Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Berikan Aqilla padaku


__ADS_3

...BAB 84...


...Berikan Aqilla padaku...


"Apa katamu tidak sengaja? Atau memang kau saja yang tidak becus mengasuh anakmu ini, hah?!" makinya melototkan maniknya walau dia memang tak bisa melihat Vira dan Aqilla di sana. Tapi Sindy dapat merasakan bahwa keduanya kini ada di dekatnya.


"Kenapa juga sih Kak Vicky harus mengijinkan kalian berdua tinggal di sini?! Ini benar-benar gila, aku benci ada anak kecil di dekatku." pekiknya menggerutu, Sindy pun mere-mas kencang kedua sisi kepalanya sangat kesal. "Aah, menyebalkan!"


"Sindy berhentilah memarahi Nak Vira!" Irman berdiri dan menghentikan ucapan menyakitkan Putrinya yang menyinggung perasaan Vira dan juga anaknya.


"Apa sih Pah mereka kan bukan anggota keluarga kita, ngapain juga sih Papa harus belain mereka segala?" timpal Sindy.


"Bukan Papa bela, tapi Aqilla ini masih balita wajar saja dia melakukan kesalahan. Dan Nak Vira, tentu dia juga adalah anggota keluarga kita sekarang, karena dia sudah jadi istrinya Kakakmu, Vicky. Jadi hormati dan hargai keberadaannya disini!" tegas Irman, menarik nafasnya menahan emosi.


Sindy mengerungkan dahinya. Lalu menghentakan tangannya ke meja cukup kencang, menumpahkan sebagian makanan dan minuman di wadahnya hingga berceceran di atas meja.


"Huuh... Aku sudah tidak berselera lagi untuk makan!" gerutunya. "Pelayaaan!" teriaknya.


"I-iya Nona Sindy?" pelayan yang barusan selesai membersihkan pecahan gelas, lekas menghampiri Sindy.


"Antar aku ke kamarku!" titahnya.


"Ba-baik Nona..." Lalu pelayan itu memegang tangan Sindy dan membimbingnya sampai masuk kamar.


Irman menatap kepergian Sindy dengan helaan nafas beratnya. Lalu Irman menoleh pada Vira, serba tak enak hati.


"Nak Vira, tolong maafkan atas perlakuan Sindy barusan. Om yakin itu karena pengaruh kecelakaan yang membuatnya jadi kehilangan penglihatannya, sehingga dia sering emosi dan belum sepenuhnya bisa ikhlas untuk menerimanya.." ucap Irman. Vira menggeleng tersenyum.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Om, Vira sangat paham keadaan Sindy kok..." ucap Vira.


Sementara Ria yang masih terduduk diam di kursi makan, melirik dengan tatapan sinis ke arah Vira, lalu menghela kasar nafasnya. Sama seperti pendapatnya Sindy, sebenarnya dia juga kurang setuju jika Vira dan putrinya ikut tinggal di rumah keponakannya.


****


Sore sepulang bekerja. Dika mendatangi kantor Vicky dengan langkah tak sabar, hatinya bergejolak marah pada lelaki yang berstatus suami dari mantan istrinya tersebut. Mantan istri yang masih dia cintai dalam hatinya. Gegas dia masuk ke dalam ruangan Vicky setelah di ijinkan oleh petugas recepsionis di sana. Membuka kasar pintu di depannya.


Braakkk


"Kemana Sindy? Kembalikan dia? Kenapa kau bawa istriku tanpa seijin dan sepengetahuanku, hah?!" sulutnya emosi.


Vicky yang tengah duduk di kursi kebesarannya memincingkan matanya ke arah Dika yang kini sudah berdiri di depan mejanya, lantas Vicky beranjak dari kursi lalu melemparkan berkas di tangannya, yang baru saja selesai dia tanda-tangani ke atas meja.


"Apa kau tidak punya tatakrama? Tidak kah kau mengetuk pintu dahulu sebelum masuk ruanganku? Apa perlu Aqilla ku yang mengajarimu?" sindirnya.


"Jangan berbasa-basi, kaulah yang tak punya tatakrama. Dimana otakmu, kau bawa Sindy tanpa persetujuanku sebagai suaminya? Dan jangan pernah mengatakan kalau putriku adalah putrimu juga, hati kecilku tetap tak akan pernah sudi menerimanya!" sentaknya menggebrak kasar meja kerja Vicky.


