Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Sama-Sama Manusia Gila


__ADS_3

...BAB 81...


...Sama-Sama Manusia Gila...


"Pergi kau dari sini! Pergi! Buat apa kau peduli lagi padaku setelah apa yang kau lakukan? meninggalkanku tanpa perasaan! Bukankah kau ingin menceraikan aku! Ini kan yang kau mau, kau puas Mas... Puas kau sudah membuatku buta! Pergi!!! Aku membencimu!!" teriaknya mengusir Dika dengan melempar semua barang yang ada di dekatnya ke sembarang arah.


"Sayang, sayang putriku tenanglah Nak..." Ria memeluk Sindy dalam dekapannya, dan tangannya mengusap lembut kepalanya. "Tenangkan dirimu Nak, Mama akan ada selalu bersamamu..." lirihnya.


"Ma... Mama... Aku tak mau buta Maaa... !! Hiks hiks hiks... Aku tak mau jadi wanita cacattt..." isaknya kencang. Ria ikut mencelos perih mendengar tangisan pilu putrinya. Air matanya berlinangan jatuh tak tertahankan.


"Iya sayang, iya Mama ngerti perasaanmu. Mama yakin kamu pasti bisa sembuh lagi Nak. Kita akan coba berobat ya, kalau perlu kita akan pergi keluar negeri untuk mengobati matamu..." saran Ria menenangkan hati putri semata wayangnya.


Sedang Dika menatap nanar kedua wanita berbeda usia itu, Sindy yang masih tergugu menangis di pelukan Ibu Mertuanya. Hatinya bagaikan tercabik-cabik ikut merasakan sakit yang di derita istrinya.


Ria pun kini menoleh pada Dika, sesaat setelah Sindy mulai kembali tenang dan berbaring di tempat tidur memenjamkan matanya. Lalu ia berjalan dan mendekati menantunya.


"Sekarang kau dengar apa kata putriku? Pergi dan jangan lagi menemui anakku!" pekik Ria dengan nada pelan namun sangat menekan. Terlihat jelas masih ada amarah berkilatan di kedua mata wanita paruh baya yang sudah membesarkan istrinya tersebut. "Pergi, pergilah dari sini!!" usir Ria mendorong-dorong punggung Dika hingga keluar pintu kamar rawat Sindy.


"Mah, sudahlah biarkan Dika di sini. Dika masih suaminya Sindy.." sahut Irman yang sedari tadi dia duduk terdiam tak ada tanggapan apapun, namun melihat istrinya yang mengusir Dika, Irman lekas mencegah Ria agar tak memarahi lagi menantu mereka di Rumah Sakit.


"Lepas Pah, dia sudah tak pantas lagi menjadi menantu kita! Karena dialah putri kita satu-satunya jadi buta!" tunjuknya pada Dika.


Ria benar-benar tak terima, ternyata Dika berniat menceraikan Sindy sebelum terjadinya kecelakaan itu terjadi. Pengakuan Dika tadi memang membuatnya merasa bersalah. Namun dia pun melakukannya karena ada sebabnya.


"Baiklah, aku akan pergi dari sini Ma... Tapi asal Mama tahu saja. Aku ingin menceraikan Sindy, itu juga karena aku punya alasannya. Anak Mama tersayang itu, tak ingin memberikan Dika keturunan, dan Sindy mengatakan kalau semuanya atas kemauan Mama sendiri, apakah betul yang di katakan Sindy, Mah?!" hunus Dika yang kini membalas sedikit tajam menatap Ria. Mengintimidasinya, dan tak gentar meski di hadapannya adalah mertuanya sendiri.


"Jika saja Mama bukan mertuaku, Dika sudah pasti tak ingin menghormati Mama lagi karena Mama sudah berani mencampuri urusan rumah tangga kami! Sindy itu sepenuhnya adalah tanggung jawab Dika Mah, dan Mama sama sekali tak berhak untuk mengatur hidup kami." tegas Dika tak kalah berapi-api.


Sontak Ria membeliak terkejut dengan penegasan Dika padanya, tenggorokannya tercekat dan wajahnya agak pucat. Lalu memalingkan wajahnya tergugup, tak ingin melihat Dika yang terus menatapnya.


"A-apa be-benarkah itu?" tanya Irman gelagapan, dia ikut tersohok mendengarnya, tak percaya dengan apa yang sudah di ungkapkan oleh menantunya. Jika semua berawal dari kesalahan istrinya sendiri. "Ayo jawab Ma, apa benar yang di katakan Dika?" desaknya sambil memegang dan menggoyangkan pundak istrinya, Irman tak kalah terkejut dengan tuduhan menantunya.


