
...BAB 73...
...Sisi Baik Dan Buruk Dika...
"Kau memang egois Vira, kau tega menjauhkanku darinya sedangkan kau sendiri tak mau jauh darinya. Manusia macam apa dirimu ini? Walau bagaimanapun Aqilla adalah putri kandungku, tidak ada yang namanya mantan anak dalam kamus kehidupan!" tegas Dika memincingkan kedua matanya tajam pada Vira.
Vira menghela nafasnya dalam-dalam, membalas menatap tajam mantan suaminya dengan manik yang sudah memerah panas, menahan amarah.
"Jadi menurutmu aku ini egois?! Apa kamu tidak ingat, bukankah ini semua sudah menjadi keputusanmu sendiri?! Jika saja dulu kau tak berniat menikahi Sindy, mungkin kita masih menjadi suami-istri. Maka itu terimalah semua takdirmu ini Mas Dika, kamu sendirilah yang sudah membuat hatimu terluka dengan lebih memilih Sindy daripada keutuhan rumah tangga kita..." tegas Vira yang berakhir dengan suara pelan dan lirih. Vira dengan cepat mengusap sudut matanya yang sudah basah dan memalingkan wajahnya dari Dika.
Dika seketika itu pun tercenung, menatap wajah sendu Vira dengan getir. Apa yang di katakan Vira memang benar. Semua karena buah dari kesalahan dan keegoisannya sendiri. Tapi, dia benar-benar masih belum bisa terima jika harus Vicky yang menjadi Ayah kandung Aqilla. Hatinya seakan hancur dan cemburu melihat kedekatan di antara putri kandungnya dengan lelaki itu.
"Aku mengerti perasaanmu Mas, tapi maaf... Aqilla butuh sosok Ayah yang bisa di percaya di sampingnya hingga dia tumbuh menjadi gadis dewasa yang baik dan berbakti kelak, dan aku yakin semuanya ada pada Mas Vicky, dan dia adalah Ayah yang tepat bagi Aqilla. Maafkan sekali lagi Mas Dika, aku tahu ini berat bagimu... Ku mohon jangan lagi memaksaku untuk meminta Aqilla tinggal bersamamu..."
Dika menundukkan kepalanya, menekan dada kirinya seakan nafasnya begitu sesak.
"Jadi_ Menurutmu aku ini adalah Ayah yang tidak pantas untuk Aqilla?" Dika mengangguk-anggukkan kepalanya semakin rendah diri dengan suara lirih, lalu mengusap air bening di sudut matanya. "Kau benar-benar ingin menggantikan posisiku dengannya?" getirnya lagi dengan bibir yang bergetar.
"Bukan itu maksudku Mas..." Vira menggelengkan kepalanya cepat.
"Lalu apa, hah?! Tadi kau bilang dia Ayah yang tepat bagi Aqilla?!" pekiknya yang mulai kembali emosi, hingga Vira tersentak kaget karena Dika kini mencengkram bahunya, dengan tubuhnya yang gemetaran.
"Ya aku akui, aku memang salah padamu Vira_ Aku sudah banyak menyakitimu, aku memang tak pantas kau maafkan..." angguknya lagi berkali-kali, kepalanya tertunduk dalam. "Aku menyesalinya sekarang... Maaf, maafkan aku... Seandainya saja waktu bisa di putar kembali, aku pasti tidak akan pernah menyia-nyiakanmu." lirihnya dengan suara yang parau. "Aku memang lelaki bodoh yang telah di kuasai oleh naf-su sesaat..." Dika terisak menangis pilu di depan Vira, lalu terkulai lemah dan menjatuhkan lututnya di depan kakinya Vira.
Vira pun segera mengangkat bahunya Dika untuk berdiri lagi.
"Mas Dika, tak perlu lagi kau sesali. Aku sudah lama memaafkanmu. Aku tidak pernah melarangmu untuk menemui Aqilla.. Tapi, hanya saja ini bukan waktu yang tepat untuk kau jelaskan jika kamu adalah Ayah yang sebenarnya. Dia masih terlalu dini untuk mengetahuinya, biarlah waktu yang akan menjelaskan semua padanya nanti..." jelasnya, Vira berharap Dika akan mengerti dengan keadaannya.
"Iya kamu benar Vira..." ucapnya pelan.
