Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Aqilla Di Culik


__ADS_3

...BAB 60...


...Aqilla Di Culik...


"Vicky, mana istrimu? Kenapa tidak kau ajak kemari? Apa kau tidak menganggap lagi aku ini Papamu? Sehingga tak ingin memberitahukan kami kalau kau ingin menikah?" tanya Bagas tiba-tiba. Setelah Vicky melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya pagi itu. Sebelum ia berangkat ke Bandung.


Vicky pulang ke rumahnya dulu, karena ada berkas penting yang tertinggal di ruang kerjanya untuk dia bawa ke Bandung hari itu.


Vicky menoleh pada Bagas dan Sophia yang kini sudah berdiri di samping meja makan, baru saja selesai sarapan. Kehadirannya mengagetkan mereka. Mereka pikir Vicky tak kan pulang.


"Maaf Pa, Vicky memang sengaja tak memberitahukan ini pada kalian. Jika Vicky beritahu lebih awal, tak mungkin 'kan kalian akan merestui kami berdua..." sindirnya acuh.


"Tapi, Vicky setidaknya 'kan_" ucap Bagas menggantung.


"Maaf Pa, Vicky terburu-buru harus berangkat ke Bandung pagi ini, jadi lain waktu saja kita bicarakan!" selanya, yang lantas Vicky melengos masuk ke ruang kerjanya, tak perduli dan tak ingin lagi memperpanjang masalahnya.


Bagas tentu geram dan kecewa, matanya memerah dan tangannya terkepal. Karena sikap Vicky padanya tak pernah berubah setelah kematian Citra.


"Bagaimana ini Pah? Mau tak mau wanita itu kini sudah menjadi menantu kita?" pekik Sophia, yang masih belum menerima kenyataan. Kedua tangannya terlipat di depan dada, sangat gusar.


"Siapkan rencana yang sudah kita susun pagi ini. Jangan biarkan wanita itu menguasai harta kita berdua, Mah..." ucap Bagas pada Sophia. Matanya memincing tajam, memperlihatkan keseriusannya kali ini. Sophia menghembus kasar, dan mengangguk cepat.


Vicky pun keluar lagi setelah ia membawa barang pentingnya. Tanpa pamit dan tak ada rasa hormat, Vicky pergi melewati mereka yang masih berdiri di tengah ruangan. Keluar menaiki mobilnya bersama Adam. Bagas dan Sophia hanya mendengus kasar menahan amarah.


****


Tiga jam berlalu, akhirnya pekerjaan Vira selesai membantu Irfan membuatkan roti lalu mengemasinya satu-persatu dengan menarik dan rapi. Irfan pun bernafas lega dan senang.


"Aaah akhirnya selesai juga, makasih ya mbak dah sempetin datang dan bantuin Irfan kesini..." ucapnya sambil berkacak pinggang merenggangkan otot-otot punggungnya yang sudah terasa pegal. Irfan pikir setelah Kakaknya sudah melahirkan dan menikah. Dia akan sibuk bekerja sendirian.


"Iya, tapi nanti setelah mbak tinggal bersama Mas Vicky, kamu tak apa kan di tinggal sendirian di kontrakan dan mengurus toko rotinya, atau kamu buka iklan saja buat cari karyawan biar ada yang bantu kamu di sini..." saran Vira.


Irfan tampak berpikir. Mengerungkan alisnya. "Boleh juga tuh Mbak, idenya!" ujarnya. Vira tersenyum dan mengangguk ke arah Irfan.


Irfan setuju dengan saran Vira dia pun mulai membuat iklan lowongan pekerjaan di toko rotinya di ponsel dan menyebarkannya ke semua media sosialnya.


Hari sudah pukul sebelas siang, Vira pamit pulang pada Irfan. Karena sudah waktunya ia menyusui Aqilla lagi. Sakit dan linu di payu-daranya mulai terasa, sebab cairan putih di dalamnya seakan berdesakan meminta segera di keluarkan.

__ADS_1


Vira pun bergegas menyebrangi jalan, dan berlari kecil menuju arah kontrakannya. Karena terburu-buru, tak sengaja kakinya malah menyandung bebatuan di jalanan.


