Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Pernikahan Dika dan Sindy


__ADS_3

...BAB 42...


...Pernikahan Dika dan Sindy...


Dua minggu berlalu.


"Apa kau yakin, ingin menikah lagi, Nak?" Diana lagi menghela nafasnya berat, masih ragu dengan keputusan Dika. Apalagi semenjak kepergian Vira, mereka tidak bertemu lagi dan tak ada kabar sama sekali setelahnya. Diana sebenarnya masih menyayangkan atas kepergian menantunya itu.


Dika mengangguk yakin. "Ya Mah, keputusan Dika sudah bulat. Akan menikahi Sindy hari ini juga!" tekadnya sambil membenarkan tuxedo hitamnya di depan cermin. Diana lekas membantu merapikan penampilan putranya.


"Lalu bagaimana dengan nasib Vira? Dia belum kau ceraikan secara hukum. Tapi Mama masih belum rela kalau kalian benar-benar ingin bercerai. Karena dia masih mengandung cucu Mama, Dika. Sebaiknya kau tanyakan lagi pada Irfan, mungkin dia sudah menemukan Vira saat ini. Kamu beri pengertian dan bujuk lagi dia, bahwa tak selamanya poligami itu mengerikan. Vira tetap istrimu walaupun kamu tak pernah mencintainya, tapi kamu harus tanggung jawab padanya, Nak..." papar Diana. Dika menghembus nafas kasar. Lalu memasang jam tangannya dengan cepat.


"Akh, sudahlah Mah. Aku bosan membahas ini terus-terusan yang tak ada habisnya. Mama tak perlu khawatir. Sindy pun pasti bisa memberikan cucu buat Mama nanti. Saat ini yang ku pikirkan adalah pernikahanku dengan Sindy. Semoga semuanya berjalan lancar dan tak ada hambatan." harapnya.


"Lagipula aku malas bertemu si Irfan itu lagi, kelakuannya kasar dan tak sopan sekali padaku. Memang dasarnya orang miskin dan tak berpendidikan, main berontak saja. Mereka berdua sama-sama kakak beradik yang tidak tahu di untung dan tak bersyukur!" lanjutnya dengan nada sebal. "Sudah bagus aku menikahi kakaknya dan menafkahinya, dengan begitu bebannya berkurang bukan!"


Dika berusaha untuk tak lagi memperdulikan urusan Vira. Mau dia baik-baik saja atau tidak Dika tak ingin lagi mengurusinya. Walau memang di hati kecilnya, Dika masih tak terima jika Vira pergi darinya. Tapi mau bagaimana lagi, toh dia tak bisa lagi memaksakan terus kemauan istrinya.


Diana menggeleng kepalanya. Menghela nafasnya lagi.


"Tapi Mama 'kan terlanjur sayang sama Vira, Dik. Walaupun begitu, kamu harus tetap memikirkan nasib istrimu yang sedang mengandung anakmu. Sudah lama sekali Mama dan Papa juga menantikan cucu dari kalian." Bujuk Diana lagi, berharap Dika mempertimbangkan lagi agar Dika tak terburu-buru memutuskan ingin menceraikan Vira.


"Sudahlah Mah, jangan membahas Vira lagi. Toh salahnya sendiri yang ingin pergi. Sebaiknya kita berangkat, ini sudah terlambat, Dika khawatir nanti keluarga Sindy kesal karena terlalu lama menunggu kita." cetusnya, yang lalu Dika melenggang duluan menaiki mobilnya.

__ADS_1


Diana pun akhirnya pasrah, dia ikut berjalan di belakangnya Dika. Dia terpaksa pergi sendirian tanpa suaminya. Karena Papanya Dika tak bisa menghadiri pernikahan putranya, selain tak mengijinkan Dika untuk menikah lagi, sebenarnya beliau juga sedang ada tugas ke Kalimantan.


Hari itu adalah hari pernikahan Dika dan Sindy. Mereka menggelar pernikahan di sebuah gedung besar dan cukup mewah yang di hadiri oleh banyak tamu undangan dari keluarga besar dari Semarang serta sebagian besar sahabat-sahabat Dika di kantornya.


Mereka yang tidak tahu prahara tentang rumah tangga Dika dengan istrinya yang sebenarnya. Hanya percaya saja dengan ucapan Dika, yang mengatakan bahwa dirinya sudah lama bercerai dengan Vira.


Sedang Vicky juga di sana. Tentunya dia tak bisa lagi memaksa kehendak Sindy untuk tidak menikah dengan Dika. Mesti beberapa kali ia menasehatinya, Sindy tetap dengan keyakinannya sendiri. Entah pelet apa yang Dika berikan, sehingga Sindy takluk pada lelaki tak setia seperti Dika.


