
...BAB 71...
...Ketakutan Sindy...
Masih ingat akan pertemuan Irfan dengan seorang gadis di toko bahan kue dulu? Ya, Ella, si gadis jutek yang terlihat lugu gara-gara tak membawa uang lebih, jadi dia tak bisa membayar sebagian bahan kue yang sudah terlanjur dia beli semua, sebenarnya bahan-bahan kue yang ia beli waktu itu untuk ujian praktek akhir semesternya. Karena Ella seorang mahasiswa yang tengah belajar di UNJ, dalam progam studi Tata Boga.
Ella tinggal di Jakarta karena dia memang sedang kuliah di kota itu. Ella berasal dari kota Semarang. Karena ingin mengikuti jejak sang Ayah yang telah lama tiada, maka Ella pun berharap akan meneruskan cita-citanya beliau menjadi seorang koki terkenal nantinya. Dulu Ayahnya adalah salah satu cheff di sebuah Restoran bintang lima di Jakarta namun beliau meninggal karena sakit keras, lalu beliau di bawa ke Semarang dalam keadaan sudah tak lagi bernafas, ketika itu Ella masih menginjak usia 14 tahun. Kepergian Ayah tercinta membuat hatinya terpukul saat itu, kini Ella hanya memiliki Ibu satu-satunya saja.
Awalnya sang Ibu melarang Ella pergi, karena beliau tak memiliki banyak biaya untuk Ella meneruskan studinya di Jakarta. Sebab beliau hanyalah seorang Ibu Rumah Tangga biasa dan penjual kue keliling di kampung mereka, maka dia merasa tak sanggup untuk memenuhi semua keinginan Ella pergi ke kota Metropolitan tersebut.
Tetapi Ella tetap kekeh berangkat dengan bermodalkan nekad dan uang tabungan yang telah ia simpan lama, sewaktu ia masih duduk di bangku kelas lima SD dulu. Menurutnya, tabungan itu lebih dari cukup untuk Ella pakai untuk membiayai kuliahnya dan biaya hidupnya nanti selama tiga tahun ke depan tinggal di Jakarta.
Namun Ella yang belum terlalu mengenal kota Jakarta, awalnya dia sangat kaget saat tahu harga barang dan bahan makanan mentah di sana ternyata mahal-mahal malah dua kali lipat dari harga barang di kotanya sendiri. Jadi setelah tahu itu, Ella sebisanya harus bisa berhemat, demi untuk bertahan hidup.
Ella memiliki jiwa pekerja keras dia selalu berusaha pantang menyerah, agar impiannya kelak tercapai. Kala dirinya bertemu dengan Irfan, Ella pikir lelaki itu akan membantunya tanpa mengharap balas budi, namun ketika Ella meminta bantuannya lagi, Irfan malah memintanya untuk bekerja di tempatnya.
Ella sempat berburuk sangka pada Irfan dulu. Kalau lelaki muda itu akan mengajaknya bekerja di tempat yang tak diinginkannya. Sebab sebelum bertemu Irfan, telah banyak orang yang menawarinya bekerja di club malam dan menjadi wanita panggilan. Mungkinkah karena wajah Ella yang terlampau cantik dan putih, membuat semua orang ingin memanfaatkan tubuhnya. Apalagi di kampus tempatnya mencari Ilmu, nyaris semua lelaki satu kampus dengannya, naksir Ella. Padahal Ella tak pernah ada niat menggoda mereka, walau begitu Ella tak pernah menanggapinya.
Tentu hal itu pun membuat Ella selalu waspada tiap kali bertemu orang-orang asing yang menawarinya pekerjaan. Karena di kota besar itu banyak sekali para perantau yang sulit sekali mencari pekerjaan, dan itu menjadi peluang besar bagi para penguasa untuk menjaja dan menjual para wanita-wanita yang di temui di jalanan.
