Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Semakin Mencintaimu


__ADS_3

...BAB 86...


...Semakin Mencintaimu...


Dika melempar ponselnya ke atas kasur dengan kasar, lalu mengusap wajahnya sambil mondar-mandir sangat frustasi. Pasalnya dari kemarin siang dia menghubungi nomer Sindy namun nomernya sama sekali tidak aktif.


"Apakah dia sudah ganti nomer? Aku harus menemuinya kali ini. Ya akan kutemui dia di rumah lelaki itu. Firasatku mengatakan kalau Sindy sekarang tinggal di sana..." gumam Dika, sangat yakin sekali.


Pagi itu, Dika ijin tak masuk kerja, alasan ingin menemani istrinya yang masih trauma karena pasca kecelakaan dua minggu yang lalu, pada atasannya. Dika pun bergegas menyalakan mobilnya, dan pergi ke rumahnya Vicky.


****


"Bohong, aku tahu kalau itu adalah luka pukulan!" sela Vira tegas, memotong ucapan Vicky.


Vicky menundukkan kepalanya pelan. "Maaf, maafkan aku..."


"Jadi benar kan kemarin kamu habis berkelahi? Sama siapa? Apa sama Mas Dika lagi?"


Vira tak sabar ingin tahu jawaban Vicky padanya. Walaupun Vira sangat yakin jika tebakannya itu benar. Tapi dia ingin mendengar kejujuran suaminya. Sungguh Vira tak habis pikir dengan kelakuan suami dan juga mantannya tersebut, sudah sama-sama dewasa namun tingkah mereka seperti anak kecil. Sampai kapan mereka akan terus bermusuhan?


Vicky menghela nafasnya panjang, lalu duduk di kursi dan menurunkan Aqilla di gendongannya.

__ADS_1


"Iya sore kemarin, dia tiba-tiba saja datang ke kantor, lalu marah-marah pada Mas. Karena Mas membawa Sindy ke sini tanpa memberitahukannya." ungkapnya yang akhirnya Vicky berkata jujur.


Vira menghela nafasnya lalu ikut duduk di seberang kursi Vicky. "Terus?"


"Terus, aku melarangnya untuk menemui adikku lagi." Vicky mengangkat satu sudut bibirnya ke atas, rasanya sangat puas sekali sudah memberikan pelajaran pada Dika.


"Lalu Mas Dika memukulmu begitu, atau kamu duluan yang memukulnya,.Mas?"


"Awalnya dia yang ingin meninjuku tapi aku yang berhasil meninjunya duluan. Dan akhirnya kami berdua berkelahi.."


Vira menghembus kencang nafasnya. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Jangan pernah di ulangi Mas... Sudah cukup ini yang terakhir kalinya aku dengar kalian berkelahi. Kamu bukan lagi anak SMA yang masih suka membully orang. Kamu sudah pernah berjanji padaku untuk tidak lagi menghajar orang, Mas.." ucap Vira dengan tatapan sendunya sambil mengusap sisi wajah suaminya dengan lembut. Walaupun hatinya sedang marah, tetapi maniknya selalu memancarkan kelembutan, yang artinya Vira sangat memperdulikannya.


Vira mengerutkan dahinya lalu menundukkan pandangannya. "Nggak apa-apa Mas... Aku tahu niat Mas itu baik, ingin melindungi Sindy. Tapi aku juga tak sepenuhnya menyalahkan Mas Dika... Wajar saja dia juga marah seperti itu, karena dia masih ada tanggung jawab untuk Sindy. Sebaiknya biarkan saja mereka bertemu dulu dan menyelesaikan masalahnya berdua. Kita selaku kakaknya Sindy lebih baik tak perlu ikut campur dengan masalah mereka." saran Vira.


"Tapi sayang..." sela Vicky kurang setuju.


"Mas, kumohon... Hilangkan rasa dendammu padanya. Aku bosan melihat terus permusuhan di antara kalian... Mas Dika memang pernah menyakitiku di masalalu. Tapi jika dia tak begitu, aku tidak mungkin bisa menikah denganmu 'ya kan?! Jadi maafkanlah dia, dan berikan nasehat juga dukungan yang terbaik untuk Sindy dan juga Mas Dika..." ucapnya tersenyum, Vira pun menggenggam kedua tangan suaminya di atas pangkuannya. Memberi pengertian pada suaminya. Vicky menatap dalam-dalam istrinya dengan takjub.


"Kamu memang wanita yang hebat sayang, tak salah bila aku memilihmu jadi istriku... Selain cantik, kamu juga wanita penyabar dan pemaaf..." ucap Vicky, seraya membelai pipi merona istrinya. "Aku semakin mencintaimu..."

__ADS_1


Mereka pun saling menatap penuh kemesraan, dan ketika Vicky hendak mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir ranum milik istrinya. Aqilla yang sedari tadi main sendiri mencabut bunga yang mulai kuncup di pot sisi pagar balkon, tiba-tiba saja berbalik dan meloncat, menggelayut leher Vicky dari arah belakang punggungnya.


"Ayaah-Ayaah ayok ke baawah main... Tuluun-tuluuun.." ajaknya. Sontak Vicky memekik kaget dan Vira tergelak tawa melihat tingkah mereka.


"Aaahh Aqillaaa... Ayah tak bisa bernafas!!" teriaknya. Aqilla pun turun dan beralih ke depannya Vicky.


"Ayuu Yah, mainn..." rengeknya.


"Iya sayang, iya nanti kita main tapi sebelumnya Ayah mau mandi dulu oke!"


"Gak, maunya main sekalang..." rengeknya lagi, manja.


"Eh-eh Qilla... Ayah mau mandi dulu, mau sarapan juga... Aqilla juga nih belum habisin buburnya, ayok makannya di terusin sama Bunda..." bujuk Vira mengulurkan tangannya di depan putrinya yang masih di gendong Vicky. "Sini sayang gendong sama Bunda saja..." Aqilla menggeleng cepat, tetap kekeh tak mau jauh dari Vicky.


"Nggak mau, Qilla maunya di gendong ma Ayaah!!" renggutnya.


"Sayang, sayang Ayah janji nanti kalau Ayah udah mandi... Ayah akan temani Aqilla lagi. Emang Aqilla mau ya, punya Ayah badannya bau?" sahutnya membuat Aqilla menggeleng pelan-pelan. "Nah kalau gak mau. Makanya biar Ayah mandi dulu ya, biar badan Ayah wangi kayak Aqilla. Terus biar Bunda juga selalu nempel terus sama Ayah..." celetuknya berbisik di sisi telinga Vira sembari mengedipkan matanya. Sontak Vira membulatkan matanya lalu ia mengulum senyum memerah.


"Sekarang Aqilla sama Bunda dulu, habisin makannya. Nanti Ayah nyusul ke bawah yaa.." bujuk Vicky.


Tak butuh waktu lama dan banyak rayuan. Aqilla pun akhirnya menurut dengan perintah Vicky. Entah obat apa yang sudah di berikan Vicky selama ini pada putrinya, Aqilla begitu patuh dan sayang pada Ayah sambungnya tersebut. Terkadang Vira pun sebagai Ibu kandungnya sedikit iri dengan keakraban yang terjalin di antara mereka.

__ADS_1


Bersambung...


...****...


__ADS_2