
...BAB 74...
...Dua Ayah...
"Kepalamu tidak apa-apa kan? Apa masih sakit?" tanya Dika saat di perjalanan pulang. Dika khawatir Vira jadi terluka gara-gara Sindy.
Vira menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak apa-apa, Mas... Kamu tak perlu khawatir..."
"Maaf, atas perlakuan Sindy padamu barusan, begitulah sifat aslinya." ucapnya
"...Dan itulah sebabnya kenapa aku ingin menceraikannya..." lanjutnya pelan dengan tatapan nanar memandang ke depan jalan.
Vira menghela nafasnya dalam. "Sebaiknya kamu bicarakan lagi baik-baik dengannya. Aku khawatir, kamu hanya sedang di kuasai emosi sesaat. Jangan gegabah mengucap kata cerai, bisa jadi kamu yang akan menyesal telah meninggalkannya, Mas..." saran Vira.
"Aku serius yang aku ucapkan Vira, dan aku ingin mengakhiri hubunganku dengannya, aku tak akan pernah menyesal menceraikannya. justru, aku sangatlah menyesal karena pernah meninggalkanmu demi dirinya..." ungkapnya, menoleh sejenak pada Vira, yang lalu ia kembali fokus ke depan.
Vira menelan pelan salivanya, dan memalingkan pandangannya ke samping jendela mobil. Vira tak ingin ikut berlarut-larut dalam kesedihan yang hanya membuka luka lama saja. Toh, sekarang juga dia sudah sangat bahagia hidup bersama Vicky. Baginya Dika adalah lembaran lama yang harus dia tutup rapat-rapat dan tak perlu di buka lagi.
Tak lama mobil Dika sudah sampai di depan kontrakan Irfan. Mereka berdua pun turun, dan di saat yang bersamaan Aqilla pun berteriak keluar dari pagar memanggil Vira.
"Undaa... Bun --da..." panggilnya dengan suara riang cadelnya. Aqilla berlari kecil ke arah Vira di ikuti Irfan dari belakangnya.
Vira pun berlari sambil merentangkan tangannya ke arah putrinya lalu berjongkok mensejajari tubuhnya dengan Aqilla.
"Sayaang... Nyariin Bunda ya..." serunya yang di angguki langsung oleh Aqilla kecil.
"Mbak, mbak habis pergi darimana?" tanya Irfan mengerutkan keningnya, berbisik seraya melirik Dika dengan ekor matanya pada Vira.
Vira tersenyum tipis dan menunduk. "Barusan kami hanya mengobrol sebentar." jawabnya singkat. "Sayang... Ada yang ingin ketemu sama kamu tuh..." alihnya pada Aqilla.
"Hallo Aqilla, kemarilah Nak.." Dika pun melangkah pelan mendekati dan ikut berjongkok di depannya Aqilla. Mengulurkan kedua tangannya pada putrinya.
__ADS_1
Aqilla terlihat bingung dan takut menatap Dika, lalu kepalanya menggeleng-geleng tak mau, dan malah bersembunyi di ceruk leher Vira, sambil memeluk erat
"Loh kok malah ngumpet sih, dia Om Dika sayang... Omnya Aqilla juga... Ayo sana salim dulu sama Om.." titah Vira, terkekeh kecil seraya mengusap-ngusap punggungnya Aqilla, untuk menenangkan putrinya agar tak perlu takut dengan orang yang baru saja dia kenali. Vira terpaksa berbohong, tak ingin putri kecilnya kebingungan, karena akan ada dua Ayah yang menemaninya nanti.
"Ayo, kemarilah sayang..." titah Dika lagi tersenyum lebar, dengan masih merentangkan kedua tangannya. Menatap sendu wajah polos Aqilla.
Tampak ragu-ragu, Aqilla pun berjalan pelan dan mendekati Dika setelah di suruh Vira, dan Dika pun lekas merengkuh tubuh kecil itu masuk ke dalam pelukannya. Lalu menggendongnya dan menghujaninya dengan ciuman sayang.
Putriku... Sudah lama sekali aku ingin memeluk dan menciummu seperti ini... lirihnya dalam hati Dika menangis haru.
"Mau ikut Om sebentar nggak? Beli jajan hemm.." tanya Dika merayu Aqilla agar lebih dekat dengannya. Aqilla mengangguk tampak malu-malu.
Vira tersenyum melihatnya, perlahan ia menghela nafas panjangnya dan beranjak membiarkan mantan suaminya melepas rindunya pada Aqilla.
