Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Berpisah Lebih Baik


__ADS_3

...BAB 36...


...Berpisah Lebih Baik...


"Maaf ada apa sebenarnya ini?" tanyanya perlahan Sindy keluar dari pintu, memperhatikan tingkah mereka berdua yang aneh.


Mereka menoleh bersamaan. Vira pun menatap nanar Sindy di dekat pintu.


"Akan ku beritahukan padamu sesuatu yang penting Sindy!" ucap Vira tiba-tiba. Dika di sana menggeleng-geleng kepala, memohon pada Vira agar tak memberitahukan semuanya pada Sindy.


Sindy tertegun. Mendadak perasaannya jadi tak enak.


"Ma-maksud Tante, apa?" wajahnya sangat bingung.


"Asal kamu tahu saja, aku bukan Tantenya Dika. Tetapi aku adalah--" Vira menatap serius Sindy, tanpa ada keraguan di hatinya untuk mengungkap semua dan tak lagi memperdulikan perasaan Dika. "Aku adalah istrinya!" ungkapnya singkat.


Sindy tercengang, pupil matanya bergetar lagi shock. Sedang Dika di sampingnya, tenggorokannya mulai tercekat, rasa sulit ia menelannya.


"Bisa kau jelaskan ini semua padaku Mas?!" tanya Sindy yang pandangannya kini beralih pada Dika dengan sorot tajam, dan seulas senyuman pahit di bibirnya.


Dika yang di tanya pun hanya bungkam. Wajahnya semakin memucat, seketika lidahnya jadi kelu sulit berucap.


"Si, Sin--dy a ,a-ku!" gelagapnya.


"Jawab Mas, apa benar yang dia katakan?!" sentaknya bertanya, kepalanya menggeleng cepat belum percaya. Dika kembali bergeming, tatapannya getir dan mulai khawatir.


"Katakan padaku Mas Dika! Kenapa kau diam saja, dia pasti berbohong kan?!" Sindy menunjuki Vira di sana dengan masih menatap Dika, mengintrogasinya. Matanya memerah panas dan nyaris mengeluarkan air mata. "Katakan padaku kalau dia itu berbohong Mas, dia bukan istrimu kan..." teriaknya lirih.


"Maafkan aku, Sin_ dia benar," ucap Dika tapi dengan cepat dan spontan Sindy menampar keras pipi Dika.


Plaaak


"Dasar pembohong. Pembohong kau Mas!!! Aku membencimu!" Sindy lekas berlari setelah mendorong Dika, pergi meninggalkan mereka berdua, sambil menangis.


"Sindyy!!" Dika berteriak memanggilnya. Hendak mengejarnya, namun sebelumnya dia kembali menoleh tajam pada Vira. Mendekatinya dan mencengkram kasar bahu Vira.


"Puas kamu?! Puas sudah hancurkan hubungan kami berdua! Heh!" bentaknya yang mulai tersulut emosi. "Ini yang kamu mau kan! Kau inginkan aku dan Sindy berpisah!"


Vira hanya tersenyum kecut mendengarnya. Apa perkataan suaminya itu tidak terbalik? Justru perempuan itulah yang telah menghancurkan rumah tangga mereka.


"Ya, aku memang puas Mas. Lalu kenapa? Kau ingin menyalahkan aku sebagai istrimu? Aku sama sekali tak berniat untuk menghancurkan hubungan kalian. Justru aku ingin menyelamatkanmu dari perbuatan dosa. Kau sudah banyak membohongi kami. Jadi inilah saatnya dia mengetahui semuanya. Bahwa kamu sudah menikah denganku." ucapnya tegas.

__ADS_1


Dika menghembus kasar nafasnya. Melepas kasar cengkramannya dari bahu Vira, lalu dia pergi berlari, mengejar Sindy tanpa memperdulikan lagi perasaan Vira yang lebih terluka di bandingkan Sindy yang hanya seorang kekasihnya saja.


Hatinya terhenyak melihat kepergian Dika yang begitu takut akan kehilangan Sindy daripada dirinya sendiri.


"Dia tidaklah pantas aku tangisi lagi. Mungkin berpisah adalah yang terbaik..." gumamnya berucap pelan.


