
...BAB 32...
...Kedatangan Vicky 2...
Vira yang baru saja keluar dari arah dapur, setelah mengambil air minum dan juga cemilannya, berjalan melewati kamar mereka yang pintu kamarnya tak tertutup. Dia tak sengaja melihat tingkah Dika yang terlihat gelisah sendiri di dalam kamar, memandang heran apa yang tengah di lakukan suaminya di depan lemari, yang tiba-tiba Dika memasukkan beberapa figura foto dirinya bersama Dika ke dalam laci lemari paling bawah dengan terburu-buru.
"Apa yang sedang dia lakukan dengan foto-foto itu?" gumam Vira pelan. Dahinya berkerut penasaran.
"Ah, beres. Sekarang tak ada lagi benda yang membuat Sindy dan lelaki kolot itu tahu." riuhnya bernafas lega, bibirnya tersenyum miring seraya menepuk-nepuk dua tangannya ke atas. Tak lama Dika baru saja teringat, dan sontak ia menepuk keras jidatnya sendiri. "Ahh bodooh! Kenapa bisa aku lupa, justru yang lebih terlihat ada di ruang tamu!" pekiknya, mengusap kasar wajahnya.
Lalu Dika bergegas ke ruang tamu melewati Vira yang masih berdiri mematung di depan pintu kamarnya. Tentu karena rasa penasaran, Vira mengikutinya dari belakang. Di lihat, Dika bersusah payah menggeser sofa sendirian hingga mentok ke dinding dan menaikinya, lalu sedikit berjinjit mengambil figura foto pernikahannya dengan Vira, berukuran besar 40x60 di dinding sisi ruang tamu. Foto itu akan dia bawa ke kamarnya dan di sembunyikan lagi di lemarinya.
"Mau di kemanakan foto pernikahan kita Mas?!" tanya Vira seraya menghalangi jalan suaminya. Dika terperanjat kaget melihat Vira sudah di depannya.
"Ini akan ku sembunyikan dulu." Dika menatap lekat wajah Vira dengan helaan nafas beratnya. "Maafkan aku Vira, pagi ini Sindy akan mampir kemari. Aku mohon padamu tolong bekerja samalah denganku, kita bersandiwara dulu layaknya seorang keponakan dan Tantenya ya..." paparnya dengan gamblangnya Dika meminta tanpa peduli perasaan Vira.
"Kau benar-benar sudah gila Mas! Aku tak mau!" tolak Vira singkat. "Sekarang kembalikan foto itu ke tempat semula!" titahnya dengan tatapan marah tak terima. Kedua netranya berkaca-kaca lagi.
"Ayolah Vira, jangan membuat aku stress! Aku bisa gila jika Sindy tahu semuanya!" kesalnya.
"Kenapa harus bersembunyi dari kenyataan ini Mas? Sebegitu besarnya rasa cintamu padanya dan ingin menikahinya Mas Dika?! Sedangkan padaku sendiri? Mas tega berbuat apa saja. Itu artinya Mas benar-benar sudah tidak menginginkan lagi rumah tangga kita baik-baik saja, iya kan?!" tukasnya dengan suara parau.
Vira kembali terisak pilu. Hatinya benar-benar terpuruk. Dia sungguh bingung bagaimana lagi caranya agar Dika mengurungkan niatnya untuk menikahi perempuan itu dan lebih untuk mementingkan hubungan rumah tangganya dengan Vira.
"Aku tidak ada waktu untuk berdebat denganmu! Sindy akan datang bersama sepupunya kemari, sekarang! Jadi tolong mengertilah Vira!" balas bentakannya. Dika pun semakin jengkel karena Vira terus saja berdiam menghalanginya. "Jangan halangi aku! Masuklah ke kamarmu!" Tak ada banyak waktu lagi, Dika gegas berjalan menubruk Vira di depannya, hingga Vira terhuyung mundur dan punggungnya membentur ke dinding.
Bibirnya meringis kesakitan dengan tangan mengusap belakang pundaknya. Tak lama suara pintu pun di ketuk dari luar. Terdengar samar seperti suara perempuan muda memanggil-manggil Dika di sana.
"Sayang, Mas Dikaa..." serunya memanggil dengan suara lembut namun jelas.
Dika panik setelah mendengar suara Sindy sudah di depan pintu apartemennya. Gegas dia berlari ke ruang tamu setelah menyimpan foto tadi, lalu menarik tangan Vira membawanya pergi ke kamar.
"Kenapa kamu masih berdiri di sini! Cepat masuk kamarmu! Bukankah kamu masih sakit?" sentaknya pelan.
__ADS_1
"Mau apa dia kemari?" tanya Vira, mengerutkan keningnya penasaran.
"Sudahlah, ini bukan urusanmu Vira! Masuklah ke kamarmu dan beristirahatlah. Sebentar lagi Dokter Fuji juga akan datang kemari. Aku sudah meneleponnya tadi menyuruhnya untuk memeriksakan keadaanmu." sahutnya. "Dan, ingat jangan pernah keluar dari kamar, diam dan tetap di sini!" titahnya lagi penuh penegasan dengan mengangkat telunjuknya, mengingatkan, yang lalu Dika menutup lagi pintu kamarnya Vira dengan rapat.
