
...BAB 79...
...Kehilangan Penglihatan...
"Apa katamu?! Benarkah yang kau katakan?!" Vicky membelalak terkejut. Lantas tangannya berpegangan di atas sofa, setelah mendengar kabar buruk dari asistennya di seberang telepon. Seolah tungkai lututnya melemas dan tak sanggup menahan tubuhnya yang nyaris ambruk.
Vira yang mendengar suara panik suaminya di kamar, lekas mendekat dan bertanya. "Ada apa Mas?"
"Sayang, maaf aku harus segera ke Rumah Sakit!" cemasnya.
"Memangnya siapa yang sakit Mas?"
"Sindy, dia-dia kecelakaan mobil. Sekarang dia sudah ada di Rumah Sakit dan harus segera di operasi, sekarang Dokter sedang menunggu keluarganya untuk menandatangani surat persetujuan operasi." gagapnya.
Sontak Vira pun ikut tercengang mendengarnya, membekap mulutnya sendiri.
"Ya Tuhan, Sindy... Lalu, lalu Mas Dika kemana dia?" tanyanya ikut panik.
"Itulah yang jadi pertanyaanku. Kemana lelaki brengsek itu? Kenapa dia tidak ada di saat Istrinya tengah merenggang nyawa." pekik Vicky. Kedua tangannya terkepal kencang, sangat geram.
"Ya sudah, ayo Mas kita pergi kesana. Aqilla biar Irfan saja yang menjaganya nanti."
Vicky pun mengangguk setuju, lalu mereka bersiap-siap pergi setelah Vira menitipkan Aqilla pada Irfan. Di dalam perjalanan menuju Rumah Sakit. Vira mencoba untuk menghubungi nomer Dika, walau tadi memang sudah di beritahukan Adam kalau nomer Dika sedang tidak aktif.
"Ya Tuhan, kemana kamu Mas Dika?! Kenapa nomernya malah tidak aktif sih?!" cemasnya sambil memijat keningnya yang terasa sakit.
"Kalau ketemu, akan ku hajar dia! Aku tak habis pikir, lelaki macam apa yang tak khawatir istrinya belum pulang hingga larut malam begini? Harusnya dia bertanya-tanya dan pergi mencarinya!" sungutnya mengumpati Dika dengan penuh emosi.
Selang beberapa waktu kemudian Vicky dan Vira sudah sampai di Rumah Sakit, dan kedatangannya sudah di tunggu oleh Adam dan juga beberapa Dokter di sana. Tanpa menunggu Dika, Vicky langsung menandatangani surat persetujuan operasi Sindy atas nama Kakaknya.
Beberapa tim medis pun lekas mengambil tindakan, dan segera membawa Sindy ke ruang operasi.
****
Sementara di Apartemen, Dika seperti sulit tidur, perasaan tak enak tiba-tiba saja muncul mengganggunya.
Usai mandi tadi, dia memang melihat beberapa panggilan nomer Sindy. Tetapi Dika tak peduli dan malah mematikan ponselnya lalu memilih untuk tidur.
Namun semakin dia memenjamkan matanya, semakin dia sulit untuk tidur. Dika melihat jam di dinding kamarnya, waktu malam pun semakin larut, tapi tak ada tanda-tanda pun Sindy pulang ke Apartemen.
"Kemana dia? Hah, aneh sekali jam segini masih saja keluyuran di luar..." beciknya mulai kesal, tapi hati kecilnya berkata lain. Seolah Dika memang mencemaskannya.
"Ah sudahlah apa peduliku terhadapnya, mau pulang kek atau nggak. Itu urusannya, dan keputusanku sudah bulat untuk menceraikannya nanti!" Dika memiringkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan bantal, kembali acuh untuk tak memikirkan lagi Sindy.
Beberapa menit kemudian samar Dika mendengar suara pintu di ketuk kencang dari luar. Dika terkesiap bangun, lalu mengernyitkan keningnya, terheran. Lalu Dika pun tersenyum sinis setelahnya.
__ADS_1
"Huh, aku tahu kau pasti akan pulang Sindy. Tapi... kenapa dia tak langsung masuk saja ke dalam? Bukankah dia punya access cardnya sendiri?." gumamnya terheran.
