Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Benih Fitnah


__ADS_3

...BAB 67...


...Benih Fitnah...


"Ayaaaahh-ayaaahh cinii...!!" teriaknya.


"Aqilla..." sontaknya, bola matanya bergetar dan berkaca-kaca lagi. Seakan rindunya terobati, bisa melihat lagi sosok putri kecilnya yang telah lama tak bertemu.


Tak dia sadari, tetesan-tetesan air matanya bergulir turun membasahi pipinya. Hati kecilnya ingin melangkah menghampiri anak balita itu, namun kedua kakinya tiba-tiba seperti kaku sulit ia gerakkan. Seolah tertancap dalam ke dasar bumi.


Namun hatinya mencelos perih, seakan kerinduannya musnah di depan matanya. Ketika mulut mungilnya memanggil Vicky dengan sebutan Ayah yang seharusnya sebutan itu untuk dirinya.


"Makan-nya sudah di habiskan, sayang?" tanya Vicky dengan sigap ia memangku Aqilla yang kedua tangan kecilnya sedari tadi terentang ke atas, meminta di gendong olehnya.


"Mam Qia daah abis, Qiaa kenang..." angguknya, diiringi kekehan kecil darinya.


"Masa sih? Coba Ayah lihat?" Vicky memperhatikan piring kosong Aqilla. "Wah iya bener, pinter banget nih anak Ayah..." celoteh Vicky lalu hidung bangirnya mengisap-isap gemas, si pipi lembut dan tembem itu, hingga terdengar kencang kekehan-kekehan geli dari Aqilla.


Keharmonisan yang mereka ciptakan, berhasil membuat cemburu seseorang yang terus berdiri di belakang mereka. Tangannya terkepal kencang, dengan raut wajah menyedihkan.


Kedekatan manusia berbeda usia itu layaknya seperti Bapak dan anak pada umumnya, bahkan orang-orang yang melihat di sekitarnya pun seolah takkan pernah mengira jika Vicky bukanlah Ayah kandungnya Aqilla.


"Kamu sudah kenyang sayang?" tanyanya, yang kini Vicky beralih pada Vira, sambil mengusap puncak kepala istrinya penuh kasih.


"Sudah..." angguk Vira tersenyum, setelah ia mengelap bibirnya dengan tissue. "Ayo kita pulang. Aku takut nanti kita kemalaman di jalan..." ajak Vira sambil meraih tas kecilnya di meja.


"Iya kamu benar," jawab Vicky setelah melihat waktu di jam tangannya. "Aku bayar dulu sebentar ya."


Lalu Vicky memanggil pramusaji di cafe itu dan meminta bon-nya sambil terus menggendong Aqilla. Pramusaji itu menghampiri dan memperlihatkan semua total makan mereka. Vicky lekas mengeluarkan kartu kredit di dompetnya, sebagai pembayaran.


Setelah selesai membayar mereka beranjak dari kursi. Lalu mereka berjalan keluar mall menuju parkiran.


Dari jauh, Dika yang masih memperhatikan mereka pun, turut melangkah mengikuti mereka.


"Ayoo, puwang.. Bunda Ayahh bobok!!" rengek Aqilla, sambil menguap menahan kantuk dan mengucek-ngucek matanya.


"Iya sayang, ini juga mau pulang.." oceh Vicky.


Vira yang menyadari putrinya mengantuk, lekas mengusap puncak kepala Aqilla "Kamu sudah ngantuk ya sayang, ouuh kasihan anak Bunda..." sahut Vira. "Sini Yah, biar Bunda saja yang gendong Aqilla, Ayah ambil mobilnya dulu di parkiran." titahnya pada Vicky.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu kamu tunggu di sini dulu dengan Aqilla..." ujarnya sambil menyerahkan Aqilla di gendongannya.


Vira mengangguk setuju, Lalu Vicky berlari kecil mengambil mobilnya yang berjejer dengan mobil lain di parkiran yang lumayan agak jauh. Sedang Vicky pergi, kesempatan bagi Dika untuk mendekati Vira yang sedang memangku Aqilla di lobby mall.


