
...BAB 57...
...Butuh Seorang Istri...
"Apa kau bisa lebih lembut sedikit memperlakukanku hah!!" bentak Sindy, setelah dirinya di tarik dan di lempar Dika ke kasur layaknya barang. Tapi Dika tak perduli karena dia masih marah, lalu ia melempar bungkusan kosong, obat kontrasepsi itu tepat ke mukanya Sindy.
"Apa ini, hah?!" tanyanya menyentak keras.
Sindy pun tercengang dan mengambil bungkusan itu yang jatuh di pangkuannya, dengan wajah sudah memucat. Nafas Dika memburu dengan cepat, menahan emosi yang sudah memuncak naik ke ubun-ubun.
"Aku hanya ingin mendengar penjelasan darimu, kenapa kau meminum pil KB itu tanpa persetujuanku? Apa kau benar-benar tidak ingin mempunyai anak dariku?! Hah katakan itu padaku Sindy! Kenapa kau melakukan ini semua?!" pekiknya menggerutu. Sindy sulit menelan ludahnya, yang kini dia terpojok.
"Em, ma-maafkan aku Mas... Itu karena aku, aku belum siap hamil dan mempunyai anak." lirihnya terbata-bata lemah, akhirnya semuanya terungkap juga. Kepalanya semakin tertunduk, Sindy bingung harus menjelaskannya darimana? sebenarnya ini juga atas dasar permintaan Mamanya sendiri, yang belum mengijinkan dia hamil, agar Sindy fokus bekerja dan membiayai hidup kedua orangtuanya di Semarang.
Dika membuang kasar nafasnya dan menggeleng-geleng cepat sambil berkacak pinggang.
"Apa, jadi karena itu alasanmu? Lalu kenapa kau tak pernah merundingkannya dulu denganku, jika memang kau belum siap hamil?" tukasnya
"Itu karena aku ingin fokus dengan pekerjaanku Mas, dan aku tidak mau nantinya waktuku harus di bagi dua dengan mengurusi anak. Sudah terbayang rasanya akan bagaimana, pasti sangat melelahkan sekali. huuuft..." Sindy menghelakan nafasnya panjang. Lalu mengusap wajahnya yang lelah. "Aku tahu, Mamamu begitu sangat ingin aku cepat hamil dan memberinya cucu. Tapi, maaf aku tidak bisa dan belum siap, Mas..."
"Tapi itu bukan alasan yang masuk akal Sindy! Kita bisa menyewa babysitter untuk membantu mengasuh anak kita!" paparnya meyakinkan. Lalu Dika berjongkok dan menggenggam kedua tangan istrinya. "Atau bagaimana kalau kau resign saja dari pekerjaanmu dan cukup diam mengurusi rumah. Jadi biar aku saja yang bekerja. Lagian gajiku juga sudah lebih dari cukup untuk biaya hidup kita berdua." terang Dika tersenyum merayu. "Ya, kau mau kan. Kasihanilah Mamaku sayang... lihatlah, dia selalu saja terlihat melamun karena memikirkan Aqilla terus... Paling tidak kita beri kebahagiaan untuk memberinya cucu dari rahimmu." pintanya memohon.
Sindy tersentak, lalu ia berdiri menepis tangannya Dika. Menatap tajam ke arahnya. "Resign katamu?! Ah, tidak, tidak-tidak! Enak saja kau bilang. Aku harus resign?! Kau tahu, susah payah aku sekolah tinggi-tinggi tapi harus berakhir jadi Ibu Rumah Tangga, memasak dan mengurus anak!" sentaknya menolak. Sindy pun me-remas kasar rambutnya dan berteriak sambil berjalan mondar-mandir di depan Dika, gusar.
"Aah jangan konyol kamu Mas! Apa kata orang-orang padaku nanti. Mama dan Papaku juga pasti tak akan pernah setuju jika aku keluar dari pekerjaanku ini!" timpalnya keras, Sindy lekas mengambil handuknya di sisi lemari. Berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Sudahlah, masalah ini tidak perlu kita perpanjang lagi. Hanya buang-buang waktuku saja. Lebih baik aku mandi dan sarapan!" ketusnya, suara pintu kamar mandi pun dia tutup kasar dengan kesal.
"Sindy!!! Tapi ini demi kebaikanmu, dan kebaikan kita berdua. Kalau keinginanmu begini terus! Jangan salahkan, jika aku akan terus menemui Aqilla, dan memberikan nafkah untuknya!" teriak Dika mengancam, Sindy yang mendengar itu kembali membuka pintu kamar mandinya dan keluar menghampiri Dika. Jelas ia tak akan menyetujuinya.
"Apa katamu Mas?! Awas saja ya kalau berani-berani melakukan itu, aku tak akan pernah sudi jika wanita itu kau berikan secuil pun harta darimu!" sentaknya, seraya menunjuki wajah Dika dengan geram. "Dia itu sudah beruntung ya dinikahi Kak Vicky! Jadi Mas jangan sok-sok baik perhatian memberi nafkah untuknya!"
Dika menyentak nafas. Wajahnya kembali memerah padam tersulut emosi.