Vira pun tersenyum tipis lalu mengusap bahu Dika untuk sekedar menguatkan hatinya yang masih rapuh. "Mas tak perlu cemas, setidaknya kita akan menjadi teman yang baik untuk saling mendukung. Aku tidak ingin ada permusuhan di antara kita lagi, lupakan kesalahan yang lalu dan berbahagialah dengan Sindy. Besok aku akan ke rumah Mamamu sekalian menjenguk Papa, jujur aku juga sangat merindukan mereka." ujarnya.
Dika tersenyum pahit, karena hati kecilnya masih belum sepenuhnya menerima. Tapi dia akan mencoba untuk ikhlas dan menuruti apa perkataan mantan istrinya itu.
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita pulang Mas katanya Mas ingin bertemu dengan Aqilla.." ajak Vira. Dika kembali mengangguk lemah, namun saat kaki mereka ingin berbalik melangkah. Tepukan kencang mengagetkan keduanya.
Plok plok plok!
__ADS_1
"Oh jadi begitu rupanya, ternyata diam-diam Mas pergi untuk menemui wanita ini lagi!"
Vira dan Dika sontak menoleh terkejut, ketika melihat kehadiran Sindy yang tiba-tiba saja sudah ada di belakang mereka.
"Kamu mengikutiku?" tanya Dika mengernyitkan dahinya.
"Apa aku salah jika aku ingin tahu kemana suamiku pergi?" ketusnya dengan tatapan sinisnya memandang Dika dan Vira bergantian.
Dika menghela nafas panjangnya. "Aku hanya ingin menemui Vira untuk membicarakan Aqilla." ujarnya santai.
"Menemuinya dan mengajaknya berduaan di tempat seperti ini?! Apa aku harus percaya dengan semua omonganmu, Mas?" sindirnya dengan nafas yang memburu.
"Terserah padamu, mau percaya atau tidak." ucap Dika datar.
"Kau memang keterlaluan Mas, kau bahkan tidak menjaga perasaanku!" getirnya. "Kau juga sama-sama tak tahu malu! Mau saja berhubungan dengan mantan suamimu lagi! Hah dasar wanita mu-rahan!" Sindy berjalan dan hendak menampar Vira namun tangannya segera di tangkap oleh Dika.
"Diam Sindy!" bentak Dika. "Jangan buat aku semakin marah padamu. Iya akulah yang mengajak Vira kemari! Memangnya kenapa, hah? Lebih baik kamu pulang dan urusi saja dirimu sendiri seperti hari biasanya!" geramnya lalu melepas kasar tangan Sindy, hingga tubuh Sindy terhuyung ke belakang dan nyaris saja ia terjatuh.
"Bukankah kau tak pernah mau jika aku terus mengganggumu?!" timpal Dika lagi, geram. Entah kenapa sekarang Dika selalu tak bisa menahan amarahnya bila berdekatan dengan istrinya. Apalagi jika mengingat semua perhiasan yang dia simpan untuk Aqilla, semuanya sudah dijual Sindy tak tersisa.
"Untuk kau berfoya-foya?!" sela Dika menyindirnya. Sindy memang sudah menyesalinya, dan berusaha untuk berkata jujur pada Dika kali itu. Namun dia kalah cepat, karena Dika menyelanya duluan.
"Setiap waktu kau hanya butuh uang. Apa tidak pernah cukup selama ini aku berikan gaji padamu setiap bulan, hah?!" bentaknya lagi. "Dasar kau wanita boros! Aku menyesal menikah denganmu!" umpatnya, dengan jari telunjuk menunjuki wajah Sindy di depannya. Sontak Sindy pun terbelalak, hatinya bagaikan di hempas kasar ke dasar jurang. Sakit dan sesak. Kedua netranya kini tampak berkaca-kaca.
"A-apa menyesal?!" tanya Sindy terbata-bata.
Vira yang mendengar pun tak kalah kaget, tak pernah dia bayangkan sebelumnya, Dika akan berbuat kasar pada Sindy. Bukankah Dika sangat mencintai Sindy? Dan yang Vira tahu selama ini mantan suaminya itu adalah Pria yang royal pada siapapun termasuk pada dirinya dulu, seperti halnya Vicky padanya. Walau Dika pernah berbuat salah padanya, karena menghianati cintanya. Tapi Vira akui bahwa Dika tak akan pernah marah sekalipun jika hanya soal uang.
"Em, maaf sepertinya aku harus segera pulang, Mas. Sebaiknya kalian berdua selesaikan dulu masalahnya." sela Vira di tengah-tengah pertengkaran mereka. Vira hanya tak ingin terlibat jauh dalam urusan mereka berdua.
