
...BAB 62...
...Di Balik Kematian Citra...
Dika tersenyum miring. "Apa kau sama sekali tidak melihat kejadian ini sebagai pelajaran untukmu?! Kau jangan bodoh Vira, menikah dengannya malah akan membahayakan putri kita. Biarkan aku dan Mama yang akan merawat Aqilla..." tegasnya.
"Berikan Aqilla padaku..." pintanya lagi, memaksa.
Dika melangkah maju dengan cepat mendekati Vira yang berdiri di depan kamarnya. Vira menggelengkan kepalanya dan memundurkan langkah, tetap menolak permintaan mantan suaminya.
"Tidak Mas, Aqilla tidak bisa jauh dariku!" sentak Vira seraya mendekap tubuh Aqilla dengan erat, yang lalu Vira lekas masuk ke dalam kamar menutup pintunya dengan rapat.
"Viraaa!" panggil Dika.
"Apa kau tidak mendengarkan apa yang barusan dia katakan hah?! Aqilla hanya milik ibunya dan tidak pernah bisa jauh dari Ibunya. Sebaiknya kau pergi saja dan jangan ganggu kami lagi!" usir Vicky seraya mendorong-dorong kasar bahu Dika hingga keluar rumah.
"Iya-iyaa aku akan pergi, kau tak perlu lagi mendorongku seperti ini!" timpalnya kesal. Membenarkan lagi pakaiannya yang sudah acak-acakan.
"Oke baiklah aku akan pergi, tapi jika sampai kejadian ini terulang lagi. Maka aku tidak akan pernah memaafkanmu dan aku akan membawa Aqilla pergi dengan paksa! Jadi kau jangan besar kepala dulu, karena Vira lebih memilih kau untuk menggantikan aku!" ancam Dika menatap tajam manik Vicky di depannya. Vicky hanya menarik satu sudut bibirnya ke atas. Tak acuh.
"Kau tak perlu khawatir, Vira dan Aqilla akan baik-baik saja hidup bersamaku" cebiknya.
"Huh, jangan terlalu yakin kau!" kilahnya geram, mencibir dari jauh, lalu ia berbalik pergi tapi sebelum menaiki mobilnya ia kembali menatap Vicky dan juga Irfan yang masih berdiri mengawasinya di depan pintu, secara bergantian dengan sorotan tajam. Hari itu mungkin saja Dika kalah dari mereka, kalah mempertahankan hak asuh Aqilla. Tapi dalam hatinya Dika tak akan pernah menyerah begitu saja. Ada waktunya Aqilla akan menjadi miliknya seutuhnya.
Lihat saja nanti, aku pasti akan bawa Aqilla... Aku tidak akan pernah rela, jika lelaki itu jadi Ayah sambung anak kandungku! geramnya di hati.
Dika pun melenggang pergi membawa mobilnya cepat, dengan perasaan jengkel yang luar biasa.
****
Di dalam kamar Vira terus memandangi wajah putrinya yang sedang lahap mengesap ASInya.
"Bunda pikir, Bunda tidak akan lagi menemui kamu Nak..." lirihnya. "Bunda janji padamu, tak akan pernah meninggalkanmu lagi walau sedetikpun. Maafkan Bunda ya sayang..." ucapnya lagi seraya mengusap dan menghujani kepala Aqilla dengan kecupan sayang.
Vira kembali meneteskan air matanya masih menyesali, ada sisa shock di hatinya. Tak terbayang bagaimana jika dirinya benar-benar kehilangan putrinya, mungkinkah hatinya akan hancur berkeping-keping dan merana sepanjang waktu dalam hidupnya.
Pintu terbuka perlahan, Vicky pun datang dengan membawa makanan dan minuman untuk Vira, lalu ia menyimpannya di atas nakas dengan hati-hati, setelah menutup lagi pintunya dengan rapat.
__ADS_1
Bibirnya tersenyum lebar sembari mengusap puncak kepala istrinya. "Ayo biar aku suapi, aku yakin kamu pasti belum makan dari tadi karena memikirkan Aqilla terus, ya 'kan?!" ujarnya yang langsung duduk di samping Vira di tempat tidur. Mengambil sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya.
Vira mengangguk menuruti. Dia pun mulai membuka mulutnya ketika Vicky mengarahkan sesendok nasi di depannya, dengan telaten Vicky menyuapi Vira yang sedang menyusui Aqilla hingga habis. Perhatian Vicky padanya, membuatnya menangis terharu. Vicky yang menyadari itu pun lekas mengusap air matanya dengan satu tangannya.
