
...BAB 50...
...Menantu Tak Berhati...
Setelah persalinan selesai dan lancar, Vira di pindahkan segera ke ruang inap untuk dirawat pasca melahirkan. Sementara bayinya yang berjenis kelamin perempuan yang memiliki berat badan 3200 gram dan tinggi badan 52 cm itu, kini di bawa oleh Bidan ke ruangan lain untuk pemeriksaan lanjutan terlebih dahulu.
Ketika Diana dan Dika melihat bayi Vira menangis kencang dalam pangkuannya bidan. Mereka tersenyum bahagia juga terharu, lekas Diana mengikutinya dari belakang, ingin menengok bayi mungil itu dari jarak yang dekat. Bahkan Irfan di sana juga penasaran, ingin ikut menengok keponakannya sendiri.
Tapi saat kaki Dika melangkah ingin ikut pergi, tiba-tiba suara ponselnya berdering nyaring di saku celananya. Dika gegas merogohnya, melihat nama Sindy yang menelepon. Dika tahu mungkin saat ini istrinya itu tengah marah kepadanya. Karena sedari tadi dirinya mengabaikan dia. Dika juga baru menyadari, kalau hari itu sudah menunjukkan pukul lima sore, itu artinya Sindy juga sudah pulang dari kantornya. Untuk menghindari pertengkaran di telepon, Dika lebih memilih menonaktifkan ponselnya dulu. Soal Sindy bisa dia atasi nanti saat di apartemen mereka. Dika hanya masih ingin berada di Rumah Sakit, melihat anak pertamanya yang sudah terlahir ke dunia.
"Siapa? Kenapa tak kau angkat teleponnya?" tanya Diana heran.
"Sindy Mah," jawab Dika dengan nada cuek, sambil memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku celana.
Wanita paruh baya itu mendengus pelan mendengar nama menantu barunya tersebut. Entahlah, kali itu dia juga tidak lagi menghiraukan soal Sindy. Mau ada atau tidak adanya dia, Diana juga sudah tak mau tahu lagi urusannya.
__ADS_1
...~Flashback on~...
Diana teringat lagi akan beberapa minggu lalu, setelah Vira bukan lagi menantunya. Diana selalu datang dan menemui Vira jika ada waktu. Sekedar ingin bertanya tentang kabarnya dan juga kandungannya selama ini. Namun sikap Vira padanya tetap baik dan ramah, bahkan perhatiannya masih tetap sama. Walaupun Diana sempat pernah menyakiti hati Vira dahulu, karena pernah mendukung pernikahan Dika dengan Sindy. Tetapi Vira sama sekali tak mendendam kepadanya. Malah Vira tetap menganggap Diana sebagai mertuanya, bahkan seperti Mamanya sendiri. Hal itulah yang membuat Diana sangat menyesali akan sikapnya. Karena terlalu berambisi ingin memiliki banyak cucu, yang akhirnya niat baiknya malah berdampak buruk.
Lain sekali dengan Sindy selama ini, raut wajah Sindy selalu tak terlihat suka jika Diana menyuruhnya sesuatu. Niat baik Diana yang ingin memberikan obat penyubur untuknya seperti yang pernah dia berikan kepada Vira dahlu. Namun Sindy malah menanggapinya lain, dia menyangka Diana hanya ingin meledeknya saja dengan memberikan obat itu. Awalnya Sindy memang menerimanya dengan ragu. Diana sempat percaya jika Sindy akan meminumnya. Tetapi tanpa sepengetahuan Diana sendiri, ternyata Sindy sama sekali tak pernah meminumnya, bahkan menyentuhnya pun tidak. Obatnya masih tetap utuh, bahkan segel botolnya belum terbuka sama sekali. Saat itu Diana tak sengaja pernah menemukan obat herbal pemberiannya tertimbun di tong sampah depan apartemen mereka. Tentu saja Diana sangat kesal dengan ulah menantunya yang sama sekali tak pernah menghargai semua perhatiannya selama ini.
