
...BAB 47...
...Calon Suami VS Mantan Suami...
"Kamu kenapa? Ada apa?" tanya Vicky panik, lekas ia menahan kedua bahu Vira agar tak jatuh ke lantai.
"Sepertinya a-aku akan melahirkan_!" sahutnya lirih.
"Apaa?!" serentaknya
Vicky dan Dika tercengang, membolakan dua mata mereka dan saling menatap terkejut.
"Ayo kita naik ke mobil!"
Vicky segera mengalungkan tangan Vira ke belakang lehernya, dan memapahnya perlahan menuju parkiran dengan hati-hati. Sedang Dika hanya bisa tertegun diam melihatnya, seketika hatinya panas membara melihat bagaimana cara Vicky memperlakukan Vira dengan lembut. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan apapun. Karena memang dirinya sudah tidak berhak lagi memperdulikan mantannya.
Beda dengan Sindy, dia terperangah heran melihat sepupunya sendiri. Pikirannya yang bertanya-tanya, sejak kapan Vicky bisa mengenal dan sedekat itu dengan Vira? Baru kali itu juga, Sindy melihat Vicky bersama wanita lain selain dirinya.
Apakah jangan-jangan, wanita itu? Sindy menggeleng-geleng cepat, tidak percaya. Bukan, pasti bukan dia 'kan?! Wanita masalalunya yang pernah dia ceritakan kepadaku. Kembali dia berasumsi dalam pikirannya sendiri.
"Hei tunggu!" spontan Dika menghentikan langkah Vicky dari belakang. "Biar aku saja yang bawa ke Rumah Sakit di mana Mamaku bekerja." sempat ragu, namun Dika akhirnya ikut memegang tangan mantan istrinya, dan membantu memapahnya juga.
__ADS_1
Dia tidak ingin menjadi manusia yang tidak bertanggung jawab. Walau bagaimanapun, Vira akan melahirkan anaknya sendiri. Itu artinya Dika juga berhak memberi perhatian pada mantan istrinya.
Sindy terbelalak melihat Dika yang memegang tangan Vira. Walaupun memang Vira hamil anaknya. Namun, tak semestinya Dika seperhatian itu pada Vira. Karena mereka bukan suami istri lagi.
"Mas, Mas Dika!" teriaknya memanggil, dengan nada kesal. Karena Dika meninggalkannya begitu saja seorang diri. Namun panggilannya sama sekali tak di gubris oleh Dika di sana. Sindy pun akhirnya ikut mengejar mereka.
"Mas apa yang kau lakukan, lepaskan tanganmu darinya!" Sindy menarik lengan Dika kasar.
Namun segera di tepis lagi oleh Dika. "Kau ini apa-apaan sih Sin?! Vira ini akan melahirkan anakku! Cobalah kau mengerti sedikit!" sentaknya, kesal. Matanya menyalang tak suka karena Sindy melarangnya menolong Vira.
Sontak Sindy pun bungkam dengan mata yang memerah. Raut wajahnya tak suka karena sikap Dika yang terang-terangan mencemaskan mantan istrinya di depannya sendiri tanpa menjaga perasaannya. Sindy pun menghentak kakinya kesal setelah Dika melanjutkan lagi langkahnya pergi ke parkiran.
Dika akui, saat ini jantungnya berdebar sangat kencang, rasa panik serta kebahagiaan kini meliputi hatinya, saat tahu mantan istrinya akan melahirkan anak pertamanya. Hari ini dia akan menyaksikan sendiri bagaimana anak pertamanya lahir ke dunia ini.
"Kau tidak perlu repot-repot. Biar aku saja yang membawa Vira ke Rumah Sakit, sebaiknya kau urusi saja istrimu itu di sana!" titahnya, menyuruh Dika untuk pedulikan Sindy. Vicky lekas ingin menutup pintu mobilnya. Namun segera di tahan oleh Dika.
"Tidak, siapa kau memerintahku. Vira sedang hamil anakku. Jadi dia tetap tanggungjawabku, dan aku berhak mengurusinya!" tukasnya. "Vira ayo pindah ke mobilku, aku akan bawa kamu ke Mama. Biar Mama yang akan membantu persalinanmu." ajak Dika mengangguk tersenyum, sembari mengulur tangannya pada Vira.
Vira hanya bergeming, mengerutkan dahinya dalam melihat tangan Dika di depannya. Dika pun mengangguk lagi meyakinkan mantan istrinya, bahwa dengan bantuan Mamanya semua akan berjalan lancar. Namun ternyata, Vira menggelengkan kepalanya pelan menolak tawaran itu.
"Tidak Mas. Terimakasih banyak, tapi biar Vicky saja yang antar aku." sahutnya. Dika menatap sendu, hatinya mencelos nyeri. "Ayo Vicky kita pergi..." titahnya pelan pada Vicky. Vira pun lekas memalingkan wajahnya tak ingin melihat raut kecewa dan sedih dari wajah mantan suaminya tersebut karena sudah dia tolak ajakannya.
__ADS_1
Vicky menyungging senyum puas, memandang remeh Dika. Lalu menutup pintu mobilnya rapat.
"Vira, Vira... Kamu jangan egois begini! Aku juga berhak melihat anak kita!" sahutnya, seraya mengetuk kaca jendela mobil Vicky.
"Sudahlah! Apa kau tidak dengar perkataannya?! Dia hanya ingin aku yang antar!" tegas Vicky mendorong bahu Dika agar tak menghalangi mereka lagi.
Vicky pun bergegas masuk ke dalam mobil setelah belanjaan Vira di taruh di bagasinya. Dia melajukan kendaraannya cepat menuju Rumah Sakit terdekat.
Dika yang melihat kepergian mereka. Tak pikir panjang, dia pun ikut pergi menyusulnya.
"Mas! Mas Dika, kamu mau pergi kemana? Apa kau lupa tujuan kita kemari?! Aku lapar dan belum makan siang?!" sentak Sindy, berjalan cepat menghampiri Dika yang ingin menaiki mobilnya.
"Mas apa kau tidak mendengarku?" pekiknya lagi, jengkel.
"Kalau kau lapar, pergilah makan sendiri Sindy, bukankah kau sudah dewasa? Tak perlu terus aku temani. Saat ini dalam keadaan genting. Aku akan menyusul Vira ke Rumah Sakit." tukasnya, dia pun cepat masuk ke dalam mobil dan menutup kasar pintunya. Meninggalkan lagi Sindy di sana seorang diri.
Sindy menyentak kasar nafasnya, tak percaya jika suaminya akan melakukan hal setega itu padanya. Hatinya memanas marah dan cemburu. Jelas dia tak terima dengan perlakuan Dika kepadanya.
"Awas saja ya, Mas. Kalau kau berniat ingin kembali mendekati mantan istrimu itu! Ku pastikan kau akan menyesal telah menyakitiku!" gumamnya geram, seraya mengepal kencang-kencang kedua tangan di sisi tubuhnya.
Bersambung
__ADS_1
...****...