Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Pertemuan Mereka


__ADS_3

...BAB 46...


...Pertemuan Mereka...


"Kenapa setiap kali kita ingin makan kau selalu saja mengajakku pergi ke restoran atau paling tidak memesannya online? Apa tidak bosan ya, makan-makanan di luar terus setiap hari? Sesekali masaklah untukku sayang, buatkan bekal makanan untukku yaa_" rajuk Dika tersenyum mencoba merayu sambil merangkul bahu Sindy yang sedang asyik dengan ponselnya sendiri.


Setelah mereka berdua sampai di Mall, untuk pergi makan siang seperti hari biasanya, sebenarnya Dika juga sudah mulai bosan dengan makan-makanan di luar selama ini. Mesti dia punya ART sendiri, namun masakannya sama sekali tidak cocok di lidahnya. Jujur kali itu dia benar-benar merindukan masakan Vira. Mantan istrinya sendiri. Terkadang hati kecilnya Dika bertanya tentang Vira, apakah keadaannya baik-baik saja saat itu? Ingin rasanya Dika bertemu, namun Sindy selalu melarangnya dan diam-diam selalu memantau Dika agar tak berani menemui Vira di belakangnya.


Sudah menginjak sembilan bulan ini, usia pernikahannya bersama Sindy. Namun, Dika belum pernah sekalipun memakan masakan istrinya. Tak seperti halnya yang sering di lakukan Vira padanya waktu dulu. Vira yang selalu rajin memasak masakan yang lezat tiap harinya untuk sarapan dan makan malamnya. Bahkan Vira juga sempat menyiapkan bekal makan siangnya. Tetapi Sindy sama sekali tak pernah melakukan hal itu untuknya. Terkadang Dika mulai merasa lelah dan juga bosan menghadapi sifat manjanya Sindy. Dulu sifat manjanya itu adalah hal yang paling menyenangkan buatnya. Merasa diri paling di butuhkan oleh sosok wanita cantik seperti Sindy. Namun lama-kelamaan sifat itu membuatnya jengah. Tak hanya enggan melayaninya dalam hal memasak. Bahkan untuk menyiapkan pakaian kerjanya pun, Sindy harus meminta ART-nya terlebih dulu untuk menyetrikanya, padahal dulu Vira lebih telaten dan sigap melakukannya sendiri tanpa harus mengeluh. Walau dirinya punya penyakit anemia.


"Aku juga kan pengen nyicipin masakan istriku sendiri..." rayunya lagi, mesti Dika tahu kalau Sindy hanya pura-pura tak mendengarnya. "Sin, apa kau mendengar perkataanku?"


"Diem dulu toh Mas, aku lagi balesin chat temen nih!" cetusnya melepas tangan Dika di bahunya. Dika menghembus kasar nafasnya dan panjang, ia pun menggeleng kepala dan berjalan duluan masuk ke dalam Mall.


Namun setelah dia masuk ke lobby mall, hal tak terduga terjadi. Dika mematung di depan pintu besar mall tersebut, kini kedua maniknya membulat sempurna, melihat dua orang yang dia kenali. Hingga Sindy yang sedang berjalan tertunduk masih fokus dengan ponselnya tak sengaja menabrak punggung Dika dari belakang.


"Aduh Mas! Kok jalannya berhenti sih?!" pekiknya seraya mengusap keningnya yang sakit karena terbentur punggung lebar Dika.


"Ada apa sih, Mas?!" tanya Sindy kembali kesal karena Dika hanya diam saja. Sindy berjalan ke samping dan menatap suaminya terpaku dengan pandangan nganga ke depan. Lalu ia pun mengikuti arah pandangan Dika. Sindy yang tadinya merenggut kesal ikut tercengang setelah melihatnya.


"Hah, Kak-Kak Vicky?!" sontaknya yang lekas menutupi mulutnya dengan satu tangan.


Dika tak berkedip sama sekali. Hingga kedua orang yang di tatapnya ikut tersadar dan segara menghentikan langkah mereka bersama, di depan pintu mall.


Mereka berdua juga sama-sama di buat terkejut, dan hal ini adalah pertemuan pertama kalinya mereka berempat.


"Vi-Vira.." sahut Dika lirih. Kedua maniknya berkaca-kaca sekaligus memerah. Melihat perut Vira yang sudah membesar dan sedang di temani Vicky. Sedang Vira di sana hanya menatap Dika dengan pandangan dingin dan gugup. Tak menyangka dirinya akan bertemu lagi dengan Dika ketika sedang berjalan bersama pria lain.


Sindy menggeleng cepat kepalanya tak percaya yang dia lihat sendiri. "Kak Vicky, Kakak sedang apa dengan wanita ini?!" tunjuknya pada Vira. Mengintrogasi.


Vira pun tersohok, lantas pandangannya jadi beralih pada Vicky yang mulai tegang ketika dirinya di hunus pertanyaan Sindy di sana.


"Kamu mengenalnya?" Vira mengerungkan alisnya, ikut bertanya. Vicky tercekat, dan menelan kasar salivanya. Lalu sejenak ia memenjam rapat matanya.

__ADS_1


"Ayo Vira kita lekas pulang.." alihnya, tak inginmenjawab. Ia pun menggandeng Vira keluar dari dalam mall. Melewati Dika dan Sindy. Tanpa memperdulikan pertanyaan dua wanita itu. Vicky hanya ingin menghindar dari hal-hal buruk yang akan terjadi di antara mereka.


Vira menahan tangannya agar berhenti melangkah. "Jawab aku Vicky, apa kamu mengenal perempuan itu?" sorot matanya tak percaya yang dia dengar barusan. Kenapa Sindy bisa tahu Vicky? Rasa penasaran itu kian memuncak pada dirinya.