"Tidak Vira, biar aku antarkan kamu pulang.. Aku ingin menemui Aqilla..." Dika menahan lengan Vira agar jangan pergi sendirian. Vira lekas menggelengkan kepalanya lagi.
"Tidak apa-apa Mas aku bisa pulang sendiri naik taksi, nanti kamu bisa menyusulku ke rumah." Vira menolaknya halus sembari melepas tangan Dika di lengannya, karena tak enak jika dirinya terus di tatapi Sindy dari tadi.
"Tidak-tidak Vira, biar aku antar sekalian saja, aku tak enak karena sudah membawamu kemari..." sahut Dika lagi tak ingin lepas tanggungjawab, lalu tanpa menghiraukan Sindy, Dika mendorong pelan punggung Vira, membawanya masuk ke dalam mobilnya.
Sindy yang masih berdiri di sana. Tentu bertambah geram dengan tangan mengepal kencang, melihat suaminya yang masih saja perhatian pada mantan istrinya itu.
__ADS_1
"Mas, Mas Dika kita belum selesai bicara!!" panggilnya lagi setengah berteriak.
Gegas Sindy pun berlari dan menarik kencang rambut Vira dari belakang. Hingga tubuh Vira terjengkang ke belakang dan meringis kesakitan.
"Aaaakkhh..." jerit Vira.
"Aku tidak suka ya kalau kau masih saja dekat-dekat suamiku!! Akan ku beritahukan semuanya pada Kak Vicky, kalau kau masih berhubungan dengan suamiku! Biar dia menendangmu jauh-jauh dari hidupnya!!" makinya yang semakin marah tak terkendali.
Dika yang baru saja membukakan pintu mobil untuk Vira, sontak saja berlari menghentikan perlakuan kasar Sindy.
"Hentikan Sindy, hentikan! Kau menyakiti Vira!!" bentaknya mencoba melepaskan cengkraman tangan Sindy dari rambut Vira. Namun tangan Sindy begitu kuat dan tak ingin melepaskannya begitu saja.
"Tidak, aku tidak akan pernah melepaskannya sebelum dia pergi dari hidupku!" pekiknya lagi sambil menarik lagi rambutnya Vira kencang.
"Lepaskan dia Sindy! Kau memang sudah gila! Jika kau begini terus, aku sudah tak ingin lagi mempertahankan pernikahan kita! Lepaskan Vira atau ku ceraikan kau sekarang juga!" ancam Dika kali itu. Sindy yang mendengar ancaman suaminya sontak terperangah lantas melepas kasar jambakannya dari rambut Vira. Lalu memburu nafasnya dengan emosi, beralih menatap tak percaya pada suaminya.
"Kau, kau ingin menceraikanku demi wanita mu-rahan ini?" pekiknya tersendat-sendat menunjuki Vira.
"Aku menceraikanmu bukan karena Vira, tapi karena sikapmu yang kasar dan juga kekanak-kanakan!" timpalnya.
"Kamu tidak serius kan, Mas?" kini terlihat garis ketakutan di wajah Sindy. Wajahnya memucat kala Dika mengucap kata cerai padanya.
"Aku serius, aku akan menceraikanmu..." ucapnya dingin. Sindy menggelengkan kepalanya cepat.
"Mass.." lirihnya, hendak meraih tangan Dika namun segera di tepisnya lagi. "A-aku minta maaf..." ucapnya terbata.
"Sudah terlambat. Aku akan urus segera perceraian kita!" tegasnya, dan berhasil membuat buliran bening terjatuh di pelupuk matanya Sindy.
Setelah mengucap itu Dika pun kembali membawa Vira ke mobilnya.
"Mas... Masss Dikaa!!" Sindy berteriak dan berlari kecil di samping mobil Dika menggedor-gedor kaca jendelanya. "Maas aku minta maaf, Mass!!" ucapnya lagi menyesali. Namun Dika tak menghiraukannya dan terus melajukan mobilnya pergi meninggalkan Sindy seorang diri di sana.
Melihat suaminya berubah sikap, Sindy menangis terisak kencang di dekat danau, merobohkan tubuhnya ke tanah. "Ku mohon jangan ceraikan aku Mas, aku tidak ingin berpisah darimu..." lirihnya. "Ini semua gara-gara Mama!" geramnya, mengepalkan tangan di atas tanah rerumputan. "Kenapa Mama selalu saja memaksaku meminta uang dan menekanku agar aku tidak hamil!!" isaknya kencang.
Bersambung
...****...
__ADS_1