Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Awal Pertemuan


__ADS_3

...BAB 27...


...Awal Pertemuan...


Vira masih bergeming di tempatnya duduk, meratapi nasib yang tak sesuai dengan harapannya sendiri. Vira pikir dirinya adalah satu-satunya wanita yang di cintai Dika, dan Dika adalah lelaki yang akan membahagiakannya tanpa menyakiti ataupun menduakan cintanya. Tapi nyatanya Dika malah tega menduakannya dan berniat menikah lagi dengan wanita lain.


Vira masih teringat awal pertemuannya dengan Dika. Saat itulah Diana sering mampir membeli kue di toko kue Vira, sejak meninggalnya Ibu Vira. Vira mengatakan kalau dirinya bekerja di sebuah toko kue yang akhirnya mereka pun jadi sering bertemu. Diana sengaja menunggu jam kerja Vira selesai. Demi ingin mencapai tujuannya untuk menjodohkan Vira dengan Dika, putranya sendiri. Hal itu tentu saja belum diketahui Vira sendiri.


Malam harinya setelah toko kue tutup. Diana sengaja mengajak Vira mampir ke rumahnya.


"Ayo anggaplah rumah ini seperti rumahmu juga Vira. Tak perlu sungkan-sungkan." sahut Diana tersenyum sumringah


"Terimakasih banyak Tante." ucap Vira tersipu sambil menepuk pelan rok sepannya di bawah lutut. Menjatuhkan bobot pinggulnya di sofa ruang tamu.


"Baiklah kamu tunggu dulu di sini. Tante mau buatkan minuman untuk kamu ya..."


"Ah, tidak perlu repot-repot tante!" cegah Vira.


"Tidak apa-apa Vira, tante senang kok melakukannya. Kamu tunggu sebentar yah di sini..." Diana gegas melengos ke dapur tak menghiraukan perkataan Vira lagi.


Vira pun menghela nafasnya pasrah. Akhirnya beberapa waktu dia menunggu sambil melirik jam di tangannya. Lama sekali Diana tidak juga muncul dari dapur. Sehingga Vira mulai bosan duduk sendirian. Sesekali ia memandang ruangan yang rapi dan juga bersih, terdapat banyak sekali hiasan dinding di sana. Tak terkecuali juga ada deretan foto keluarga terpajang cantik di dinding.


Vira tersenyum miris melihat ada beberapa foto keluarga yang utuh. Lebih iri tentunya. Seumur-umur dia tak punya foto keluarga dalam hidupnya. Sedari kecil hingga dewasa ini, dia di takdirkan hidup sebagai orang susah. Ayah Vira meninggal sewaktu dia masih usia sepuluh tahun. Hanya ada satu lembar foto yang sudah usang sajalah yang dia miliki, saat Ayahnya pulang dari bekerja dengan peluh keringat membasahinya. Terduduk di kursi kecil di teras rumah sambil tersenyum dengan memegang gelas kopi yang Ibunya buat. Hingga sekarang Vira sama sekali tak memiliki foto wajah kedua orangtuanya dengan jelas.


Tak sadar Vira sudah berdiri sambil memandangi lama foto-foto itu. Hingga seseorang mengangkat bicara dan mengejutkannya dalam lamunan.


"Hey, sedang menunggu siapa?" tanyanya.


Vira menoleh kaget, dan tak sengaja ia menjatuhkan hiasan dinding di samping figura foto.


"Ahh ma-maaf!" ucap Vira tertunduk malu.


"Tidak apa-apa..." jawabnya.


Vira tergugup dan buru-buru mengambilnya lagi. Lelaki itu pun ikut berjongkok dan membantu merapikannya. Tanpa sengaja tangan mereka saling bersentuhan dan seketika itu pula mereka saling menatap. Cukup lama, hingga seulas senyum di bibir Dika tersungging, semakin membuat lelaki itu tampan dan menawan.


"Hallo .." sapanya. Kembali mengagetkan Vira yang nyaris saja terkesima olehnya.


Vira jadi salah tingkah dan lekas berdiri lagi. "Ah, ya hallo juga..."


"Siapa namamu, dan ingin bertemu dengan siapa?" tanyanya lagi sambil meletakkan benda hiasan itu di tempatnya kembali.


"Saya Vira, saya sedang menunggu Bu Diana. Mas.." ucapnya.


"Mamaku?!" Dika mengangkat satu alisnya. Vira mengangguk tersenyum.


