Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Satu Atap dengan Istri-Mantan Suami


__ADS_3

...BAB 83...


...Satu Atap dengan Istri-Mantan Suami...


"Sudah siap Ma? Mana Sindy?" tanya Irman yang baru saja selesai membayar seluruh tagihan biaya rawat Sindy selama di Rumah Sakit dengan memakai uang yang sudah Vicky berikan padanya, tentunya.


"Dia sudah di mobil duluan Pa," sahut Ria.


"Oh ya udah.. Kalau gitu ayo, kita juga pergi dari sini.." Irman menarik koper dan keluar duluan.


"Iya Pah..." Ria pun mengangguk lalu menutup pintu kamar rawat bekas Putrinya.


Di dalam mobil Sindy seperti gelisah dan kegelisahannya terlihat jelas oleh Adam di balik kaca mobil depannya.


"Anda tidak apa-apa 'kan Nona Sindy? Apakah anda haus? Kalau haus, biar aku pergi membeli minuman dulu ya.." tawar Adam lembut, ia pun hendak keluar dari mobil lagi namun segera di cegah Sindy.


"Eh, tidak usah Dam, sudah kamu di sini saja jangan pergi kemana-mana.. Jangan tinggalkn aku sendirian, yaa..." pintanya sedikit cemas dengan raut wajah memohon.


"Oh, baiklah..." angguknya, lalu Adam menutup lagi pintu mobil yang barusan ia buka. Tak lama terlihatlah oleh Adam, Irman dan juga Ria yang baru saja keluar dari pintu utama Rumah Sakit. "Nah, itu dia Tuan dan Nyonya sudah keluar." sahut Adam.


"Benarkah?" Sindy tersenyum lega, akhirnya dia bisa cepat-cepat pergi dari sini. Karena Sindy tak mau nanti sampai bertemu Dika. Entahlah, saat-saat ini dia hanya ingin bersembunyi dulu dari lelaki yang masih berstatus suaminya itu, walau mereka belum resmi bercerai secara negara. Namun secara agama, Dika sudah menjatuhkan talak untuknya, dan itu membuat Sindy sedih juga sakit hati.


Adam pun keluar dan membukakan pintu mobil untuk mantan majikannya dahulu, lalu ia menyimpan koper dan barang Sindy di bagasi. Setelahnya Adam masuk dan menjalankan mobilnya pulang, ke rumah Vicky.


Setelah mobil mereka pergi, selang waktu kemudian mobil Dika sampai di Rumah Sakit. Lalu Dika melajukan mobilnya masuk melewati gerbang Rumah Sakit, dan memarkirkannya di area parkir. Dia sudah mempersiapkan diri membawa uang pinjaman di tempat perusahaannya bekerja. Saat ini, Dika memang sudah tak memiliki banyak uang di tabungannya. Tapi dia akan berusaha membayar semua biaya rawat Sindy dengan caranya sendiri. Dika hanya tak ingin mertuanya berpikir kalau dirinya seorang menantu yang tidak bertanggung jawab.


Dika keluar dan lekas berjalan ke tempat administrasi. Menanyakan semua biaya Sindy. Namun alangkah terkejutnya Dika, saat petugas administrasi itu mengatakan bahwa biaya Sindy sudah terbayar semuanya dan pasien bernama Sindy juga baru saja pulang bersama keluarganya.


"A-apa benarkah itu?" gelagapnya, Dika tercengang mendengarnya. Petugas administrasi itu mengangguk.


Dengan langkah cepat, Dika berlari ke kamar VVIP tempat dimana Sindy di rawat. Dan benar saja, ruangan rawat itu sudah kosong. Dika menghela berat nafasnya yang sudah tersengal-sengal.


"Ini pasti ulah lelaki itu!" pekiknya, mengepal tangan-tangannya erat. "Huh, kenapa dia selalu saja ikut campur dengan masalah keluargaku?!"

__ADS_1


Dika menggertakkan gigi-giginya, sangat geram. "Dulu Vira, sekarang Sindy.. Kau bahkan sudah ambil putri kandungku! Kurang apa lagi dia hah?! Aakh dasar Lelaki serakah, brengs*k!!" Dika menendang keras pintu itu, penuh emosi.


****


Sindy dan kedua orangtuanya baru saja tiba di halaman mewah rumah milik Vicky. Dan beberapa pelayan menyambut kedatangan mereka dengan suka cita. Selain itu di sana juga sudah ada Vira dan Aqilla di gendongannya Bi Ina.


"Selamat pulang kembali Sindy... Tante Ria dan Om Irman..." sambut Vira menyapa mereka satu-persatu dengan senyuman ramahnya.


Vira turun perlahan ke teras rumah dan menghampiri mereka, menciumi punggung tangan kedua orangtuanya Sindy dengan takzim.


"Kamu istrinya Vicky?" tanya Ria terheran menunjuki Vira, lalu menoleh pada suaminya. Karena baru pertama kalinya itu Ria juga Arman bertemu dengan Vira.


Vira pun mengangguk tersenyum. "Iya Tante... Perkenalkan nama saya Vira, dan... ini putri saya Aqilla..." jelasnya menoleh pada Aqilla di belakangnya.


"Ooh benarkah itu anaknya Vicky? Kok sudah besar ya? Nggak terasa, nikahnya kapan? Kok Tante nggak di undang, tahu-tahu Vicky udah punya anak aja!" celetuk Ria mengerutkan keningnya tersohok.


Saat itu juga tenggorokan Vira terasa tercekat dan gugup sulit untuk menjelaskan karena di saat pernikahannya dengan Vicky. Vicky tak mengundang keluarga besarnya sebab dulu khawatir Sophia akan menggagalkan rencana pernikahan mereka tiba-tiba.


