Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Harapan Yang Pupus


__ADS_3

...BAB 17...


...Harapan Yang Pupus...



Vicky dan Vira masih bergeming di tempat, keduanya berhadapan dan saling menatap nanar. Irfan hanya menghela nafasnya lalu memalingkan wajahnya untuk menyeka air bening di sudut matanya, hatinya ikut terenyuh melihat pertemuan mereka, yang berakhir untuk tidak lagi bersama.


"Sebaiknya Kak Vicky dan juga Mbak Vira, mencari tempat tenang untuk membicarakannya baik-baik..." saran Irfan pada mereka.


Mendengar saran dari Irfan, Vicky dan Vira mengangguk setuju, lalu mencari tempat untuk mengobrol. Kebetulan di seberang mereka memang ada Cafe Outdoor, lalu ketiganya menyebrang jalan menuju cafe tersebut. Keduanya duduk berhadapan. Sementara Irfan memilih duduk sendirian di belakang Vira. Memberi kesempatan mereka berdua untuk bicara dari hati ke hati.


"Jadi, benarkah kamu sudah menikah?" Vicky kembali membuka suaranya setelah lumayan lama mereka terdiam dan tak saling memandang, karena kecanggungan pada diri mereka. Terdengar ada getaran di bibirnya saat ia berkata.


Vira mengangguk pelan sebagai jawaban, terus menundukkan kepalanya, pandangannya hanya fokus pada kedua tangannya yang kini saling bertaut erat di atas pahanya, gugup. Masih dengan perasaan yang tak bisa di jelaskan lewat kata. Harus kesalkah dia, atau rindukah pada Vicky? Vira tak tahu apakah masih ada rasa cinta di hatinya untuk Vicky? yang Vira anggap hubungan mereka sebenarnya sudah selesai sejak lama. Namun tidak bagi Vicky sendiri, yang tak pernah menganggap hubungan itu berakhir.


"Sudah.. Berapa lama?"


"Baru lima bulan ini..." Vira semakin menunduk.


"Apa kau mencintai Pria itu?" tanya Vicky lagi, membuat Vira sontak menatapnya lumayan terkejut.


"Maksudmu, suamiku?" sela Vira mengernyitkan dahinya Vicky mengangguk samar dengan seulas senyuman tipisnya.


"Tentu saja, aku sangat mencintainya... Kalau tidak, tidak mungkin aku mau menikah dengannya bukan?!" timpalnya dengan nada sedikit sinis.


Vira kembali memalingkan wajahnya tak ingin melihat wajah Vicky yang mungkin akan kecewa mendengarnya. Sedang Vicky terus berusaha memperhatikan mimik wajah Vira, mencari-cari kebohongan yang ada di dalam sana. Benarkah jika Vira mencintai Pria lain selain dirinya, yang sekarang Pria itu yang entah siapa orangnya Vicky tak tahu, namun baginya, Pria itu beruntung sekali karena telah menjadikan Vira istrinya. Masih adakah tersimpan cinta untuk dirinya? Vicky kembali bertanya-tanya dalam hatinya yang sudah terluka. Dadanya serasa sesak sekali.

__ADS_1


"Oh, syukurlah jika begitu..." ucap Vicky pelan nyaris tak terdengar. Mengusap cepat air bening di sudut matanya. "Aku turut senang mendengarnya. Semoga kamu selalu bahagia dengan lelaki pilihanmu, Vira." ucapnya tersenyum, dengan tegar Vicky berusaha menerima kenyataan ini. Mungkin Vira memang bukan jodoh yang Tuhan berikan padanya. Kecewa, tentu. Patah hati, sangat pastinya.


"Terimakasih banyak..." ucap Vira, sedikit terhenyak mendengarnya. Seakan dia jadi bersalah karena telah mengecewakan Pria yang begitu tulus seperti Vicky. "Maafkan aku, jika aku sudah mengecewakanmu..." ucapnya lagi yang di angguki Vicky setelahnya.


"Oh ya, kalau begitu mari kita pesan makanan. Karena kita sudah terlanjur di sini. Biar aku traktir kalian berdua makan malam. Anggap saja ini, untuk merayakan pertemuan kita kembali... Semoga kita bisa berkumpul seperti dulu lagi dan tetap menjalin persahabatan..." ujar Vicky. Vira dan Irfan mengangguk tak menolaknya.


Vicky lekas memanggil waiters cafe dan memesan makanan untuk mereka. Irfan yang sedari tadi duduk sendirian sambil memainkan ponselnya, pura-pura tak mendengar perbincangan mereka. Segera pindah dan duduk di antara mereka.


