
...BAB 38...
...Masih Dalam Pencarian Vira...
"Apa ini?" Diana membuka kertasnya yang terlipat, tampak sebuah foto janin yang baru sebesar biji kacang hijau. Bibirnya bergetar saat mengucap. "Vi, Vira hamil?" mulutnya menganga tak percaya yang lantas dia menutupinya dengan satu tangan. Matanya berkaca-kaca haru.
Dika di sampingnya hanya mengangguk lesu.
"Kenapa kau tak bilang pada Mama sebelumnya? Cepat Dika, cari Vira. Mama tidak mau tahu ya, kau harus bawa dia pulang lagi kemari, Vira sedang mengandung cucunya Mama, dan Mama nggak mau dia sampai kenapa-napa Dika!" titahnya merengek, Dika hanya menggeleng lemah
"Tidak bisa Mah, Dika sudah mencarinya dari semalam, tapi Dika tak menemukan dia..."
"Di kontrakan Irfan?! Apa kau sudah mencarinya ke sana?" tanya Diana lagi masih penasaran. "Memangnya dia mau pergi kemana lagi selain ke kontrakan adiknya itu?! kau ini~" Diana mengernyit heran sambil menoyor kencang dahinya Dika.
Dika pun berdecak kesal, lalu membuang kasar nafasnya jengkel, apa Mamanya mengira dirinya itu anak kecil yang harus di beritahu?!
"Ck Mah... Sebelum mencarinya, jelas Dika juga sudah menyusulnya ke kontrakan. Tapi Vira nggak ada di sana! Karena Irfan sedang ada di Bogor saat ini." terangnya dengan nafas naik-turun menahan kesabaran.
Diana kembali tercengang menutupi mulutnya dengan kedua tangan. "Lalu, lalu sekarang kemana perginya dia? Dia kan tak punya siapa-siapa lagi di kota ini Dika... Ya Tuhan semoga kamu baik-baik saja, Vira..." lirihnya seraya meneteskan air matanya. Diana pun mengusap-ngusap pelan wajahnya, semakin mencemaskan menantunya. Dika di sampingnya duduk.hanya bisa menghela nafas beratnya, membenarkan posisi duduknya. Gelisah, tak tahu lagi harus berbuat apa.
"Ini semua karena salahmu Dika. Ya, kalau saja kamu tak berniat menikah lagi. Vira tak akan mungkin pergi dari sini!" tegurnya memukul kencang bahu Dika. Dika pun meringis bertambah sakit. Diana di sana lekas beranjak dan mengambil tasnya di meja.
"Ma, eh Mama mau pergi kemana? Mama belum obatin luka Dika nih!" cegah Dika menahan tangan Diana yang hendak melangkah pergi. Sambil menunjuki wajahnya yang penuh luka pukulan. Diana menarik cepat tangannya lagi, lalu mengambil kotak obat di meja dan melemparnya kasar ke pangkuan Dika.
__ADS_1
"Noh, obati saja sendiri!" ketusnya menunjuk kotak obat berwarna putih itu. "Lebih baik Mama pergi cari Vira sama Papamu!" sentaknya lagi. Diana pun melengos pergi keluar dari apartemen putranya.
"Tapi Maa..." Dika merengek namun Diana tetap pergi, tidak mengacuhkannya. "Mamaah!!" teriaknya lagi.
Dika kembali membuang nafasnya kasar, mengacak-ngacak rambutnya. Menghempas dan merebahkan kepalanya ke sofa, frustasi.
"Aakh, Mama keterlaluan sekali. Padahal profesinya bidan. Tapi ngobatin luka anaknya sendiri saja nggak mau. Malah dia lebih peduli sama Vira!" gerutunya, yang terpaksa ia pun mengobati luka di hidung dan bibirnya sendiri.
Dika membuka tutup botol rivanol dengan kesal dan terburu-buru hingga air di botolnya muncrat dan tumpah ke semua mukanya. Dika refleks memenjamkan kedua matanya. Kembali menghela nafas kesal melempar botol itu ke lantai.
"Sith!! Kenapa semuanya jadi kacau begini!" geramnya, menggerutu sendiri.