Lalu Vira melirik ke arah Sindy yang masih diam berdiri di sisi mobil dengan Adam di sampingnya. Vira sempat berpikir, apakah mungkin... Sindy tak pernah menceritakan soal siapa dirinya dulu pada kedua orangtuanya? Bahwa dirinya adalah mantan istrinya Dika, dan Dika adalah menantu mereka saat ini.


"Hehe namanya Aqilla yaa, sini Nak... di gendongin kakek.." sahutnya mengulurkan tangannya di depan Aqilla. Menawari balita itu untuk di gendongnya.


"Em, Tante Om... Semuanya ayo masuk ke dalam, kebetulan sekali makan siangnya juga sudah di siapkan." ucap Vira lagi dan kembali tersenyum untuk menyembunyikan segala kecanggungannya di depan kedua orangtua Sindy.


Irman dan Ria mengangguk setuju, lalu mereka masuk duluan bersama Aqilla yang sekarang sudah beralih di gendongan Irman, dan salah satu pelayan menyusul masuk ke dalam setelah membawa koper milik Sindy dan kedua orangtuanya dari Rumah Sakit.


Vira pun kembali menatap ke arah Sindy. Sedang Sindy hanya menatap lurus ke depan tanpa ekspresi di wajahnya dan Vira sungguh prihatin dengan kondisi istri dari mantan suaminya tersebut.


"Sindy, hallo bagaimana kabarmu?" sapa Vira mencoba mengakrabkan dirinya dengan perebut mantan suaminya dulu. Vira berharap Sindy dan dirinya bisa berteman baik nantinya.


"Seperti yang kau lihat sendiri, sekarang bagaimana keadaanku?" jawabnya datar dan sedikit ketus.


Vira sedikit menganga dengan jawaban Sindy yang masih saja bersikap ketus kepadanya. Seolah Sindy memang belum bisa menerima kehadirannya menjadi salah satu keluarga besar Vicky.

__ADS_1


"Oh, syukurlah kamu terlihat baik sekarang dan malah bertambah cantik. Oke mari aku antarkan kamu ke ruang makan, atau kamu ingin pergi ke kamarmu dulu untuk mandi dan berganti pakaian?" ujar Vira menawari bantuan. Vira berusaha untuk bersikap baik pada Sindy, walau sepertinya Sindy masih menganggapnya musuh.


"Tidak perlu terimakasih... Aku minta antarin pelayan saja..." tolaknya.


"Em.. baiklah kalau itu maumu..." Vira menghela nafas lagi dan menyuruh pelayan untuk mengantar Sindy ke kamarnya yang sudah di siapkan Vira dari kemarin.


Pelayan itu pun mengangguk dan menuntun Sindy berjalan ke kamarnya dengan hati-hati.


Seminggu sebelum kepulangan Sindy di Rumah sakit, Vicky sudah meminta Vira dan juga Aqilla tinggal sementara waktu di rumah mewah miliknya. Selain rumahnya dekat dengan perusahaannya, Vicky juga tak ingin jauh-jauh dari adik sepupunya, setelah melihat kondisi Sindy yang tidak seperti dulu. Vicky sangat yakin jika Sindy sangat membutuhkan dirinya selalu berada di dekatnya, dan Vira sama sekali tak mempermasalahkan hal itu, jika memang Vicky ingin menemani Sindy.


"Em, maaf Nyonya Vira... Kalau begitu saya pamit untuk kembali ke kantor lagi.." ucap Adam yang mengejutkan Vira yang masih melamun dari tadi.


"Kamu tidak ikut makan dulu dengan kami Dam?" tanya Vira. Adam berbalik lagi. Lalu menggeleng tersenyum.


"Ah tidak Nyonya, terimakasih... Saya bisa makan di kantor bersama Tuan Vicky nanti..."


"Oh ya sudah kalau gitu, hati-hati ya Dam..."


"Iya Nyonya, permisi..." Adam mengangguk tersenyum, lalu dia masuk kembali ke dalam mobil dan melajukan mobilnya cepat menuju perusahaan Vicky.


Vira pun masuk ke dalam rumah setelah Adam benar-benar pergi, lalu berjalan sedikit ragu menghampiri mereka semua di ruang makan. Entah apa yang akan terjadi nantinya, bila Vira tinggal satu atap dengan Sindy. Apakah gadis itu mau menerima Vira di keluarganya, setelah tahu posisinya sekarang adalah istri dari Kakak sepupunya tersayang. Mungkin ini akan sulit. Tapi Vira sudah berusaha untuk berdamai dengan masalalunya, karena baginya itu sudah berlalu dan tak perlu di ungkit lagi.


Prang...


Baru saja Vira ingin mendudukkan dirinya di kursi makan di sampingnya Ria, sedang Sindy bersampingan dengan Irman, tapi tiba-tiba saja Aqilla yang duduk di pangkuannya Irman tak sengaja menjatuhkan gelas beling ke lantai, tepat di samping bawah kakinya Sindy.


"Aaah.. Apa-apaan ini!! Kenapa bisa jatuh sendiri??" teriak Sindy, sontak ia berdiri karena khawatir pecahan gelasnya akan mengenai kakinya.


"Aqilla..." Vira lekas meraih putrinya dari Irman yang barusan Pria paruh baya itu fokus menelepon seseorang di ponselnya. "Maaf, maafkan aku.. Aqilla barusan tidak sengaja menjatuhkan gelasmu..." ucapnya panik.


"Apa katamu tidak sengaja? Atau memang kau saja yang tidak becus mengasuh anakmu ini, hah?!" makinya melototkan maniknya walau dia memang tak bisa melihat Vira dan Aqilla di sana. Tapi Sindy dapat merasakan bahwa keduanya kini ada di dekatnya.


Bersambung....

__ADS_1


...****...


__ADS_2