Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Kelegaan Di Hati Sang Adik


__ADS_3

...BAB 63...


...Kelegaan Di Hati Sang Adik...


"Tante, kenapa bisa begini? Kata Tante rencana ini akan berhasil tapi kenapa Tante malah di penjara?!" Riska memberondong pertanyaan yang bertubi dengan suara pelan dan panik pada Sophia di seberang pembatas kaca besar antara penjenguk dan seorang tahanan. Mereka berbicara lewat telepon genggam namun bisa saling melihat satu sama lainnya.


Pagi itu Riska di kabarkan oleh salah satu anak buah Sophia dan Bagas. Jika mereka berdua kini di tahan polisi. Riska pun lekas meluncur ke Rutan dan menemui Sophia.


Sophia sangat gusar, dadanya kembang kempis menahan amarah yang masih bergejolak dalam hatinya. Ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa kini dirinya telah mendekam di dalam jeruji besi. Bahkan dia juga sudah di kabarkan jika Bagas, suaminya pun ikut di tahan menyusulnya. Kedua tangannya terkepal kencang di atas meja, hingga kulit-kulitnya memutih pias.


"Kamu harus bisa mengeluarkan Tante dari sini Riska!" titahnya geram. Riska mengerutkan dahinya.


"Ta-tapi bagaimana caranya Tante? Aku takut, kalau nanti aku juga di penjara karena terbawa-bawa dalam masalah ini..." cemasnya berbisik.


"Aku tidak peduli dengan cara apa pun, mau menyogok para polisi itu kek atau apa kek?! Itu terserah padamu. Yang penting kau bisa membuat Tentemu ini keluar dari tempat neraka ini, Riskaaa!! Tante mohon padamu... Jangan biarkan Tante tinggal di sini. Tante juga belum puas menghancurkan wanita kampungan itu. Kau harus bisa membalaskan dendam Tante. Rebut kembali Vicky darinya..." pintanya lagi dengan penuh tekanan dan permohonan. Wajahnya memerah padam menahan emosi karena keinginannya pun belum sempat tercapai, namun dia selalu saja kalah telak melawan anak tirinya yang keras dan juga tak punya hati itu.


Riska menghembus kasar nafasnya dan menggeleng-geleng kepala. Dia pun kesulitan berpikir bagaimana cara agar Sophia dan Bagas bisa terlepas dari tahanan. Bibirnya menggigit ujung jari-jarinya, gelisah.


"Maaf Nona, waktu anda menjenguk sudah selesai.." tiba-tiba saja seorang penjaga sel, menghampiri Riska. Riska menoleh padanya kembali gugup.


"Ah em i-iya Pak..." gelagapnya. Sebelum Riska berdiri dan menutup sambungan telepon mereka. Dia kembali melirik Sophia.


"Riska aku mohon padamu, kau harus bisa balaskan dendam Tante!" pintanya lagi dengan wajah memelas, pada Riska.


Riska hanya mengangguk tanpa bisa janji. Lalu ia pamit pergi pada Sophia dan menutup teleponnya. Dia pun gegas keluar, berjalan cepat menaiki mobilnya yang terparkir di luar dan tanpa dia sadari jika anak buah Vicky saat itu telah mengawasi gerak-geriknya dari jauh.


****


Siang itu mereka bersiap pergi meninggalkan kontrakan dan pamit pada Irfan.


"Jaga dirimu baik-baik ya Mbak." ucap Irfan pada Vira, yang di angguki segera oleh Vira.


"Iya kamu juga Fan... Cepat-cepat kamu cari orang untuk bisa bantu kamu di Toko..." saran Vira karena setelah Vira pergi dia tak bisa lagi membantu adiknya berwirausaha.


Setelah dua Kakak beradik itu berpelukan. Vira lekas menaiki mobil suaminya di samping kemudi. Sedang Bi Inah duduk di belakang bersama Aqilla yang tertidur di kereta bayi.