Vira menghela nafas kasarnya seraya kedua tangannya mengepal sangat erat.
"Akh, kenapa aku selalu saja tidak bisa membantahnya?" pekiknya yang selalu merasa bodoh di depan Dika. Mendadak Vira menekan pelipisnya yang kembali berdenyut nyeri. Dia lalu berjalan perlahan, sedikit oleng mendekati ranjang, dan merebahkan dirinya lagi di sana.
Sementara Dika, ia melangkah cepat untuk membuka pintu depan. Tampak Sindy dan Vicky sudah berdiri di depan pintu menunggunya. Dika menghela nafas pelan, menetralkan lagi degup jantung yang tak beraturan karena rasa gugup dan panik yang bercampur jadi satu.
"Haii... Pagi..." seru Sindy tersenyum sumringah. Kedua pipinya merona merah, menatap binar calon suaminya tersebut.
"Hai, p-pagi juga..." ucap Dika terbata, membalas senyum manis kekasihnya.
"Boleh kami berdua masuk?!" pinta Sindy pada Dika seraya mengangkat dua alisnya.
"Oh, iya tentu saja. Silakan kalian berdua masuklah." titah Dika pada mereka. Merentangkan satu tangan kanannya menyilakan keduanya masuk.
"Tapi kami cuma sebentar saja kok Mas. Ya kan Kak Vick!" sahut Sindy, Vicky hanya mengangguk seraya pandangannya fokus mengedar ke semua sudut ruangan tamu di sana. Memperhatikan semua yang terlihat.
"Oh ya Mas sebelah mana dapurmu? Aku mau simpan makanan ini." tanya Sindy sambil memperlihatkan dua kantung makanan di tangannya ke Dika.
"Oh, sebelah sini sayang..." tunjuk Dika menggandeng pinggang Sindy ke arah dapur.
"Kamu belum sarapan kan. Ini makanlah dulu." sahutnya. Di dapur Sindy mengeluarkan semua isi kantung makanan di wadah tupperware, dan meletakkannya di atas meja makan dengan hati-hati.
"Terimakasih sayangku, kamu perhatian sekali." ucapnya berbisik di daun telinga kekasihnya dengan lincah kedua tangannya melingkar di pinggang Sindy, dan curi-curi mencium pipi gadisnya. Setelah melirik Vicky yang masih asyik sendiri di depan.
"Eh, apaan sih?! Nanti bisa di lihatin Kak Vicky!" kagetnya berbisik gemas. Sindy berbalik yang kini dia menghadap ke arah Dika. Memunggungi meja makan. Sedang Dika menahan kedua tangannya di sisi atas meja, mengurung tubuh Sindy di sana.
"Tidak dia sedang serius melihat-lihat ruangan hehe.." celotehnya tertawa menyengir.
"Kamu yaa... Dasar nakal!" cibirnya mencubit hidung mancung Dika dengan gemas, seraya bibir tersenyum tersipu, lantas dia mendelik dan baru tersadar melihat akan penampilan Dika .
__ADS_1
"Eh kok kamu belum memakai pakaian kerjamu sih Mas?!" tanyanya heran. Dika sontak memundurkan tubuhnya dari Sindy, menggaruk keningnya yang tak gatal.
"Oh iya hari ini, aku-aku ijin sebentar gak masuk dulu soalnya---"
"Permisii!!"
Tiba-tiba suara seruan seseorang dari pintu luar terdengar nyaring. Menyela Dika bicara.
"Siapa itu?" tanya Sindy menoleh serentak dengan Dika terkejut. Lalu mereka berdua berjalan bersama ke arah ruang tamu.
Di sana Vicky lekas membuka pintunya, dan terlihatlah sosok seorang Dokter wanita tersenyum ramah pada Vicky.
"Ya," jawab Vicky singkat. Kedua matanya menatapnya heran.
"Maaf, apa Pak Dika nya ada?!" tanyanya lagi.
"Ooh dia--"
"Dokter!" Dika berseru dan dengan langkah cepat menghampiri Dokter itu. "Silakan masuk ke dalam" titahnya menyuruh Dokter itu masuk ke dalam.
Sindy mengerutkan dahinya bertanya. "Lho memangnya siapa yang sakit, Mas?" tanyanya pada Dika.
"Em, itu itu. Tanteku Sin," jawab Dika kikuk.
"Tantemu?" manik Sindy membulat. "Tantemu yang waktu itu bertemu di kantor Kak Vicky, bukan?!" terkanya lagi.
Dika mengangguk-angguk. "Iya sayang, Tante Vira..." sahutnya.
"Jadi Tantemu tinggal di sini juga?" Sindy melongo tak percaya.
Dika mengangguk kikuk lagi. "Em, iya soalnya dia yang biasa selalu menyiapkan makanku setiap hari di sini." jelasnya. "Dan hari ini dia sakit, makanya aku ijin tak masuk kerja dulu..." jelasnya dan Sindy mengangguk-angguk memahami.
Sontak di sana Vicky mendongak dan tercengang mendengar perkataan mereka. "Apa?! Si-siapa barusan tadi katamu?" tanya Vicky pada Dika refleks ia meraup kencang dua bahu Dika. Menatap tajam Dika. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup sangat keras ketika mendengar nama Vira di sebut-sebut Dika.
__ADS_1
Bersambung....
...****...