kedua telinganya memakai earphone dan fokus memainkan ponselnya sambil merebahkan tubuhnya di sofa tunggal.


Sindy menyenderkan punggungnya frustasi ke dinding samping pintu ruang kerjanya Dika. Karena sama sekali tak ada jawaban dari suaminya yang akhirnya Sindy mengalah, dia berjalan gontai kembali ke ruang makan, lalu duduk sendirian di sana. Menatapi makanan yang ia masak dengan penuh perjuangan tadi, namun berakhir sia-sia. Tak terasa cairan bening pun perlahan terjatuh, mengucuri kedua pipi mulusnya.


...~Flashback on~...


Siang setelah Dika meninggalkan dirinya di Danau seorang diri. Sindy memang berniat mengatakan yang sebenarnya pada suaminya, bahwa semua yang ia lakukan demi ingin membantu Ayahnya yang masih terlilit hutang Bank.


Namun ketika dia ingin kembali mengejar Dika. Ayahnya, Irman tiba-tiba saja meneleponnya dan bertanya.


"Hallo, ya Pah?" lirih Sindy dengan suara paraunya terdengar sehabis menangis.


["Nak, maaf apa Papa mengganggumu? Kamu tidak sibuk kan?!"]


"Tidak Pa, hari ini kantor libur memangnya kenapa Pa?" Sindy mengerutkan dahinya bertanya.

__ADS_1


Irman di sana terdengar menarik nafasnya berat. ["Papa hanya mau tanya sama kamu, apa benar kamu masih mengirimkan uang untuk Mama?"]


"Iya Pa,.. Kan Papa masih ada hutang di Bank?!" dahi Sindy semakin berkerut tanya, kenapa tiba-tiba Papanya menanyakan hal itu. Apakah selama ini Mamanya tak pernah memberitahunya?


["Loh, bukankah hutang Papa semuanya sudah di lunasi oleh Vicky setahun yang lalu. Apa kamu tak tahu?"]


Sindy terbelalak kaget mendengarnya. "Apa? Benarkah itu, Sindy bahkan baru dengar ini_?!"


["Apa Mamamu tak pernah bilang soal ini sama kamu?"] tanya Irman lagi heran. Sindy menggelengkan kepalanya. Tentu saja Ria tak pernah mengatakan apapun padanya soal itu, yang Ria sampaikan hanyalah mengeluh soal hutang di Bank yang belum kunjung lunas beserta bunganya yang terus saja menumpuk.


"Tidak Pah,..." Sindy menahan nafas, wajahnya berubah muram karena merasa di bohongi Ria, Mamanya sendiri.


["Setelah Pamanmu Bagas di penjara, Vicky datang kemari ingin menengok Papa. Dia menangis sambil menceritakan tentang Paman Bagas dan juga Tante Sophia pada Papa. Vicky bilang hanya Papalah satu-satunya orangtuanya kini, lalu tanpa Papa minta ia sudah melunasi semua hutang-hutangnya Papa, dan setiap bulannya Vicky juga selalu mentransferkan uang untuk biaya hidup Papa dan Mama disini ..."]


Sontak dada Sindy berdegup kencang, air matanya berderai-derai mendengar penuturan Irman di telepon. Tangannya mengepal kencang ponsel di genggamannya. Antara senang dan juga geram. Karena Mamanya, Ria tak pernah memberitahukan soal ini padanya. Sindy pikir, Vicky pun sudah tak mau lagi berhubungan dengan keluarganya setelah dirinya memutuskan menikah dengan Dika.


"Jadi diam-diam Kak Vicky sudah melunasinya, ternyata kamu masih peduli padaku Kak..." gumamnya tersenyum haru. "Ah berarti selama ini Mama juga sudah bohongi aku!" ucapnya sangat kesal, akibat kebohongan Mamanya, hubungannya dengan Dika jadi rusak, mereka kerap kali bertengkar hanya karena masalah sepele.


Sindy bergegas pulang ke Apartemen, membuang dan membakar semua obat kontrasepsinya di laci lemarinya. Lalu setelahnya ia pergi menemui Vicky di sebuah Restoran, setelah tadi ia bertanya pada Adam di telepon. Saat itu, Vicky sedang melakukan pertemuan pentingnya dengan sahabat karibnya di sebuah Restoran bintang lima. Mereka tampak serius mengobrol.


Sindy di sana tak bisa lagi membendung tangisnya, dia melangkah cepat ke arah Vicky, tak peduli semua orang kini sedang melihat ke arahnya.


"Terimakasih banyak, aku pikir kau sudah tidak peduli lagi padaku..." lirihnya. Vicky sontak menoleh terkejut ke belakang.


"A-apa yang sedang kamu lakukan Sindy? Ini di tempat umum." pekiknya pelan. Sindy menggelengkan kepalanya dan terus saja menangis, membenamkan wajahnya di punggung lebar Kakak sepupu terbaiknya.


"Jangan abaikan aku lagi ya Kak... Aku sedih tanpa Kakak..." pintanya merengek seperti anak kecil, jika sudah begini sifat manjanya muncul lagi.