"Makanya itu kau jangan keras kepala seperti ini. Ikuti kemauanku, keluar dari pekerjaanmu sekarang juga dan berikan orangtuaku cucu!" perintah Dika yang lebih tegas lagi dari Sindy. Kedua manik mereka kini saling beradu tajam, dan tak ada saling mengalah.
Sindy menahan berat nafasnya, tenggorokannya semakin terasa tercekat. Kini dia bingung untuk memutuskan sendiri. Dika hanya tersenyum miring, melihat Sindy yang kebingungan sendiri saat ini, seakan ia tak bisa lagi membantah keinginannya.
"Ingat baik-baik! Sekarang aku sudah tidak mau lagi kau perintah-perintah, Sindy. Selama ini aku muak melihat sikap manja dan keras kepalamu. Tapi aku mencoba untuk bertahan dengan pernikahan ini, karena memang aku sudah terlanjur memilih dirimu. Ternyata Vira memang lebih baik dari dirimu. Dulu dia begitu penurut saat aku tak mengijinkannya bekerja. Ikut progam hamil dengan serius dan rutin." ungkapnya. Dahi Sindy semakin berkerut, hatinya nyelekit perih mendengar ungkapan Dika.
"Aku akui kamu memang cantik, Sindy.., Tapi aku juga butuh seorang istri yang bisa melayaniku, bukan hanya untuk pemuas naf-suku saja." bebernya lagi, tegas dan datar, maniknya berkaca-kaca, tampak jelas rasa penyesalan itu di raut wajahnya.
"Bukan begitu, aku hanya ingin kau seperti Vira, melayaniku dengan baik. Menyiapkan sarapan dan makan malamku setiap hari, mencuci dan menyetrika pakaianku." terangnya.
"Tapi aku bukan Vira, Mas! Dan kau harus sadar itu!"
Dika menghembus nafasnya beberapa kali dan mengangguk-angguk kepalanya.
"Iya aku tahu kau memang bukan Vira..." ucapnya lirih. "Tapi apa salahnya jika aku memintamu seperti dia, penurut dan mau melakukan pekerjaan istri setiap hari. Kau tahu, sebenarnya hatiku tersiksa sekali, karena aku harus di pisahkan dari putri kecilku..." isaknya sambil menepuk-nepuk kencang dadanya yang terasa kian sesak, lekas Dika mengusap kasar wajahnya. "Aku, aku belum siap harus kehilangan dia, karena dia darah dagingku dan aku merasa Ayah yang paling bodoh sebab sudah menyia-nyiakan moment ini, yang seharusnya aku berada di dekat anakku saat ini, melihat tumbuh kembangnya hingga dia dewasa..." lirihnya terisak semakin dalam.
Dika menghapus air matanya. Lalu Dika pun berbalik melangkah gontai keluar dari kamar, mengambil kunci mobil dan pergi dari Apartemen.
__ADS_1
Setelah tahu Dika pergi, Sindy mendengus kasar nafasnya, geram. Kedua tangannya mengepal kencang-kencang di sisi tubuhnya. Lalu ia mengamuk dan mengacak-ngacak barang seisi kamar itu. Menghempas dan membanting semua apa yang ada di dekatnya.
"Aaarghhh... Aku membenciimu Viraaa!!!"
****
"Apa?! Jadi Tante gagal membatalkan pernikahan mereka?" Riska membeliak tak percaya. "Bagaimana sih Tante, ini semua gara-gara Tante tak mengangkat teleponku tadi malam!" decaknya kesal. Mendengus kasar seraya menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Ya, maaf-maafkan Tante, Riska. Ini memang semua kesalahan Tante. Huuh... Tapi kamu tenang saja, Tante masih punya cara lain agar pernikahan mereka berakhir." ujarnya Sophia yang sama-sama ikut kesal, lalu matanya memincing licik ke arah Riska.
"Bagaimana itu Tante?"
Sophia menyeringai, lalu membisikkan sesuatu pada Riska. Riska mendengarnya lantas mengangguk-angguk setuju dengan rencana licik Sophia.
Mereka pun tertawa terbahak-bahak. "Ya, ide yang bagus sekali itu Tante. Kapan itu di lakukan?" tanya Riska sambil mengambil minumannya di meja Restoran.
"Secepatnya, akan ku pastikan wanita kampungan itu menyerah dan meninggalkan Vicky secepatnya..." seringainya lagi. Lalu mereka kembali tertawa walau tak ada yang lucu.
Setelahnya mereka keluar dan berpisah di pelataran Restoran. Hal tak di duga, Dika yang baru saja memarkirkan mobilnya pun, tak sengaja melihat ke arah mereka. Dahinya berkerut tanya.
"Bukan kah itu Riska dan...?" sontaknya terkejut. "Sebenarnya ada hubungan apa Mamanya Vicky dengan Riska? Kenapa juga wanita itu terlihat marah dan menentang pernikahan Vira dan Vicky?"
"Sebaiknya nanti aku tanyakan ini pada Sindy." gumamnya lagi.
Dika lalu lekas ke Restoran dan memesan makan malamnya dengan Sindy. Setelah Sophia dan Riska pergi.
__ADS_1
Bersambung...
...****...