"Baiklah terserah padamu saja. Tapi jika suatu saat dia menyakitimu. Itu sudah bukan urusan kakak untuk campur tangan lagi!" tegas Vicky pada Sindy yang sudah duduk cantik dengan gaun pengantinnya. Vicky pun pergi entah kemana. Dia sama sekali tak ada niat ingin menghadiri pesta pernikahan itu. Dia sudah terlanjur muak melihat tampang Dika. Seolah mengingatkan lagi dirinya pada masalalu Papanya yang telah mengkhianati mendiang Mamanya. Vicky sangat membenci pengkhianatan dalam rumah tangga, juga membenci wanita perusak rumah tangga orang seperti Shopia. Oleh karena itulah, dia harus sampai kehilangan Mama kandungnya sendiri yang teramat dia sayangi dan kasihi.


Sindy hanya tertegun. Mere-mas kedua tangannya di atas pangkuannya. Matanya memerah berkaca-kaca menatap kepergian Vicky yang sama sekali tak ingin merestui hubungan mereka. Sindy tahu, jika perkataan Vicky memang ada benarnya. Namun hatinya tak bisa memutuskan hubungan dengan Dika begitu saja. Sindy tak menampiknya, tak hanya mencintai Dika. Obsesinya untuk menikah dengan Pria kaya dan tampan seperti Dika adalah impiannya selama ini.


"Aku tidak peduli jika semua orang menganggapku, wanita perebut suami orang. Sebelumnya Dika adalah milikku dan bukan wanita itu! Apa aku salah, jika aku merebut kembali kekasihku?!" gumamnya mendengus kasar, bibirnya tersenyum menyungging menatap dirinya di depan cermin.


Lima jam berlalu, setelah selesai akad dan resepsi pernikahan mereka. Dika menggandeng Sindy keluar pelataran gedung. Sebuah mobil alpardh merah sudah ada di depan mereka.


Wajah cantik Sindy berbinar cerah, dia menjerit bahagia. Lalu memeluk erat Dika di sana.


"Terimakasih sayangku..." ucapnya begitu sangat bahagia.


Irman dan Ria di sana juga ikut terharu melihat pemandangan itu. Tapi tidak bagi Diana sendiri. Dia tercenung hanya memikirkan Vira saja. Sekilas dia kembali teringat saat dimana dirinya menawarkan Vira mahar untuk pernikahannya.


"Kamu mau apa sebagai mahar pernikahanmu nanti, Vira?" tanya Diana pada saat itu.

__ADS_1


Vira hanya tersenyum menggeleng. "Cukup hanya dengan doa restu dari Mama dan Papa, Vira sudah sangat beruntung dan bahagia sekali. Karena kalian berdua adalah pengganti orangtua kami yang sudah tiada."


Tak terasa Diana meneteskan airmatanya, mengingat lagi ucapan Vira yang pernah menyentuh kalbunya.


****


Malam tiba, Dika melajukan mobilnya menuju apartemen.


"Kita mau pergi kemana?" tanya Sindy seraya menelisiki jalan di jendela mobil. Dahinya berkerut melirik Dika tak suka.


"Ke apartemen lah mau kemana lagi?!" jawab Dika. Sindy memutar bola matanya malas, tentu saja ia tahu dengan hanya sekali melihat jalan jika Dika akan pergi ke apartemennya. Namun bukan itu yang dia mau.


"Ini adalah malam pengantin kita, Mas! Seharusnya kita menginap di hotel. Kenapa malah bawa aku ke apartemenmu lagi, sih! Aku nggak mau ya teringat akan bayang-bayangmu saat bersama mantan istrimu di sana. Pokoknya kau harus pindah secepatnya dan cari apartemen baru!" cetus Sindy, dengan tiba-tiba dia meminta tanpa berunding dulu sebelumnya dengan Dika.


"Apa?!" Dika menoleh terkejut. "Tak bisalah sayang itu kan apartemenku sewaktu aku masih bujang dulu. Aku sudah betah dan tidak ingin pindah dari sana." tolak Dika.


"Oh jadi sekarang kamu sudah berani menolak permintaanku! Dengar ya Mas, kamu tuh sudah mengkhianati aku. Harusnya kamu hargai dan jaga perasaanku dong, Mas. Kamu mau ya, aku sedih terus-terusan, mengingat kalian berdua pernah tidur bersama di tempat tidur yang sama?!" gerutu Sindy, berdecak kesal.


Dika menahan nafasnya, merasa diri terancam. Bisa-bisa dia gagal melewati malam pertama mereka.


"Baiklah-baiklah kalau itu maumu. Besok kita akan cari apartemen baru untuk kita tinggali..."


Sindy tersenyum senang lalu menyenderkan kepalanya di bahu Dika. "Nah gitu dong, itu baru suamiku..."

__ADS_1


Bersambung....


...****...


__ADS_2