"Apa sih, dia hanya mengada-ngada saja Pa," sangkalnya, lalu melepaskan tangan Irman di pundaknya. "Mana ada Mama melarang Sindy agar tak hamil. Ma-Mama hanya meminta Sindy untuk menunda kehamilannya dulu, itu saja. Dan Mama tak ingin putri Mama kelelahan dan jadi tak bisa konsentrasi bekerja jika dia terlanjur hamil. Mama tak mau kalau Sindy harus keluar dari pekerjaannya di usianya yang masih muda. Kami sudah susah payah membiayai dia sekolah dan mendukungnya jadi sarjana!" geramnya mengelak semua yang di tuduhkan Dika.


"Itu bukan alasan yang masuk akal Ma, Dika memiliki gaji yang cukup untuk hidup Sindy. Lagi pula Wanita tak perlu susah payah bekerja untuk mencari uang, toh jika gaji suaminya lebih besar dan mampu menghidupi istrinya seorang diri." Dika menimpalinya tak kalah geregetan.


"Sudah, cukup Dika.. Jadi ini semua jelas awalnya adalah Mama yang sudah ikut campur dengan rumah tangga mereka. Papa di sini setuju dengan pendapatnya Dika..." ucap Irman melerai pertengkaran istri dan menantunya.


"Kenapa Papa malah membela menantu kurang ajar seperti dia sih?!" Ria kembali tak terima. "Dia lah yang salah dan tidak bersyukur menikahi wanita cerdas dan berpendidikan seperti putri kita!"

__ADS_1


Irman mendengus kasar nafasnya, dia sebenarnya ingin sekali menasehati istrinya. Namun karena kondisi dan tempat yang tidak tepat di lakukan, sementara Irman menahannya. "Jelas Papa akan membela Dika. Seorang istri memang sepenuhnya adalah tanggung jawab suaminya." tegas Irman lalu dia menoleh pada Dika.


"Nak Dika, maaf atas kelakuan Mama Mertuamu ya... Papa mohon kamu mau memakluminya. Kita akan bicarakan lagi nanti tapi tidak di sini.."


"Iya Pa..." angguk Dika, walaupun hatinya juga masih kesal dengan perilaku Mama Mertuanya. Tapi Dika cukup lega karena Papa Mertuanya lebih mendukung dan membelanya.


Perdebatan itu masih belum terselesaikan Ria tetap keukeuh akan membawa Sindy pergi dan mengobati matanya tanpa melibatkan menantunya lagi yang sudah banyak mengorbankan harta untuk putrinya sejak sebelum dan sesudah menikah. Semata-mata Ria masih sakit hati dengan perlakuan Dika pada Putrinya itu.


Dika masih terhanyut dalam pikirannya ketika di tengah-tengah makannya. Mengingat lagi perkataan Ria, tangan kekarnya mengepal kencang di atas meja. Tak mampu berbuat apa-apa, begitu juga Sindy yang enggan menemuinya lagi. Tak lama tiba-tiba ada seorang yang menepuk pundaknya, membuyarkan lamunannya yang di penuhi oleh kekalutan. Dika menoleh terkejut.


"Riska?!"


"Maaf aku baru datang setelah membaca pesanmu barusan, gimana kabar Sindy?" tanyanya ikut khawatir. Lalu menarik kursi dan ikut duduk di hadapan Dika.


Dika menggeleng kepalanya, dengan tatapan sendu. "Dia, Sindy tak bisa melihat." ucapnya singkat lalu menjambak pelan rambutnya dan tertunduk.


"A-apa?"


"Ya, sekarang Sindy buta." jelasnya lagi


Riska menggelengkan kepalanya, tercengang. Menutupi mulutnya. "A-aku harus menemui Sindy, tapi apa yang harus aku jelaskan padanya." paparnya.


"Jangan dulu, saat ini kedua orangtua Sindy masih ada di dalam kamarnya. Selain itu emosinya masih belum stabil... Aku yakin dia juga akan mengusirmu.."


"Jadi dia juga tidak ingin menemuimu?" Riska kembali duduk menatap wajah Dika dengan raut sedih, segurat penyesalan di wajahnya masih terlihat jelas. "Sekarang kamu menyesal."


"Aku_," Dika menggeleng tegas. "Sebenarnya bukan ini yang ku mau. Aku memang memilih ingin menceraikannya. Tapi melihat dia sekarang buta, rasanya hatiku jadi tidak tega..."


Riska menggenggam tangan Dika untuk menguatkan dirinya. "Sebaiknya kau pikirkan lagi untuk menceraikan Sindy."


"Oh, jadi inilah rupanya yang menjadi penyebab adikku kecelakaan?!"


Dika dan Riska mendongak terkejut ke sampingnya, tampak Vicky sudah berdiri tegak di depan meja mereka.


"Vicky..." Riska berdiri wajahnya tampak berbinar melihat Pria yang selalu dia kejar. "Hai apakabarmu?"


"Jangan berbasa-basi, aku tidak bertanya padamu." ketusnya pada Riska tanpa menoleh wanita itu, Vicky hanya menatap tajam ke arah Dika. Sementara Riska menundukkan wajahnya yang sudah memerah padam menahan malu. "Aku hanya ingin mendengar penjelasannya!"


