
...BAB 56...
...Meminta Penjelasan...
"Hentikan semua pernikahan ini!!" teriaknya, memerintah lantang dan tegas.
Vicky dan Vira membeliak terkejut, bersama mereka beranjak berdiri. Saat itu juga tangan Vicky meraih tangan Vira dan menggenggamnya dengan erat. Mata sipit itu semakin menajam ke arah wanita yang sudah berdiri tak jauh beberapa meter darinya.
"Mau apa kau kemari?"
"Mama dan Papamu tidak akan pernah setuju dengan pernikahanmu ini, Vicky!" cecarnya lagi.
"Maaf memangnya siapa kau melarangku seenaknya saja? Kau bukanlah Mamaku!" kilahnya sinis. Vicky lekas menggandeng tangan Vira, lalu mengajaknya duduk di atas pelaminan. "Lagipula, kami berdua sudah resmi menikah dan hari ini kami sudah sah menjadi suami istri..." tegasnya lagi dengan tetap tersenyum miring menatap Sophia. Sebelum duduk, Vicky memandang satu persatu para tamu undangan dan memerintah ramah pada mereka semua di sana.
"Silakan Bapak-bapak, Ibu-Ibu, acaranya tetap akan kami lanjutkan, semuanya nikmatilah hidangan kami di meja makan dengan santai dan sukacita. Jangan pedulikan wanita yang tengah berdiri berkoar-koar tak jelas di sana." perintah Vicky pada mereka.
Semua tamu pun saling menatap tampak kebingungan, tapi tak butuh lama mereka akhirnya menuruti perkataan Vicky, dan segera menyantap makanan parasmanan yang sudah di sediakan dan terhidang di meja panjang di sisi mereka. Tak lagi memperdulikan Sophia yang masih merenggut kesal di sana.
"Vickyy, kauu!" geramnya pelan, raut wajah Sophia semakin memerah padam. Tangannya mengepal kencang. Menahan rasa malu di depan banyak orang yang sedang menatapinya dengan pandangan aneh, karena Vicky terang-terangan tak menganggapnya sebagai Ibunya, walau kenyataannya memang dia bukanlah Ibu kandungnya.
Sikap Vicky pada Sophia tak pernah berubah, selalu angkuh dan menyebalkan, sama sekali tak pernah ada rasa hormat di depannya, meski mereka sudah lama jarang bertemu. Karena Vicky harus di tugaskan Bagas untuk mengurus perusahaannya di Jakarta dan Bandung, setelah menyelesaikan sekolah tingginya di Berlin. Sedang Sophia harus menemani suaminya di Surabaya membantu mengurusi perusahaannya di sana. Karena kondisi Bagas, tidak lagi se-fit dan segagah dulu. Sehingga kemungkinan besar semua aset perusahaan dan seluruh harta warisan milik mendiang Citra turun temurun dari keluarganya, akan segera di berikan pada anaknya satu-satunya, itu pun setelah Vicky sudah menikah tentunya. Wasiat itu di berikan sejak sebelum kematiannya Citra dan di tulis tangan olehnya lalu di berikan pada orang kepercayaan yang menjadi penanggung jawabnya semua aset tersebut.
Sehingga Bagas pun tidak berhak untuk merubah dan menggugatnya kembali. Selain itu pula, Sophia yang mandul dan tidak akan pernah bisa memberikan keturunan untuk Bagas, otomatis juga tidak akan mendapatkan harta warisan sepeserpun dari keluarga Bahru Sanusi. Terkecuali dengan cara jalan pintas lain, yang sudah di rencanakan oleh Sophia dan Bagas sebelumnya, jika Vicky mau menikah dengan wanita pilihan mereka. Tetapi angan cumalah angan belaka, diam-diam ternyata Vicky telah merencanakan pernikahannya sendiri tanpa mereka sadari, dengan wanita masalalu yang pernah di tolak keras oleh Sophia dahulu. Dan Sophia sudah terlambat untuk mencegah pernikahan itu.
__ADS_1
Semalam setelah Sindy mengungkapkan siapa Vira sebenarnya pada Riska, saat itu juga Riska segera menelepon Sophia. Namun ternyata panggilannya tak di angkat-angkat juga. Hingga dia pun terpaksa mengirim pesan darurat. Di pagi harinya, barulah Sophia membaca pesan itu dan menelepon balik Riska. Sophia geram dan lekas meluncur ke Jakarta dari Surabaya bersama Bagas setelah di ceritakan ulang oleh Riska. Sophia terlambat mendapatkan kabar itu, karena semalam tadi, Bagas dan Sophia sedang sibuk menghadiri pertemuan penting mereka dengan para pejabat tinggi. Sehingga Sophia tak mendengar ada panggilan Riska kepadanya.
Sophia berjalan pelan mendekati Vicky, memberanikan dirinya menahan rasa malu, mencoba lagi untuk merayu anak tirinya.