Dika menelan gugup salivanya. Perkataan Vicky berhasil menelaknya. "Ya, aku memang pernah mengatakan itu, tapi kami masih belum resmi bercerai. Sindy masih istriku, dan dia masih tetap tanggung jawabku!"


Vicky kembali tertawa sinis lalu berjalan memutar meja mendekati Dika. "Kau katakan tanggung jawab? Lucu sekali... Baru kali ini aku menemukan manusia tak tahu malu sepertimu. Tanggung jawab seperti apa yang kau berikan, hanya berakhir dengan pengkhianatan? Huh, menyakiti istrimu berulang kali tanpa ada rasa bersalah. Cih, aku tak akan pernah mengijinkan Sindy untuk menemuimu lagi, jika perlu kalian berpisahlah secepatnya. Sindy berhak bahagia dan mendapatkan lelaki yang lebih baik dari dirimu. Vira maupun Sindy sama-sama wanita baik dan mereka hanyalah korban kebiadabanmu!" tegasnya. "Enyahlah kau dari hidup kami!" camnya keras, dengan menatap tajam manik Dika di depannya.


"Kau_"


Dika menggertakkan gigi-giginya, sangat tersinggung dengan ucapan Vicky. Dia pun mengepal tangannya siap untuk meninju. Namun sebelum tinjuannya mengenai Vicky, Vicky sudah lebih dulu menahan tangannya.


"Jangan pernah berani menyentuhku, akulah yang lebih dulu akan menghancurkanmu!" geramnya.

__ADS_1


Buugh


Vicky berhasil meninju wajah Dika. Tapi Dika tak berhenti dari situ, dia berusaha berdiri untuk melawannya. Seperti ada kekuatan yang masuk ke dalam raganya, dan Dika berhasil membalas pukulan Vicky sekuat tenaganya, dan akhirnya mereka pun berdua berkelahi di ruangan yang cukup luas itu.


Adam yang mendengar kegaduhan di ruangan bosnya buru-buru ia masuk ke dalam. Adam tercengang melihat perkelahian sengit itu dan lekas meminta dua pengawal Vicky, untuk membantu menghentikannya.


Bugh bugh bugh


"Boss... Sudah Bos!"


"Lepaskan aku Adam, aku tidak akan menghentikannya. Aku akan menghajarnya sampai mati!" teriaknya. Adam yang panik cepat-cepat menahan tubuh Vicky di depannya.


"Bos, insyaf Bos Insyaf... Ingat pesan Nyonya Vira padamu... Istrimu tak akan pernah memaafkanmu kalau sampai tahu berkelahi lagi dengannya..." sahut Adam berusaha menenangkan Vicky, di sana Dika juga tak kalah memberontak yang di tahan kedua pengawalnya Vicky.


Adam melirik kedua pengawal dan menyuruh mereka berdua untuk mengusir Dika keluar kantor. Mereka pun mengangguk.


"Ayo, sebaiknya anda keluar dari kantor ini Pak!" titahnya keras.


"Hei lepaskan aku!!" teriaknya. Dika menatap tajam pada Vicky. "Baiklah, jika kau melarangku menemui Sindy, maka kau harus mau berikan Aqilla kepadaku! Aku tidak akan pernah sudi dan tidak pernah rela kalau kau menjadi Ayah dari putriku!!" teriaknya.


"Berhenti mengharapkan Aqilla. Aku tak akan biarkan dia memiliki Ayah tukang selingkuh sepertimu!" timpal Vicky.


Dika pun semakin marah dan terus mengumpati Vicky setelah di usir keluar dari kantor. Dika meringis perih, mengusap sudut bibirnya yang sudah berdarah.


"Sialan!" umpatnya. Dika lekas masuk ke dalam mobilnya dengan jalan tertatih-tatih sambil menahan perutnya yang masih sakit akibat jotosan keras Vicky tadi. "Dia memang kuat sekali. Percuma saja aku berlatih tinju, tapi tak bisa melawannya."


Setelah Vicky memukul Dika untuk pertama kalinya dulu. Dika berinisiatif untuk berlatih bela diri dengan olahraga tinju agar kelak bisa membalas lawannya lagi. Tetapi ternyata kekuatan Vicky masih lebih unggul darinya.

__ADS_1


Bersambung....


...****...


__ADS_2