
...BAB 59...
...Kekhawatiran Vira...
"Mas!" dengan cepat Vira menahan tangan Vicky yang ingin membuka kancing baju tidurnya.
Vira menatap was-was manik Vicky, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Jantungnya berdegup semakin kencang. Khawatir jika Vicky akan kebablasan melakukannya, sementara Vira masih belum siap karena masih dalam keadaan nifas. Vicky menelan kasar salivanya, lalu tersenyum sipu.
"Emm... Aku tahu usia Aqilla masih satu bulan. Jangan khawatir aku tidak akan melebihi batas kok, saat ini aku hanya ingin menyentuhmu saja. Aku akan menunggumu sampai kamu benar-benar telah sehat dan siap..." ujarnya lembut.
"Benarkah?" tanya Vira, alisnya mengerung ragu. Vicky mengangguk lagi tersenyum. "Maaf ya, aku belum bisa melayanimu,.." lirih Vira semakin tak enak hati, karena mereka menikah, di saat keadaan dirinya yang masih belum bersih dari nifas.
Vicky mengusap pipi kiri Vira lembut dengan satu tangannya, dan menatapnya binar.
"Tidak apa-apa sayang. Aku akan tetap sabar menunggumu. Apa kamu tidak lihat bagaimana kesabaranku saat menunggumu selama tujuh tahun ini?" terangnya, bibirnya menyunggingkan senyuman tulus. "Apalagi hanya menunggu waktu berbulan-bulan lamanya hingga kamu sehat kembali, itu hal yang sepele buatku!" kilahnya sambil menjentikan jari.
Vira menyungging senyum tipis, hatinya kembali terenyuh mendengar dan melihat lagi nyata atas semua perjuangan Vicky kepadanya selama ini. Maniknya jadi berkaca-kaca, bertambah haru. Ya, karena betapa beruntungnya dirinya, di cintai oleh seorang Pria sebaik Vicky.
Vira membalas mengusap kedua pipi suaminya dengan lembut dengan kedua tangannya.
"Terimakasih ya Mas... Atas semua cinta yang kamu berikan kepadaku, kesetiaan dan kepedulianmu selama ini. Aku benar-benar tersanjung dan merasa terbang di atas awan... Karena aku bukanlah wanita yang sempurna, jika kamu tak hadir dan menutupi semua kekuranganku." lirihnya tersedu. Vira memeluk erat pinggang Vicky, menyenderkan kepalanya di dada bidang dan tegap milik Pria tampan, yang kini telah sah menjadi suaminya.
"Tetapi, sebenarnya aku masih khawatir, bagaimana jika Mamamu datang dan kembali merusak hubungan kita, Mas...? Aku takut dia akan memisahkan kita lagi..." resahnya.
"Jangan cemas sayang, aku pastikan semua itu tidak akan pernah terjadi." Vicky memeluk semakin erat, mencium puncak kepala Vira. Berusaha untuk menenangkan semua kegelisahan yang kini menyelimuti hati istrinya.
****
Keesokan harinya, mendadak tiba-tiba saja Vicky di hubungi oleh Adam untuk menyiapkan pemberangkatannya ke Bandung pagi itu, karena ada beberapa masalah yang harus segera di tangani di perusahaan cabang mereka.
"Apa kamu yakin tidak ingin di antar ke Mansion dulu?" tanya Vicky lagi, dahinya berkerut. Ketika dia memakai jas hitamnya bersiap pergi pagi itu. Jelas ia sangat khawatir karena akan pergi meninggalkan Vira selama sepekan nanti.
Vicky menawari Vira di antarnya lebih dulu ke Mansionnya, namun Vira menolaknya sebab dia ingin membantu Irfan dulu di sini.
__ADS_1
"Tidak dulu deh Mas, nanti saja setelah kamu pulang lagi ke Jakarta, kita sama-sama perginya. Aku ingin menemani Irfan berjualan dulu di Toko Roti." ucap Vira sambil melipat dan memasukkan pakaian Vicky ke dalam koper sedang.
"Tapi sayang, nanti kamu kecapean. Bukankah kamu juga harus mengurusi Aqilla. Ya, walaupun ada Bibi Ina yang bantuin kamu disini. Tapi kamu juga tidak perlu lah sampai ikut berjualan dengan Irfan. Nanti aku akan carikan pegawai baru untuk membantu Irfan di Toko Roti kalian ya..." saran Vicky.
Vira tersenyum sambil memegang kedua tangan suaminya, mereka kini berdiri berhadapan.
"Tidak perlu Mas, terimakasih atas bantuannya bukan aku ingin menolak kebaikanmu, tapi aku tidak enak selalu di bantu oleh kamu terus, Mas. Aku dan Irfan 'kan juga ingin berusaha sendiri, berdiri di atas kaki kami, dan merasakan bagaimana perjuangannya hingga menuju titik kesuksesan..." terangnya.