"Ayo pulanglah sayang, Papa sudah menunggu kita di rumahmu dan ini adalah perintahnya. Kita bicarakan soal ini lagi dengan baik-baik ya... Agar kamu mengerti dan tidak salah untuk memilih istri." rayu Sophia lagi dengan wajah memelasnya, yang kali ini tutur katanya lebih lembut. Tidak seperti garangnya tadi.
Vira yang mendengar ucapan Sophia, hatinya kembali nyeri. Perkataan menusuknya Sophia tak ubah seperti waktu tujuh tahun yang lalu yang pernah dikatakannya dulu padanya. Bahwa dirinya tidak akan pernah pantas menjadi istrinya Vicky.
Vicky menepis tangan Sophia yang ingin menyentuh lengannya. Lalu membuang kasar nafasnya dan memalingkan wajahnya enggan menatap mama tirinya yang tak pernah di anggap selama ini.
"Pergilah dari sini. Dan jangan ganggu acara pentingku lagi!" hardiknya. "Walau bagaimanapun Vira tetap istri pilihanku, dan tak ada lagi yang dapat memisahkan kami." ujarnya tegas, lalu Vicky beralih menatap Adam. "Adam tunjukkan pintu keluar untuknya." perintahnya pada Adam. Setelahnya Vicky merangkul bahu Vira dan duduk di kursi pelaminan.
Adam mengangguk tegas. "Baik Pak!" Adam pun mendekati Sophia yang masih betah berdiri di sana. "Mari Nyonya Sophia, silakan pintunya ada di depan sana..." tunjuk Adam memerintah dengan sopan.
"Tapi, Vicky... Sayang..." teriaknya.
"Lepaskan tanganmu itu! Jangan sentuh aku, atau kau dan keluargamu akan hidup melarat dan menyesal karena memperlakukanku seperti ini!" makinya pada Adam. Adam menahan nafasnya lekas melepas lagi lengannya Sophia, dalam hatinya dia menahan sabar dengan perangai Sophia padanya.
Sophia mengibas-ngibas lengannya yang di sentuh Adam seperti rasa jijik, dan dia pun terpaksa keluar bersama dua pengikutnya di belakangnya. Sebelum dia masuk ke dalam mobil mewahnya, Sophia melirik seorang lelaki dan wanita paruh baya sedang menggendong bayi yang baru berumur satu bulan, di teras. Mereka pun sama-sama tengah melirik ke arahnya dengan tatapan bingung dan penuh tanya.
Seketika wajah muram Sophia lenyap, bibirnya menyeringai senyum sinis. Melihat nanar pada bayi itu.
Kau memang keras kepala Vicky! geram Sophia di dalam hatinya. Baiklah jika ini maumu, maka jangan salahkan bila aku memaksamu dengan cara yang lain. pekiknya lagi.
__ADS_1
"Sekarang kita mau kemana Nyonya?" sahut salah satu pengikutnya.
"Kita kembali pulang menemui suamiku, dan memikirkan rencana lain..." titahnya.
Mereka pun pergi dengan melesat ke kediaman Bagaskara.
****
Setelah akad pernikahan itu selesai, tepat pukul 09.00 pagi Dika pamit pulang, tanpa ikut menyicipi hidangannya bersama Diana dan yang lainnya. sebenarnya ada hal yang ingin dia tanyakan pada Vira maupun Irfan, ada apa tentang kedatangan Mama tirinya Vicky tadi. Namun dia sadari siapa dirinya, dan takut akan di katakan telah ikut campur dengan urusan mereka yang sama sekali tak ada kaitannya dengannya. Lebih baik Dika diam dan pura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi.
Dia juga harus menjemput Sindy di apartemen Riska. Karena semalaman dia tak mau pulang, sebab masih marah padanya soal surat perhiasan itu.
Selain itu Dika juga ingin segera menyelesaikan masalah mereka soal pil KB yang sering Sindy minum tanpa dia tahu. secepat mungkin Dika harus meminta penjelasan itu dari Sindy, kenapa dia lakukan hal itu. Dika sangat kecewa sekali setelah mengetahuinya, bagaimana jika Diana sendiri mengetahuinya. Pasti dia akan marah dan semakin membenci Sindy.
Dika telah sampai depan pintu apartemen Riska, mengetuk pintu itu dengan kasar dan tak sabar.
Tak lama pintu terbuka dan Sindy tampak masih menguap karena baru saja bangun tidur.
"Apa sih berisik sekali!!" gerutunya kesal karena tidurnya jadi terganggu, seraya menggaruk-garuk kasar rambut kepalanya. Matanya yang masih melek merem belum sadar akan kedatangan Dika di depannya.
"Ayo cepat pulang, dan jelaskan padaku sekarang juga tentang Pil KB itu!" sentak Dika lekas ia menarik tangan Sindy dan membawanya pergi ke dalam mobil.
"Eh Mas, lepaskan aku Masss Dikaa!!"
__ADS_1
Bersambung...
...****...