"Apa urusanmu mencampuri hubunganku dengan Sindy? Heh, sebaiknya kau urusi saja Vira.. Jika saja Vira tak menemuimu, dia pasti masih ingin menjadi istriku!"

__ADS_1


"Oh ya?!" Vicky tersenyum miring. "Ternyata... selain kau pandai mempermainkan hati wanita kau juga terlalu percaya diri. Jangan terlalu berharap, wanita mana yang mau kembali padamu? Jika kau lebih senang dan bebas berhubungan dengan wanita manapun.." sindir Vicky. Menatap sinis mantan suami istrinya.


"Vicky, aku em kami hanya..." Riska pun berdiri dengan wajahnya yang mulai tergugup, "Kamu salah paham." gagapnya. Tapi Vicky segera mengangkat tangannya di depan Riska. Tak ingin mendengarnya bicara.


"Cukup, sekarang aku mengerti. Kalian berdua memang sama-sama manusia gila dan hanya pantas tinggal di Rumah Sakit Jiwa." cemoohnya dengan dingin dan mampu membuat Dika berdiri mengebrak tangannya ke meja. Lalu ingin menarik kerah baju Vicky. Namun terlambat karena buru-buru di cegah Adam di sana.


"Kau bilang apa barusan? Heh kau pikir aku takut denganmu?! Aku sudah muak dengan sifatmu yang sok berkuasa itu! Kau pikir hanya kau saja manusia terkaya di dunia ini! Aku begini karena sepupumu yang menyebalkan, jika saja dia tak kekanakan mungkin aku tak akan berpaling darinya!" solotnya yang akhirnya terbawa emosi.


"Bos, Bos... ingatlah, apa pesan Nyonya Vira padamu..." bisik Adam pada Vicky. Adam yang di amanati Vira lewat telepon tadi pagi, dia senantiasa patuh dengan perintah sang istri majikannya.


Vicky memiringkan bibirnya. "Sudah jelas dengan ucapanmu, kau memang lelaki tak tahu diri." ucapnya dingin. Setelahnya Vicky berbalik dan pergi. Di ikuti Adam di belakangnya.


"Awas kau Vicky aku pasti akan membuatmu jera dan bertekuk lutut padaku karena sudah berani menghinaku!" makinya dari jauh. Wajahnya tampak merah padam tak terima atas penghinaan suami mantan istrinya tersebut.


Vicky pun kembali menolehnya.


"Aku tunggu pembalasanmu, dan ku pastikan kaulah yang akan bertekuk lutut di kakiku." timpalnya tak kalah sengit. Mereka pun saling menatap tajam dari kejauhan. Riska yang sedari tadi mencoba menenangkam hati Dika yang masih panas karena emosinya.


"Sudah, sudah jangan kau ladeni lagi dia..." ujarnya pelan.


Dika mendengus kasar, menyentak tangan di atas meja hingga suara piring gelas beradu nyaring membuat banyak mata memandang ke arah mereka. Menjadi tontonan gratis yang membuat suasana mereka ikut tegang di kantin Rumah Sakit itu.


****


Sementara itu, Vicky melangkah pelan masuk ke kamar rawat Sindy, dia melihat sendu wajah adik sepupunya yang masih tertidur. Setelah dia di telepon Irman soal apa yang menimpa Sindy, hatinya ikut terluka. Ria pun di ajak keluar Irman untuk mencari makanan, setelah kedatangan Vicky di sana.


"Maafkan Kakak, seharusnya dulu Kakak berusaha mencegah pernikahanmu dengan lelaki itu..." ucapnya lirih. Menyesal telah membiarkan Sindy menikah dengan Pria tukang selingkuh seperti Dika.


"Kak... Kak Vicky kau kah itu?" Sindy terbangun setelah mendengar suara parau Vicky, dan tangannya mencari-cari Vicky di dekatnya. Vicky lalu mengambil tangan adiknya yang melayang di udara.


"Ya Kakak di sini..." ujarnya berusaha tersenyum walau senyumannya tak terlihat oleh Sindy.


"Kakak..." Sindy pun beranjak duduk dan ingin memeluk orang yang selalu membela dan melindunginya semenjak kecil.


Tanpa mereka sadari sesosok lelaki muda terus memperhatikannya sedari tadi. Lelaki itu lebih merasakan sakitnya di banding Vicky, namun kesakitan hatinya tak terlihat oleh kasat mata. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya, tak terima melihat wanita yang selama ini dia cintai terpuruk kehilangan penglihatannya. Wanita yang selalu dia kagumi dalam diam karena memiliki sepasang manik yang indah baginya. Sampai sekarang dia masih mengagumi sosok wanita itu, walau dia berusaha untuk melupakan dan membuang semua perasaannya jauh-jauh, karena ia tersadar bahwa dirinya hanyalah seorang lelaki miskin.


Bersambung...


Siapakah dia??? 🤔🤔😍

__ADS_1


...****...


__ADS_2