Vicky menghela nafasnya panjang, lalu melepas pelan tangan adik sepupunya tersebut. "Iya sudah-sudah, sekarang kamu boleh pergi dulu dengan Adam. Kakak masih sibuk. Nanti kalau urusan Kakak selesai, kita bicarakan ini lagi berdua, ya..." ujarnya tersenyum tipis lalu mengusap kepalanya Sindy.


Walau bagaimanapun Sindy pernah hidup bersamanya sejak mereka masih kecil dan Vicky tetap menyayanginya, mesti Sindy pernah melukai hati Vira dengan menghancurkan rumahtangganya. Tetapi kalau bukan karena Sindy juga, Vicky tak akan lagi bersama dengan kekasih di masalalunya. Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian. Yang baik menurutmu, belum tentu baik di sisi Tuhan. Dan buruk menurutmu, belum tentu juga buruk di sisi Tuhan.


Vicky tersenyum memandangi gadis kecilnya yang dulu pernah dia manja-manja, kini sudah tumbuh dewasa walau sifat manjanya belum pernah hilang.


"Mau bicara apa?" tanya Vicky setelah dia selesai dengan urusannya.

__ADS_1


"Aku mau minta maaf padamu Kak," Sindy menunduk malu pada dirinya sendiri.


"Yang seharusnya pantas menerima maafmu, adalah Vira bukan Kakakmu." ujar Vicky tersenyum lagi. "Kau harus meminta maaf pada Vira, karena telah menyakiti dan merebut Dika darinya. Tapi sudahlah, semuanya sudah berlalu. Kakak yakin Vira tak akan lagi mempermasalahkan hal itu, Vira sudah mengikhlaskan Dika denganmu..."


"Benarkah itu Kak," Sindy kembali menangis tergugu. Vicky mengangguk meyakinkan.


...~Flashback of~...


Sindy mengusap air matanya yang sedari tadi menetes-netes jatuh ke makanan yang ada di piringnya.


"Ah, rasanya sangat asin sekali. Untung saja Mas Dika tak jadi memakannya. Bisa-bisa dia sakit perut kalau makan masakanku. Aku harus banyak belajar lagi." lirihnya tertawa miris.


Saat ingin beranjak untuk membuang makanannya ke tong sampah, Sindy terkejut mendapati suaminya yang sudah bersiap hendak pergi lagi keluar.


"Mas, kamu mau pergi kemana? Katanya tadi kamu sibuk?" tanya Sindy terheran, mengikuti Dika yang berjalan mendekati pintu depan.


"Aku mau pergi kemana itu terserah padaku!" ketusnya tanpa melihat Sindy.


"Mass .." panggilnya lagi. Tetapi dengan cepat Dika sudah keluar dan menutup kasar pintu itu. Hingga Sindy tersentak kaget di buatnya, tak lama ia pun kembali tersadar lalu segera berganti baju, bersiap untuk menyusul lagi kemana suaminya pergi.


Setelah menjual perhiasan Dika kemarin, Sindy merasa suaminya tidak main-main dengan ucapannya. Sindy takut Dika akan berpaling darinya dan benar-benar akan menceraikannya. Jika hal itu sampai terjadi, Sindy tak akan pernah memaafkan Mamanya. Sindy terlalu mencintai Dika, walau Dika dulu sempat berbohong karena sudah menikah dengan Vira.


Sindy bersikap serakah dengan harta suaminya, itu pun semata-mata karena ingin membalaskan kesakitan hatinya pada Dika dulu, untuk mengukur seberapa besar cinta Dika padanya. Tetapi dendamnya ternyata jadi bumerang baginya sendiri. Tak sangka Dika akan sangat semarah itu padanya.


Mobil Sindy terhenti, setelah melihat mobil Dika masuk ke sebuah parkiran hotel.


Sindy membekap mulutnya tercengang, suaminya keluar setelah memarkirkan mobilnya dan menemui seorang wanita di sana. Mereka pun tampak saling mencium pipi dengan mesra.


"Apa yang di lakukan Mas Dika di sana? Siapa wanita itu?" pekiknya karena dari jarak yang jauh, jadi Sindy tak begitu jelas melihat sosok wanita itu.


Jantungnya seakan berhenti di sana. Tubuhnya mendadak dingin dan gemetaran.


Bersambung...


...***...

__ADS_1


Kira-kira siapa ya yang di temui Dika? Karena Vira sudah bahagia dengan Vicky, jadi othor banyakin kisah Sindy dan Dika disini... Bisa jadi ini karma buat Sindy juga...untuk menebus dosa masalalunya...


Mohon maaf, othor kemarinยฒ sibuk jadi lama up nya, sekali lagi teman pembaca setiaku makasih banyak sudah mau dukung dan mampir tapi unfav lagi, maaf karena othor gak bisa maksimal buat cerita yang bagus... ๐Ÿ™๐Ÿ˜ฃ๐Ÿ˜ฃ๐Ÿ˜ฃ


__ADS_2