Pintu masih di ketuk dan malah semakin kencang terdengar. Tentu Dika jadi terganggu karnanya, dan terpaksa dia beranjak dan pergi untuk membukanya.
"Masss.... Mas Dikaa!! Apa kau di dalam?" teriak seorang wanita memanggilnya dari luar, Dika sontak menghentikan langkahnya terkejut. Jelas dia begitu sangat familiar dengan suara wanita itu.
"Vira?!" gumamnya pelan, lantas bibirnya menyungging senyum, dalam hatinya tiba-tiba senang, Dika mengira Vira datang untuk menemuinya. Tapi ada hal apa Vira datang ke apartemennya di tengah malam-malam begini?
"Mass..." teriaknya lagi. Dika yang masih bertanya-tanya dalam pikirannya, lantas segera membuka pintunya. Dahinya mengernyit heran, saat melihat kedatangan Vira dan juga Adam yang sudah berdiri di belakang mantan istrinya.
"Vira, ada apa kamu kemari?" tanyanya.
"Kemana saja kamu ini? Kenapa ponselnya tidak aktif, hah! Istrimu kecelakaan tapi kau masih saja sempat-sempatnya tidur di kamarmu?" pekiknya memaki.
Mendengar makian Vira, Dika tercengang kaget. "A-apa Sindy kecelakaan?!" gagapnya.
"Sudah tidak ada waktu lagi untuk bertanya, sekarang Sindy sedang dalam masa kritis! Cepat pergi ke Rumah Sakit, kalau kau masih mencintainya!" sentaknya, berapi-api penuh emosi.
Vira sangat kecewa melihat sikap Dika yang plin-plan sekarang. Dulu dia begitu sangat mencintai Sindy, memujanya dan takut kehilangannya sehingga dia memilih untuk segera menikahi Sindy dan berpisah darinya. Tetapi sekarang lelaki itu seolah tak peduli lagi dengan cinta yang dulu di kejar-kejarnya.
Setelah menyampaikannya, Vira dan Adam bergegas kembali ke Rumah Sakit, meninggalkan Dika yang masih berdiri mematung di depan pintu apartemennya sendiri. Tubuhnya tiba-tiba melorot terjatuh ke lantai, seluruh tubuhnya berguncang seolah terkena aliran listrik dengan tegangan tinggi, Dika masih belum percaya dengan berita kecelakaan yang menimpa istrinya tersebut. Dika yang memang masih belum memaafkan Sindy, tapi kenapa hatinya tiba-tiba saja ikut merasakan sakit setelah tahu jika Sindy kecelakaan. Dika pun menatap nanar pada koper milik Sindy yang sudah dia kemasi di sisi pintunya.
"Si-Sindy..." ucapnya terbata-bata. Maniknya memanas perih, dan mulai menganak sungai menutupi sebagian penglihatannya.
"Ba-bagaimana keadaannya?" gagapnya mulai cemas.
Vicky yang sudah melihat kedatangan Dika, bukannya menjawab pertanyaannya, tapi ia malah menyambutnya dengan sekali bogeman keras ke pipi Dika.
Buughh
Aaahhhkk
Dika pun tersungkur jatuh ke belakang. Vira membulatkan matanya, membekap mulutnya yang menjerit.
"Mas Vicky, sudah-sudah hentikan Mas! Ini di Rumah Sakit!" Vira lekas menahan pinggang Vicky untuk tak lagi memukul Dika. Begitupun dengan Adam di sana turut menahan Bosnya agar tak mudah tersulut emosi.
"Dasar lelaki tak berguna. Suami macam apa kau ini, hah!! Adikku kecelakaan dan kau tak ada di sampingnya! Jika sampai terjadi apa-apa dengan adikku! Ku pastikan kau akan lebih menderita daripada dia!" makinya, penuh dengan emosi yang meluap-luap.
Dika meringis kesakitan di area sudut bibirnya yang sudah berdarah. Kepalanya menggeleng-geleng ikut menyesalinya. Dia pun baru tahu jika ternyata yang meneleponnya tadi adalah pihak rumah sakit dengan memakai nomor telepon Sindy.
Tak lama operasi pun selesai di lakukan beberapa Dokter pun keluar dari ruangan operasi. Sontak mereka bertiga menghampiri Dokter dan bertanya.