"Kemana saja selama ini kau bawa anakku?" tanyanya menarik pelan lengan mantan istrinya dari belakang. Membuat Vira tersentak kaget, dan menoleh kebelakang punggungnya.


"M-mas Dika!" matanya terbelalak seketika mendapat serangan tajam dari sorotan manik mantan suaminya.


"Jawab aku, sebenarnya kalian tinggal dimana? Kau memang tak punya hati Vira, diam-diam ingin memisahkan aku dari Aqilla, begitu maksudmu, hah?!" sentaknya dengan suara nyaring, hingga para pengunjung mall di sana sontak memperhatikan mereka. Aqilla yang tadi sudah memenjamkan matanya pun, terusik bangun karena suara nyaring Dika.


"Lepas Mas!" pekiknya pelan. Vira menepis kasar tangan Dika yang mencengkram kencang di lengannya.


"Apa bisa suaramu itu kau pelankan sedikit?! Aqilla baru saja tertidur. Kau ingin membangunkannya?!" kesalnya, sambil menepuk-nepuk pelan punggung putrinya agar kembali tidur. "Shuu shuu ssuuu..."


"Sini ikut denganku.." Tiba-tiba saja Dika menarik lagi tangan Vira dengan pelan, hendak membawanya pergi.


"Eh, lepas tanganku Mas!! Kau mau bawa aku kemana?" Vira menarik lagi cepat tangannya dari genggaman Dika. Menghentikan langkahnya.


"Cuma sebentar saja, aku ingin bicara penting denganmu..." ujar Dika, yang kini nada suaranya melembut.


"Kalau ingin bicara, bicara saja di sini! Tak perlu sampai bawa-bawa aku pergi jauh, kan! Aku khawatir Mas Vicky mencariku..." cemasnya.


"Ada apa?" tanyanya sedikit ketus. Seolah malas berbicara dan menatap lagi wajah mantan suaminya tersebut.


Dika menghelakan nafasnya kencang. "Aku hanya ingin bilang, jika Mama sangat merindukanmu dan juga Aqilla. Kapan kau ke rumah dan menengok kedua orangtuaku?" tanyanya.


"Maaf, aku belum sempat mengabarimu. Sekarang aku sudah tinggal bersama suamiku. Selain itu tempatnya yang lumayan jauh. Jadi aku tidak bisa sering pergi keluar, kecuali bersama dengan Mas Vicky. Itu pun kalau Mas Vicky tak sibuk, kami akan menyempatkan waktu bermain seperti malam ini." jelasnya, seketika Vira merasa bersalah pada Diana karena sudah pernah berjanji akan selalu menengok mantan mertuanya itu.


"Apa kau benar-benar tidak bisa pergi sendiri? hee" celetuk Dika. "Tak perlulah sampe harus nunggu suamimu untuk menemanimu. Kamu punya kaki sendiri untuk berjalan bukan?!"


"Masalahnya bukan itu Mas, aku hanya tak bisa pergi kalau tidak bersama suamiku!" tekan Vira lagi.


"Hei, kenapa? Apa dia mengekangmu? Hahaha..." Dika pun tertawa kencang meledeknya. Berdiri dan berkacak pinggang di depan Vira. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


Vira memalingkan wajahnya tak peduli dengan ejekan Dika tentang Vicky, malas rasanya untuk berdebat.


"Hahh, suami macam apa seperti dia, Vira~ Vira~" ocehnya lagi, seolah dirinya merasa lebih baik di bandingkan Vicky, yang tak pernah sama sekali mengekang Vira untuk pergi kemana pun saat masih menjadi suaminya dulu.


"Terserah apa katamu saja!" ketusnya, tak ingin mendengar ejekannya. Anggap saja di depannya radio rusak.

__ADS_1


"Hei, apa jangan-jangan suamimu itu khawatir jika nanti akan ketahuan jalan dengan wanita lain?!" sindirnya seketika, pura-pura menebaknya.


Lantas Vira mendongak menatap Dika, "Apa maksud perkataanmu itu." tanyanya yang sedikit terpancing dengan sindiran Dika.


