Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Tidak Adanya Ketenangan


__ADS_3

...BAB 69...


...Tidak Adanya Ketenangan...


"Kembalikan apa sih Mas?" Sindy berpura-pura heran.


"Aku bilang kembalikan kotak perhiasan yang telah kau ambil dari lemariku!" bentaknya lagi kasar.


Dika tak berhenti menatap tajam manik istrinya yang terlihat gugup saat di tanyainya seperti itu, baru kali itulah Dika begitu sangat marah kepadanya. Biasanya dia akan marah hanya sekedarnya saja, dan tak lagi memperpanjangnya.


"Apa sih Mas? Aku baru saja pulang, kau langsung bentaki aku kayak gitu? Bukannya tanya baik-baik dulu, kek!" kilahnya kesal, melepas kasar tangannya yang di kepal kencang oleh Dika.


"Jangan mengalihkan pembicaraanku Sindy, aku bertanya serius padamu! Kemanakan kotak perhiasan yang aku simpan di lemari gantungan? Kau tak pernah sekalipun membuka-buka lemariku, bahkan membereskannya pun kau tak pernah! Aku yakin kamu diam-diam sudah mengambilnya tanpa sepengetahuanku, iya 'kan?!" tuduhnya yakin. "Cepat keluarkan semua perhiasanku dan berikan lagi itu padaku!!" titahnya lagi membentak, sambil berkacak pinggang di depannya. Mencoba menahan lagi amarahnya yang sudah meluap-luap di dadanya.


Sindy tampak kikuk, dan memalingkan wajahnya yang terus saja di pelototi oleh Dika.


Karena Sindy hanya diam saja, Dika yang tak sabar lekas merampas kasar tas selempang Sindy yang menggantung di bahunya yang putih, membuka lalu menghamburkan semua isi tas itu ke lantai.


Dika tak bisa lagi menahan amarahnya, jika memang benar Sindy yang telah mengambilnya. Dia tak akan pernah sekalipun memaafkan Sindy, walaupun Sindy bertekuk lutut di bawah kakinya. Jelas saja ia akan marah, karena selama itu perhiasan yang selalu dia simpan baik-baik, hanya untuk Aqilla, putrinya kelak setelah dewasa.


Dika melebarkan maniknya dan berjongkok setelah mengobrak-abrik barang istrinya di lantai, hanya ada handphone, dompet, lipstik dan bedak Sindy di dalam tas itu dan tak ada lagi yang lain.


"Apa sih, Mas? Jangan mengada-ngada deh... Di tas ku mana ada perhiasanmu..." kilahnya lagi, seraya menghela nafasnya jengkel, menatap jengah suaminya yang masih emosi.


Dika kembali berdiri setelah melempar kasar tas milik Sindy ke sembarang arah, lalu kini tangannya mencengkram kedua bahu Sindy dengan kencang. "Kemana, kemana kau sembunyikan perhiasan itu?" tanyanya lagi. "Jangan pernah bilang kalau kau sudah menjualnya, Sindy?!" tunjuknya di depan muka Sindy. "Kalau sampai itu kau lakukan maka aku bersumpah tidak akan pernah memaafkanmu, tidak akan pernah!!" geramnya, mengancam.


Sindy menelan kasar salivanya, mendadak dahinya jadi berkeringat. Wajahnya memucat, entah kenapa ucapan Dika kali itu membuatnya jadi takut. Namun ketakutan itu segera ia hilangkan dari pikirannya, lalu tangannya mendorong kasar suaminya, memberontak.


"Kenapa sih Mas, kau begitu sangat peduli dengan perhiasan mantan istrimu? Bukankah itu sudah tak terpakai lagi. Buat apa juga kau masih menyimpannya? Daripada kau yang menyimpannya, lebih baik perhiasan itu kau berikan padaku, itu malah pahala untukmu sudah menyenangkan aku!" terang Sindy seolah tak salah dan berhak untuk mengambilnya. "Apa jangan-jangan kau ingin memberikannya lagi padanya?! Ingat Mas, sadar!! Kau sudah bukan lagi suaminya. Dan dia juga sudah jadi istrinya Kak Vicky!!"