Ella yang saat itu kebingungan karena uang tabungan untuk biaya hidupnya tinggal menipis. Dia harus terpaksa berjalan kaki ke kosannya yang berjarak sepuluh kilometer. Demi bisa makan untuk kesehariannya. Sebab dia menolak tawaran dari Irfan, yang tadinya dia hanya ingin meminta tolong untuk di antarkan pulang ke kosannya.
Seminggu kemudian setelah pertemuan itu. Tak di sangka mereka bertemu lagi di sebuah kantin di kampusnya Ella, saat itu Irfan tengah mengorder roti jualannya ke kantin-kantin sekolah termasuk ke kampusnya Ella.
Dari jauh Ella melihat Irfan keluar dari kopma kampus dengan membawa kotak besar di pangkuannya lalu bersalaman dan berpamitan dengan penunggu kopma.
"Dia itu siapa Bang?" tanya Ella pada pemilik kopma. Setelah Irfan pergi dengan motornya.
"Kenapa emang, lu naksir dia?" godanya di iringi kekehan renyah.
"Ya elah bang, gue kan cuma nanya doang, bukan berarti naksir! Issh aneh..." gubris Ella, sambil memanyunkan bibirnya ke depan dengan cekatan tangannya menyosor roti yang ada di rak jajanan dekat meja kasir.
__ADS_1
"Ya dia itu tuh yang nitipin roti-roti jualan yang lu makan..." jelas si Abang kopma berambut panjang di ikat satu itu, sambil menunjuki roti di tangannya Ella, pemuda berumur 27 tahun itu memang selalu akrab dengan semua mahasiswa-mahasiswi di kampus termasuk Ella.
Ella membulatkan matanya belum percaya. "Roti ini?!" tanya Ella lagi sambil mengancungkan sebuah roti yang baru saja dia kunyah pelan.
"Iya ntuh!"
"Ooohh..." Ella mengangguk lagi. Lalu dia pun melihat tulisan nama produk roti beserta alamat dan nomer Irfan di kemasan roti. Bibirnya tersenyum menyungging. Sejak itulah dia pun akhirnya tahu kalau Irfan memiliki sebuah toko roti.
Ada rasa iba di hati Ella, ketika Irfan bekerja sendirian di sana dengan bercucur keringat melayani setiap pembeli yang datang, tak lama Ella pun memberanikan diri menemuinya dan melamar pekerjaan di tempat Irfan saat itu juga.
"Apa kau yakin ingin bekerja di tempatku?!" Irfan sempat ragu sebab melihat dari penampilan Ella sepertinya dia gadis yang sedikit manja. "Bukankah dulu kau menolaknya mentah-mentah tawaranku, lalu ada angin apa gerangan yang membawamu kemari??" celetuk Irfan meledeknya. Ella pun memanyunkan bibirnya, dan menundukkan kepalanya, malu-malu.
"Maaf... Dulu aku salah dan tak bertanya dulu soal pekerjaan apa yang ingin kau tawarkan padaku. Sekarang aku sangat yakin, dan ingin sekali bekerja di tempatmu ini..." ucapnya lalu tersenyum manis pada Irfan. Sangat manis malah, membuat Irfan cukup tertegun lama menatapnya. Sontak Irfan tersadar dan segera memalingkan pandangannya, menolak ada perasaan aneh yang tiba-tiba meletup di dadanya.
"Aku mohon ya Kak... berikan aku pekerjaan, Ini demi hidup dan masa depanku juga..." pintanya yang sekarang kedua tangannya menangkup ke atas dadanya sembari memohon. Wajah cantik yang terlihat menyedihkan itu, berhasil membuat hati Irfan luluh dan tak tega. Seperti seekor kucing angora yang meminta makan pada majikannya. Imut.
Irfan mengerungkan alisnya dengan wajah yang sudah memerah, sambil menghindari tatapan manik bulat Ella. "Baiklah tapi maaf jika upah yang nanti aku berikan padamu tidaklah banyak, apa kamu masih tetap mau bekerja di sini?" tanyanya lagi.