Hingga setelah pertemuan itulah. Suatu hari Dika jadi mampir ke toko kue Vira, sepulang ia bekerja, alasannya yang katanya di suruh oleh Diana untuk membeli kue kesukaannya.


Tetapi pada saat itu, kejadian yang tak di duga terjadi pada Vira, yang nyaris saja dia di culik oleh Pria tua yang dulu sempat membantunya membayar hutang-hutangnya di renternir 7 tahun silam. Tanpa di ketahui oleh Vira,Pria itu ternyata selalu mencari-carinya, karena diam-diam telah pergi tanpa ijin darinya. Sedangkan di antara mereka masih ada perjanjian kontrak selama lima tahun, Vira harus bekerja di rumahnya. Menyiapkan semua keperluannya dan menemaninya minum setiap malam. Menjadikan Vira sebagai pajangan pengingat istrinya yang sudah tiada. Pria yang sedikit gila dan depresi itu memang benar-benar keras kepala.

__ADS_1


"Rupanya kau ada di kota ini?! Kau belum selesai melakukan tugasmu. Sekarang ikut aku kembali ke Surabaya!"


"Saya mohon Pak, tolong lepaskan saya. Saya akan bekerja keras untuk mengembalikan uang yang bapak berikan dulu pada saya." teriaknya.


"Aku kan sudah pernah katakan padamu. Kau tak perlu lagi menggantinya, cukup dengan kau bekerja setiap malam menemaniku, menggantikan pekerjaan mendiang istriku. Kenapa kau malah pergi diam-diam tanpa pamit padaku!" geramnya dengan wajah merah karena emosi.


Pria tua itu dengan paksa menyeret Vira naik ke mobilnya. Namun untungnya hal itu di cegah Dika dengan waktu yang tepat.


"Viraa! Hey apa-apaan ini? Lepaskan dia?" Dika mendorong Pria tua berkumis tebal itu. Lalu tanpa aba Dika memukul pipi dan perutnya secara bergantian.


Vira menjerit histeris melihatnya.


"Mas Dika! Sudah hentikan Mass!" jeritnya.


Awalnya Pria itu tak kenal ampun, dan bersikeras tetap ingin membawa Vira ke Surabaya. Tapi untungnya Dika segera memanggil temannya yang bekerja di kepolisian mengancamnya akan di jebloskan dalam penjara. Sehingga hal tersebut memudahkan masalah mereka selesai.


Pria itu pun, akhirnya pergi dan menyerah dengan perasaan dongkol pada Dika.


"Terimakasih banyak Mas, sudah menyelamatkan saya..." lirihnya, akhirnya Vira bisa terbebas hutang dari Pria itu.


"Ada masalah apa sebenarnya kamu dengan dia Vira?"


"Saya punya perjanjian kontrak yang belum selesai dengannya sewaktu saya masih tinggal di Surabaya, dan dia menginginkan hal-hal aneh dan gila pada saya. Awalnya saya tak keberatan tetapi dia meminta saya hampir setiap hari menemaninya untuk minum hingga mabuk dan saya pernah nyaris di lecehkan dia, untungnya saya berhasil kabur. Semenjak itulah saya pergi diam-diam darinya sambil membawa Ibu yang sakit ke Jakarta untuk berobat. Tak sangka barusan kami bertemu lagi di kota ini." ungkapnya dengan tangis yang dia tahan.


Dika terenyuh mendengar semu cerita kehidupan Vira yang begitu menyedihkan.


Sejak kejadian itulah. Ada perasaan nyaman di hati Vira. Dika yang dewasa dan perhatian membuat Vira luluh dan melupakan cinta masalalunya bersama Vicky.


Vira terhenyak dari lamunannya, lalu melirik sarapan yang di bawakan Dika di atas nakas, sarapan tadi yang masih belum di sentuhnya. Vira bergeser mendekatinya, membuka tutup mangkuk sayur. Aroma kuah menguar masuk ke dalam penciumannya. Seketika itu, mendadak kepalanya sangat pusing dan ingin muntah. Vira pun bergegas lari ke kamar mandi, perutnya seakan di aduk-aduk dan ingin segera di keluarkan.


"Hooeeekk hoeekk..."


Beberapa kali hanya cairan bening saja yang keluar dari mulutnya. Karena sedari tadi dia belum makan satu sendok nasi pun.


"Ah, rasanya mual sekali. Apa ini gejala awal kehamilanku. Aku tidak kuat mencium makanan, rasanya pusing sekali!" keluhnya seraya mengusap keringat di pelipisnya.