*****
"Awas saja, jika terjadi sesuatu dengan mbak Vira, aku nggak akan maafin dia." umpat Irfan pada Dika.
Irfan melihat ponselnya sendiri, memang sudah satu minggu itu, ponsel Vira tak pernah aktif. Bahkan pesan-pesannya yang dia kirim ke Vira pun masih centang satu. Irfan semakin yakin kalau Dika lah penyebabnya. Dika yang dendam padanya hingga ingin memutuskan hubungan persaudaraan mereka.
Karena pencarian seorang diri sangatlah kecil harapan di temukan. Maka Vicky di sana pun meminta Adam dan dua bodyguardnya membantu untuk mencari Vira. Vicky lekas mengirim pesan pada Adam.
Dam, tolong kamu bantu aku mencari wanita ini.
titahnya dalam pesan whatsapp, beserta mengirimkan foto terbaru Vira. Diam-diam Vicky memang sudah memintanya dari Irfan, foto Vira setelah pertemuan mereka.
__ADS_1
Adam di sana pun lekas menuruti perintah sang atasan. Dia dengan gesit keluar dari kantor dan meminta dua bodyguard Vicky untuk membantunya, jika di perlukan mereka akan siap beraksi.
Kedua Pria kekar itu pun mencari-cari Vira bersama Adam. Hingga di suatu tempat mereka pergi berpencar.
...~Flashback on~...
Malam itu, setelah Vira pergi meninggalkan apartemen suaminya. Vira memang pulang ke kontrakan adiknya, tetapi kontrakan Irfan ternyata sunyi dan gelap, pintunya juga terkunci rapat.
Vira kebingungan, dia juga tak bisa menghubungi adiknya karena ponselnya masih ada di Dika. Apalagi suasana kampung di sana sangatlah sepi. Tentunya Vira merasa tak nyaman jika harus keluyuran seorang diri di malam hari. Vira bergegas pergi dari sana dan mencari ojek motor di pangkalan kampung tersebut, menuju bengkel tempat Irfan bekerja. Karena ia mengira Irfan masih ada di bengkel saat itu. Tetapi setelah Vira sampai, bengkel ternyata juga sudah tutup. Vira semakin resah dan bertambah bingung. Hingga, beberapa kali dia menghela nafasnya berat. Bingung harus kemana lagi ia bertujuan pulang malam itu. Sedang pegangan uang pun sudah mulai menipis. Dia juga sudah terlanjur mengembalikan lagi kartu tabungannya pada Dika.
Vira menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mencoba berjalan pelan di sisi trotoar, siapa tahu ada ide muncul nanti harus tinggal di mana. Saat angin malam berhembus dengan semilirnya, Vira menggosok-gosok sisi-sisi lengannya, tubuhnya mulai kedinginan ia pun sampai lupa tak memakai jaket. Seketika di perjalanannya, ia melihat ada pedagang soto di sana, kebetulan sekali penjualnya adalah seorang Ibu tua, yang kira-kira usianya hampir sama dengan almarhumah Ibunya. Vira meneguk ludah dan mengusap perutnya. Rasa lapar kian mulai mengganggunya saat itu.
Tak pikir panjang, Vira menghampiri warung makan di pinggir jalan tersebut. Lalu memesan satu porsi soto sapi lengkap dengan nasi dan juga minuman teh hangat.
"Pesan satu ya Bu..." ucap Vira.
"Eh iya Non..." Ibu itu tersenyum, lekas dia mengelapi meja dan mengambil beberapa piring dan mangkuk kotor bekas makan pelanggan yang lain tadi. Vira pun duduk di sana, kesempatan juga baginya untuk merenggangkan semua otot kaki dan punggungnya yang mulai terasa pegal karena terus berjalan kaki tak tahu arah. Sejenak ia merilekskan pikirannya sendiri. Mengamati jalan kota yang masih ramai dengan kendaraan. Walau pun hari sudah semakin larut malam.
"Kemana sebenarnya Irfan? Hampir satu minggu dia juga tak ada kabar. Paling tidak kan kamu mampir ke apartemen Fan,.." gumamnya sendiri, kesal dengan adiknya yang tiba-tiba pergi tanpa berita.
Bersambung....
...****...
__ADS_1