Vicky hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam dan melepasnya perlahan. Lalu mengangguk menyerah. "Baiklah jika itu kemauanmu. Mas juga tidak bisa memaksanya lagi, tapi ingat jangan sampai kamu kecapean. Aku tidak mau jika istriku ini sakit karena terlalu banyak bekerja. Apalagi dalam seminggu ini aku terpaksa meninggalkanmu..." ujarnya dengan raut sendunya.
"Tidak apa-apa Mas, kamu fokus saja dengan perusahaan orangtuamu. Tak perlu khawatirkan aku, lagi pula ada Bibi Ina dan Irfan yang akan menemaniku di sini..." ucapnya tersenyum.
Vira mengerti karena kini dia menikah dengan suami seorang CEO yang memiliki peran penting dalam mengelola setiap perusahaannya, jadi sewaktu-waktu dia juga harus siap jika akan di tinggal lama seperti ini.
Bukankah Vicky tak ada bedanya dengan Dika, mereka berdua sama-sama pekerja keras. Adanya pengalaman bersama Dika dulu, membuatnya tak terlalu khawatir akan di tinggal untuk beberapa waktu yang lama.
"Baiklah tapi nanti kamu telepon aku jika ada apa-apa ya..." pesannya, yang lalu diangguki oleh Vira.
Vicky pun tersenyum lagi, lalu mengecup kening Vira, perlahan kecupannya turun ke bibir. Menikmati benda kenyal itu sesaat, sebelum ia berangkat pergi dan meninggalkan istrinya.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu dan juga Aqilla..." bisiknya.
"Aku juga Mas,..." balas Vira.
Beberapa menit kemudian Vicky pun berangkat di jemput Adam. Vira melambaikan tangannya ke arah suaminya yang juga sedang melambaikan tangan ke arahnya. Selang kemudian Vira masuk ke dalam rumah setelah menutup pagarnya.
Di dalam rumah, Vira memanggil Bi Ina, ART sekaligus babysitter yang sengaja di pekerjakan oleh Vicky untuk membantunya. Tadinya setelah mereka menikah, Vicky dan dirinya berencana memang akan pergi dan tinggal di mansion Vicky hari itu. Tetapi tiba-tiba saja ada hal mendadak yang mengharuskan Vicky pergi ke Bandung. Sehingga hari itu mereka pun terpaksa mengundurkan rencananya dulu.
"Bik... Bi Ina?"
"Iya Nyonya?!" Wanita berusia 40 tahun itu menghampiri majikannya dengan langkah tergopoh-gopoh.
"Sudah nyuci bajunya?" tanya Vira.
__ADS_1
"Sudah Non, ini baru Bibi mau jemuran..." katanya.
"Oh, ya sudah Bik. Nanti kalau sudah selesai jemurannya, saya titip Aqilla sebentar ya, jagain. Saya mau ke Toko Roti dulu..."
"Siap Nyah,"
Bi Ina pun melenggang pamit ke belakang rumah, dan melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai. Sedang Vira ke kamarnya memandikan Aqilla dahulu, sambil menunggu Bi Ina selesai. Setelah memandikan Aqilla, Vira menyusuinya sebentar lalu menjemurnya di teras rumah.
Selang waktu kemudian, Bi Ina keluar rumah dan menghampiri majikannya.
"Saya sudah selesai Nyah..." sahutnya. Vira menoleh, lalu berdiri menyerahkan Aqilla ke pangkuan ART nya yang juga sudah ahli dalam merawat bayi.
"Titip dulu ya Bi, tiga jam aku kembali lagi kok." ucap Vira, Bik Ina mengangguk menurut.
Vira pun pergi setelah mengambil tasnya di atas meja. Ke Toko Roti yang tak jauh beberapa puluh meter di komplek rumah kontrakan depan mereka.
Setelah Aqilla di ayun-ayun dalam gendongannya. Bi Ina pun masuk ke dalam karena Aqilla sudah tertidur pulas di pangkuannya. Lalu perlahan menurunkan bayi mungil itu ke dalam box bayi.
"Yang pules turunya ya, ndok.." ocehnya pelan.
Setelah menutup pintu kamar dan keluar. Bik Ina mengambil sapu hendak menyapu rumah sejenak. Tetapi suara pintu terdengar di ketuk kencang.
Tok tok tok
"Siapa ya? Masa Nyonya balik lagi sih?" Dahi Bik Ina mengerut heran lalu berjalan membuka pintu. "Ya sebentar dulu..."
Setelah pintu di buka lebar, sontak Bik Ina terkejut melihat dua Pria besar di depannya, yang lalu dia di bekap dan di ikat oleh dua orang asing itu.
"Hmmmmm eemmmh!!!" Mbak Ina berusaha menjerit meminta tolong, namun mulutnya sudah di bungkam oleh mereka dengan kain
Bersambung...
...****...
__ADS_1