"Diaam!! Jadi benar kau sudah menjualnya?!" bentak Dika lagi, mendesak Sindy agar berbicara jujur padanya.

__ADS_1


Sindy hanya menatap sinis tak peduli akan kemarahan suaminya lagi. Tangannya melipat di dadanya, tak acuh.


"Memangnya kenapa kalau itu iya?!" ujarnya tersenyum miring.


Plaaakk


Dika spontan menampar keras pipi mulusnya Sindy. Wajah cantiknya sangat shock sekali saat menerimanya. Karena baru kali itu juga Dika berani menamparnya, setelah dua tahun pernikahan mereka tak pernah sekalipun Dika berbuat kasar padanya. Sindy perlahan mengangkat tangannya, mengusap pipi kirinya yang masih panas dan perih.


"Kau, kau menamparku Mas?!" ucapnya bergetar, tak percaya. Tenggorokannya tercekat, bersamaan buliran air mata yang menetes-netes keluar.


Dika memburu nafasnya yang kini tersengal-sengal. Kepalanya menggeleng-geleng cepat. Kali itu dia tak bisa memaafkan kelakuan Sindy, mesti dia istrinya sendiri, tapi dia tak berhak menyentuh apalagi mengambil barang berharganya.


"Kenapa kau menjualnya Sindy? perhiasan itu milik Vira dan sengaja aku simpan untuk masa depan putriku. Kau tahu, selama lima bulan pernikahanku dengan Vira dulu, tapi tak pernah sepeserpun dia memakai uangku untuk keperluannya sendiri. Semua uang yang kuberikan padanya hanya untuk keperluan makan dan rumah tangga kami. Aku sengaja membeli dan menyimpan perhiasan itu, untuk ku gantikan nafkah yang pernah ku berikan padanya dulu... Ku akui, aku salut padanya karena dia sama sekali tak pernah boros sepertimu!" tunjuknya dengan emosi yang sudah meledak-ledak. "Di bandingkan menikah denganmu sekarang bahkan aku sudah tak lagi punya tabungan, uangku selalu saja habis tak tersisa..." lirihnya, tertunduk lemah menahan sesak di dadanya. Sindy masih bergeming menelan kasar salivanya, hatinya seakan diiris sembilu mendengar pengakuan Dika yang bangga telah memuji mantan istrinya.


"Sekarang mana uang yang kau dapatkan dari hasil menjual perhiasan itu?" refleksnya menengadahkan tangan ke arahnya.


"Em, em uangnya sudah aku simpan di rekeningku Mas.." gagapnya tertunduk, maniknya begitu panas masih enggan menatap Dika. Dika pun lekas mengambil kartu ATM di dompet Sindy. Sindy terperangah dan hendak merebutnya lagi.


Sindy mengusap kasar wajahnya setelah kepergian suaminya. Semakin gelisah, berjalan mondar-mandir sendirian di ruang tamu sambil menggigit ujung-ujung jarinya.


"Bagaimana ini? Mas Dika pasti tak akan memaafkanku kalau sampai tahu, sebagian uangnya telah ku berikan pada Mama.." lirihnya semakin panik. "Aah, selama ini dia juga tidak tahu... Uangnya selalu aku pakai untuk membiayai orangtuaku....Maafkan aku Mas, aku benar-benar butuh uang..."


Dika berdecak kesal saat tahu di rekeningnya Sindy hanya ada uang 25 juta rupiah saja. Sementara dia tahu harga emas-emas itu melebihi itu.


"Hah, brengsek! Kau memang sudah keterlaluan Sindy!!" pekiknya, memukul kencang setir mobilnya lalu mengusap rahangnya yang sudah mengeras.


