
...BAB 65...
...Usai Persidangan...
"Ada kabar baik untukmu. Aku sudah menangkap pembunuh Mamaku..." ucap Vicky tersenyum miris, seraya menatap gelas kaca kosong yang berada di genggaman tangannya.
Vira yang duduk di sampingnya pun sontak melebarkan matanya, menatap suaminya dengan terkejut. Setelah ia meletakkan gelasnya di meja makan. "Benarkah?! Siapa dia Mas?" tanyanya mengerutkan keningnya, penasaran. Vicky kembali menatap istrinya, dengan tanpa ekspresi di wajahnya.
"Papaku.." jawabnya singkat dan datar.
Vira terbelalak tak percaya. Sejenak ia jadi terpaku. "Itu ti-tidak mungkin?!" gelagapnya. "A-apa kamu sudah yakin betul kalau Papamu yang sudah melakukannya? Tapi kenapa dia sampai melakukan itu pada Mamamu?" lanjutnya bertanya.
Tak sangka ternyata ada seorang suami yang tega membunuh istrinya sendiri dengan sangat kejam.
Citra, mendiang Ibu Vicky terkenal sosok wanita yang murah hati dan penyayang, yang selalu ia dengar dari mulut orang-orang di kota Surabaya, tempat kelahirannya dan juga Vicky. Hal apakah yang membuat Bagas setega itu membunuh istrinya? Serangkai kalimat tanya, terus saja memenuhi pikiran Vira saat ini.
Vicky mengangguk lagi. "Iya, aku sudah menemukan bukti-bukti yang kongkret, dan semuanya sudah ku serahkan kepada penyidik. Sebulan lagi persidangannya akan dilaksanakan. Entahlah aku pun tak tahu, dia melakukannya dengan keadaan sadar atau tidak. Tapi aku yakin sekali, semuanya pasti karena ulah hasutan wanita ular itu. Aku tidak akan pernah terima jika mereka berdua hidup bahagia setelah apa yang mereka lakukan terhadap Mamaku! Mereka harus menanggung semua akibatnya!" geramnya, giginya bergemelutuk keras masih menyimpan amarah yang terus berkobar di dalam hatinya.
Seluruh tubuhnya bergetar saat dia mengungkap semuanya pada Vira. Hati Vira terenyuh, lantas Vira menarik tangan suaminya dan merangkul belakang kepalanya, lalu memberikan sandaran di pundaknya yang mungil, menyalurkan kekuatan akan hati suaminya yang telah merapuh sejak lama meski di luar ia tampak kuat dan tegar. Tapi Vicky tetaplah Vicky juga memiliki kelemahan, seorang Pria manapun, kecil maupun dewasa pasti akan sangat membutuhkan seorang Ibu di sisinya untuk selalu mendukungnya hingga dia tumbuh menjadi seorang Pria sukses dan mapan.
"Maafkanlah yang sudah terjadi, mungkin saat itu Papamu sedang khilaf melakukannya... Ikhlaskan Mamamu, Mas... Agar beliau bisa istirahat dengan tenang di alam sana." ucap Vira seraya mengusapi belakang kepala hingga punggung lebar suaminya dengan lembut.
Vicky memeluk erat tubuh istrinya sambil meneteskan air mata kesedihan, perlahan mencoba melepaskan kehampaan yang bersarang dalam hatinya selama 17 tahun itu hidup tanpa ada sosok ibu di sampingnya. Tetapi kini dia bersyukur, dapat bertemu lagi dan berjodoh dengan Vira, wanita kedua yang teramat dia cintai setelah Almarhumah Ibunya.
****
__ADS_1
Satu tahun kemudian...
Setelah persidangan itu selesai sebelas bulan yang lalu. Hakim telah mengetuk palu, dan sudah memutuskan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup untuk Bagas dan Sophia karena mereka berdua terbukti telah melakukan pembunuhan berencana kepada almarhumah Citra. Tindak pidana ini lebih spesifik diatur dalam Pasal 340 KUHP yang berbunyi, “Barang siapa dengan sengaja dan dengan direncanakan lebih dahulu menghilangkan jiwa orang lain, dihukum, karena pembunuhan direncanakan (moord), dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lama dua puluh tahun.”
Awalnya Vicky menginginkan mereka di hukum mati saja, agar dirinya terbebas dari rasa dendam yang terus saja menyelimuti hati dan jiwanya. Namun, dia masih punya rasa tak tega tatkala menatap wajah frustasi Ayah kandungnya. Walaupun, kelakuan Ayahnya bejad tetapi dia tetap orangtuanya yang pernah berperan membesarkan dirinya.
"Vicky, sekali lagi Papa benar-benar minta maaf padamu... Papa menyesal telah membuat Mamamu meninggal. Papa tahu, semua yang sudah Papa lakukan adalah dosa yang sangat besar. Saat itu mata hati Papa telah tertutupi oleh semua kekayaan harta milik mendiang Mamamu. Papa pantas menerima semua hukuman ini Nak," isak tangis Bagas saat di persidangan kala itu, setelah ia di jatuhi hukuman. Dia berlutut di depan putra semata wayangnya.