Vira kembali ke kamar lalu menutup rapat mangkuk sayur itu dengan tangan menutupi hidungnya. Lalu mencari-cari kayu putih atau balsam di laci nakas. Mengusap bagian perut dan tengah dada. Baunya dia hirup dalam-dalam untuk menghilangkan rasa pusing di kepala.


Tak berapa lama, samar terdengar suara pintu dari luar apartemen di ketuk.


"Dikaa... Viraaa?!" panggilnya.


"Itu, seperti suara Mama?" gumamnya, Vira tersenyum lega karena Diana datang berkunjung ke apartemen mereka. Vira lupa jika setiap sebulan sekali Ibu mertuanya selalu datang menemuinya. Dan di hari minggu ini, seperti biasanya Diana akan membawakan vitamin dan obat herbal penyubur kehamilan. Serta buah tangan untuk menantu kesayangannya itu.


"Maah... Mama?!" teriak Vira.


Vira berlari mendekati pintu kamar. Lalu membalas sahutannya.


Diana di depan pintu luar pun sontak kaget mendengar suara teriakan kecil Vira.

__ADS_1


Suaranya seperti dari jarak jauh.


"Vira?! Kupikir kalian sedang tidak ada di rumah?" ocehnya senang. "Sini sayang, buka pintunya. Mama bawakan buah alpuket dan melon."


Vira menggedor-gedor keras pintu kamar agar Mama mertuanya mendengar dia.


"Mah... Tolong aku Mah..."


Bukannya di buka pintu dari dalam, tapi Diana malah mendengar Vira yang meminta tolong.


"Ada apa sayang kamu kenapa??" teriak Diana tiba-tiba jadi panik mendengar suara Vira seperti ketakutan.


"Aku di kamar Mah, Mas Dika mengurung aku di dalam kamar!" jelasnya lagi.


"Apaa?!" Diana langsung membeliak kaget. "Bagaimana bisa anak itu mengurungmu di dalam kamar?! Ada apa sebenarnya yang terjadi? Lelucon apa yang kalian buat? Apa kalian sedang bertengkar?!" Diana memberondong pertanyaan pada Vira, membuat Vira susah menjelaskannya dari dalam.


"Nanti akan ku jelaskan padamu Mah... Tapi, tapi sekarang Mama tolong aku dulu, minta bantuan pada petugas keamanan untuk membukakan pintu apartemennya." titah Vira.


"Baiklah kalau begitu." Diana bergegas turun ke bawah dan meminta security di sana untuk membuka pintu apartemen dengan kunci cadangan.


Akhirnya pintu dapat terbuka lagi. Setelah mengucap terimakasih pada Pak security Diana berlari masuk dan menggedor pintu kamar Vira.


"Kamu masih di dalam sayang. Sekarang dimana anak itu menyimpan kunci kamarmu?" tanyanya.


"Aku nggak tahu Mah... Coba Mama cari di dekat lemari atau di atas rak televisi?! Biasanya Mas Dika suka menyimpan kunci mobilnya di sana


"Oke baiklah sayang..."


Diana bergegas mencari-cari kunci kamar, dan akhirnya kunci itu ketemu, ada di sebuah laci meja bupet. "Ini ketemu sayang.." ujarnya senang yang tak sabaran ingin segera mengeluarkan Vira dari dalam kamar karena ulah anaknya sendiri.


"Maaah!" teriak Vira langsung menghambur memeluk Mama Mertuanya setelah pintu kamarnya terbuka.


"Sayang... Kamu tidak apa-apa Nak?!" Diana mengusap punggung menantunya menenangkan dia.


"Ada apa yang aebenarnya terjadi? Kenapa Dika sampai menguncimu di dalam kamar?!" tanyanya setelah mengurai pelukannya, Diana mengusap pipi Vira dengan kedua tangannya. "Wajahmu terlihat pucat sekali... Apa kamu sudah sarapan, hmm?"


Vira menggeleng-geleng. "Mama, Mas Dika Mah..." isaknya.


"Ada apa dengan anak itu? Apa dia melukaimu?" cemasnya.


"Mas Dika, kami bertengkar karena dia berencana ingin menikah lagi. Saat ini Mas Dika sedang melamar perempuan itu..." lanjutnya lagi, dengan suara yang terbata-bata.


Diana tercengang dan nyaris saja jantungan mendengarnya. Menekan dada kirinya nyaris limbung ke belakang.


"Apa katamu?!" pekiknya.


Bersambung....


...****...

__ADS_1


__ADS_2