Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Tidak Ada Mantan Anak


__ADS_3

...BAB 72...


...Tidak Ada Mantan Anak...


"Selamat ulang tahun ya, Aqillaaaa sayaangg... Muach- muach..."


"Aqilla, jangan mau di cium-cium sama Kakak ini nanti kulitmu bisa gatel-gatel!" ledek Irfan pada Ella.


Belum puas Ella menciumi Aqilla. Irfan sudah merebut menggendong Aqilla dan menjauhkan tubuh kecil Aqilla dari Ella.


"Enak aja emang aku ini apaan? kuman kali bikin gatel anak orang?!" sungut Ella, berkacak pinggang dengan dahi yang berkerut kesal menatap Irfan.


"Bukan cuma kuman lagi tapi bakteri!!" celetuk Irfan lagi terkekeh renyah, lalu berlari terbirit-birit setelah puas meledeknya.


"Kak Irfan awas yaa dasar nyebelin, nggak lucu tahu!!" teriak Ella menyentakkan kakinya lalu berlari mengejar Irfan hendak memukulnya dari belakang. Namun Irfan spontan menghindari pukulan Ella.


"Wwee tidak kena!!"


"Ah dasar nyebelin, awas loh ya!!"


Melihat tingkah Omnya dan Ella yang banyol, Aqilla tergelak tawa dengan kencang, hingga suara kecilnya terdengar oleh Dika dari dalam mobilnya yang terpakir di seberang rumah tak jauh beberapa meter dari kontrakan Irfan.


Sedari tadi sampai, maniknya tak lepas memperhatikan mereka dari kejauhan. Hatinya mencelos perih, melihat tawa bahagia Aqilla tanpa ada dirinya. Apalagi melihat putri kecilnya itu begitu terlihat menyayangi Vicky, memeluk mencium Ayah sambungnya setelah dia berhasil meniup lilin di atas kuenya tadi.


Setelah perayaan pesta ulang tahun putrinya selesai. Semua anak-anak kecil berhamburan pulang dengan hati gembira bersama dengan para orangtuanya keluar dari halaman rumah membawa sebuah bingkisan paper bag di tangan mereka masing-masing. Bukan hanya anak-anak di kampung sana saja yang di undang ke pesta ulangtahun Aqilla, tetapi anak yatim piatu dari panti Asuhan juga kerap berdatangan di undang oleh Vira dan Vicky. Semuanya tampak menikmati acara yang cukup meriah itu.


Vira dan Vicky berdiri di depan anak-anak yatim-piatu yang tengah mengantri, memberikan bingkisan dan juga amplop berisi uang jajan untuk mereka satu-persatu. Bibir Vira tak berhenti mengulas senyum haru menatap wajah-wajah polos mereka yang mencium punggung tangannya bergantian dengan takzim, kemudian Vira memberi sentuhan halus di kepala mereka.


"Nanti snacknya jangan lupa pada di makan ya..." pesan Vira pada mereka.


"Iya Tante, Om... terimakasihh banyak..." ucap mereka serempak memberi senyum bahagia pada Vira dan juga Vicky.


"Sama-sama..." angguk Vira. Vicky berjongkok di depan mereka mengusap salah satu kepala anak yatim piatu berusia enam tahunan itu, lalu memegang kedua bahu kecilnya.


"Jangan lupa setiap waktu sholat, doakan Ayah dan Ibu kalian agar Allah selalu menjaga mereka di sana. Di berikan tempat yang indah di SurgaNya. Dan jangan lupa selalu dengarkan apa pesan-pesan dari Ibu panti pada kalian, jadi anak-anak yang baik dan banyak-banyak belajar supaya kelak cita-cita kalian tercapai, ya..." pesan Vicky sebelum mereka pergi.


"Aamiin..." yang lekas di aminkan Vira dan anak-anak.

__ADS_1


"Baik Om..." sahut mereka, dengan anggukan kepala dan senyuman. Lalu mereka pun pamit pulang dan menaiki bus mini yang mengantarkan mereka kemari tadi. Mereka semua melambaikan tangan-tangannya di jendela bus.


"Dadaahhh... sampai jumpa lagi Aqilaa, Om Tantee.." seru anak-anak kecil itu di dalam bus, pada mereka.


Tak ada kata yang lebih bahagia melihat senyuman di wajah anak-anak itu. Karena Vira tahu, bagaimana rasanya hidup tanpa kedua orangtua.


Setelah kepergian anak-anak dari panti asuhan, tiba-tiba Vicky mendapat telepon dari Adam karena sudah di tunggu di hotel oleh seseorang yang akan menggantikan posisi Ayahnya untuk menghandle Perusahaannya nanti di Surabaya.


"Aku harus pergi dulu sudah di tunggu Adam, nanti sore aku jemput kamu dan Aqilla di sini ya..." sahutnya sambil kembali menyimpan ponselnya di saku jas.


"Iya Mas..." angguk Vira. "Hati-hati di jalan ya.." ucapnya


"Iya sayangku..." Vicky mengecup kening Vira lalu beralih pada Aqilla yang masih di gendongan Irfan.


"Dadaah Ayahh... Dadaa!!!" teriak Aqilla.


Vicky tersenyum dan melambai di dalam mobilnya, lalu memutar setir dan melajukan mobilnya pergi.


