Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Kekalutan Dika


__ADS_3

...BAB 7...


...Kekalutan Dika...


Sepeninggalnya Ibuku. Aku bertemu dengan Tante Diana, beliau adalah teman lama ibuku. Lalu beliau mengenalkan aku dengan Dika putra satu-satunya beliau. Kami pun saling dekat. Awalnya kami sama-sama canggung. Namun seiringnya waktu kami bersama membuat aku dan Dika terjalin kecocokan dan Dika menerima semua kekurangan apapun dariku begitupun juga denganku. Tak ada waktu setahun kami saling mengenal masing-masing, Dika dan kedua orangtuanya datang melamarku.


Di awal kami bertemu hingga setelah menikah, sama sekali tak pernah ada pertengkaran besar maupun kecil di antara kami. Kami saling menghargai dan menghormati. Hingga lima bulan usia pernikahan kami. Aku yang begitu bahagia menunggu kepulangan suamiku. Saat itu dia ada tugas ke luar kota selama dua minggu dan dimana hari ini suamiku bertambah usia.


Sangking bahagianya aku merencanakan akan memberikan kejutan kecil untuk menyambutnya pulang nanti malam. Menyiapkan kado kecil dan memasak makanan spesial untuknya. Tetapi hal yang tak di inginkan tiba-tiba saja datang menerkam hidupku. Ketika siang tadi aku selesai belanja, di depan mataku, aku melihat Mas Dika bersama wanita lain yang tak kukenal. Mereka bergandeng tangan dengan mesranya. Melihatnya seolah cinta yang kian tumbuh bersarang di hatiku, tercabik-cabik hancur dan tak berbentuk lagi. Cintaku terhempas jauh, dan kepercayaanku padanya lenyap begitu saja.


Mas Dika ternyata sudah pulang dan sampai Jakarta. Iya dan aku tak tahu itu. Dia mengatakan padaku akan sampai rumah malam nanti. Hatiku seperti di cengkram kuat. Sakit dan kecewa. Apa salahku sehingga Mas Dika mulai berbohong padaku?


Perasaanku semakin gundah dan tak tenang. Apakah dia sudah mulai bosan denganku? Apa aku sudah tak di harapkan lagi menjadi istrinya? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan negatif memenuhi pikiranku.


Mas Dika pergi begitu saja bersama wanita itu masuk ke dalam mobilnya. Di saat aku masih mematung dengan pikiran yang campur aduk, tiba-tiba hal tak terduga kembali mengejutkanku. Aku bertemu lagi dengan Pria di masalaluku. Ya, saat itu aku bertemu kembali dengan Vicky. Apa rencana Tuhan sebenarnya.? Kenapa tiba-tiba saja aku di pertemukan lagi dengannya dalam keadaan aku tengah terluka oleh cinta Mas Dika? Pria yang sudah susah payah aku hilangkan di dalam memory ku sendiri. Kenapa dia tiba-tiba berada di kota yang sama denganku?


Aku pulang setelah pamit pada Vicky. Aku harap kami tak bertemu lagi. Sesampainya di apartemen tempatku tinggal. Aku masih bergelut dengan pikiranku. Rekaman masa lalu terus saja berputar di benak ini. Jika aku tak segera menepis ingatan itu. Aku pasti kembali terbuai ke masa lalu. Aku kembali fokus pada belanjaanku di meja, memilih menenangkan hati dan pikiran, melanjutkan niatku tadi, memberikan kejutan untuk suamiku Mas Dika.


Hingga waktu bergulir dengan cepat. Aku telah selesai dengan kesibukanku di dapur. Menyiapkan semua hidangan enak di meja makan yang tadi ku masak sendiri, dengan hiasan lilin di tengah-tengah meja. Juga sekotak ukuran 20x20 cm kue tart bertuliskan happy brithday yang ke 30 tahun untuk suamiku. Tak lupa aku simpan baik-baik kado sederhana yang sudah kupersiapkan dari kemarin. Aku taruh di bawah meja makan.