"Kak Vicky. Tolong jaga mereka baik-baik, aku titip mereka padamu Kak..." pesan Irfan lagi yang kini memeluk Kakak iparnya.


"Iya, kamu tidak perlu khawatirkan itu Irfan, kamu fokus saja dengan usahamu di sini." ucap Vicky yang langsung menepuk-nepuk punggung dan juga bahu pemuda itu.


"Iya Kak terimakasih banyak sudah menjadi suami yang baik serta perhatian untuk Mbak Vira dan juga Ayah untuk Aqilla..." ucapnya lagi terharu. Vicky kembali tersenyum.

__ADS_1


"Sama-sama..." ucapnya.


Mereka pun berangkat ke Mansion, yang menghabiskan waktu nyaris 2 jam perjalanan.


Dari jauh Irfan memandang dengan tatapan sendu mobil mereka.


"Aku pasti akan merindukan mereka..." lirihnya.


Kini Irfan tinggal di kontrakan sendirian. Walaupun begitu hatinya kini merasakan kelegaan, sebab akhirnya Kakak perempuan satu-satunya bisa hidup tenang dan bahagia bersama Vicky, setelah ia terlepas dari Dika juga Sophia yang kini sudah di penjarakan.


Irfan pun bergegas menutup dan mengunci rumahnya. Dia menaiki motornya untuk ke pasar siang hari itu. Membeli bahan-bahan kebutuhannya untuk membuat roti jualannya.


Tak lebih dua puluh menit, Irfan telah sampai di toko tempat biasa yang selalu dia dan kakaknya datangi, dia lekas mengambil tepung, mentega dan bahan-bahan berkualitas lainnya masuk ke keranjang belanjaannya.


Ketika di kasir Irfan mengeluarkan semua bahan-bahan yang di ambilnya ke meja kasir untuk di hitung berapa jumlah total belanjaannya. Namun, bersamaan itu pula ada hal yang tak di duga, seorang perempuan muda tengah di interupsi oleh seorang mbak kasir di sampingnya.


"Bagaimana mbak? Jadi di beli apa nggak?" tanyanya. "Kalau nggak jadi, barang-barang ini saya kembalikan lagi ke tempatnya."


"Aduh mbak jangan dong..." lirihnya memohon dengan raut kecewa.


"Ya kalau uangnya kurang terpaksa belanjaan yang mbak beli juga harus saya kurangi." katanya lagi.


"Jangan mbak, jangan! Saya butuh banget bahan-bahan itu semua." rengeknya.


Wajah perempuan muda dan cantik itu tampak bingung, masalahnya bukan dia tak ingin membayarnya. Tapi kosantnya lumayan sangat jauh dari toko itu. Sedang uang yang di bawanya pun tidak cukup untuk membayar semua, dia harus menyisihkan sebagian uang untuk ongkosnya naik ojeg.


"Yah, mbak... Jangan gitu dong..." sahutnya memelas. "Pleasee saya mohon mbak jangan di ambil dulu. Aku butuh bahan-bahan itu untuk di buat malam ini juga..." pintanya sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada, maniknya berkaca-kaca memohon agar mbak kasir itu berbelas kasih padanya.


Mbak kasir itu hanya menggeleng kepala, tetapi dia tetap dengan pendiriannya mengurangi belanjaan perempuan muda, yang berkisar 19 tahunan itu.


Irfan yang sedari tadi memperhatikannya sedikit iba. Setelah dia membayar bayarannya dia pun menghampiri dan bertanya.


"Maaf ada apa ya, mbak?" tanyanya hati-hati. Mbak kasir itu menoleh pada Irfan.


"Ini Mas, uang mbaknya kurang. Tapi dia maksa buat beli ini semua..." terangnya.


"Berapa memang kekurangannya?" tanya Irfan lagi.


"Semuanya hanya 135 ribu Mas..." terangnya.