"Jangan menangis lagi, aku berjanji kejadian ini tak akan pernah terulang lagi. Besok kita langsung pulang ke Mansionku saja ya. Aku ingin kamu dan Aqilla tinggal di sana bersamaku, aku pastikan kalian berdua akan tetap aman tinggal di sana." ucapnya.
Vicky lebih baik membawa cepat mereka berdua. Karena hanya di tempat itulah satu-satunya tempat yang aman untuk menyembunyikan istrinya dan Aqilla dari Dika. Tak ada satupun dari keluarganya yang mengetahui dimana Mansionnya berada, kecuali Adam dan anak-anak buahnya.
"Iya Mas..." angguknya lirih sambil sesegukan.
Setelah Vira menghabiskan makanan yang Vicky suapi tadi. Bersamaan itu juga Aqilla pun terlelap tidur dalam pangkuannya. Vira segera menidurkannya di box bayi. Lalu dia dan Vicky bersiap tidur setelah membersihkan diri mereka di kamar mandi dan mengganti pakaian mereka dengan piyama tidur.
Di atas peraduan, Vicky memeluk erat istrinya seraya membelai rambutnya. Mengecup lembut kening istrinya.
"Mas, apa kamu yakin. Jika Mamamu tak akan kembali lagi merusak hubungan kita?" tanya Vira yang masih khawatir akan Sophia. Vicky menggeleng cepat.
"Dia sudah Mas penjarakan, jadi tidak mungkin dia kembali lagi." ucap Vicky tersenyum.
Vira mendongak, masih belum percaya. "Jadi itu benar, mas sudah memenjarakannya?"
"Dia pantas mendapat hukuman itu sayang, karena perbuatannya... Sudah, sekarang kamu lebih baik tidur dan jangan lagi memikirkan hal apapun. Besok pagi kamu dan Bi Ina harus bersiap mengemasi semua pakaian kalian. .." ucap Vicky. "Setelah aku pulang dengan urusanku. Aku akan jemput kalian lagi..." sambungnya.
****
Keesokan paginya, dua polisi mendatangi Bagas dan ingin menangkapnya tanpa ada pemberitahuan. Seorang ART berlari tergopoh-gopoh menghampiri Bagas di ruang makan, seraya hatinya sedang gelisah karena memikirkan Sophia yang belum juga pulang dari semalam tadi.
"Maaf Tuan di depan ada polisi, katanya ingin bertemu dengan Anda." ujarnya.
"Po, polisi?!" gagapnya. Dahi Bagas sontak berkerut tanya. Lalu perlahan berdiri dan menatap dua polisi yang sudah ada di belakang ARTnya tersebut.
"Ada apa ini?" tanyanya dengan nada sedikit panik.
"Silakan anda ikut bersama kami Tuan Bagas. Untuk di introgasi terkait kasus penculikan bayi Nyonya Vira serta tentang kematian almarhumah Nyonya Citra 17 tahun yang lalu." sahutnya yang lalu seorang polisi mendekati Bagas hendak memborgol kedua tangannya.
Bagas tercengang, lantas ia melangkah mundur, tenggorokannya seakan tercekik saat itu juga. Tak pernah dia bayangkan jika hal itu akan kembali di pertanyakan. Kematian Citra yang tak wajar akhirnya terkuak setelah sekian lama mereka menutup kasus itu sebagai kecelakaan karena akibat keteledoran pengemudinya sendiri.
"Apa maksudnya ini? Aku tidak mengerti, bukankah kematian istriku sudah sangat lama sekali. Kenapa di pertanyakan lagi. Sudah jelas kalau dia meninggal karena kecelakaan." sangkalnya dengan cepat.
__ADS_1
"Ya, kecelakaan yang sudah kau atur dan rencanakan dengan secantik mungkin, bersama wanita simpananmu itu!" lantang Vicky, yang tiba-tiba saja ia muncul di balik kedua polisi tersebut.
"Vi-Vicky!" Manik Bagas membulat lebar, kini kegugupan tampak sekali di raut wajahnya. "A-apa maksudmu Nak? Kamu ingin menuduh Papa membunuh Mamamu?" tanyanya gelagapan, lantas Bagas tertawa sumbang dan gamang. "Hahaha... Jangan membuat lelucon dengan Papamu ini, Vicky." ledeknya berusaha bersikap sewajarnya. "Mana mungkin Papa melakukan itu pada mendiang Mamamu,"
"Apa aku terlihat sedang bercanda?! hah?!" sindirnya tersenyum miring. "Kalian berdua keluarlah..." titahnya tiba-tiba, yang lalu Adam muncul dengan seorang Pria paruh baya yang kini duduk di kursi roda. Adam mendorong pelan kursi rodanya hingga mereka berjejer di sampingnya Vicky.