"Tentu saja kami saling mengenal, dia itu adalah Kakak sepupuku!" celetuk Sindy dari jauh, yang kini berbalik menghadap Vira. Vira pun kembali menoleh menatap Sindy, dengan tatapan tak percaya.


"Benarkah apa yang dia katakan, Vicky?!" tanyanya lagi, yang kini tubuhnya semakin menegang.


"Sudahlah Vira jangan dengarkan dia!" alih Vicky lagi, yang belum siap mengungkap semuanya di depan Vira.


"Ya, yang di katakan Sindy adalah benar Vira. Mereka berdua saudara sepupuan." jelas Dika ikut menjawabnya, menatap rindu pada mantan istrinya.


Vira kembali menatap nanar Vicky, dengan manik yang berkaca-kaca. "Kenapa kau tak pernah mengatakan padaku sebenarnya? Jadi benar dia itu adalah sepupumu?!" pekiknya pelan. Vicky menunduk lemah.


"Vira_ Aku bisa jelaskan ini padamu." lirihnya ingin memegang tangannya Vira, namun lekas di tepis lagi oleh Vira.


Vira pun menggeleng lemah lalu ia berjalan keluar duluan meninggalkan mereka.


"Vi-Vira!" panggil Vicky dan mengejarnya, menahan pergelangan tangan Vira. "Tolong kamu jangan marah dulu."


"Heh mbak apa maksudmu ya, bilang aku lagi perusak rumah tanggamu?!" pekik Sindy tersinggung, karena lagi-lagi Vira menyindirnya seperti itu. "Kamulah yang sebenarnya merebut Mas Dika dariku! Aku sudah mengenal dan dekat jauh dari Mas Dika sebelum kau menikah dengannya!" sentaknya lagi.


"Diam kamu Sindy!" bentak Vicky, yang kini ia menatap tajam sepupunya. Sindy terperanjat. Dika di sana hanya melihat mereka dari kejauhan. Tak berkutik.


"Apa yang Kakak katakan, heh?! kenapa malah belain dia? Sejak kapan juga Kakak mengenal Wanita ini?" kesalnya.


"Aku bilang kau diam ya diam! Kau itu sudah salah tapi masih saja kekeh merasa paling benar dan paling di sakiti!" tegasnya menunjuki wajah Sindy di depan umum. Kini semua sorot mata pengunjung mall melihat ke arah mereka.


"Kakak~" lirihnya, manik cantiknya kini memerah panas. Semakin berkaca-kaca. Tak sangka Vicky akan membentak dan memarahi dirinya. Apalagi hal itu dia lakukan di tempat umum.


"Sudahlah Vicky jangan di teruskan, aku mau pulang..." sela Vira yang tak ingin membuat keributan, dan mereka jadi bertengkar gara-garanya. Vira mengambil paksa paper bag belanjaan di tangan Vicky.


"Iya, ayo kita pulang..." Vicky mengangguk. Tapi Vira menggeleng tegas.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku akan pulang sendiri. Sekali lagi terimakasih banyak, sudah mengajakku membeli perlengkapan bayiku..." Vira menolaknya cepat dan hanya ingin pulang sendirian.


"Vira apa maksudmu?!" Vicky mengernyit, tatapnya sendu karena Vira lekas melengos meninggalkannya.


Sementara Dika yang awalnya ragu, namun tiba-tiba kakinya melangkah mengejar Vira. Meraih belanjaan mantan istrinya yang banyak di tangannya.


"Sini biar aku bawakan! Aku antar kamu naik taksi." tawarnya gesit.


"Lepas, aku bisa sendiri!" tolaknya pada Dika. Menarik lagi belanjaannya.


"Jangan keras kepala, Vira! Walaupun kita sudah bukan suami-istri lagi. Tapi bayi dalam kandunganmu itu, adalah anakku! Aku ikut andil dalam menjaganya." ujarnya, dengan nafas yang naik turun, Dika menatap sendu pada wajah mantan istrinya yang kini usia kandungannya sudah tua.


Dika lekas mengambil lagi belanjaan itu namun telat Vicky di sana lebih dulu mengambilnya dari tangan Vira. Vira tersohok lagi. Melihat mereka secara bergantian di depannya. Kini posisi Vicky dan Dika saling berhadapan, melempar tatapan tajam dan tak suka.


"Biar aku saja yang bawa. Vira akan pulang denganku. Karena aku yang mengajaknya kemari!" ucap Vicky dingin. Lantas Dika mendorong dada Vicky dengan telunjuknya kasar.


"Heh, sebenarnya ada hubungan apa kau dengan mantan istriku ini? Kenapa kau sok peduli padanya?!" selidik Dika jelas ia tak suka.


Vicky berdecih dan tersenyum sinis ke arah Dika. "Vira adalah_"


"Stop Vicky! Tak perlu kau jelaskan!" potong Vira. Lekas mengambil lagi bawaannya. Namun saat menarik, Vira tercengang kaget. Perutnya tiba-tiba merasakan sakit.


"Akh, aakhh---!" Vira memegang perutnya, merintih sakit di area sana. "Perutku.." lirihnya. Sontak mereka berdua terkejut.


"Vira!!" seru mereka bersamaan.


"Kamu kenapa? Ada apa?" tanya Vicky panik, lekas ia menahan kedua bahu Vira agar tak jatuh ke lantai.


"Sepertinya a-aku akan melahirkan_" sahutnya lirih.


"Apaaa?!" serentaknya.


Vicky dan Dika tercengang, membolakan dua mata mereka dan saling menatap terkejut.

__ADS_1


Bersambung...


...****...


__ADS_2