"Aduuh!!" rintihnya meringis sakit. Alhasil ujung kuku jari jempolnya terluka dan mengeluarkan darah. "Ah ya ampun, aku kok bisa ceroboh seperti ini, sih?!" keluhnya. Vira berjongkok dan membuang batu itu ke sisi jalan. Hatinya terkesiap kaget merasakan debaran jantung yang tak biasanya. Ada perasaan tak enak yang tiba-tiba muncul begitu saja.


"Ada apa ya, kok perasaanku tak enak begini?" gumamnya sendiri seraya menyentuh bagian tengah dadanya. Vira mencoba menepis pikiran buruknya dia pun melanjutkan langkahnya dengan terpincang-pincang.


Setelah sampai depan rumah, sontak maniknya membulat terkejut sebab pintu pagar tak di tutup dengan rapat.


"Loh kok pagarnya kebuka begini sih?" gumamnya terheran.


Vira pun hendak masuk namun tiba-tiba ada yang mencekal tangannya dari belakang. Sontak Vira menoleh dan terperanjat kaget.


"Mas Dika?!" pekiknya kaget. "Kamu mengagetkanku saja."


"Kamu habis darimana?" tanyanya terheran.


"Aku habis dari toko." jawabnya singkat.


"Dari toko? Lalu Aqilla, kamu tinggalkan dengan siapa?" tanya Dika lagi. "Aku lihat rumah bukaan tadi dan tak ada siapapun di dalam sana." ungkapnya menunjuk rumah kontrakan.


Vira terperangah kaget, dia menoleh ke arah rumah. "Tidak mungkin, Aqilla aku tinggalkan bersama Bik Ina tadi!" sentaknya tak percaya dengan yang di katakan Dika. Lantas Vira berlari kecil masuk ke dalam rumah untuk memeriksanya, seraya memanggil Bik Ina.


"Terserah katamu, tapi di dalam sana sudah tak ada siapa-siapa lagi!" sahut Dika ikut berjalan masuk ke dalam rumah mengekori Vira.


Setelah masuk ke dalam rumah dan tak ada jawaban dari ARTnya, barulah Vira percaya jika Bik Ina dan Aqilla sudah tak ada. Wajah Vira seketika panik dan gelisah. Melihat pintu kamar pun terbuka lebar. Menatap getir tempat tidur Aqilla yang kosong.


"Bik..Bibiiiikk.... Aqillaaaa dimana kalian!!" teriaknya bertambah histeris, wajahnya semakin pucat, dengan gelengan kuat Vira tak menyerah dia kembali mencari ke arah dapur dan halaman jemuran di belakang rumah. Namun hasilnya tetap sama, di sana juga tidak ada siapa-siapa.


"Kemana mereka?? Ya Tuhaan!!" Vira meraup sisi kepalanya, air matanya seketika luruh dengan deras. Lutut kakinya terasa lemas.


"Kan sudah kukatakan padamu di sini tidak ada siapa-siapa?!" desak Dika, wajahnya pun tak kalah panik dan cemas. "Ini semua salahmu, kenapa kau tinggalkan anak kita di rumah Vira!!!" hardiknya, yang kini dia menyalahkan Vira atas keteledorannya selama ini.


"Tidak Mas, aku hanya tinggalkan dia sebentar. Itupun kan aku titipkan pada Bik Ina..." riuhnya, air matanya terus menetes tiada henti.


"Sebentar?! Berapa lama sebentar itu?" selidiknya dengan nafas yang tersengal, mulai tersulut emosi.


"Ti-tiga jam Mas..." lirihnya terbata-bata, Vira menyusut air matanya yang terus mengalir deras. Dika tertawa miris.

__ADS_1


"Hah... Apa kau bilang?! Menurutmu 3 jam itu tidaklah lama?!" sentak Dika. "Jangan bodoh kamu, Vira!! Harusnya kau fokus dengan mengurusi anak kita! Bukan di titipkan ke oranglain! Nyesal aku tak bawa Aqilla dari dulu saja ikut bersamaku dan Mama, mungkin kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi!" gertaknya dengan gigi yang bergemelutuk kesal.