"Bagaimana dengan keadaan adik saya Dokter?"
"Syukurlah keadaannya tidak terlalu parah dan untungnya masih dapat tertolong. Hanya saja kami harus tetap memantaunya, karena pasien mengalami cedera di bagian otak tengahnya..."
__ADS_1
"A-apa cedera Dokter?" Dika tergagap rasa panik kian menjadi. Dokter itu mengangguk ikut mencemaskan pasiennya.
"Iya mungkin saat ini, pasien belum bisa di ajak bicara dulu karena masih kehilangan kesadarannya untuk beberapa jam lamanya. Jadi saya mohon untuk Bapak dan Ibu lebih bersabar dan banyak-banyak berdoa semoga tak terjadi apa-apa dengan pasien."
"Ya Allah, semoga Sindy baik-baik saja..." ucap Vira ikut cemas dan prihatin mendengarnya.
Setelah Dokter itu pamit pergi, Vira menoleh pada Dika yang masih gusar dengan mengusap kasar wajahnya lalu menyenderkan kepalanya di dinding Rumah Sakit. Vira pun berjalan pelan ke arahnya.
"Mas, apa Mas Dika sudah beritahu Mama dan juga Papa soal Sindy kecelakaan?" tanyanya.
Dika menggeleng lemah, karena panik buru-buru ke Rumah Sakit dia jadi tak sempat untuk memberitahukannya pada kedua orangtuanya. "Belum, maaf aku tidak sempat Vira..,"
"Baiklah, kalau begitu biar aku yang kabari mereka. Mas fokus kabari saja mertuanya Mas di Semarang, agar mereka segera datang ke Jakarta.." titah Vira yang lekas di angguki oleh Dika.
"Iya baiklah.. Terimakasih sekali lagi Vira.." ucapnya, Vira hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
****
Lima jam kemudian, akhirnya Sindy pun telah sadar dari komanya. Dika yang masih duduk menunggu di sampingnya tidur, melihat ada pergerakan di tubuh Sindy. Gegas ia menekan tombol untuk memanggil perawat untuk segera datang ke kamar istrinya.
"Sindy, syukurlah akhirnya kamu sudah sadar..." ucapnya menghela nafasnya lega.
Sindy perlahan-lahan membuka matanya, namun penglihatannya tiba-tiba menggelap dan tak ada satupun cahaya di sekitarnya.
"Dimana aku?" rintihnya lirih, sambil menyentuh dahinya yang terasa sangat sakit. Kepalanya di balut oleh perban putih dengan bekas darah di bagian sisi dahinya.
"Kamu ada di Rumah Sakit. Kamu habis kecelakaan..." jawab Dika pelan, entah kenapa ia jadi tak tega melihat istrinya berbaring lemah di atas brangkar.
"Mas Dika, apa itu kamu Mas?" Sindy menoleh kanan kirinya terkejut cukup panik, ada rasa senang dalam hatinya karena dia mendengar suara suaminya, namun tak dia temukan sosok Dika di dekatnya. Sindy hanya mendengar jelas suaranya saja.
Sontak Dika mendongak terkejut. Ada yang aneh dengan penglihatan Sindy. Dika pun mengangkat tangannya dan mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah istrinya.
"Mas... Kamu ada dimana sih?" tanyanya, perlahan Sindy duduk dari tidurnya. "Kenapa ruangannya gelap sekali?" lirihnya yang mulai ketakutan.
"Si-Sindy apa kau tidak bisa melihatku?" sahutnya, seraya menelan kasar ludahnya kembali panik.
Sindy menggeleng-geleng dengan raut ketakutan. "Enggak Mas... Kamu di mana?" sahutnya sambil mengulurkan tangannya ke depan. Dika pun perlahan meraih tangan itu.
"Mas ada di sini. Sayang... Mas di sampingmu..."
"Mas, Mas Dika ada apa denganku? Kenapa, kenapa aku tidak bisa melihatmu? Kenapa semuanya jadi gelap Masss!!" teriaknya menjerit histeris. "Masss.. Kenapa aku tidak bisa melihat?!!" menutup telinganya sambil menangis.
Bersambung....
...****...
__ADS_1