"Kau, kau_ Firman!" sontaknya tersendat-sendat. Kaget, karena sudah lama sekali Bagas memberhentikan Firman bekerja.
"Pagi Tuan Bagas, apakabarmu...?" ucap Pria paruh baya itu, mengulas senyuman tipis di bibir tebalnya yang pucat karena masih dalam keadaan sakit. Dia yang tak lain adalah Ayahnya Adam sekaligus teman almarhum Kakeknya Vicky. Firman adalah satu-satunya orang yang tahu seluk beluk keluarga Vicky dan juga mengetahui bagaimana awalnya sebelum kematian Citra terjadi.
17 tahun yang lalu. Firman tak sengaja memergoki Citra yang di usir Sophia. Lalu setelahnya, diam-diam dia juga melihat suruhan Bagas keluar dari dalam mobil Citra. Entah apa yang di lakukan. Namun polisi pun masih menyimpan bukti sebuah benda tajam yang sempat Firman temukan di sana saat setelah terjadinya kecelakaan. Di duga benda itu yang merusak rem mobil Citra yang mengakibatkan remnya blong dan jadi tak terkendali.
Setelah Citra pergi dengan perasaan sedih dan pamit padanya. Firman bergegas hendak bertanya pada Bagas dan Sophia di ruang kerja bekas majikannya. Terdengarlah gelak tawa kencang mereka di balik pintu, sebab rencana mereka sebentar lagi akan berhasil. Hingga dua jam setelah itu, Firman pun mendapat kabar dari polisi di Rumah Sakit tentang kematian Citra di seberang telepon.
"A-apa Nyonya meninggal_" Firman membeliak nyaris saja dia jantungan. Hendak ingin mengabarkan berita duka itu pada Bagas, namun tidak terlihat ada kesedihan dan rasa kehilangan di wajah Bagas. Malah dia hanya teringat akan senyuman seringai yang tercetak jelas di bibir merah Sophia. Kala itu juga, Firman semakin curiga dan terus menyelidiki semuanya sendirian. Hingga dia menemukan sebuah dokumen palsu untuk pengalihan semua aset perusahaan atas nama Citra menjadi Bagas.
Firman mengambilnya dan memberikan itu pada Vicky setelah usia Vicky 17 tahun. Karena saat meninggalnya Citra, Vicky yang masih duduk di kelas delapan SMP itu sempat mengalami depresi beberapa bulan lamanya pasca kehilangan Mamanya. Sehingga belum bisa di ajak bicara.
Kini dokumen itu telah ada di tangan Vicky setelah di berikan Firman dulu. Itu pun Setelah Vicky sembuh dari depsresinya.
"A-a.. Vi, itu-itu tidak benar..." gelagap Bagas kali itu dia tak bisa berkutik lagi. Jantungnya seakan berhenti berpacu di sana, keringatnya semakin mengucur deras di dahinya. "Semuanya hanya salah paham.." elaknya lagi.
"Kau ingin mengelaknya lagi, setelah melihat bukti ini semua? Kau memang Iblis Bagas!! Kau dan Wanita ular itu memang pantas untuk di hukum mati!!" bentaknya seraya melempar map berisi kertas dokumen itu kasar di depan Bagas. Bagas semakin membeliak terkejut.
"Tangkap dan kurung dia di penjara, sampai hakim memutuskan semuanya di persidangan nanti!" titahnya pada dua polisi itu.
"Siap Pak!" serentak mereka.
"Vi-Vicky!! Anakku" Bagas berteriak meronta-ronta. Memohon agar putranya memberikannya kesempatan untuk mendengarkannya bicara.
"Berhentilah memanggilku anakmu! Aku tidak pernah punya Papa sepertimu!" ucapnya tegas dan dingin.
"Vicky... Maafkaan Papa Nakk!!" teriak Bagas lagi hingga suaranya perlahan mengecil dan menghilang karena telah di bawa pergi oleh mobil polisi keluar dari rumah megah itu.
Vicky, Adam dan Firman saling menatap dengan sendu. Akhirnya mereka berhasil mengungkap semua kejahatan Bagas dan Sophia yang pernah di lakukan tanpa sepengetahuannya.
Bersambung...
__ADS_1
...***...