Dika pun kini pergi yang entah kemana, setelah mengosongkan uang di rekening istrinya, yang dia butuhkan sekarang hanyalah tempat untuk menenangkan hatinya yang sudah terlanjur kecewa dengan ulah Sindy, jika begini terus kehidupannya lama-lama akan jatuh.


Setelah sampai di bar, Dika turun dan melangkahkan kakinya masuk ke tempat haram itu. Memesan minuman yang sudah lama tak mencicipinya lagi setelah di larang oleh Vira semenjak dia masih jadi suaminya.


Saat itu Dika mabuk-mabukkan karena ulah sahabatnya sendiri, mengerjai Dika karena telah berhasil naik jabatan di kantor mereka.

__ADS_1


"Mas Dika!!" Vira sangat marah dan terkejut, ketika Dika pulang dalam keadaan mabuk berat, yang setengah sadar di antar oleh teman-temannya. "Apa yang sudah kamu lakukan?! Berhentilah minum atau aku tak akan lagi mau di sentuh olehmu!" ancamnya.


Entah kenapa Dika sangat takut dengan ancaman Vira waktu itu dan akhirnya dia menuruti semua perintahnya.


Dika kembali meneguk minumannya hingga tandas. Kepalanya mulai berputar-putar dan pusing, sesekali dia pun tertawa sendiri meratapi nasib rumah tangganya yang semakin hari semakin kacau saja. Seperti tak ada ketenangan di dalamnya. Sangat berbeda jauh saat pernikahannya dulu dengan Vira. Apakah ini akibatnya? Pernikahan yang tak pernah di restui oleh kedua orangtuanya. Juga akibat dari menyakiti mantan istrinya dahulu.


Kini matanya memincing tajam pada gelas di genggamannya. "Keputusanku sudah bulat, aku harus bisa kembali merebut Vira dari Pria itu, bagaimana pun caranya dan setelahnya aku akan menceraikan Sindy..." seringainya penuh dengan kelicikan.


****


Sementara Dika mulai mabuk-mabukkan karena ulah Sindy yang menyebalkan. Di mansion mewah itu, tinggallah sepasang suami istri tengah bahagia memadu kasih. Hampir dua jam lebih mereka menghabiskan waktu bersama di atas ranjang, saling bertukar keringat hingga dua kali pelepasan.


"Mass... Sudah~sudaah aku menyeraahh..." Vira mendesah diiringi nafasnya yang terputus-putus. Vicky hanya tertawa kecil melihat istrinya yang sudah terkapar lemas di bawah tubuhnya.


Sejenak telapak tangan besarnya, mengusap keringat di kening Vira, lalu menciumnya dengan lama.


"Ayo sayang... kamu pasti kuat, karena masih ada satu ronde lagi..." pintanya yang senang sekali menggoda istrinya. Vira kembali menghela berat nafasnya.


"Mas... aku udah capek, bobo dulu aja yuuk ..." rengeknya, yang sudah tak tahan lagi dengan permainan suaminya yang terlalu kuat dan tahan lama.


"Hahaha baiklah-baiklah... Kita istirahat dulu tapi hanya satu jam saja dan setelahnya bersiaplah untuk bertempur lagi."


"Iih dasar pemaksa banget siih!!" Vira menekan wajah suaminya dengan bantal. Vicky hanya tertawa puas menggodanya. Lalu ia pun berbaring mendekap erat istrinya dari belakang. Tak lama Vira pun memenjam matanya dengan cepat, ternyata pergelutan tadi membuat tubuhnya sangat lelah.


Vicky yang masih terjaga di belakang tubuhnya, tak bosan menciumi belakang telinga dan leher istrinya. Tubuh Vira bagaikan candu baginya.


"Berjanjilah padaku, kamu tidak akan pernah lagi meninggalkanku..." bisiknya di telinga Vira. Namun saat menatap wajah istrinya, Vira sudah tertidur pulas. Sontak bibirnya melengkung ke atas memandangnya.


Bersambung....


...****...

__ADS_1


__ADS_2