Sedang Sophia menggigit rapat bibirnya, hatinya ikut terguncang hebat. Nyaris saja dirinya pingsan ketika dia pun di jatuhi hukuman yang sama. Dia beringsut maju, ikut berlutut di depan kedua kaki putra tirinya. Meraung dan menangis sejadi-jadinya. Berharap Vicky akan berbesar hati, untuk memaafkan dirinya dan juga Bagas.
Kala itu hanya anggukan dan senyuman tipis saja yang Vicky berikan, cara dirinya memaafkan kesalahan mereka. Berusaha melapangkan dan mengikhlaskan yang sudah terjadi seperti nasehat istrinya kala itu.
Keesokan harinya, Vicky mengajak Vira dan Aqilla ke kampung halaman mereka. Sebelum mereka bernostalgia dan pergi berbulan madu, Vicky ingin pergi berziarah ke makam Almarhumah Citra dahulu.
Aqilla berceloteh seraya menarik-narik baju Vicky. Vicky pun tersenyum ke arahnya dan mengambil alih gendongan Aqilla dari istrinya.
"Ayoookk Yaah puwang- puwaanng..." rengek Aqilla, bibir mungilnya merenggut sangat imut, menggambarkan kebosanan karena sudah lebih dari dua jam mereka di pemakaman. Vicky yang memperhatikannya semakin gemas lalu mengecup-ngecup pipinya yang gembul.
"Iya sayang, iya..." ujarnya terkekeh. Vira pun ikut terkekeh melihat tingkah putrinya.
Mereka pun bersiap kembali ke Jakarta untuk esok harinya, setelah selesai berziarah ke makam Mamanya dan juga makam kedua orangtua Vira, mereka berdua pun menyelusuri tempat-tempat kenangan indah yang pernah mereka lalui sewaktu memakai seragam putih abu-abu.
****
Sementara sepasang suami istri itu tengah berbahagia, tapi tidak dengan Dika dan Sindy hampir setiap hari mereka bertengkar. Perkara Sindy yang masih belum siap memberinya keturunan. Malah Sindy selalu saja memaksa Dika meminta jatah uang 10 juta perbulannya, untuk ia kirim ke orangtuanya. Namun Dika tak menghiraukan kemauannya sebab Sindy pun enggan mengabulkan permintaannya. Sindy tentu frustasi, jika saja Vicky masih menganggapnya sebagai adik. Tak segan dia meminta uang padanya, pasti Vicky pun dengan senang hati memenuhi semua keinginannya. Namun kini Vicky berubah, sikapnya tetap tak acuh padanya, Pria itu seolah tak peduli bagaimana lagi keadaannya sekarang.
__ADS_1
Itulah sifat Vicky yang tak banyak orang ketahui, jika sudah terlanjur di kecewakan maka jangan harap dia akan kembali baik pada orang itu, mesti mereka adalah keluarganya sendiri.
Malam itu, Dika belum pulang dari kantor. Sementara Sindy memang pulang sore harinya. Tiba-tiba terlintas dalam benaknya untuk mencari-cari tabungan Atm Vira yang pernah Sindy lihat dulu.
"Aku yakin sekali, kalau Mas Dika masih menyimpan kartu tabungan mantan istrinya itu." gumamnya menyeringai licik.
Sindy pun mulai beraksi mengobrak-abrik isi lemari Dika. Setelah ketemu dia akan meminta ARTnya untuk membereskannya lagi. Tapi nihil, dia tak menemukannya di dalam lemari, Sindy menyentak kasar nafasnya semakin frustasi. Memikirkan nasib kedua orangtuanya disana, terutama Mamanya yang ketar-ketir tak bisa lagi membayar hutang kesana-kemari. Karena Sindy hanya bisa memberikan uang untuk biaya makan mereka saja di setiap bulannya.
"Aah nyebelin, dimana sih dia simpan?!" gerutunya. Sindy pun melempar kasar jas-jas kerja Dika yang tergantung ke atas kasur. Seketika itu pula Sindy terkejut, melihat ada sebuah kotak besar berukuran 25x25 cm, berwarna hitam tergeletak di bawah lemari gantungan.
Sindy melirik jam di dinding. Waktu masih pukul enam sore. Itu artinya satu jam lagi suaminya akan pulang.
Tanpa pikir panjang lagi, ia berjongkok, meraih benda kotak itu dan duduk di tepi kasur. Perlahan ia membuka kotak itu.
Kembali Sindy di buat terperangah melihatnya, di dalam kotak tersebut ternyata banyak sekali perhiasan emas yang menimbun.
"Sejak kapan Mas Dika menyimpan perhiasan ini? Ini bukan perhiasan punyaku... Apa jangan-jangan perhiasan ini kepunyaan wanita kampungan itu?" sontaknya lekas ia mengambil sepasang cincin emas di dalam kotak itu, dan benar saja. Jika itu adalah cincin emas pernikahan Dika dengan Vira dahulu.
Sindy menyungging senyum sinis di bibirnya yang berwarna merah. Dia pun menutup kotak itu lagi.
"Dari pada di simpan. Lebih baik perhiasan ini aku manfaatkan saja. Ini semua salahmu Mas, kenapa juga akhir-akhir ini kau selalu perhitungan padaku!" seringainya.
Bersambung...
...****...
__ADS_1