Irfan menghela nafas pelan lalu mengangguk, dan tanpa di minta dia merogoh sisa uang di dompetnya. "Ini mbak..." Irfan memberikan uang selembar berwarna merah dan biru pada kasir tersebut guna membayar kekurangannya.

__ADS_1


Perempuan itu tercengang melihatnya. "Maaf Mas, beneran nih mau-mau bayarin belanjaan saya..." gelagapnya, mulutnya menganga tak percaya akan ada orang yang membantunya. Irfan hanya mengangguk mengulas senyum padanya.


Wajah perempuan itu berbinar haru, lalu ia meraih tangan Irfan dan menyentuhkan keningnya di punggung tangan Irfan. Irfan pun tersohok melihat tingkahnya yang lugu.


"Makasih banyak ya Mas, terimakasih..." ucapnya berkali-kali, sangking senangnya.


Setelah mbak kasir memberikan uang kembaliannya, Irfan pamit pada perempuan itu dan keluar mendekati motornya yang terpakir. Mengaitkan belanjaannya di sisi motor, belum sempat ia pergi setelah menyalakan mesin motornya, namun perempuan tadi memanggilnya.


"Mass!!" teriaknya.


Irfan menoleh padanya, heran. "Ya? Ada apa lagi?"


Perempuan itu agak ragu untuk meminta bantuan lagi pada Irfan. Tapi dia benar-benar membutuhkan pertolongan Irfan. Pelan-pelan dia melangkahkan kakinya mendekati Irfan di sana. "E, em... anu saya boleh minta tolong lagi nggak?" jawabnya dengan perasaan tak enak dan segan. Irfan mengerutkan dahinya. Cukup lama berpikir.


"Ya, boleh..." jawabnya. Perempuan itu kembali tersenyum senang. Sehingga tampaklah gigi putihnya berjejer rapi. Menambah kecantikan di sana.


****


Terik matahari menyinari pepohonan rimbun, selama di perjalanan ke Mansion. Bibir merah merekah Vira tak berhenti menyunggingkan senyumnya. Aura cantik di wajahnya seketika terpancar, membuat jantung Pria di sampingnya tak berhenti berdebar.


"Kamu senang sayang?" tanya Vicky setelah melirik istrinya yang sedang mengamati jalan, di sampingnya duduk.


"Iya..." angguknya.


Mobil pun berhenti, dan mereka telah sampai. Sebelum turum Vicky menoleh ke belakang kemudi. Tampak Bi Ina dan Aqilla sudah terlelap tidur. Lalu ia memalingkan lagi pandangannya pada Vira yang sedang membuka sealtbeatnya.


"Sini biar aku yang buka..." Vicky membantu istrinya membuka sabuk pengaman itu.


"Terimakasih..." ucap Vira menatap sang suami yang selalu saja perhatian. Mereka pun bersitatap lama, Vicky yang terkesima.dengam kecantikan Vira yang tak pernah pudar. Tangannya terangkat meraih dagu lincip Vira, dan mencium lembut bibirnya.


Sontak Vira terkejut lekas menghindarinya. "Mas.. di belakang ada Bik_!" bisiknya dengan suara terpekik.


"Ssstttt..." Kelopak manik Vicky berkedip sembari membungkam bibir ranum Vira dengan jarinya. Vira pun melirik ke belakang kemudinya, ternyata di sana Bi Ina sedang tertidur pulas. Sontak, Vira pun mengulum senyumnya dengan pipi yang sudah memerah.


"I lovee you so much..." bisik Vicky pelan di telinganya.


"I love you too..." balas Vira.


Mereka pun kembali menatap dengan jarak yang sangat dekat. Khawatir ARTnya terbangun, dengan cepat Vicky mencumbu bibir istrinya lembut dan singkat.


"Ayo turun, kita lanjutkan lagi di kamar..." titahnya. Lantas Vira tergelak senyum dan mengangguk.

__ADS_1


Bersambung...


...****...


__ADS_2