Satu jam berlalu. Setelah mereka selesai makan bersama. Vicky pamit pulang, tadinya dia ingin sekali mengantar pulang Vira dan juga Irfan. Tapi keduanya menolak dan tak ingin merepotkannya lagi. Padahal Vicky tak merasa di repotkan sama sekali. Sebenarnya dalam hatinya, Vicky penasaran ingin sekali melihat dan bertemu dengan suaminya Vira. Mungkin sekedar ingin berkenalan dan menyampaikan sedikit wejangannya. Tapi Vira mengatakan bahwa ini sudah malam. Mungkin lain kali saja mereka di kenalkan.


Vicky pun pergi kembali pulang dengan membawa harapan kosong, merasa diri sia-sia, karena separuh hidupnya telah menghabiskan waktu untuk menunggu Vira seorang. Air matanya terus meleleh tak berhenti. Baru kali ini dia rasakan patah hati yang teramat dalam.


Mobilnya berhenti di sebuah jembatan panjang. Vicky meraih buket bunga mawar yang dia simpan dari tadi, lalu turun dari mobil. Berdiri di sisi jembatan lekas ia melempar jauh-jauh bunga itu ke danau. Buket bunga mawar merah, bunga yang selalu di sukai Vira selama ini mengambang di permukaan danau. Perlaha hanyut terbawa arusnya air yang tertiup hembusan angin malam.


Biarlah, biarlah cinta pergi menjauh seperti bunga itu yang membawanya pergi entah kemana tak tahu arah.


****


Pintu apartemen di bukanya dan masuk. Tak di temukan Dika di dalam. Ternyata suaminya juga belum pulang. Vira mengernyit heran.


"Tumben kon belum pulang?"


Vira menghela nafasnya berat lalu ia berjalan lunglai ke arah dapur, mengambil air minum lalu duduk di kursi dan meminum vitamin penambah darah yang tadi dia beli di apotek.


Setelah meminum vitamin, Vira melangkah ke kamarnya, merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur. Selain lelah fisik, lelah dalam pikirannya juga. Masih terbayang di benaknya, kala wajah kecewa Vicky karenanya. Wajah tampannya masih tetap sama, hanya saja penampilannya lebih wibawa dan berkharismatik. Tutur katanya pun lebih kalem, tak seperti dulu yang gampang sekali emosi. Jujur Vira merasa terkagum dengan perubahannya sekarang. Dalam hati kecilnya Vira berdoa, semoga Vicky bahagia dan mendapatkan pengganti yang lebih dari dirinya.


*****

__ADS_1


Sementara itu, Vicky yang baru saja sampai rumahnya. Dia melirik terheran pada mobil Dika yang terparkir di pelataran rumahnya. Dahinya berkerut dalam.


"Ck, ngapain Sindy bawa-bawa lelaki itu masuk rumah tanpa ijinku! Aku ijinkan mereka bersama tapi bukan berarti aku mau dia mampir ke rumahku!" gerutunya, sangat kesal karena Sindy berani mengajak Dika masuk ke dalam rumahnya tanpa memberitahukannya lebih dulu. Vicky paling tak suka, jika ada orang yang belum dia kenal dekat, datang dan bertamu ke rumahnya. Khawatir, dan memang belum percaya seratus persen pada orang tersebut.


Vicky turun dari mobil, bergegas masuk ke rumah mewahnya. Pintunya di buka oleh pelayan dari dalam.


"Dimana Sindy?" tanyanya gusar.


"Em, Nona Sindy dia ada di dalam kamarnya Tuan.." gelagap pelayan wanita yang berusia sekitar dua puluh tahunan.


"Dengan siapa?"


"Katanya pacarnya Tuan-"


"Dan kau mengijinkan lelaki itu masuk ke dalam rumahku?" bentaknya, matanya memerah marah.


"Ma-maaf Tuan! Saya tak berani. Soalnya Nona Sindy bilang sih sudah minta ijin sama Tuan..." pelayan itu menunduk sangat ketakutan.


Vicky menghembus kasar nafasnya ke udara, kesal. Wajahnya memerah padam. Dia pun bergegas naik ke lantai dua, dimana letak kamar Sindy berada. "Beraninya anak itu berbohong!"


Braaak


Tanpa pikir panjang, Vicky membuka pintu kamar sepupunya dengan kasar.


"SINDY!!!" sentaknya kencang, yang membuat kedua pasangan itu terkejut. Terlebih mereka sedang melakukan ciuman panas di tepi kasur hingga bahu putih Sindy terekspos jelas.


Walaupun mereka masih berpakaian lengkap namun tetap saja Vicky tak menyukainya. Apalagi yang di lakukan Sindy adalah hal yang memalukan, membiarkan lelaki yang belum sah menjadi suaminya di dalam kamarnya. Jelas itu salah dan pelanggaran, membuat emosi Vicky memuncak.

__ADS_1


Bersambung....


...****...


__ADS_2