"Kamu tahu, Vira itu selalu meminum obat herbal ini rutin, setiap hari. Lihatlah hasilnya, selama lima bulan dia sudah bisa hamil, padahal Vira sempat di vonis akan lama mempunyai keturunan. Sedang kamu sudah hampir sepuluh bulan ini. Belum juga memberikan keturunan untuk anakku! Apa susahnya sih meminum obat ini, ini bukan racun, Sindy! Ini obat penyubur kandunganmu!" tukas Diana mulai tampak kesal dengan sikap aslinya Sindy yang keras kepala, ketika di beritahukan hal baik olehnya. Walaupun rahim Sindy di nyatakan subur. Namun selama sembilan bulan ini, belum juga terlihat ada tanda-tanda kehamilan pada Sindy.
"Mah, aku tak perlu ya pake obat-obatan itu segala. Toh, nanti juga bisa hamil sendiri kalau sudah waktunya." timpalnya tak ingin kalah debat. "Aku bosan ya terus-menerus di atur oleh keluarga ini. Lagi pula usiaku ini masih terbilang sangat muda. Wajar jika belum punya anak. Aku hanya ingin lebih fokus meniti karirku sendiri sebagai wanita kantoran, Mah." terangnya lagi, agak pongah.
"Apa katamu masih muda? Itu bukan alasan Sindy, banyak wanita seusiamu yang memiliki anak lebih dari satu. Kau, kau memang berbeda sekali dengan Vira..." pekiknya lirih, Diana menggeleng tak sangka jika Sindy akan mengatakan hal itu kepadanya yang lebih memikirkan karir daripada memiliki anak. Sindy hanya memutar bola matanya malas pada mertuanya sambil menyedekapkan kedua tangan di dadanya.
"Heh, Vira lagi Vira lagi." cibirnya pelan. "Ya jelaslah kami itu berbeda. Dia itu hanya wanita rendahan. Hanya tamatan SMA saja. Tak punya keahlian sama sekali. Bahkan rumah pun dia masih mengontrak di kota ini, sangat menyedihkan sekali bukan? Apanya yang Mama banggakan dari menantu tak berguna seperti dia? Lagipula sekarang dia sudah bukan menantu Mama lagi kan. Akulah yang sebenarnya menantu Mama satu-satunya di sini!" tekan Sindy tak terima, sangat sakit hati karena ia selalu saja di bandingkan dengan Vira.
Diana membuang kasar nafasnya, wajahnya semakin memerah padam. Jelas tak suka jika Sindy menghina mantan menantu kesayangannya itu.
__ADS_1
"Tentu saja Vira itu berguna, dia bisa memberikanku cucu. Sedang kamu ini tidak!" telak Diana kali itu, dia bicara sambil menunjuki wajah Sindy dengan kasar. Sindy pun terperangah mendengarnya, lalu Diana melengos pergi meninggalkannya dan semenjak pertengkaran itulah, Diana jadi malas untuk mengunjungi lagi menantu barunya tersebut di apartemen putranya.
...~Flashback of~...
"Apa dia sudah tahu kalau kamu saat ini sedang ada di Rumah Sakit?" tanya Diana datar, yang enggan sekali menyebut namanya.
"Sudah, bahkan dia tahu kalau Vira akan melahirkan." jawab Dika.
Di balik kaca penutup ruangan bayi, Diana kembali memandang bahagia campur sedih, menatap lamat-lamat cucu pertamanya di box bayi. Begitupun dengan Dika disana.
"Lihatlah dia Dika, hidung dan mulutnya, mirip sekali denganmu. Aah rasanya... Mama ingin sekali membawanya pulang ke rumah..." senandungnya. "Sayang... cucunya Oma. Kenapa nasibmu begini Nak, seandainya saja orangtua kalian tak bercerai. Oma pasti akan selalu menjagamu setiap waktu, ooh cucuku..." lirihnya tersedu-sedu. Diana tahu, setelah ini dirinya tak akan mungkin lagi bisa melihat cucunya setiap hari seperti dalam impiannya selama ini.
Dika hanya tersenyum miris mendengar perkataan Mamanya. Begitupun juga dengan Irfan yang tak sengaja mendengar ungkapan mantan mertua Kakaknya itu, hatinya ikut terenyuh pilu.
Bersambung
__ADS_1
...*****...