Dika merasa menyesal tak merebut Aqilla saja saat itu, sebenarnya jika dalam hukum dirinya lah yang berhak atas asuh Aqilla karena anaknya adalah perempuan. Tapi karena Dika tak tega memisahkan, sebab Aqilla yang masih harus di susui oleh Vira.


Vira semakin menggeleng histeris. Tak menghiraukan perkataan Dika, lantas dia berlari keluar rumah, berteriak seperti orang gila memanggil-manggil putrinya di tengah jalanan.


"AQILLAAAAA.... PUTRIKUUU...." isaknya kencang. "Kemanaa kamu Naaakk..." lirihnya menangis sejadi-jadinya.


Vira menjatuhkan lututnya di tengah jalan, menundukkan kepalanya, dengan menapakkan dua tangannya di aspal jalan, sehingga beberapa pengemudi kendaraan di sana berhenti di tempat. Beberapa warga pun melihat ke arahnya dan bertanya-tanya heran. Tak lama mereka pun menghampiri.


Vira semakin menangis, hidupnya seakan telah di renggut. Hatinya nelangsa, putri yang dia lahirkan belum genap dua bulan kini telah hilang di tangan.


****


Satu jam sudah pencarian di komplek tak ada satu pun yang mengetahui hilangnya Aqilla dan Bik Ina. Dika terpaksa menghubungi polisi sedang Irfan menelepon Vicky. Tak berapa lama di hubungi, polisi pun datang dan mengintrogasi warga sekitar dan melacak komplek tersebut.


Sementara Vira masih meringkuk di dalam kamarnya sambil memeluk guling Aqilla dengan tatapan nanar dan sendu. Setelah tadi pingsan di jalan. Dika membawanya masuk ke kamar untuk di istirahatkan. Vira pikir ini hanyalah mimpinya tapi setelah membuka matanya dan tersadar ternyata Aqilla memang telah hilang.


"Kamu kemana Nak, pulanglah sayangku..." lirihnya sambil mendekap erat gulingnya.


Tiba-tiba suara ponselnya berdering nyaring di dalam tas kecilnya yang dia simpan di atas nakas. Vira mengambilnya dengan perasaan cemas, layar ponsel menyala dengan tampilan nomer yang tak di kenal. Vira mengernyitkan dahinya, lalu segera mengangkatnya.


"Hallo..." sapanya lirih. "Hallo!!" ulangnya lagi, karena lama tak juga ada jawaban.


"Hallo, perempuan kampung..." jawabnya, lalu terdengarlah suara wanita yang tak asing baginya. Vira terperanjat kaget, lantas ia beranjak dari kasurnya.


"Ta, tante Shopia..." gelagapnya, bibirnya bergetar hebat. "Kau, kau kah itu Tante??"


"Kau sudah tahu ini aku, baguslah kalau begitu. Berarti aku tak perlu lagi basa-basi lagi denganmu. Kuberitahukan padamu jik ingin putrimu selamat dan kembali padamu. Pergi dan tinggalkan Vicky segera, ingat jangan kau laporkan semua ini pada polisi, ataupun Vicky."


"Jadi, jadi tante yang sudah menculik Aqilla!" teriak Vira matanya membulat lebar. Dadanya semakin bergemuruh hebat. Hatinya lega karena sudah tahu keberadaan putrinya tetapi sekaligus rasa takut dan khawatir karena Aqilla ternyata bersama Sophia, wanita yang selama ini tak pernah menyukainya.


"Ya, aku hanya pinjam putrimu sebentar. Jangan khawatir aku tidak akan melukainya asal kau memenuhi semua permintaanku, perempuan miskin. Gugat cerai lagi Vicky. Karena Vicky hanya akan kami nikahkan dengan Riska. Wanita pilihan kami. Walau bagaimanapun, kau tetap tidak akan pernah kami terima di keluarga Bahru Sanusi, Mengerti! Aku tunggu malam ini setelah kau turuti kemauanku!" ucapnya mengancam. Setelah itu lalu sambungan telepon pun terputus secara sepihak.


"Tante, tanteee..." lirihnya. Ponsel pun terjatuh ke lantai. "Kenapa dia melakukan ini semua padaku. Apa yang harus aku katakan pada Vicky..."


Bersambung...

__ADS_1


...****...


****


__ADS_2