Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Kebimbangan Di Hati Dika


__ADS_3

...BAB 40...


...Kebimbangan Di Hati Dika...


"Lepas! Kau mau bawa aku kemana?" Vira terus memberontak, berusaha melepaskan dirinya dari lelaki asing berpakaian hitam itu. Namun tenaga lelaki itu lebih kuat dan sama sekali tak keberatan mengangkat tubuh mungil Vira agar masuk ke dalam mobil hitam mewahnya.


"Jangan khawatir Nona, anda akan aman saja bersama kami." jelasnya. Lalu ia menutup pintu mobilnya rapat dari luar.


"Kami?" Vira pun terpaksa duduk di belakang kemudi, mengerutkan dahinya dalam. Lalu tak lama terlihatlah dua orang lain lagi datang menghampiri lelaki itu.


"Bagaimana sudah ketemu?" tanyanya pada lelaki yang membawa Vira barusan.


"Sudah Pak Adam!" jawabnya. Lantas Vira menoleh ke samping jendela mobil, melihat kedua lelaki itu, yang satunya berpenampilan sama dengan lelaki baju hitam tadi, dan sama-sama memakai kacamata hitam juga. Sedang satunya lagi, sangatlah berbeda. Dia terlihat agak kurus namun agak tinggi, dia hanya memakai baju hem biasa berwarna biru tosca lengan panjang. Rambutnya di cepak hingga kelihatan tampan mesti warna kulitnya hitam manis. Diperkirakan usianya sekitaran tiga puluh tahunan.


Adam pun sekarang menoleh melihat Vira di sisi jendela mobil yang setengahnya terbuka, menelisiki wajah Vira sambil sesekali melihat ponsel yang ada di tangannya. Vira lekas memalingkan wajahnya yang sudah memerah padam, sempat risih di tatapinya terus-menerus seperti itu olehnya. Hingga lelaki yang bernama Adam itu pun menyungging senyumnya puas.


"Akhirnya kami menemukan anda Nona." ucapnya seraya menarik dua sudut bibirnya lebar hingga terlihat gigi putihnya yang berjejer rapi.


"Sebenarnya siapa kalian ini? Dan kalian mau bawa aku kemana?" tanya Vira lagi, menahan sabar karena tak ada yang memberitahukannya langsung.


"Kami hanya di suruh Bos kami untuk membawa anda pergi ke tempatnya, Nona." terangnya lagi.


Vira melongo dengan perkataannya. Dahinya semakin berkerut dalam, penuh tanya. "Me-memangnya siapa Bos kalian itu?" tanya Vira lagi, namun lelaki itu tak menjawabnya, dia hanya tersenyum saja. Lalu mereka bertiga pun, bergegas masuk ke dalam mobil.


Kedua lelaki berkacamata hitam duduk berada di depan kemudi. Sedang satunya lagi, duduk di sampingnya Vira. Tanpa ada pembicaraan lagi. Mobil itu bersiap melaju.


"Mohon anda untuk memakai sabuk pengamannya Nona..." titah Pria yang ada di samping Vira. "Karena ini cukup memakan waktu lama, kita akan perjalanan jauh." ucapnya lagi.


Bagai kerbau di cocok hidungnya, Vira menurutinya tanpa lagi bertanya, dan sebenarnya mereka mau membawanya pergi kemana? Namun dari sikap mereka yang memperlakukan Vira dengan baik, rasa takutnya pada mereka seolah-olah menjadi hilang.

__ADS_1


Tak lama mobil pun melaju dengan kecepatan lumayan tinggi.


****


Hari ini Dika kembali ijin tak lagi pergi ke kantor. Kejadian barusan membuatnya malas untuk pergi-pergian, apalagi wajahnya kini sudah babak belur karena ulah Vicky. Setelah ia selesai mengobati lukanya sendiri. Mendadak perutnya sangat lapar, dia lupa kalau belum sarapan pagi itu, padahal waktu sudah jam delapan pagi. Dika lekas pergi ke ruang makan mendekati meja. Tapi tak ada satupun makanan terhidang di sana. Bahkan satu butir nasi pun juga tak ia temukan di magicom. Dika menghela nafasnya kasar, lalu menutup lagi tutup magicom-nya. Dalam hatinya menggerutu kesal. Biasanya pagi sekali Vira selalu menyiapkan semuanya.


Dika berjalan cepat ke kamarnya, meraih ponsel di tempat tidurnya. Terpaksa dia memesan makanan via online. Selesai memesan, dan sambil menunggu pesanannya datang. Dika merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur. Membuang nafasnya kasar, lalu tertidur miring ke samping, seketika itu netranya mengarah pada jam tangan pemberian Vira yang dia simpan di atas nakasnya. Dika pun meraihnya, dan memandanginya dengan lama. Teringat lagi bayangan wajah saat Vira memberikannya di hari ulangtahunnya waktu itu, dan saat itu juga pertama kalinya ia membohongi Vira jika hadiah dasi itu adalah pemberian Sindy. Kekasihnya.


"Oh ya, ini mungkin tak seberapa dengan kado temanmu barusan. Semoga kamu suka ya Mas..." Vira menyodorkan kado berwarna biru tua dengan pita kuning.


"Apa ini sayang?" tanya Dika penasaran. Dia lekas meraihnya di tangan Vira.