"Kamu pasti tahu maksudku. Karena tidak semua Pria akan benar-benar setia pada satu wanita..." jelas Dika mengompori lagi, kini kedua tangannya melipat di atas dada lebarnya, maniknya tak lepas memperhatikan wajah mantan istrinya yang sudah memerah tersulut emosi, walaupun sedang marah Vira tetap terlihat cantik. Dika pun baru menyadarinya, jika penampilan Vira sekarang lebih menarik dan malah semakin cantik. Mungkinkah karena dia menikahi Pria kaya yang lebih darinya, sehingga Vira ada waktu merawat dirinya meski sudah punya Aqilla.


"Jangan pernah samakan dia sepertimu? Mas Vicky berbeda denganmu!" cetus Vira dengan mata memerah nyalang, jelas ia tak suka jika Dika mulai memfitnah Vicky.


"Kenapa, apa kau takut kalau itu terjadi? Akan kuperlihatkan padamu hal yang tak pernah kau duga sebelumnya..."


"Sudahlah jika kau ingin membicarakan kejelekan suamiku. Sebaiknya berhentilah berbicara denganku, dan cepat pergi dari sini." tukasnya mengusir dan menyela pembicaraan tak berguna dari Dika. Vira lekas berdiri dan hendak pergi menjauh, namun lagi Dika memegang lengannya, menghentikan langkah Vira.


"Lihatlah dulu sebentar..." sahut Dika tak menyerah.


Vira mengerutkan dahinya, seketika dengan cepat Dika membuka layar ponselnya, memperlihatkan foto Vicky bersama Riska tadi di depan toilet.


"Lihatlah mereka berdua, sepertinya keduanya sedang bernostalgia bukan?!" cibirnya, mengarahkan ponselnya tepat di depan Vira. Sontak Vira pun tercengang melihat foto suaminya yang sedang berhadapan seperti tengah berbicara dengan wanita cantik yang berpakaian seksi. Maniknya mengerjap mulai terasa panas dan berair.


Dika semakin terdorong untuk terus menghasut mantan istrinya tersebut. Inilah cara agar lambat laun hubungan mereka merenggang.


"Apa kau tahu siapa wanita itu?" tanyanya lagi. Vira menggeleng-geleng pelan, dan masih terpaku di tempatnya berdiri.


"Dia adalah mantan tunangan suamimu. Sepertinya wanita itu tengah berusaha mengejar suamimu. Apa kau yakin tidak takut jika wanita itu akan merebutnya darimu?"


Vira menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Lalu menatap sinis Dika yang masih memancingnya.


"Itu hanya foto, dan aku tidak percaya jika suamiku akan berbuat serong di belakangku. Seperti apa yang pernah kamu lakukan dulu terhadapku..." ketusnya. Dika menghela nafasnya pelan. Lekas menaruh lagi ponselnya di saku.


"Baiklah itu terserah padamu, mau percaya atau tidak. Aku hanya ingin memberitahumu saja, agar kau harus lebih berhati-hati lagi. Tak ada pria yang kuat menahan godaan wanita yang lebih cantik di luar sana..." selanya.


"Aku percaya dia..." tegas Vira sangat yakin, jika Vicky tak akan mungkin mengkhianatinya. Dika pun tertegun dengan keyakinan Vira. Hingga sorotan tajam manik mantan istrinya mampu menusuk ke dalam relung hati Dika.


Tak berapa lama, suara kencang klakson mobil Vicky terdengar mengagetkan gendang telinga mereka berdua. Vicky yang melihat Dika bersama Vira pun lekas keluar dan turun dari mobil. Melangkah cepat dan lebar ke arah mereka.


"Ada apa ini?" tanyanya, menatap tajam pada lelaki itu.


"Ehm, aku hanya ingin memberikan ini, untuk Aqilla... Kebetulan sekali kita berjumpa..." ucap Dika sedikit terbatuk untuk mengalihkan pembicaraan, seraya menyodorkan bingkisan kado di tangan kanannya pada Vira. "Sayangnya, Aqilla sedang tidur. Sebenarnya aku ingin sekali mengajaknya ke rumah Oma dan Opanya." lanjutnya.


Bersambung...

__ADS_1


...****...


__ADS_2