Vira lekas mengusap sisa-sisa air matanya tadi. Kembali masuk ke dalam apartemen, lalu membuka dompetnya menyimpan kartu ATM dan kartu kredit pemberian Dika di dekat kunci mobil suaminya di meja tamu. Serta melepas paksa cincin pernikahannya, memandangnya sejenak dengan tatapan yang nanar, cincin yang hanya lima bulan saja tersemat di jarinya. Mimpinya untuk membangun mahligai rumah tangga dengan Dika, pupus sudah.


Setelah menyimpan semua barang pemberian Dika. Vira menghela nafasnya berat memandang sendu seluruh ruangan yang pernah dia tinggali bersama Dika, lalu ia kembali keluar dan menarik kopernya, melanjutkan lagi rencananya untuk tinggal bersama Irfan di kontrakan mereka.


Sementara itu, Sindy terus berlari menyebrangi jalan menunggui taksi yang lewat. Dika di sana pun tak berhenti mengejarnya. Hingga akhirnya Dika mampu meraih tangan Sindy dan membawanya dalam pelukan.


"Sin, Sindy tolong dengarkan aku sayang. Aku minta maaf padamu. Aku memang sudah membohongimu dan menikah dengannya, tapi percayalah aku tidak pernah mencintainya." Dika lekas mengangkat sisi wajah Sindy dengan kedua tangannya, agar gadis itu menatap kedua bola matanya bahwa dirinya tak berbohong soal ini.


"Pernikahan kami karena perjodohan. Orangtuaku yang memintaku untuk menikahinya." jelas Dika lagi. Sindy masih menangis sesegukan, memberontak ingin di lepaskan, tapi Dika malah menahannya kuat, yang lalu Sindy memukul-mukul dadanya Dika sekuat tenaga.


"Tapi kamu sudah bohongi aku Mas... Kamu tega bohongi aku!" sentaknya dengan nada yang lirih.


Dika mengusap kepala belakang Sindy, dan membenamkannya di dada. "Iya aku tahu, aku memang salah padamu, sudah membohongimu, tapi percayalah aku tak bermaksud menyakitimu..." angguknya yang mulai menyesali dengan manik yang berkaca-kaca. "Itu karena aku tidak ingin kehilanganmu sayang, aku benar-benar minta maaf. Tapi tolong jangan pernah tinggalkan aku..." ucapnya mendesah lirih.


Dika mengecup pucuk kepala Sindy dengan lembut. Berusaha menenangkan dan mengambil hati kekasihnya lagi, yang sudah pasti dia sangat kecewa padanya, dan tanpa dia sadari, Vira sudah memandanginya dari kejauhan.


"Secepatnya kita memang harus berpisah. Aku mengalah, aku tahu kau begitu sangat mencintainya Mas, selamat tinggal..." gumamnya tersenyum pahit. Vira pun lekas menaiki taksi yang tiba lewat di depannya. Berusaha tegar, memilih hidup untuk membesarkan buah hatinya sendiri kelak.


Pagi pun menyambut. Vicky telah sampai pekarangan rumahnya dia bergegas masuk setelah Adam mengantarnya pulang. Pelayan pun membantu mengambil tas kerja Vicky dan koper berisi pakaian kotor majikannya tersebut.


"Dimana Sindy?" tanyanya pada pelayan rumahnya.


"Nona Sindy ada di dalam kamarnya Tuan." sahutnya. Vicky mendongak ke atas, menatap pintu kamar Sindy yang tertutup rapat di lantai dua. Irman dan Ria bersamaan menghampiri Vicky di sana.


"Vicky..." panggil Irman. Vicky menoleh ke belakang.


"Iya Om, ada apa dengan Sindy?" tanyanya ikut cemas.


Irman dan Ria hanya menggeleng resah. Semenjak kepulangannya semalam. Sindy tak banyak cerita dia malah mengurung dirinya di dalam kamar. Ria melihat kedua mata putrinya sudah sembab saat itu. Karena khawatir Ria pun menelepon Vicky malam tadi.


"Tante dan Om mu tidak tahu, Vick.. Tolong kamu tanyakan dia langsung ya, Sindy tak ingin bercerita pada kami..." titah Ria pada Vicky.