Ku lirik jam di dinding waktu hampir menunjuk angka 7 malam. Hatiku dag-dig-dug tak karuan, sebentar lagi ya.. Sebentar lagi Mas Dika pulang sesuai janjinya. Aku memang tak sengaja menghubunginya dari tadi itu karena supaya rencanaku tetap berjalan lancar. Akan kulihat dulu kebenarannya jika memang Mas Dika berselingkuh dariku.


Tak terasa waktu pun berganti kini sudah pukul 7 lebih lima menit. Tak ada tanda-tanda Mas Dika mengetuk pintu. Aku yang tak sabaran akhirnya mengambil gawai dan meneleponnya. Lalu terdengarlah suara beratnya di seberang. Namun seketika itu aku di buat terkejut olehnya, dia menyapaku dengan nama wanita lain.


["Hallo... Sindy sayang, kenapa... masih pengen deketan sama aku yaa?"] lanturnya. ["Aku juga sama sayang..."]


"M-mas Dika..." lirihku bergetar. Terdengar samar suara parau Mas Dika seperti yang baru bangun tidur.

__ADS_1


"Mas... Ini aku. Vira!" kembaliku jawab dengan nada sedikit meninggi.


["Em.. iya sayang mau ketemuan lagi ya? Di mana? Katakan saja. Aku siap menemanimu..."] sahutnya lagi, masih terdengar jelas Dika menjawabnya dengan setengah sadar.


Mendengar Mas Dika berucap mesra namun itu bukan diajukan untukku. Air mataku tiba-tiba menetes keluar dengan sendirinya. Aku pun terpaksa mengakhiri telepon. Lalu terisak pelan menahan sesak di Dada.


*****


Tut tut tut...


Suara sambungan telepon terputus sontak Dika tersadar dan mengusap-ngusap wajahnya yang masih lemas.


"Ahh... jam berapa sekarang?" gumamnya sendiri. Lalu dia melihat ponsel yang ada di genggaman tangannya sambil posisi tidur telentang di kasur.


"Jam 7 lebih 15 menit?" Dika menyipit. Gegas matanya melebar "Ya Tuhan cepat sekali waktunya! Aku harus segera pulang."


"Perasaanku tadi Sindy meneleponku ya?" Di ambilnya lagi ponsel itu, penasaran ingin mengecek siapa barusan yang meneleponnya.


Dika tercengang ternyata yang meneleponnya barusan adalah kontak Vira.


"Ya Tuhan... Vira?!" matanya terbelalak lebar.


Tenggorokannya seperti tercekik sulit bernafas. Gegas Dika menghubungi kembali Vira, istrinya.


Tak menunggu lama Vira di sana mengangkatnya.


["Hallo Mas..."] sahutnya, terdengar suara lembut dan merdu di seberang.

__ADS_1


"Hallo sayang? Maaf Mas agak terlambat pulang. Di jalan agak macet. Mungkin setengah jam lagi Mas pulang ke rumah ya..." Dika kembali berdusta, karena dia harus membereskan dulu pakaiannya di hotel.


"Iya Mas tidak apa..."


"Em kalau begitu sudah dulu ya, nanti Mas hubungi lagi.."


"Em tunggu dulu Mas.. boleh aku tanya?" tahan Vira.


"Iya sayang mau tanya apa..." Dika mengernyit


"Barusan aku telepon kamu. Kamu menyapa nama seorang wanita. Mas menyebut nama Sindy... Siapa dia Mas?"


"A, a... itu.. dia.." sontak Dika jadi kelabakan dan gugup.


"Mas... Aku tunggu di rumah. Aku minta penjelasanmu dengan jujur... Kalau begitu sampai ketemu di rumah. Assalamu'alaikum..." ucapnya


"Wa'alaikum salam.. A a tapi Vi, Viraa...!" Dika kecewa karena Vira langsung menutup teleponnya.


Dika membanting ponselnya ke ranjang. Lalu terduduk di tepi kasur, meraup kasar rambutnya. Gusar.


"Gawat apa yang harus aku jelaskan? Vira tenyata mendengarku yang sedang mengigau memanggil nama Sindy tadi..."


Bersambung....


...****...


Selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf Lahir Bathin...

__ADS_1


__ADS_2