"Ayo masuk ke rumah..." ajak Vira pelan pada Irfan. Sedang Irfan masih khawatir jika Aqilla di tinggal berdua saja dengan Dika. Kepalanya terus menoleh ke belakang memperhatikan Dika yang menggendong Aqilla ke arah mobilnya.
"Ta-tapi Mbak_" cekatnya menahan tangan kakaknya. Vira menggeleng cepat dan menarik tangan Irfan, agar menurutinya masuk ke dalam rumah.
"Mbak nggak salah kan? ngebiarin Aqilla di bawa begitu saja dengannya?" sungut Irfan setelah mereka di dalam rumah. Maniknya melotot ke arah Vira tak setuju.
"Iya tapi kan Mbak, aku khawatir dia bawa pergi Aqilla diam-diam!" pekik Irfan, yang lalu ia ikut duduk di sampingnya Vira,
"Irfan, hentikan kecurigaanmu itu... Aku lebih mengenal Mas Dika darimu, aku yakin dia tak akan berbuat begitu. Berikan kesempatan untuk dia habiskan waktunya bersama Aqilla..." sarkahnya memberikan pengertian.
"Mbak..." desah Irfan sambil mengacak rambutnya menghempas punggungnya ke sofa, masih sangat cemas jikalau mantan kakak iparnya itu membawa keponakannya tersayang. Vira di sampingnya menggosok-gosok bahu Irfan.
"Irfan, percaya pada Mbak, Mas Dika sekarang sudah berubah, dia hanya ingin lebih dekat dengan Aqilla..."
Setelah di beri pengertian oleh Vira, Irfan pun pasrah dan tak lagi membantahnya. Berusaha untuk percaya yang di katakan kakaknya adalah benar, jika mantan Kakak iparnya sudah berubah.
****
__ADS_1
Dika menyempatkan waktunya bermain dengan putrinya di taman, hingga tak terasa waktu sudah memasuki sore. Aqilla tertidur pulas di jok belakang. Lalu perlahan dia memangku Aqilla dan membawanya masuk ke rumah. Di depan teras pun sudah ada Vira dan Vicky yang sedang menunggunya.
"Dia tadi ketiduran di jalan..." ujar Dika tanpa berani menatap Vicky yang melihatnya dengan tatapan dingin.
"Oh, kalau gitu tolong bawa dia masuk ke dalam ya Mas..." titah Vira membiarkan Aqilla masih dalam pangkuan Dika. Dika mengangguk dan berjalan mengekori Vira masuk ke dalam rumah dan berlanjut ke dalam kamar.
Setelah Vira merapikan tempat tidurnya, Dika perlahan menidurkan putrinya, dan meletakkan pelan kepala Aqilla di atas bantalnya. Sebelum beranjak pergi, tak jemu Dika memandang wajah cantik gadis kecilnya tersebut, sambil mengusap-ngusap keningnya lalu mengecupnya lama di sana.
"Bobo yang nyenyak ya sayang, Ayah pasti akan sering mengunjungimu..." bisiknya pelan. Lalu menyelimuti Aqilla dengan selimut tebal.
Setelahnya Dika melangkah keluar pintu kamar dan berpas-pasan dengan Vicky yang berdiri di lawang pintu. Langkah kakinya berhenti di sana. Tanpa menoleh Dika berbicara pelan padanya.
"Jaga baik-baik putriku... Aku titip dia padamu." pesannya pada Vicky.
Vicky hanya berdeham pelan, dengan seulas senyuman tipis menanggapinya.
*****
Dika telah sampai apartemen, sontak dirinya terkejut setelah melangkah masuk ke dalam karena Sindy sudah menyambutnya dengan hangat di depan pintu, dengan penampilan bak seorang wanita rumahan. Sindy terlihat baru selesai memasak. Karena celemek merah yang masih terpasang di badannya.
"Mas, akhirnya kamu sudah pulang..." ujarnya senang, lalu dengan cepat Sindy memeluk lengan kekar suaminya erat. Dika masih terdiam dan tampak bingung dengan perubahan Sindy yang drastis.
"Baru saja aku selesai masak Mas.. Ayo kita makan, kamu pasti sudah lapar 'kan?! Tapi sebelumnya kamu mandi dulu ya... Biar aku siapkan air hangat..." ujarnya tersenyum manis.
Dika yang mendengarnya langsung pun, sontak tersohok tak percaya di buatnya.
Bersambung...
...****...
Aku kasih Visualnya biar pada semangat like dan komennya yaa heheh β(>β½<)οΎπππ
__ADS_1