Vicky menghela nafasnya berat, lalu mengangguk. Dia pun lekas naik ke atas menemui Sindy.


Tak butuh waktu lama pintu Sindy dia buka, Vicky pun minta ijin masuk. Sindy membolehkannya.

__ADS_1


"Ada apa?" Perlahan Vicky mendekatinya dan duduk di tepi kasur. Melihat Sindy yang hanya berbaring miring dengan sebagian tubuh yang sudah dia selimuti.


"Kak... Ternyata Kak Vicky benar. Dika dia--- dia sudah bohongi aku..." isaknya terbata-bata.


Vicky menghembus kasar. Memalingkan wajahnya, menahan amarah. "Bukankah pernah aku katakan padamu sejak dulu. Sekarang kamu baru menyesal bukan. Tapi untungnya kau belum menikah dengan Pria brengsek itu!"


"Tapi Kak, aku mencintai Dika!" Sindy beranjak dari tidur dia menggenggam kuat tangan Vicky. Lantas Vicky menoleh dengan tatapan tak suka yang ia dengar dari Sindy. "Dan aku akan tetap menikah dengannya..." lirihnya memohon pada Vicky.


"Cinta apa yang kau berikan padanya? Dia itu tak pantas di cintai! Dia bahkan mengkhianati istrinya. Apa kau tidak takut akan di khianati olehnya juga?!" pekiknya sangat geram dengan keputusan Sindy yang tak sesuai dengan harapannya.


Sindy menggeleng tegas. "Tidak Kak, Dika sudah cerita padaku. Dia tidak pernah mencintai istrinya. Mereka di jodohkan. Dika hanya mencintai aku..." ungkapnya.


"Jangan bodoh Sindy! Kalau kau tetap nekad menikah dengannya, kakak akan menghabisinya lebih dulu!" bentaknya.


Vicky beranjak berdiri dan melangkah panjang dan cepat, keluar dari kamar Sindy, tanpa mendengar teriakan Sindy yang memanggil-manggil menghentikannya.


"Kak! Kak Vicky jangan Kak..." teriak Sindy spontan panik dan khawatir.


Vicky pun sudah berada di bawah, dengan cepat ia melajukan mobilnya menuju apartemen Dika.


Selang setengah jam Vicky telah sampai dan memarkirkan mobilnya di basement. Tanpa ada lelah dia benar-benar mendatangi Dika pagi itu. Padahal ia baru saja sampai Jakarta dari Bandung. Vicky lekas masuk ke dalam lift menuju lantai apartemen Dika.


Setelah sampai depan pintu, Vicky menggedornya dengan keras serta memanggil-manggil namanya dengan sebutan seperti seorang preman.


"Keparat, keluar kau! Cepat buka pintunya!" teriaknya. Tak butuh lama Dika membukanya dari dalam.


Tanpa aba, satu bogeman keras melayang ke wajah Dika, hingga tubuhnya terhuyung dan jatuh ke bawah.


"Aaarggh... Ap-apa yang kau lakukan!" gelagapnya, Dika merintih sakit, seraya menyentuh hidungnya yang sudah berdarah.


"Apa yang ku lakukan yaitu menghajarmu pengecut!" geram Vicky seraya menarik depan baju Dika, mendekatkan wajahnya. "Kau tahu inilah yang kuinginkan dari dulu padamu! Tak sangka, kau sudah menyakiti hati dua wanita yang dekat denganku selama ini!" imbuhnya membuat mata Dika membeliak tak mengerti.


"Du-dua wanita?!" alisnya mengernyit bingung.


Vicky tersenyum menyeringai sinis lalu menghempas kasar tubuh Dika. "Ya!" ucapnya singkat. Lalu ia menendang bahunya Dika dan melangkah masuk ke dalam. Mendekati pintu kamar yang dia tahu itu kamar Vira kemarin.


"Vira...Viraa..." sahutnya. Namun tak terdengar suara jawaban dari dalam.


Dika beranjak berdiri dengan rintihannya. "Kau cari siapa heh?!" tanyanya melangkah tertatih-tatih mendekati Vicky.


"Vira! Kemana dia!" teriaknya makin marah.

__ADS_1


Bersambung....


...*****...


__ADS_2