"Tidak apa kak, aku mau! yang penting uangnya cukup untuk bisa makan sehari-hari..." ucap Ella kala itu.
"Ellaaa.....!!" teriak Irfan tiba-tiba membuyarkan lamunan Ella.
"Ah iyaaa Kakk Bos!" Ella gegas berlari menghampiri Irfan di kamar mandi. Seketika itu Irfan keluar dari kamar mandi dengan pakaian basah kuyup dan beberapa bulatan busa di kepalanya.
Ella terperangah di buatnya. "Lah, ada apa Kak? Kok basah semua?"
"Aku yang harusnya tanya sama kamu, kamu barusan habis nyuci baju di kamar mandi?" pekik Irfan kesal, Ella terbengong lalu tak lama ia mengangguk cepat.
"Iya Kak!"
Irfan mendengus kasar lalu ia mengangkat benda bulat mirip kacamata berwarna pink cerah di tangannya.
__ADS_1
"Gara-gara kamu nyuci di sini keramiknya jadi licin, aku jadi kepeleset dan akhirny jatuhin ember rendaman pakaian kamu!" gemasnya geram menahan emosi. Ella melotot ke arah benda itu, cepat dan refleks dia merampas barang miliknya. Menyembunyikannya di belakang punggungnya.
"A-a aku minta maaf kak!!!" gelagapnya. "Maaaf...!!" teriaknya, sangking malunya Ella pun lari terbirit-birit yang entah pergi kemana.
Irfan yang masih bergeming di tempat hanya mendengus pelan lalu menggelengkan kepalanya.
"Kamu mau kemana?" tanya Sindy saat melihat Dika telah memakai baju rapih dan bersiap pergi mengambil kontak mobilnya.
"Terserah padaku mau pergi kemana, urus saja dirimu sendiri..." jawab Dika dingin.
Sindy menahan tangan Dika yang ingin membuka pintu.
"Mas! Aku bertanya baik-baik padamu. Ini kan hari minggu, tak biasanya kau pergi keluar! Apa kau ingin menemui Kak Riska lagi, hah?!" tuduhnya. Dika berbalik ketika tangannya ingin membuka handle pintu.
"Sudah aku katakan kalau semalam itu kami kebetulan bertemu, dan saat itu aku sama sekali tak ingat jika dia mengantarkanku pulang!" jelas Dika untuk kesekian kalinya agar Sindy berhenti mencurigainya.
"Aku belum percaya seratus persen padamu! Aku yakin sekali kalau kalian berdua ada hubungan di belakangku, iya kan?!" sungutnya lagi.
Dika menepis tangan Sindy, lalu berdecak kesal di depannya, rasanya sudah malas sekali ia berdebat dengan Sindy.
"Kalau di pikiranmu itu terus saja menuduhku, ada kemungkinan besar aku akan melakukannya dengan sengaja. Ingat, lagipula kau pun sudah tak mau lagi melayaniku, Sindy! Jadi pikirkan baik-baik, jika semua yang ku lakukan semata-mata itu pun juga adalah kesalahanmu sendiri!" tukasnya seraya menunjuki Sindy dengan tegas. Seakan tuduhan itu berbalik menjadi sebuah ancaman untuk Sindy.
Sindy kesulitan menelan air ludahnya, tatapannya getir setelah kepergian Dika. Ketakutan seketika menyergap dalam hatinya, jika benar-benar Dika nekad akan berselingkuh dengan Riska nanti. Dengan cepat Sindy menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak, tidak! Kau tidak akan pernah berani melakukan itu Mas... Kau hanya mencintaiku, kau hanya cinta aku Mas Dika..." isaknya menutup kedua telinganya dengan tangan. "Kau hanya milikku Mas Dika!!" teriaknya.
Bersambung....
...****...
Terimakasih yang sudah setia like dan komennya, plus hadiah bunganya dari kakak-kakak 🤧 othor jadi terharuuu banget!! 😍
__ADS_1