"Buka saja..." titahnya lagi. Dika tersenyum seraya mengusap sisi pipi Vira.


"Terimakasih sayang, kamu selalu memberi kejutan untukku... Jadi merepotkanmu." ucapnya lagi.


Dika melepas tali pita itu dengan cepat lalu di bukanya kotak hadiahnya. Kedua mata Dika melebar kaget. Jam tangan berwarna silver edisi terbaru. Jam tangan yang pernah Dika lihat di katalog langganan mereka.


"Hah ini?! Dari mana kamu dapatkan uang untuk bisa membeli ini sayang? Bukankah ini mahal sekali harganya?" tanya Dika, alisnya mengerung dalam.


"Kita kan belum punya anak Mas... Selama lima bulan ini kita menikah, gajimu semua kau berikan padaku. Aku terbiasa hidup hemat dari dulu, maka sebagiannya aku tabung sendiri. Aku ingin membelikan jam tangan baru untukmu. Aku tahu jam tanganmu kemarin sudah rusak. Katanya kadang mati kadang jalan lagi. Padahal sudah di service. Tapi masih saja tetap error." Vira pun tertawa setelahnya.


Dika mengepal jam tangan itu lagi, mengecupnya, kedua matanya berkaca-kaca. Sebegitu besarnya rasa perhatian Vira padanya. Itulah yang membuat dia tak ingin melepaskan Vira, selain sudah merasakan nikmatnya tubuh Vira berawal hanya melampiaskan naf-su semata. Tak ia pungkiri hatinya juga sudah terlanjur sayang kepadanya. Tapi dia pun teringat lagi akan permintaan Sindy padanya semalam tadi, setelah mengantarnya pulang. Memintanya agar menceraikan Vira secepatnya.


"Baiklah aku tidak akan membatalkan pernikahan kita, tapi dengan syarat kau harus berjanji padaku untuk menceraikan dia secepat mungkin!" pinta Sindy.


Setelah Dika mengatakan maaf berkali-kali, dan dia tetap akan melanjutkan niatnya untuk menikahi Sindy. Namun lagi Sindy memintanya hal yang tak dia inginkan selama ini. Berat baginya untuk menceraikan Vira.


"Tapi, sayang itu, itu tidak bisa ku lakukan..." sahut Dika terbata-bata ragu.

__ADS_1


"Kamu jangan egois Mas! Katanya tadi, kau tidak pernah mencintainya! Lalu kenapa kau masih mempertahankan pernikahanmu dengannya. Apa itu artinya kau ada rasa cinta di hatimu padanya?" hunusnya, yang sudah mulai kesal dengan Dika.


Dika menggeleng cepat. "Tentu tidak sayang aku hanya mencintaimu seorang..." selanya.


"Ya sudah kalau begitu ceraikan dia!" pintanya lagi, memaksa. "Jangan ada alasan lagi bahwa kau hanya di jodohkan dengannya. Kau harus beritahukan orangtuamu. Bahwa kau hanya ingin bersamaku..."


"Tapi, aku benar-benar tidak bisa Sayang... Vira, dia sedang hamil anakku!" belanya lemah.


"Inilah yang aku tidak suka dari lelaki macam sepertimu, Mas! Kau itu pengecut dan juga egois. Kau ingin memiliki kami berdua seutuhnya tanpa menjaga perasaanku dan dia. Kalau begitu lebih baik kau tinggalkan aku saja! Aku tidak masalah hanya kehilangan dirimu. Toh, masih banyak Pria yang mau denganku di dunia ini." ancamnya keras. Sindy pun melengos pergi, memasuki gerbang rumah Vicky, namun kembali ia di tahan oleh Dika.


"Ah, Sin.. Sindy aku mohon kamu jangan begini!" sahutnya mengiba.


"Lalu aku harus bagaimana dong?"


"Beri aku kesempatan untuk memikirkannya sekali lagi." pintanya. Sindy menghembus nafas dengan kasar. Melipat kedua tangan di dadanya.


"Baiklah aku beri kamu waktu Mas. Pokoknya aku nggak mau tahu, nanti kalau kita menikah. Kau harus sudah menceraikan istrimu itu, titik! Atau tidak kita tak akan pernah menikah selamanya!" tekan Sindy lagi. Wajahnya masih terlihat marah mesti ia sudah memaafkan Dika.


Dika menghela nafasnya berat, lalu mengangguk pasrah.


Mengingat itu, Dika kembali bangkit di atas tempat tidur hendak melempar jam tangan itu, namun dia urungkan lagi dan malah menggenggamnya lebih erat. Nafasnya terengah-engah. Karena tak bisa berbuat sesuai keinginannya sendiri.


"Kenapa setiap wanita begitu menyebalkan. Padahal poligami sama sekali tak di larang. Apa mereka benar-benar sudah tidak menginginkan lagi surga!" decihnya, menggelengkan kepalanya jengkel. Dika kembali menatap jam di tangannya.


"Dimana sebenarnya kamu, Vira? Dan sebenarnya ada hubungan apa si lelaki kaku itu denganmu?! Kenapa dia begitu sangat menginginkan aku berpisah denganmu?!" selidiknya sendiri.


Bersambung....


...****...

__ADS_1


__ADS_2