"Mbak, aku bawa Aqilla jalan-jalan sebentar ya..." pinta Ella tiba-tiba.


"Ya boleh, kalau enggak ngerepotin kamu sih." cibir Vira.


"Baiklah kalau gitu, kami pamit dulu ya mbak. Hati-hati di rumah..." pesan Irfan.


"Iya iyaa, kamu juga hati-hati jangan ngebut-ngebut di jalan Fan..."


"Iya Mbak!!" Irfan dan Ella pun pergi berboncengan naik motor dan Aqilla duduk di depan Irfan dengan memakai kacamata hitam kecilnya.


"Siaap ayoo kita meluncur...!!" seru Irfan, mendengarnya Aqilla tertawa senang.


*


*


*


"Kapan kamu mau ke rumah menemui Mama dan Papa," tanya Dika menghampiri Vira yang sedang menyapu halaman rumah kontrakan yang kotor seusai pesta tadi.

__ADS_1


Setelah kepergian mereka. Dika memanfaatkan waktu itu untuk bicara berduaan dengan Vira.


"Mas Dika!" Vira terkejut akan kehadiran Dika tiba-tiba. Vira pikir Dika tak jadi datang setelah ia undang kemarin. Karena pesta ulangtahun Aqilla sudah selesai. "Maaf tapi pestanya sudah selesai Mas, aku pikir kamu tidak jadi datang kemari. Mama nggak di ajak kemari Mas?" tanya Vira yang langsung di jawab gelengan oleh Dika.


"Mama tak bisa kemari, tiba-tiba saja Papa sakit dan Mama terpaksa harus menyusulnya ke luar kota tadi malam, dan besok rencananya Papa akan di bawa pulang ke sini." terangnya, Vira pun tercengang mendengarnya


"Papa sakit? Sakit apa Mas?"


"Hanya sakit biasa mungkin karena terlalu lelah mengawasi para karyawannya bekerja." Dika menghela nafasnya dalam.


"Oh ya aku ingin bicara berdua denganmu saja." ujarnya tiba-tiba dengan nada seriusnya.


"Bicara? Ya sudah bicara saja disini..."


"Tidak di sini... Ikut denganku..." Dika menarik tangan Vira dan membawanya paksa naik ke mobil.


"Mas, Mas Dika, kau mau bawa aku kemana?" Vira ingin menarik lagi tangannya, namun tak bisa karena Dika lebih kuat memegangnya.


"Maass..."


"Ayo masuk!" titahnya.


Dika tak menjawab pertanyaan Vira, setelah dia berhasil membawa masuk mantan istrinya ke mobil. Dika melajukan mobilnya dengan cepat. Tak ada waktu setengah jam, akhirnya mereka telah sampai di sebuah tempat tepatnya berada di Danau Sunter, dimana tempat itu adalah tempat kenangan mereka berdua dulu, saat Dika meminta Vira menikah dengannya atas permintaannya Diana.


"Mau apa kamu mengajakku ke tempat ini?" Vira terkejut setelah Dika membawanya ke tempat itu. Seolah mengingatkannya lagi pada kenangannya bersama Dika dua tahun yang lalu. Tak Vira pungkiri memang saat itulah pertama kalinya dia jatuh cinta pada Dika.


Dika menggandeng tangan Vira ingin mengajaknya mendekati danau itu, namun Vira segera menepisnya lagi dengan kasar.


"Mas, lepas! Kita sudah bukan lagi suami istri, kamu jangan mengambil-ngambil kesempatan ini karena Mas Vicky tidak ada di dekatku, ya..." cetusnya dengan tatapan dingin. Dika tersenyum miring dan menatap mantan istrinya lekat.


"Kamu tak perlu khawatir, aku hanya ingin bicara serius denganmu mengenai Aqilla." ujarnya santai. "Kapan kau akan mengatakan pada Aqilla bahwa aku ini adalah Ayah kandungnya yang sebenarnya?" tanyanya tiba-tiba membuat Vira tercekat, menatap lebar padanya.


"Suatu saat dia pasti akan tahu jika lelaki itu bukanlah Ayah kandungnya. Huh, sampai kapan kau akan terus menipunya, Vira?" cebiknya. "Aku benci melihat pemandangan itu. Sebaiknya Aqilla aku bawa saja dan tinggal bersamaku!" ujarnya tiba-tiba, yang kini wajahnya berubah bertambah serius, dengan kedua tangan melipat di depan dadanya.


"Tidak Mas! Aku mohon berhentilah kau memaksaku untuk meminta Aqilla ikut denganmu. Kau boleh menemui Aqilla kapanpun kau mau, tapi jangan paksa Aqilla harus ikut padamu." Vira menggeleng cepat, maniknya semakin terlihat berkaca-kaca, dia tak akan pernah sanggup jika harus berpisah dari putrinya.


"Kau memang egois Vira, kau tega menjauhkanku darinya sedangkan kau sendiri tak mau jauh darinya. Manusia macam apa dirimu ini? Walau bagaimanapun Aqilla adalah putri kandungku, tidak ada yang namanya mantan anak dalam kamus kehidupan!" tegas Dika memincingkan kedua matanya tajam pada Vira.

__ADS_1


Bersambung...


...****...


__ADS_2